
Kuintip dari kaca pembesar di balik pintu. Kulihat ada seorang pria berseragam hitam membawa satu wadah besar yang entah apa isinya. Aku pun menarik napas panjang agar bisa berpikir tenang. Kuambil ponsel lalu menelepon Jackson. Aku ingin memberi tahu jika ada yang datang ke apartemennya ini.
"Ada apa, Cecilia?" Dia segera mengangkat teleponku, bertanya langsung ke inti. Seperti sedang sibuk di sana.
"Tuan, ada yang datang. Suara pria berteriak paket," jawabku segera.
"Em ...," Dia terdiam sejenak. "Buka saja tak apa." Terdengar seperti suara tumpukan dokumen dari sana.
"Baiklah, Tuan. Kalau begitu—"
"Ingat! Jangan bandel. Istirahat dan jangan keluar sebelum kupinta," katanya lalu tak lama sambungan telepon kami terputus.
Tuan ....
Saat itu juga aku merasa terharu dengan sikapnya. Mungkin pikiranku selama ini salah. Aku pikir dia begitu arogan dan tidak bisa ditaklukkan. Namun nyatanya, dia bisa berlaku hangat padaku. Hampir-hampir saja butiran kristal bening itu keluar dari persembunyiannya karena merasa haru.
Cecilia, lihatlah! Ternyata Jackson membuktikan ucapannya padamu.
Aku juga tidak ingin menganggu Jackson yang sedang bekerja. Sengaja tidak kutelepon lagi karena sepertinya dia sedang amat sibuk di sana. Jadinya kubiarkan saja lalu kembali fokus kepada seseorang di depan pintu.
Baiklah.
Aku segera berjalan menuju pintu untuk membukanya. Aku berharap yang datang bukanlah salah satu musuh dari Jackson. Jackson juga sudah mengizinkanku untuk membuka pintunya. Itu berarti di luar bukanlah sebuah jebakan atau orang yang membahayakan untukku.
Kubuka pintu untuk melihat lebih jelas siapa yang datang. Dan ternyata...
"Dengan Nona Cecilia?" Pria pengantar paket bertanya seraya tersenyum padaku.
"Ya, benar. Siapa, ya?" tanyaku sedikit khawatir.
"Maaf, Nona. Saya diminta mengantarkan paket ini. Silakan Nona tanda tangani di penerima," katanya, seraya menyerahkan tanda terima beserta penanya kepadaku.
Aku tidak tahu apa isi dari paket ini. Kutanda tangani saja jika paketnya sudah kuterima. Sang kurir pun kemudian memberikan paketnya kepadaku. Namun, saat kuterima paketnya...
"Astaga ... berat sekali?!" Aku bingung mengapa paket ini berat sekali. "Ini paket apa, ya?" Aku bertanya kepada kurir itu.
"Paket ini dari tuan Jackson, Nona. Tolong habiskan dalam satu hari, ya. Permisi." Dia tersenyum lalu membungkukkan badannya kepadaku. Kurir itu pun segera berlalu pergi dari hadapanku.
__ADS_1
Dari Jackson? Dihabiskan dalam satu hari? Memangnya apa isinya?
Aku penasaran. Lantas segera kututup pintu sambil membawa paket ini. Katanya sih dari Jackson. Benar atau tidaknya, mari kita buka saja paketnya.
"Pesan darinya?"
Saat membuka bungkus paket, ternyata paket ini memang benar dari Jackson. Dia menulis pesan di secarik kertas pada bagian atas paketnya.
Baby, habiskan dalam satu hari. Jangan bandel!
"Hah ...?!" Seketika aku bergidik geli membaca pesannya.
Tumben dia mengirim pesan seperti ini? Apa dia sudah gila?
Entah mengapa aku jadi geli saat membaca pesannya. Aku seperti bertemu dengan Jackson yang lain. Tidak biasanya dia memerintahku dengan sebuah kata yang memanjakan. Atau jangan-jangan yang menulis bukanlah dirinya, melainkan orang lain? Entahlah. Kita lihat saja isi paketnya.
Lantas kubuka segel penutup wadah besar ini. Kulihat isinya, dan ternyata...
"Astaga Jackson?!!"
Dua puluh liter salad buah dengan berbagai macam buah-buahan tropis yang sudah dipotong kecil-kecil. Dan semua ini harus aku habiskan dalam satu hari.
Kutepuk dahiku sambil berjongkok di lantai ruang tamu. Aku tak percaya jika Jackson memintaku untuk menghabiskan dua puluh liter salad buah dalam sehari. Ini benar-benar gila.
Sayang sih sayang, tapi tidak begini juga Jackson!
Karena masih tak percaya harus memakan salad buah seharian, aku beranjak ke dapur untuk melihat isi kulkasnya. Kubuka pintu kulkas, kali-kali saja ada makanan cepat saji yang bisa kumakan untuk sarapan sekaligus makan siang. Namun ternyata ... tidak ada.
Dia benar-benar ingin mengajak ku gelut rupanya.
Jelas-jelas semalam aku melihat banyak makanan di dalam kulkasnya. Tapi menjelang siang ini sudah tidak ada. Yang ada hanya beberapa botol anggur merah, suplemen kesehatan dan susu pembentuk massa otot. Masa iya aku harus makan ini? Kan tidak mungkin.
Baiklah, Jackson. Tidak ada makanan, aku bisa memesan online.
Lantas aku kembali ke ruang tamu, mengambil ponsel untuk memesan makanan online. Namun ternyata, aplikasi pesan makanan online di ponselku juga sudah tidak ada.
Aaarrrghhh...
__ADS_1
Seketika aku merasa kesal sendiri. Dia seperti amat menguasai duniaku sampai-sampai lalu lintas perutku pun harus diaturnya. Benar-benar menjengkelkan.
Ya Tuhan, Jackson tega sekali. Aku harus makan siang hanya dengan salad buah ini. Mana bisa kenyang?
Aku menggerutu. Bertepatan dengan itu dering ponselku berbunyi, menyadarkanku dari rasa kesal yang tengah berkobar. Kulihat jika Jackson lah yang meneleponku. Segera saja kuangkat telepon darinya.
Kebetulan sekali, Tuan. Mari kita berkelahi. "Halo?" jawabku setengah hati.
"Sudah dimakan semua kirimannya?" tanyanya santai padaku.
Dimakan? Hei, Jackson! Kau pikir aku ini apa diminta makan buah-buahan sebanyak ini? Aku bukan frugivora. Aku Cecilia!
"Em, Tuan. Kau baik hati sekali memberiku berliter-liter salad buah. Aku sungguh terharu." Aku pura-pura senang menerima paket darinya padahal memasang wajah mual.
"Kau harus banyak makan buah, Cecilia. Setelah kenyang, datanglah ke Angkasa Grup. Oliver menunggumu di sana," katanya, seolah tidak peka dengan kata-kataku.
"Menunggu?" Aku terkejut mendengarnya.
"Ya. Datang ke sana dan bicarakan andilmu di perusahaan itu. Nanti aku akan menyusul." Dia menjelaskan.
"Andil? Tuan, jangan-jangan ini adalah hal yang kau bicarakan dulu?"
"Ssstt. Jangan banyak bicara, menurut saja. Oke, Baby?" Dia dengan mudahnya berkata seperti itu.
"Em, baiklah." Aku seperti tidak mempunyai kekuatan untuk membantah.
"Sampai nanti, Rubah Licikku." Dia mematikan teleponnya.
Apa? Rubah licik?!
Kulihat nama Jackson tertera di layar ponselku. Sikapnya yang berubah-ubah membuat tensi darahku turun-naik saja. Dia menyuruhku menurut tanpa mau mendengarkan penjelasan dariku. Jackson memang menyebalkan sekali.
Baiklah, Cecilia. Makan saja yang ada. Nikmati dua puluh liter salad buah lalu segera pergi ke Angkasa Grup. Yang kenyang, ya.
Sungguh jika bukan karena cinta, Jackson pasti sudah kuledakkan dengan bom Hiroshima. Sifatnya itu membuat hatiku ingin mencacaknya. Lantas aku jadi berpikir, kapan dia bisa bersikap statis padaku? Tetap dan tidak berubah-ubah?
"Ternyata enak juga."
__ADS_1
Kucicipi salad buah dengan sendok kopiku. Ternyata rasanya memang enak luar biasa. Sambil mendumel dalam hati, sambil mengunyah makanan. Bisa santai di apartemennya amat langka kudapatkan. Jadi kunikmati saja sampai perut kenyang. Karena setelah ini aku akan kembali berhadapan dengan dunia bisnis yang membuat perutku mual.
Semangat, Cecilia!