Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Di Mana, Kamu di Mana?


__ADS_3

Esok harinya...


Suara merdu burung yang bersiulan mulai terdengar di telingaku. Kedua mataku pun perlahan-lahan terbuka untuk melihat waktu. Samar-samar aku melihat keadaan sekeliling terlihat sangat sunyi. Aku pun menujukan pandanganku untuk melihat jam di dinding itu. Dan kulihat masih pukul lima waktu setempat. Entah pukul lima pagi atau lima sore, aku tak tahu. Tirai jendela ruangan ditutup rapat-rapat sehingga aku tidak bisa melihat apakah ini sudah pagi atau sore.


Embusan napas kurasakan menerpa tanganku. Kudengar seperti suara dengkuran seseorang. Lantas aku pun segera melihat siapa gerangan yang ada di sampingku. Dan ternyata, seorang pria berambut pirang tengah tertidur. Dia duduk di kursi yang ada di samping pembaringanku dengan kedua tangan sebagai sandaran kepalanya. Saat itu juga aku menyadari siapa gerangan dirinya.


Astaga!


Aku terperanjat melihatnya di sini. Dia sepertinya lelah sekali. Dan entah mengapa tanganku bergerak sendiri untuk mengusap kepalanya.


Dia datang lagi. Ke mana Jacksonku?


Aku tidak tahu mengapa dia bisa ada di sini. Kucoba untuk mengingat kejadian sebelumnya, Angela masih ada bersamaku. Entah di mana dia sekarang, tapi mungkin saja Angela sudah kembali ke rumahnya.


Sejenak aku pun tersadar jika tak sadarkan diri setelah Angela memberikan kabar kepadaku. Sebuah kabar yang tidak kuinginkan sama sekali.


"Tuan ...."


Lantas aku mencoba memanggilnya. Sekuat tenaga kugerakkan tangan untuk membangunkannya. Lalu akhirnya berhasil juga. Kulihat dia mulai tersadarkan dari tidurnya.


"Cecilia ...?"


Mata bening itu kulihat kembali. Setelah beberapa hari mencoba menjaga jarak darinya, akhirnya kami bertemu lagi. Tak tahu mengapa aku merasa kasihan padanya. Dia sepertinya semalaman menungguiku di sini. Sedang Jackson entah berada di mana.


Dialah Alexander. Pria berompi jas hitam ini ternyata menungguiku di rumah sakit. Aku tidak tahu apa yang terjadi selepas tidak sadarkan diri. Tapi mungkin saja dia datang saat Angela membutuhkan bantuan. Dan karena hal itu dia bisa menggantikan Angela untuk menjagaku di sini.


"Tuan, kau ...?"


Nada pertanyaanku masih terdengar lemah setelah rasa sesak melanda jiwaku. Aku baru saja kehilangan sesuatu yang amat berharap dalam hidup. Dan seharusnya Jackson lah yang menemaniku. Tetapi kenapa malah dirinya yang ada di sini? Sungguh yang aku inginkan adalah Jacksonku.


Tak lama kemudian dia bangun, duduk tegak di kursi sambil memijat dahinya sendiri. Dia terlihat begitu lelah dan kurang tidur. Mungkin dia habis begadang sambil menungguku tersadar.


Dia lebih mendekatkan kursinya ke dekatku. "Cecilia." Dia memegang tangan kananku. "Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyanya menunjukkan perhatian.


Aku melihat selang infus masih terhubung di tangan kiriku. Aku berusaha bangun agar bisa duduk. Pria berjas hitam ini pun membantuku tanpa diminta. Dia memegang erat punggungku dan juga kakiku. Dia membantuku duduk di kepala pembaringan ini.

__ADS_1


"Terima kasih." Aku pun berterima kasih kepadanya.


Alexander kemudian mengambilkanku segelas air minum dalam kemasan. Dia memberikannya padaku. "Minumlah, Cecilia," pintanya dengan lembut.


Aku pun meminum air yang diberikannya tanpa rasa khawatir. Dan kulihat dia tersenyum saat aku meminum air pemberian darinya. Rasa airnya memang tawar, sepertinya memang benar-benar air dalam kemasan tanpa tambahan apapun.


"Agh!"


Tiba-tiba saja kurasakan sakit di perutku saat air itu masuk ke tenggorokan. Saat itu juga Alexander terlihat panik sekali.


"Cecilia, kau baik-baik saja?!" Dia mencemaskanku.


Perlahan-lahan rasa sakit itu juga menghilang. Mungkin aku belum bisa meminum atau menyantap makanan apapun saat ini. Karena rasa perih masih kurasakan. Mungkin juga karena efek biusnya sudah menghilang.


"Tuan, bisa tolong ambilkan tasku?" Aku meminta bantuannya.


Kulihat tasku berada di atas meja yang ada di samping kasur. Tapi aku tidak bisa bergerak karena sedikit saja bergerak perutku terasa sakit. Aku pun meminta bantuan Alexander untuk mengambilkannya. Tapi sepertinya dia enggan untuk mengambilkan tasku.


"Cecilia, beristirahatlah. Masih pukul lima pagi," katanya enggan mengambilkan tasku.


Seketika itu juga dia menelan ludahnya. "Cecilia, ada aku di sini. Biarkan aku yang menjagamu." Dia keberatan aku menelepon Jackson.


"Tuan, kau tidak bisa melarangku!" Seketika aku kesal padanya.


"Cecilia, aku berniat baik padamu. Beristirahatlah. Aku tidak ingin terjadi sesuatu lagi padamu," katanya, menjelaskan maksud dari larangannya itu.


Mungkin saja Angela dan Alexander sudah mengobrol semalam. Dan mungkin saja Angela telah menceritakan apa yang terjadi padaku. Sehingga dia melarangku untuk berhubungan dengan Jackson. Mungkin Alexander khawatir jika istri Jackson akan mencelakaiku lagi.


"Tuan, kau menyebalkan!" Aku tetap tidak mengindahkan kata-katanya.


Lantas aku mencoba meraih tasku sendiri. Di saat itu juga kurasakan nyeri di perutku ini. Aku nekat mengambil tasku lalu akhirnya...


"Cecilia!"


"Aagh!"

__ADS_1


Belum sempat mengambil tas, perutku terasa sakit luar biasa yang membuat tubuhku kehilangan keseimbangan. Aku pun hampir jatuh jika tidak segera ditahan olehnya. Aku hanya ingin menelepon Jacksonku tanpa peduli bagaimana kondisiku. Lalu akhirnya darahku mulai naik ke selang infus. Alexander pun dengan cepat menghentikan saluran infusnya.


"Cecilia, mengapa kau seperti ini?" Alexander terlihat sedih. Dia membantuku merebahkan diri kembali.


"Tuan, aku ingin menelepon Jackson. Tolong jangan halangi aku," pintaku.


Alexander menggelengkan kepala. Tersirat kekecewaan dari raut wajahnya. Tapi, aku mencoba tidak peduli walau kutahu dia yang sedari tadi menungguku di sini. Aku ingin Jacksonku.


Satu jam kemudian...


Dokter baru saja selesai memeriksaku. Alexander pun masih setia mendampingiku di sini. Aku tidak tahu di mana Jackson berada sekarang. Tapi sepertinya dia masih sibuk di luar sana. Aku juga telah mencoba untuk menghubunginya, namun ternyata nomornya tidak aktif.


"Tuan, saya sarankan nona untuk menggunakan kursi roda terlebih dulu. Dia belum kuat untuk banyak bergerak. Pendarahan kemarin membuat tubuhnya membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka. Baiknya nona selalu didampingi." Dokter menyarankan.


"Baik, Dok." Alexander pun mengangguk.


"Mulai hari ini selang infus akan dilepas agar tubuhnya bisa beradaptasi. Jika ada keluhan dapat menghubungi layanan darurat pihak rumah sakit." Dokter menambahkan.


"Terima kasih, Dok." Alexander pun mengiyakan.


Tak lama kulihat seorang perawat mengantarkan kursi roda untukku. Saat itu juga aku merasa bingung mengapa hal ini bisa terjadi padaku. Padahal baru kemarin aku merasa kasihan melihat Oliver menggunakan alat bantu berjalan. Tapi ternyata, aku lebih kasihan dibandingkan dirinya.


"Kami permisi, Tuan." Dokter pun berpamitan.


Alexander mengangguk. Dia mengantarkan dokter sampai ke depan pintu ruangan. Aku pun hanya bisa terdiam saat mendengarkan semua penjelasan tadi. Aku memang susah diatur. Tahu tubuhku masih lemah, tetapi tetap saja memaksakan kehendak. Akhirnya aku yang kesakitan sendiri.


"Cecilia." Alexander berjalan mendekatiku setelah mengantar dokter itu.


Dia menatapku penuh kasih. Tersirat ketulusan dari bola mata birunya. Tak tahu mengapa yang kurasakan dia bersikap tulus padaku. Padahal Jackson bilang, dia diminta oleh Hadden untuk mendekatiku. Apakah hatiku salah? Atau pikiranku yang tidak fokus pada peperangan ini?


"Sudah jam setengah tujuh pagi. Mau berjemur sambil berjalan-jalan di sekitar rumah sakit?" tanyanya padaku.


.........


...Alexander...

__ADS_1



__ADS_2