
Sore harinya...
Hari ini aku pulang cepat karena di kantor juga tidak fokus bekerja. Hatiku sakit dan membutuhkan obat segera, sehingga aku memutuskan untuk cepat pulang. Dan kini aku baru saja turun dari taksi di depan sebuah perusahan berlantai tiga. Tidak terlalu besar, tapi cukup benefit untuk sekelasnya.
"Terima kasih, Pak."
Kubayar ongkos kepada Pak Supir lalu segera melangkahkan kaki masuk ke dalam kantor yang kutuju. Sesampainya di dalam, seorang resepsionis menyambut hangat kedatanganku. Sepertinya perusahaan ini lebih mengedepankan pelayanan di atas keuntungan. Lobi kantor pun terlihat bersih dan nyaman. AC ruangan mampu menepis rasa panas akibat terkena sinar matahari seharian. Dan ya, aku langsung menyampaikan maksud tujuanku datang kemari kepada resepsionis ini.
"Selamat sore, bisakah aku bertemu dengan tuan Alexander?" tanyaku segera.
Sore ini aku memang sengaja mengunjungi kantor Alexander. Aku tidak punya tempat tujuan selain datang ke sini. Tadi sempat menelepon Angela, tapi Angela bilang sudah sampai di rumah. Jadinya aku tidak enak jika mendatangi rumahnya. Pastinya dia sedang sibuk bersama suaminya. Dan aku tidak ingin menganggu kebersamaan mereka.
"Dengan Nona siapa? Apakah sudah membuat janji temu sebelumnya?" tanya resepsionis itu.
"Em, sudah. Aku diminta untuk datang ke sini," jawabku.
Resepsionis itu tersenyum. "Baik, Nona. Mohon ditunggu sebentar." Dia kemudian menelepon seseorang, dan sepertinya yang ditelepon itu adalah Alexander.
Resepsionis kantor ini mengenakan seragam batik berwarna merah. Rambutnya juga disanggul bak pramugari. Dia rapi sekali. Aku jadi malu sendiri melihat penampilannya. Di jam lima sore seperti sekarang dia masih juga rapi. Sedang aku sudah berantakan tak karuan. Karena lelah bekerja iya, karena lelah hati apalagi.
"Baik, Tuan." Resepsionis itu kemudian mengakhiri sambungan teleponnya. "Nona Cecilia." Dia beralih kembali padaku.
"Ya?" Aku pun masih menunggu.
"Nona diminta langsung masuk ke ruangan tuan yang ada di belakang. Silakan." Resepsionis kemudian mengantarkanku.
Aku pun berjalan menuju ruangan yang ada di belakang. Mungkin jaraknya sekitar sepuluh meter dari tempat resepsionis berada. Dan kulihat kantor Alexander tidaklah terlalu besar. Tapi cukup benefit untuk ukuran sekelasnya. Hampir semua dinding kantor terbuat dari kaca dan tata letak interiornya begitu mewah. Sepertinya Alexander sendiri yang telah merancangnya.
"Silakan, Nona."
__ADS_1
Tak perlu menunggu lama, akhirnya aku sampai di depan sebuah ruangan. Resepsionis itu segera mengetuk pintu lalu mempersilakan aku untuk masuk ke dalam. Aku pun berucap terima kasih padanya lalu segera masuk. Dan kulihat ada seorang pria bersweter putih tengah sibuk di depan meja kerjanya.
"Tuan." Aku menyapanya yang sedang sibuk.
"Cecilia?" Dia melihatku datang. Terpancar kebahagiaan dari wajahnya. "Silakan duduk." Dia mempersilakanku duduk.
Aku mengangguk lalu segera duduk di kursi. Kulihat sekeliling ruangan tampak berbeda sekali. Suasananya seperti sedang berada di rumah sendiri. Ada dapur kecil, meja teh, lemari pendingin dan juga dispenser yang ditata rapi di sekeliling ruangan. Meja tempat bekerjanya juga begitu besar. Mungkin mirip seperti meja makan. Dan kulihat ada minion bangunan di salah satu sudut ruangannya. Ternyata dia memang benar-benar seorang arsitek.
"Maaf jika kedatanganku mengganggu, Tuan," kataku padanya.
Alexander tersenyum. "Aku malah senang kau datang. Apalagi jika datang ke altar pernikahan." Dia seperti sedang menggodaku.
Aku tersenyum. Tapi tak tahu mengapa hatiku seperti teriris mendengarnya. Sungguh yang kuinginkan adalah Jackson. Tapi pada kenyataannya, Alexander lah yang mengatakan hal itu padaku. Aku pun jadi merasa bersalah padanya. Selama ini kukira dia hanya sekedar berbasa-basi saja. Namun nyatanya, dia amat menginginkanku. Aku menyesal dan rasanya ingin mengulang waktu.
Lantas aku berusaha bangkit dari keterpurukan. Kunikmati hidup ini dengan bersikap luwes, seperti tidak pernah terjadi apa-apa padaku. Kutunjukkan bagaimana sifat asliku padanya.
"Memangnya sudah siap?" tanyaku, bergantian menggodanya.
Aku beranjak berdiri, melihat-lihat sekeliling ruangannya. "Aku rasa yang dipegang dari seorang pria adalah ucapannya. Bukankah begitu, Tuan Alexander?" Aku tersenyum padanya.
Kulihat Alexander tertawa. Mungkin dia merasa ada yang aneh padaku. Dia lantas mengambil secarik kertas berwarna pink lalu memberikannya padaku. "Silakan tulis alasanmu datang kemari," katanya yang membuatku terheran-heran sendiri.
"Eh?!" Aku pun menerimanya dengan kaget.
"Tulis saja. Aku ingin tahu apa alasanmu datang ke sini." Dia berkata lagi.
Lantas aku berpikir hal apa yang harus kutulis untuk menjadikan alasan kedatanganku kemari. Rasa-rasanya aku tidak boleh terlalu menunjukkan rasa ketertarikanku padanya. Karena biasanya pria itu semena-mena jika merasa dikejar wanita. Jadinya aku pelan-pelan saja. Toh, aku baru mencoba mengobati luka.
Kutuliskan empat kata sambil tersenyum-senyum sendiri di depannya. Lalu kuberikan secarik kertas ini kepadanya. Alexander pun segera menerimanya. Dia menghentikan aktivitasnya sejenak.
__ADS_1
"Hahahaha. Astaga ...."
Dia tertawa. Lagi-lagi tertawa setelah membaca tulisanku di atas secarik kertas tersebut. Dia tertawa renyah tanpa merasa segan padaku. Tawanya itu pun seperti memberi semangat untukku. Ditambah lagi senyuman manisnya yang menawan hati. Aku merasa telah menemukan obat sakit hati.
Mungkin memang sudah hukum alam jika wanita dikejar dan si pria lah yang mengejar. Tapi bukan untuk sementara, melainkan selamanya. Dan aku merasa hal itu sedang terjadi padaku dan juga Alexander.
"Cecilia, ini sungguhan?" Dia bertanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa? Ada yang salah?" Aku menopang dagu di depannya. Kubiarkan dia melihat wajah lelahku sore ini.
Alexander terdiam saat melihatku. Dia menghentikan tawanya lalu menjulurkan tangannya ke arahku. Dia mengusap pipiku seraya tersenyum. Sepertinya dia sedang mengungkapkan perasaannya padaku.
"Cecilia, aku berharap hanya tiga kata yang kau tulis. Tapi mengapa malah empat?" Dia mulai menatap serius diriku.
"Hm ... tidak tahu. Yang ada di pikiranku hanya itu," jawabku apa adanya.
Dia tersenyum, menunduk lalu menatapku kembali. "Terima kasih jika kedatanganmu karena rindu dengan suara sumbangku. Tapi, bagaimana jika kau lebih banyak mendengar suara sumbangku? Mungkin bisa lebih cepat tidur malam ini." Dia menggelitikku dengan kata-katanya.
Aku menahan tawa di depannya. "Baiklah, Tuan. Tapi aku tidak punya uang untuk karaokean. Aku belum gajian." Aku tidak mau rugi.
"Astaga." Dia menepuk dahinya sendiri. "Aku yang bayar, Cecilia. Tenang saja. Tunggu sebentar. Aku bereskan dulu meja kerjaku," katanya lalu bergegas merapikan peralatan kerjanya.
Aku mengangguk. Kutunggu dirinya sampai selesai merapikan meja kerjanya. Sedang aku duduk santai sambil menyantap roti sandwich miliknya. Kuakui jika di depannya dalam wujud Cecilia yang asli. Dan aku rasa mulai nyaman bersamanya.
Tuan, hari ini aku ambil roti milikmu. Besok yang lain, ya?
Akan kucari kebahagiaanku sendiri. Jika tidak kutemukan, maka akan kuciptakan kebahagiaan itu. Mungkin bersamanya atau mungkin seorang diri. Kita lihat saja nanti.
.........
__ADS_1
...Alexander...