
"Tuan, tunggu!"
Dia pergi begitu saja, meninggalkanku sendiri di sini. Sepertinya dia telah salah mengartikan ucapanku. Dan sekarang tinggal pusingnya. Aku tidak ingin pulang ke apartemennya karena akan sangat berbahaya.
Kalau kami melakukan lagi, bisa-bisa terjadi gagal pembuahan. Tapi apa bisa Jackson menahan hasratnya saat bersamaku? Sedang jika ada kesempatan saja dia selalu memburuku. Astaga ... apa yang harus kulakukan sekarang?
Aku bingung dan juga pusing. Dokter mengatakan jika kandunganku tidak kuat untuk menahan janin. Jika dia memintaku lagi, itu berarti kegagalan akan semakin besar kudapatkan. Di dalam sana sudah susah payah memasuki sel telur, eh saat sudah berhasil malah digoyahkan ayahnya. Akhirnya rontok juga.
Aku di sini saja.
Aku tidak mau mengikutinya karena khawatir dia akan meminta ini dan itu. Aku takut pembuahan di dalam sana tidak berhasil. Aku juga belum memeriksakan hormon kehamilan di tubuhku. Mungkin aku akan membeli testpack untuk membuktikannya sendiri, benarkah aku hamil?
Sejauh ini rasa mual memang sering menerjang. Apalagi jika sudah pagi, rasa mualnya sampai bisa membuatku tidak sadarkan diri. Mungkin bayiku laki-laki, jadinya bisa seperti ini. Tapi aku berharap tidak seperti bapaknya. Jika sifatnya sama seperti Jackson, itu berarti pertanda buruk bagiku. Tidak ayah, tidak anak. Kalau kemauannya tidak dituruti bisa membuatku darah tinggi.
"Nona Cecilia?"
Di tengah lamunanku yang masih berdiri di pinggiran kolam ini, tiba-tiba pelayan hotel datang menyapa. Aku pun tersadar dari lamunan masa depan. Kulihat pelayan hotel berseragam hitam itu berdiri di depan pintu masuk kolam.
"Ya, dengan saya sendiri." Aku menjawabnya.
"Mohon maaf, Nona. Kolam renang akan segera ditutup, sebaiknya Nona pergi." Pelayan itu memberi tahuku.
Apa?!! Ditutup?!!
Aku terperanjat kaget saat pelayan hotel mengatakan jika kolam renang ini akan ditutup. Padahal tidak biasanya ditutup. Tapi ini dengan mudahnya dia berkata seperti itu. Aku jadi heran seheran-herannya.
Pasti ulah Jackson. Siapa lagi?
Tidak salah lagi ini ulah Jackson yang meminta pelayan hotel mengusirku. Dia benar-benar seperti ingin menagih ucapanku. Padahal aku tidak sengaja mengucapkannya tadi. Aku jadi menyesal sendiri karena telah perhatian padanya.
"Baik, terima kasih."
Dengan lemas aku berjalan keluar natatorium hotel ini. Melangkahkan kaki menuju parkiran yang jaraknya sekitar 300-400 meter. Lumayan jauh, bukan? Dan Jackson membiarkanku berjalan lagi.
Nak, lihat ayahmu! Dia begitu kejam pada ibu.
"Nona, sepatunya tidak dipakai?"
__ADS_1
"Hah? Apa?!"
Baru saja keluar natatorium, pelayan hotel kembali menegurku. Kulihat pelayan hotel itu menjinjing sepatuku. Aku sampai lupa jika belum memakai sepatu. Aku keluar begitu saja tanpa memakai alas kaki. Mungkin karena banyak pikiran jadinya seperti ini.
Astaga ....
Dengan malu aku mengambil sepatu lalu memakainya cepat-cepat. Kulangkahkan kaki menuju parkiran hotel seraya meraba tas pestaku, yang mana tali rantainya mengait di bahu. Untung saja tasku ini tidak sampai lupa terbawa juga.
Sesampainya di parkiran hotel...
Lelah sudah aku berjalan kaki cukup jauh. Selelah hatiku menghadapi si kulkas dua pintu. Pintu atas menghangatkan, pintu bawah mendinginkan. Aku berharap tidak terjadi konslet padanya.
Aduh kakiku ....
Kupikir Jackson sudah pergi karena lama menungguku datang. Eh, tahunya mobilnya masih ada di parkiran. Aku ingat jelas berapa nomor kendaraannya. Dan kulihat dari jauh, dia sedang berada di dalam mobilnya sekarang. Lantas aku mendekatinya, berniat masuk ke dalam mobil juga. Tetapi...
Kenapa susah sekali?
Aku melihat Jackson duduk di dalam mobil sambil memainkan ponsel pintarnya. Entah sedang apa dia, aku tidak peduli. Namun, saat mencoba membuka pintu mobil ini ternyata pintunya tidak bisa terbuka.
Jackson menoleh ke arahku yang masih berada di luar. "Tarik saja." Dia seperti malas untuk membukakan pintu.
Aku kembali mencoba menarik gagang pintu. Kutarik tapi tetap saja tidak bisa dibuka. Aku jadi kesal sendiri jadinya. Jangan-jangan dia sedang mengerjaiku.
Kuketuk lagi pintu mobilnya. "Tuan, pintunya tidak bisa terbuka!" kataku sedikit berteriak.
Dia memasang wajah risih karena kuganggu. "Buka saja! Tidak dikunci!" Dia juga ikut berteriak dari dalam mobil.
Astaga ... kenapa malam ini rumit sekali?
Untuk kesekian kali aku membuka pintu mobil. Tapi sayangnya, tetap saja tak bisa. Aku pun jadi kesal padanya. Jackson ternyata benar-benar ingin mengerjaiku malam ini.
Sabar, Cecilia ....
Kuhela napas panjang-panjang sambil bertolak pinggang. Rasanya ingin sekali memecahkan kaca beserta si empu mobilnya. Aku dibuat kesal malam ini, yang mana membuat tensi darahku naik. Mungkin jika dia terus seperti ini aku bisa terkena darah tinggi.
Baiklah, Jackson. Mari kita sudahi permainannya.
__ADS_1
Aku berusaha sabar di tengah rasa kesal. Aku mencoba bahagia di tengah-tengah derita. Jackson masih asik memainkan ponsel pintarnya di dalam mobil, sedang aku berusaha sekuat mungkin untuk membuka pintu mobilnya. Mungkin ada baiknya jika aku pergi saja.
Kalau aku kabur nanti dia malah menabrakku.
Jackson tidak bisa ditebak. Dia selalu cepat bertindak. Gerak-geriknya menyimpan sejuta teka-teki yang belum bisa terkuak. Aku jadi harus ekstra berhati-hati dengannya. Bisa saja dia nekat menabrakku untuk melampiaskan rasa kesalnya. Karena tidak ada yang tidak mungkin baginya.
Ini yang terakhir ya, Tuan ....
Lantas aku mencoba membuka pintu kembali. Kutarik kuat, tapi tetap saja tidak terbuka. Kutarik lagi, tapi masih juga tertutup. Dan akhirnya, kutarik sekuat tenaga pintu mobilnya. Saat itu juga kudengar kait kunci mobilnya terbuka.
"Aaaaa!!!" Tubuhku terhuyung ke belakang, aku seperti mau jatuh.
Jackson sialaaaannn!!!
Otakku berpikir cepat. Jika aku sampai jatuh maka habislah riwayatku. Pembuahan akan gagal total, itu berarti aku harus bekerja keras lagi. Dan aku tidak mau hal itu sampai terjadi.
Selamatkan dirimu, Cecilia. Cepat!
Untung saja aku pernah belajar menari balet. Keseimbangan tubuhku jadi bisa lebih terlatih. Saat tubuhku terhuyung ke belakang, kedua kakiku menahannya agar tidak terjatuh. Saat itu juga aku memegang kaca spion mobilnya. Hingga akhirnya tubuhku tertahan sempurna, tidak sampai jatuh ke tanah. Di saat itu juga aku cepat-cepat berdiri tegak kembali.
"Hah ... hah ...."
Dadaku naik turun karena deg-degan bukan main. Hampir saja usahaku sia-sia karenanya. Jackson memang menyebalkan sekali. Tidak henti-hentinya membuatku menderita.
"Hei, kenapa?" Dia memajukan badannya sampai ke dekat pintu, seenaknya bertanya seperti itu.
Jackson! Kau ini benar-benar, ya! Tidak tahu apa jika aku hampir terjatuh karenamu?! Kau mengunci pintu mobil lalu membukanya saat aku menarik gagangnya. Bagaimana jika aku jatuh? Kau benar-benar keterlaluan, Jackson. Keterlaluan! Aku membencimu!!!
"Cecilia, telingamu masih bisa mendengar?" Dia bertanya lagi yang membuatku kesal setengah mati.
Aku menarik napas panjang dan dalam. Kusimpan banyak-banyak oksigen di dalam paru-paru, berusaha bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa.
"Tuan, aku menyesal mencintaimu," kataku lalu masuk ke dalam mobilnya.
Jackson menatap sinis saat aku mengucapkan kalimat itu. Aku pun duduk di sampingnya dengan memalingkan muka, tidak ingin melihatnya. Kusadari jika kini aku mulai membencinya.
Sepanjang perjalanan pulang kami hanya berdiaman. Tiada kata, tiada suara. Kulirik dirinya yang tengah mengemudikan mobil. Saat itu juga dia membalas lirikanku. Dan akhirnya kami hanya saling melirik tanpa bicara sepatah kata.
__ADS_1