
Pukul sebelas siang waktu setempat...
Jackson mengajak ku keluar kantor. Tapi bukan untuk berkencan, melainkan menemui Oliver di perusahaannya. Dia tidak menyetir mobil sendiri, melainkan menyuruh aku yang menyetirnya. Sepertinya dia ingin mengerjaiku hari ini.
Sebagai bawahan tentunya aku harus menurut pada atasan. Tetapi sebagai wanita aku punya batas kesabaran. Untuk saat ini aku masih bisa bersabar menghadapinya. Entah jika nanti. Mungkin saja aku tidak lagi bisa menahan rasa kesal di hati.
Aku tidak tahu ada maksud apa dibalik kehangatan Jackson padaku. Entah sekedar ambisi karena tidak ingin aku direbut oleh Hadden atau memang dia mempunyai rasa yang tulus padaku. Namun, jika mengingat kata-kata Hadden waktu itu, aku jadi pesimis dengan kepastian hubungan ini. Hadden bilang, meskipun Jackson tidak tertarik jika dia bersikeras mendapatkannya, maka Jackson akan memperjuangkannya. Entah jika di dalam urusan asmara, aku tidak bisa menebak isi hatinya.
Kini kami baru saja sampai di halaman parkir sebuah gedung proyek pembangunan. Tertulis jelas namanya Angkasa Grup. Bisa dipastikan jika perusahaan ini adalah gabungan dari beberapa perusahaan. Yang mana sebentar lagi akan dipimpin oleh Jackson.
"Tuan, sudah sampai."
Kami akhirnya bertegur sapa setelah lama berdiaman di mobil. Sejak tadi dia hanya melarak-lirik diriku tanpa berkata apapun. Aku juga diam saja, malas menanggapinya. Hatiku masih kesal karena dia seperti menarik-ulur perasaanku.
Aku segera keluar dari mobil begitu selesai memarkirkan mobil di halaman parkiran depan gedung. Jackson pun ikut keluar dari mobil. Kami berjalan masuk ke perusahaan ini dengan sedikit menjaga jarak. Atau mungkin lebih tepatnya aku yang tidak ingin dekat-dekat dengannya. Jual mahal sedikit tak apalah. Walaupun pada kenyataannya dia sudah mencicipi tubuhku.
"Tuan Jackson."
Baru saja sampai di lobi kantor, pria yang sudah mulai beruban itu menyambut kedatangan kami. Mungkin usianya ditaksir sekitar lima puluh lima tahun dengan tubuh yang masih tegap sempurna. Tetapi tetap saja, wajah tidak dapat dibohongi.
__ADS_1
"Anda tidak perlu repot-repot menyambut kami, Tuan Oliver."
Kulihat Jackson tersenyum palsu kepada Oliver. Aku tahu dari roman wajahnya yang seperti amat terpaksa menebarkan senyuman. Mereka berjabatan tangan layaknya rekan bisnis yang solid. Dan kulihat Oliver juga tersenyum kepada Jackson.
"Mari, Tuan." Oliver mengarahkan kami menuju ke sebuah ruangan, aku pun mengikuti.
Dokuman dari Jackson yang diberikan tadi pagi memuat hal-hal apa saja yang akan dibahas hari ini kepada Oliver. Jackson rupanya memang suka bekerja di balik layar sehingga banyak orang suruhannya yang tersebar di mana-mana. Sampai-sampai isi dokumen itu mengatakan jika Angkasa Grup akan kedatangan investor asing di tahun mendatang. Yang mana nilainya amat fantastis. Jadi pantas saja jika Jackson begitu ngebet ingin menguasai perusahaan ini. Terlepas dari benar-tidaknya persaingan antara dirinya dan Hadden. Tapi satu hal yang belum kuketahui secara pasti, apakah Oliver sudah memberi tahu Jackson akan hal ini secara langsung?
"Silakan duduk, Tuan."
Oliver mengajak kami masuk ke sebuah ruangan tertutup. Ruangan yang berada di lantai satu gedung ini. Aku pun ikut masuk bersama Jackson ke dalam. Dan kulihat ruangannya ternyata cukup luas. Ruangan ini juga langsung berhadapan dengan taman kecil. Yang mana terdapat pancuran air dan juga kolam ikannya. Mungkin lebih mirip seperti teras belakang atau depan rumah.
"Silakan, Tuan, Nona." Seorang pelayan datang membawakan minuman dan juga hidangan ringan untuk menemani percakapan siang ini.
Baiklah, kembali fokus bekerja.
Aku duduk di sisi Jackson sambil mencatat hal apa saja yang kuanggap penting. Mereka pun tampak berbasa-basi sebentar sebelum masuk ke pembicaraan inti. Kulihat Jackson menghidupkan puntung rokoknya di depan Oliver. Gayanya sangat santai namun amat mematikan. Dan baru kuketahui jika Oliver mengidap penyakit yang berkaitan dengan pernapasan. Dadanya terlihat sesak saat asap rokok Jackson mengenai dirinya. Sampai akhirnya Jackson mematikan puntung rokok dan mulai serius membahas proses akuisisi Angkasa Grup ini.
"Sudah berapa persen proses finalisasinya?" tanya Jackson ke Oliver dengan santai.
__ADS_1
"Mungkin masih sekitar satu bulan lagi, Tuan." Oliver menjawabnya segera.
Jackson sebenarnya sudah tahu jika Oliver akan berkhianat. Tapi siang ini dia seperti berpura-pura tidak tahu. Mungkin hal ini dia lalukan untuk menjalankan taktiknya. Aku tidak tahu pasti, tapi mungkin saja Jackson sudah mengambil langkah awal untuk meminimalisir dampak buruk dari pengkhianatan Oliver kepadanya.
"Lama sekali, ya. Apa Anda tidak mempunyai tim administrasi yang handal agar prosesnya bisa lebih dipercepat?" tanya Jackson seperti merendahkan kinerja tim Oliver.
Kuakui jika Jackson tidak perlu banyak bicara kepada lawannya. Dia cukup mengatakan hal seperlunya saja yang bisa sampai menusuk jantung lawannya. Kulihat Oliver seperti sakit hati dengan pertanyaan Jackson. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi terlihat dari gestur tubuhnya Oliver berusaha menutupi ketakutannya.
"Saya sudah mengerahkan seluruh staf administrasi untuk mempercepat proses akuisisinya, Tuan. Kami telah bekerja semaksimal mungkin." Oliver membela nama baik diri dan timnya.
Jackson mengambil kacang yang disediakan di atas meja. "Hm, baiklah. Tapi mungkin aku akan menerjunkan orangku langsung untuk membantu prosesnya. Apa Anda keberatan?" tanya Jackson terus terang.
Oliver menelan ludahnya. Dia tahu jika sampai Jackson menerjunkan orangnya dalam proses akuisisi ini, pastinya dia tidak dapat bertindak macam-macam. Oliver tahu persis bagaimana cara Jackson bekerja. Atmosfer ketakutan darinya pun begitu kuat kurasakan. Dia seperti berusaha menyembunyikan kerja samanya dengan Hadden. Tapi Jackson langsung mematahkan tipu dayanya dengan ingin menerjunkan orangnya langsung.
Tuan Oliver, aku tidak tahu bagaimana Jackson dalam berbisnis jika tidak datang ke sini. Tapi terima kasih karena telah menunjukkan kepadaku betapa berbahayanya pria ini.
Percakapan mereka dilanjutkan sampai menemui sebuah kesepakatan. Jackson berhasil mendesak Oliver agar memberikan izin kepadanya untuk menurunkan orang dalam membantu proses akuisisi ini. Entah langkah apa selanjutnya yang akan Jackson ambil, yang jelas pertemuan hari ini sudah berhasil membuat Oliver ketakutan. Oliver harus berpikir ulang jika ingin mengkhianati Jackson.
Selain uang, otak juga harus berpikir matang sebelum memuluskan strategi untuk menang. Seperti yang kubilang, menghadapi seorang penjahat harus bersikap seperti penjahat. Begitupun menghadapi pengkhianat, harus bersikap seperti seorang pengkhianat. Dan siang ini Jackson telah berhasil membuat Oliver ketar-ketir dengan taktik kepura-puraannya. Jackson pura-pura tidak tahu jika Oliver bekerja sama dengan Hadden untuk merugikannya. Seperti Oliver yang berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
Selamat, Tuan. Anda memang luar biasa.
Pertemuan kali ini akhirnya menghasilkan sebuah kesepakatan yang berat untuk diterima Oliver. Tapi, mau tak mau dia harus menerimanya. Jackson sudah memberikan uang tunai kepada Angkasa Grup yang membuat dirinya menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan ini. Dia memang pria yang luar biasa, Jackson Baldev.