Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Ternyata Dia?!


__ADS_3

Sepuluh menit kemudian...


Kopi telah kusediakan ke atas meja, dan kini sedang diseruput olehnya. Aku masih menunggu janji Jackson yang akan menceritakan siapa sebenarnya Alexander kepadaku. Aku berharap akan lebih bisa berhati-hati setelah tahu siapa sebenarnya Alexander. Karena jujur saja aku khawatir suatu hari nanti akan terhanyut dengan kata-katanya. Jadinya aku harus berjaga-jaga sedari sekarang.


Jackson meletakkan cangkir kopinya ke atas meja. Pria berwajah muram yang duduk di sampingku ini berhenti merokok saat sedang menyeruput kopi. Entah mengapa saat melihatnya, aku merasa dia itu sudah menjadi suamiku. Mungkin inilah yang dinamakan halu.


"Alexander adalah anak dari pemilik Queen Club. Dia membawahi banyak model cantik di kota ini." Sebuah pernyataan Jackson ucapkan padaku.


"Queen Club?" Seketika aku tertegun mendengar kata-katanya.


"Ya. Banyak model cantik yang direkrut dan diasuh di sana. Mereka juga bisa diperjualbelikan. Para pengusaha kaya biasanya mampir membeli satu atau dua untuk menemani semalam," kata Jackson lagi.


Ap-apa?!


Tiba-tiba saja jantungku berdetak tidak karuan. Ternyata Alexander adalah anak dari pemilik Queen Club, tempat di mana berkumpulnya model cantik dan seksi. Sungguh aku tak percaya dengan hal yang kudengar ini.


"Dia baru datang dari luar negeri. Mungkin sekitar dua atau tiga bulan yang lalu. Tapi, aku belum tahu ada siapa di belakangnya sampai berani mengganggumu." Jackson membuka bungkus rokoknya yang baru. Dia terlihat menahan kesal saat membicarakan Alexander.


Seketika aku teringat sesuatu. "Tuan, tadi dia bilang jika kau sudah lama tidak mampir. Apa maksudnya?" Aku ingin memperjelas kata-kata Alexander tentang Jackson.


Sungguh, aku takut jika Jackson sama seperti pengusaha lainnya yang suka membeli model untuk menemani semalam. Aku tidak siap menanggung kekecewaan karena sudah terlanjur mencintai Jackson. Aku ingin Jackson hanya menjadi milikku sepenuhnya.


"Aku membeli Jenny dari ayahnya. Dan karena hal itu dia bisa bersama Peter." Jackson mulai jujur padaku.


"Apa?!" Sungguh tak bisa kupercaya hal yang kudengar ini.


"Aku tidak ingin kau dekat-dekat dengannya, Cecilia. Bagiku ... kau hanya milikku." Jackson menegaskan padaku.


Jadi selama ini Alexander mendekatiku hanya untuk menjualku?


Aku tidak habis pikir jika hal yang kupikirkan ini benar adanya. Sungguh aku tidak bisa percaya jika pria sekalem Alexander bisa menjadi singa kelaparan. Namun, aku tidak boleh menghakimi sebelah pihak, sebelum mengetahui kebenarannya sendiri. Aku tidak boleh percaya begitu saja walaupun kepada Jackson yang notabenenya kucintai. Aku harus tetap berhati-hati agar tidak menimbulkan masalah lagi.

__ADS_1


"Tuan, apakah ini serius?" Aku meminta kepastian darinya.


Jackson menoleh ke arahku. "Kau menganggapku berbohong, Cecilia?" Dia balik bertanya.


Aku menggelengkan kepala. "Tidak-tidak. Bukan begitu, Tuan. Hanya saja aku tidak percaya jika dia juga menjual wanita. Bukankah kau membeli Jenny dari ayahnya, bukan darinya?" Aku takut sekali jika salah bicara pada Jackson. Tapi rasa penasaranku ini sudah membumbung tinggi ke angkasa.


Kulihat Jackson tersenyum tipis. "Tanyakan saja kebenaran ini pada Jenny. Dia akan memberi tahumu." Jackson menyarankan.


"Jenny? Tapi bukannya dia ada di—"


"Besok jadwal Jenny keluar dari rumah keluarga besar. Kau bisa mengajaknya berbincang sebentar," kata Jackson lagi.


"Lalu bagaimana denganmu, Tuan?" Aku khawatir. Takut dia kenapa-kenapa setelah ini.


Jackson terdiam. Dia lalu menciumku tiba-tiba. Ciuman yang membuatku mabuk dan ingin segera membalasnya. Namun, ternyata dia hanya menciumku sebentar.


"Hal rumit dan menyakitkan akan segera terjadi. Jadi, bertahanlah bersamaku," pintanya. "Kau harus kuat, Cecilia. Aku juga tidak ingin berlama-lama seperti ini." Dia mengucapkan suatu kalimat yang membuatku haru.


Jackson kemudian memelukku. Pelukan yang amat berbeda kurasakan. Dia juga mengusap kepalaku, seperti sedang mengatakan jika dia menyayangiku. Entah mengapa aku jadi ingin menangis di pelukannya.


"Sudah, jangan banyak pikiran. Cukup turuti saja apa yang aku katakan," katanya lalu mengusap perutku ini.


Tuan ....


Betapa haru diriku saat mendapatkan perlakuan lembut darinya. Dia seperti amat menyayangiku walau kata cinta itu belum pernah terucapkan. Mungkin segala sikap lembutnya ini sudah lebih dari sekedar kata-kata aku sayang kamu. Dan aku merasa sangat beruntung karena bisa menaklukkan hatinya. Ya, aku amat menyayangi Jacksonku dan berharap kami bisa bersama selamanya. Aku juga berharap hari bahagia itu akan segera tiba.


"Sekarang beristirahatlah. Aku akan menemanimu tidur." Dia mengajak ku tidur.


"Tapi ...."


"Ssst. Lupa kata-kataku?" tanyanya, seolah mengingatkanku agar menurut padanya.

__ADS_1


Aku mengangguk. Jackson pun kemudian menggendongku masuk ke dalam kamar. Sepanjang jalan tak henti-hentinya kupandangi wajahnya yang rupawan. Hingga akhirnya dia merebahkanku ke atas kasur. Dia seperti suami sungguhan.


"Istirahat, ya." Dia mengecup keningku lalu menyelimuti tubuh ini.


Sungguh betapa bahagia hatiku. Ternyata pelan tapi pasti semua keinginanku itu bisa menjadi kenyataan. Dan kini tidak ada hal lain yang perlu kutakutkan selain kehilangan dirinya. Aku sangat berharap hal itu tidak akan pernah terjadi padaku. Aku mencintai Jacksonku.


Tuan, terima kasih.


Jackson menemaniku tidur. Dia tidur di sisi kiriku. Aku pun merebahkan kepala ini di dadanya. Kudengar alunan merdu detak jantungnya. Rasanya aku ingin selalu mendengarnya. Walaupun hanya di setiap malam, itu sudah cukup bagiku. Karena kusadari jika kami belum bisa secara terang-terangan menampakkan kemesraan. Jackson masih harus menyelesaikan urusannya terlebih dulu.


Aku berharap semuanya berjalan lancar. Aku tidak ingin main-main lagi.


Dalam diam aku berharap, dalam keheningan aku berdoa. Semoga saja Jackson adalah jawaban dari segala doaku. Aku tidak ingin mencari yang lain lagi. Cukup hanya dirinya seorang, untukku selamanya.


"Tuan, aku mencintaimu," kataku yang mulai mengantuk di dadanya.


"Tidurlah. Beristirahat segera." Dia menjawab dengan suara yang lembut.


"Nanti yang mengunci pintu siapa?" tanyaku, khawatir jika dia pergi tidak ada yang mengunci pintu.


"Aku kunci dari luar saja. Ada kunci cadangan, kan?" tanyanya sambil mengusap lembut kepala ini.


"He-em. Kuncinya di dalam tasku, ya." Aku berpesan sebelum terlelap.


Jackson masih mengusap kepalaku hingga akhirnya aku mengantuk. Kurasakan kening ini juga dikecup olehnya. Hangat bibirnya menyentuh permukaan keningku. Yang mana membuat hatiku terasa damai sekali. Andai ini mimpi, aku tidak ingin terjaga darinya. Aku ingin selalu bersamanya. Bersama Jacksonku.


Cecilia, inilah buah dari kesabaranmu menghadapi Jackson.


Tak lama, perlahan-lahan napasku berangsur pelan. Mataku juga sangat berat untuk dibuka lagi. Sepertinya memang sudah waktunya bagiku untuk lekas beristirahat. Dan ya, kulemaskan badan ini lalu mulai mengambil napas panjang. Sebentar lagi aku akan memasuki alam mimpi.


Aku tetap Jackson. Aku sudah terlanjur basah dengannya.

__ADS_1


Jika disuruh memilih, aku akan tetap memilih Jackson daripada Alexander. Walaupun Alexander tampan dan rupawan, bagiku Jackson tetaplah number one. Aku tidak ingin mencari yang lain. Karena kupercaya jika Jackson bisa selalu menjagaku. Sekarang, nanti dan selamanya.


__ADS_2