
Sore harinya...
Pekerjaan hari ini terselesaikan dengan baik. Siang tadi aku makan bersama Clara di kedai yang ada di dekat kantor. Tak tahu mengapa Clara jadi sedekat ini kepadaku. Mungkin dia memang membutuhkan teman untuk mengobrol. Jadi ya sudah, aku pun mencoba membuka diri dan mengobrol dengannya. Kami akhirnya mengobrol bersama selama makan siang berlangsung.
Clara menceritakan jika dia adalah orang lama di PT Samudera Raya. Mungkin bisa dikatakan jika Jackson lah yang memungutnya hingga dia bisa sesukses ini. Clara bilang Jackson sebenarnya baik, hanya saja perawakannya di kantor memang seperti itu. Kata Clara ada beberapa hal yang harus dijaga Jackson selama bekerja. Dia tidak tahu persisnya seperti apa. Tapi selama dia perhatikan, semenjak menikah dengan Zea, bosnya itu banyak berubah.
Aku mencoba menyelidiki tentang Zea dan Andreas kepada Clara, tapi Clara diam saja. Dia tidak mau menceritakannya. Mungkin Clara tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara ketiganya, cuma dia tidak mau cerita. Dia tadi langsung mengalihkan ke pembicaraan lain. Mungkin dia takut tertimpa kondisi serba salah, karena jika menceritakan dia akan terkena getahnya.
Setelah makan siang, aku kembali bekerja dan melanjutkan rutinitas harianku. Kulihat saat itu Jackson masih belum keluar dari ruangan. Dia seperti ingin menutup dirinya hari ini. Jadi ya sudah, kubiarkan saja dia di dalam ruangan sampai jam pulang kantor tiba. Dan kini aku bergegas menuju ke lantai satu bersama yang lainnya.
Sore ini semburat merah sudah menyelimuti langit angkasa. Jalanan juga sudah dipadati oleh kendaraan yang lalu-lalang dari berbagai arah. Lantas segera saja aku masuk ke dalam mobil lalu melajukannya menuju apartemenku. Perjalanan sore ini kunikmati seorang diri hingga akhirnya petang tak lama tiba. Namun, sesuatu tiba-tiba terjadi padaku saat sudah sampai di pertengahan jalan.
Mobilku oleng?
Aku berada di jalan raya besar dan mengambil posisi tengah. Tak tahu mengapa saat melintas jalan raya, laju mobilku tidak stabil seperti tinggi sebelah. Lantas segera kunyalakan lampu sen kiri untuk segera menyingkir dari padatnya kendaraan yang melaju. Aku berniat mencari jalanan yang sepi. Tak lama kulihat ada taman yang tak jauh dari sini. Aku pun segera melajukan mobil ke sana, keluar dari jalur untuk mengecek mobilku. Dan ternyata...
"Astaga, bannya kempes?!"
Langit sudah mulai gelap saat kuperiksa ban mobilku yang ternyata benar-benar kempes. Padahal sebelumnya baik-baik saja. Ini aneh sekali. Apa mungkin Jackson menyuruh orang untuk mengempeskan ban mobilku karena marah? Tapi apa dia sampai setega itu?
"Aduh, bagaimana ini?"
Jalanan taman ini tampak sepi menjelang malam. Jika kembali ke jalan raya itu tidak mungkin kulakukan. Yang ada mobilku malah diserempet orang. Aku jadi harus memikirkan cara bagaimana agar bisa sampai ke apartemen dengan mengendarai mobilku. Lantas aku mendapatkan ide untuk menelepon derek mobil terdekat.
Pantas saja aku merasa mobilku tinggi sebelah, ternyata ban belakang sebelah kanannya kempes.
Aku berniat mengambil ponselku yang ada di tas, di dalam mobil untuk meminta bantuan. Namun, saat itu juga kudengar suara beberapa pria yang mendekat ke arahku. Aku pun cepat-cepat mengambil ponsel.
__ADS_1
"Wow, pinggul yang indah." Seseorang berkata seperti itu dari belakangku.
Aku kemudian melihat siapa yang datang. "Siapa kalian?!" Kulihat ada tiga orang pria dengan raut wajah bengis menghampiriku. Mereka seperti ingin mengangguku.
"Hei, Cantik. Kau begitu indah sekali. Bolehkah kami mencicipimu?" tanya salah satu pria seenaknya.
Astaga!
Seketika itu juga aku menyadari jika mereka benar-benar ingin mengangguku. Lantas aku segera masuk ke dalam mobil untuk berlindung. Tapi belum sempat menutup pintu, salah satu dari pria itu menarikku keluar.
"Lepaskan!" Aku berusaha melepaskan tangan dari pegangannya.
Kusadari jika situasi ini sangat kurang baik untukku. Aku pun segera menekan tombol darurat di ponsel yang langsung terhubung dengan Angela. Tapi belum sempat kulakukan, ponselku diambil oleh salah satu dari mereka.
"Dia ingin mencoba meminta bantuan, Kawan. Hahaha." Bandit itu tertawa lalu melempar ponselku ke sembarang arah.
"Kembalikan ponselku! Aku peringatkan kalian jangan macam-macam padaku!"
"Dadanya besar, Kawan. Aku sudah tidak sabar untuk mencicipinya." Bandit di depanku seperti serigala yang kelaparan. Saat itu juga aku panik sekali.
Sialan!
Aku seperti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Lantas sekuat tenaga aku melepaskan diri. Tapi salah satu dari mereka malah mendorongku masuk ke dalam mobil. Sedang keduanya berjaga di depan.
"Pergi kau!" Aku seperti mau diperkosa saja olehnya. "Tolong!!!" Kutendang dia sekuat tenaga lalu keluar dari pintu lain.
"Hei, dia lari!" Salah satu bandit itu berkata kepada kawannya saat melihat aku lari.
__ADS_1
"Kejar dia! Jangan sampai lepas!" Bandit yang kutendang memegang miliknya sambil meringis.
Aku terus saja berlari untuk meminta pertolongan. Aku tidak peduli lagi dengan mobil dan tasku yang ada di dalam sana. Aku berlari sekuat mungkin untuk menghindari mereka. Karena tidak mungkin bagiku untuk melawan ketiganya. Yang ada terlawan tidak, tubuhku malah digerayangi mereka. Jadi aku memutuskan untuk lari saja.
Cecilia, kau harus kuat. Lari yang kencang!
Kulepas sepatuku lalu terus saja berlari. Tak lagi peduli dengan laju napasku yang sudah tidak karuan. Aku pun sesekali melihat ke arah belakang untuk memastikan jika tidak terkejar oleh mereka. Namun, tak beberapa lama kemudian tubuhku membentur sesuatu.
"Aduuuh!"
Aku terlalu fokus berlari sambil sesekali melihat ke arah belakang, sampai-sampai aku tidak menyadari jika ada orang di depanku. Dan akhirnya aku malah menumburnya.
Di-dia?!
Kulihat seorang pria tertumbur olehku. Pria itu mengenakan setelan jas berwarna abu-abu. Aku terjatuh di depannya sedang dia membersihkan jasnya yang terkena debu karenaku. Kawanan bandit itu pun kulihat semakin dekat saja. Lantas aku segera meminta pertolongan kepada pria yang kutumbur ini.
"Tuan, tolong aku. Mereka ingin memperkosaku," kataku amat panik.
Pria di hadapanku ini hanya diam. Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya saat kawanan bandit itu semakin mendekat.
"Pergi atau kutembak mati?" katanya seraya menodongkan pistol ke arah bandit-bandit itu.
Seketika aku menyadari jika pria ini membawa pistol. Aku pun jadi semakin takut karena khawatir dia akan mencelakaiku. Lantas aku segera berlari darinya.
Aku harus menyelamatkan diri.
"Nona, tunggu!" Dia berkata padaku.
__ADS_1
Baru saja ingin lari, tanganku ini ditahan olehnya. Aku jadi bertambah panik. "Tuan, tolong jangan sakiti aku. Aku bukan orang jahat, aku juga tidak punya apa-apa. Jika kau mau ambil saja mobilku dan apa yang ada di dalamnya. Tapi biarkan aku pergi," kataku sambil memelas kepadanya.
Kulihat dia tersenyum. Bandit-bandit itu pun sudah pergi menjauh. Mereka tidak berani lagi mengejarku karena kehadiran pria ini. Entah siapa dia, tapi sepertinya dia lebih muda dari Jackson. Dan kini dia memegang tanganku agar tidak lari darinya.