Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Datang Tak Dijemput


__ADS_3

/Di mana?/


Dia bertanya seperti itu padaku. Kuabaikan saja karena aku memang sedang ingin sendiri. Aku tidak ingin mencari keributan karena istrinya yang bersikap sarkas kepadaku. Aku mencoba sadar diri.


Nada pesan kembali berbunyi dan ternyata masih dari Jackson.


/Cecilia, kau masih hidup?/


Jackson mengirimiku pesan seperti itu. Aku tahu jika dia sudah marah sekarang. Rasanya aku ingin membalas pesannya, tapi khawatir juga. Jadi kudiamkan saja kembali agar dia semakin menjadi-jadi. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya diabaikan. Aku juga sedang tidak ingin diganggu dulu hari ini.


"Berapa, Bu?" Lekas-lekas aku membayar sarapanku setelah selesai.


Tak lama kemudian, nada pesan kembali berbunyi. Dan ternyata kali ini datang dari nomor yang tak kukenal. Dia hanya mengirimkanku pesan seperti ini. Yang semalam. Saat itu juga aku menyadari jika pria semalamlah yang mengirimiku pesan. Tak lama kemudian nomornya meneleponku. Lantas kuangkat saja telepon darinya.


"Halo?" jawabku.


"Jadi mentraktirku?" tanyanya tanpa basa-basi.


Benar dugaanku jika pria yang semalamlah yang meneleponku. Lantas aku membuat janji untuk membayar kebaikannya karena telah menolongku.


"Jadi, Tuan. Aku tunggu di kedai makan yang ada di pinggiran kota siang ini, ya. Jangan lupa datang," kataku padanya.


Dia seperti tersenyum. "Baiklah, Cecilia." Dia pun mengiyakannya.


Telepon akhirnya terputus karena aku juga sedang tidak ingin diganggu. Setelah membuat janji temu, aku kembali membahagiakan diriku dengan berjalan santai di sekitaran taman. Kali-kali saja ada jodoh datang dari langit untukku. Mengkhayal sih, tapi tak apalah untuk menghibur diri sendiri.


Aku mencari rumah makan yang ada di pinggiran kota untuk memenuhi janjiku kepada pria semalam, dengan maksud agar tidak terlalu ramai dari kendaran yang lalu-lalang. Kepalaku sedang pusing jadi ingin berada di tempat yang sedikit sepi. Aku harus menormalkan suasana hatiku terlebih dahulu.


Dua jam kemudian...


Aku berkeliling taman dengan berjalan kaki. Setelahnya aku segera memesan taksi untuk menuju ke tempat pertemuanku. Dan kini aku sudah sampai duluan di kedai makan yang dituju. Kedai makan yang cukup besar dan terdapat menu lengkap untuk bersantap. Kedai ini berada di pinggiran kota, jadi jalan menuju ke sini tidaklah terlalu ramai. Aku pun sampai sebelum jam pertemuanku tiba dengan pria yang semalam.


"Angela?"


Tiba-tiba saja dering ponsel menyadarkanku jika ada telepon yang masuk. Lantas kulihat siapa yang meneleponku. Dan ternyata Angela lah yang menelepon. Mungkin dia ingin menanyakan mengapa semalam aku meneleponnya.


"Halo?" Aku segera menjawab telepon darinya.

__ADS_1


"Cecilia, semalam kau meneleponku?" tanya Angela dari seberang telepon.


"Hm, ya," jawabku singkat sambil melihat menu kedai.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Angela perhatian.


Aku duduk di paling sudut kedai ini jadi tidak terlalu bising. Sengaja memilih di sini agar tidak terekspos dari luar dan mudah untuk ditemukan. Apalagi sebentar lagi jam makan siang yang pastinya akan ramai. Jika duduk di tengah, pria yang semalam akan kesulitan untuk menemukanku. Dan pastinya aku akan lebih lama menunggunya. Malas sekali.


"Aku butuh teman mengobrol semalam. Aku sendiri," kataku, sambil menunjuk menu yang kupesan kepada pelayan kedai yang datang.


"Cecilia, kau baik-baik saja?" tanya Angela lagi.


"Hm, mungkin." Aku hanya bisa menjawab seperti itu.


"Maaf, semalam aku sudah tidur. Kau di mana sekarang? Bisa kita bertemu?" Angela seperti ingin tahu di mana keberadaanku sekarang, mungkin dia amat khawatir padaku.


"Aku sedang di kedai makan yang ada di pinggiran kota, dekat hotel bintang tiga." Aku jujur saja padanya.


"Cecilia, kau membuatku khawatir. Sebenarnya apa yang terjadi?" Angela berempati padaku. Dia ingin lebih tahu.


Kuhela napasku, rasanya aku ingin menangis saja. "Zea meneleponku. Dia mengancamku, Angela," jawabku kemudian.


"Aku tidak tahu mengapa dia seperti itu. Dia juga mencaciku, menuduhku bekerja sama dengan Jackson," kataku lagi.


"Astaga ...." Angela terdengar amat prihatin.


"Mungkin ada baiknya jika aku pergi saja dari sini. Aku akan mengembalikan uang DP yang Zea berikan, dan memulai kehidupan baru di tempat lain." Aku mengutarakan isi hatiku kepada Angela.


"Cecilia, kau sudah bertindak terlalu jauh. Lalu bagaimana dengan Jackson?" tanya Angela lagi.


"Entahlah. Aku tidak tahu siapa diriku di matanya. Mungkin perasaanku hanya sebelah tangan." Aku menyeruput jus melon yang baru saja datang.


"Hei, jangan berkata seperti itu. Bagaimana jika dia mendengarnya?" Angela seperti menggodaku.


"Biar saja dia mendengarnya! Biar dia tahu bagaimana isi hatiku!" Aku tiba-tiba jadi kesal sendiri saat ingat kepada Jackson.


"Cecilia, jangan-jangan kau sudah jatuh cinta sungguhan padanya?" Angela menggodaku, kudengar dia seperti sedang mengetik-ngetik sesuatu di sana.

__ADS_1


"Entahlah. Aku tidak bisa memastikannya, Angela. Aku cukup sadar diri siapa diriku ini," kataku sendu.


"Hmm, bagaimana jika Jackson juga menyukaimu? Apa kau masih berniat untuk pergi?" Angela lagi-lagi menggodaku.


"Angela, aku jadi curiga. Jangan-jangan Jackson ada di sana?"


Entah mengapa Angela membicarakan Jackson sedari tadi. Ada rasa khawatir jika Jackson benar-benar mendengar percakapan kami.


"Hahaha." Angela tertawa. "Dia tidak ada di sini, Cecilia. Nanti kita lanjutkan lagi pembicaraannya. Aku sudah kedatangan tamu. Sampai nanti, ya." Dia meminta izin untuk mengakhiri panggilan ini.


"Tap-tapi, kita belum selesai." Aku menolak mengakhiri panggilan darinya.


"Aku kedatangan penanam modal untuk restoranku. Nanti aku akan menghubungimu kembali. Oke?" Dia meminta izin untuk mengakhiri panggilan.


Sepertinya Angela memang benar-benar sedang sibuk. "Baiklah." Akhirnya mau tak mau aku pun mengiyakannya.


Panggilan telepon pun berakhir. Baru saja berakhir, kulihat pria berjas abu-abu sedang mencari-cari di mana keberadaanku. Dia baru saja datang dan membuka pintu kedai. Lantas aku segera melambaikan tangan ke arahnya, seketika itu juga dia melihatku. Lekas-lekas aku masukkan ponsel ke dalam saku celana lalu berdiri menyambut kedatangannya.


"Maaf terlambat," katanya seraya tersenyum padaku.


"Tidak, Tuan. Silakan duduk." Aku mempersilakannya duduk. "Mau pesan apa?" tanyaku terus terang ke inti pertemuan kami.


Pria semalam duduk di depanku lalu membuka menu kedai. Dia tampak memilih-milih menu makanan dengan teliti. Sepertinya dia bukanlah orang sembarangan. Tak lama dia memanggil pelayan kedai. Dan ternyata dia hanya memesan minuman dan cemilan ringan. Seketika aku bingung sendiri.


"Tuan, Anda tidak memesan makanan?" Aku terkejut saat menyadari apa yang dipesannya.


Dia tersenyum padaku. "Namaku Alexander." Dia malah menjulurkan tangannya padaku.


Dia mengajak ku berkenalan?


Entah mengapa suasana tiba-tiba terasa berbeda sekali. Kuakui jika kami memang belum berkenalan sejak semalam. Tapi rasa-rasanya kok ada sedikit yang aneh, ya?


Lantas aku pun menyambut uluran tangannya. Siang ini aku bersikap seluwes mungkin. Kutunjukkan jika aku baik-baik saja setelah kejadian semalam. Namun, Alexander menyadari sesuatu dariku.


"Kau habis menangis?" tanyanya seraya menyentuh pipi ini.


Di saat itu juga kudengar langkah kaki berjalan cepat ke arahku. "Cecilia!" Ternyata Jackson datang dan memergoki pertemuan kami.

__ADS_1


"Tu-tuan?!" Aku pun kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba.


__ADS_2