
Satu jam kemudian...
Kami akhirnya sampai di tempat karaoke kelas elit di kota ini. Di mana untuk masuknya saja harus melalui pemeriksaan terlebih dahulu. Banyak penjaga di depan maupun di dalamnya. Aku pun hanya bisa menelan ludah saat melihat daftar harga yang tertera.
"VIP room untuk dua jam." Alexander berkata kepada operator yang berjaga.
"Ingin sekalian memesan makanan atau minuman, Tuan?" tanyanya pada Alexander.
Alexander menoleh kepadaku lalu kembali beralih ke operator itu. "Nanti saja. Aku bayar di muka," katanya lalu memberikan kartu debitnya.
"Baik, Tuan. Mohon ditunggu." Operator itupun segera mempersiapkan ruangan karaoke untuk kami. "Bougenville 010." Dia kemudian berbicara kepada si pengantar tamu.
"Silakan, Tuan." Pengantar tamu itupun mempersilakan kami untuk mengikutinya.
Lantas aku berjalan sambil menyampirkan tas di pundakku. Aku mengikuti ke mana operator itu pergi. Namun, saat di perjalanan ternyata Alexander diam-diam meraih jari-jemari tanganku, seakan ingin mengajak berpegangan tangan. Dan jari-jemarinya itu berhasil membuatku tersenyum-senyum sendiri. Kutahu jika dia bukanlah tipikal pemaksa seperti Jackson. Dia ingin aku melakukan sesuatu atas kesadaranku sendiri.
"Silakan. Waktu akan dimulai setelah lagu pertama terputar. Jika ada keperluan bisa menghubungi pihak layanan kami." Pengantar tamu memberi tahu bagaimana cara meminta bantuan lewat program.
"Terima kasih. Aku sudah mengerti." Alexander mengangguk lalu pengantar tamu itupun pergi.
Wow, dinding ruangannya bisa berubah-ubah?!
Aku rasa ruangan VIP ini hampir sama seperti ruangan karaoke lainnya. Hanya saja background ruangan bisa diubah-ubah sesuai selera. Dan juga...
"Empuk sekali."
Sofa panjang yang disediakan begitu empuk sehingga nyaman diduduki. Ditambah lagi aroma terapi dari parfum ruangan yang disemprotkan. Benar-benar membuat ketagihan. Rasanya rela jika berlama-lama di sini.
"Mereka tidak akan masuk jika kita tidak memanggilnya." Alexander duduk di sampingku. Dia mulai membuka menu programnya.
"Eh, benarkah?" tanyaku tak percaya.
"He-em. Jika pihaknya ada yang masuk tanpa izin, kita berhak mendapat ganti rugi dua kali lipat dari harga yang dibayarkan. Untung, bukan?" katanya seraya tersenyum padaku.
"Hahaha." Aku tertawa seraya mengambil bantal untuk menutupi pahaku yang sedikit terlihat karena hari ini aku memakai rok. "Tuan, kau selalu menraktirku. Apa tidak takut uangmu habis?" tanyaku menyelidik.
"Astaga." Dia lantas mengusap-usap kepalaku. "Aku bekerja untuk membahagiakan orang-orang terkasih, Cecilia. Bukan untuk diri sendiri." Dia kemudian memegang tanganku ini.
Kurasakan tangannya begitu hangat. Genggamannya seolah menyiratkan bagaimana perasaannya padaku. Aku pun hanya bisa membiarkannya memegang tanganku. Aku mulai menikmati waktu bersamanya. Entah bagaimana ke depannya, aku jalani saja yang ada.
"Tuan, aku pilih lagu, ya." Aku kemudian memilih lagu pertama untuk kami.
"Senorita?" Dia pun kaget saat melihat lagu pilihanku.
"Kau bisa berdansa?" tanyaku, menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Kau meragukanku?" Dia malah balik bertanya padaku.
"Hah, baiklah."
Aku pun pasrah, tidak membantahnya. Dan kulihat Alexander mengusap kepalaku lagi. Dia ternyata amat penyayang orangnya.
"Tuan."
"Hm?"
"Bolehkah aku bertanya?" Kusandarkan punggung di sofa setelah memilih lagu.
"Tanyakanlah." Dia meminta.
"Saat kudatang tadi kau tidak lagi mengenakan jasmu. Memangnya jam berapa pulang di kantormu?" Aku ingin tahu.
"Oh, itu." Dia ikut memilih lagu. "Jam kerja dari pukul setengah sembilan pagi sampai setengah lima sore. Setelahnya aku membebaskan timku untuk mengenakan pakaian santai, tapi tetap sopan." Dia menceritakan.
"Berapa jumlah orang dalam timmu?" Aku bertanya lagi.
"Aku punya lima orang arsitek dalam timku. Kenapa?" Dia menoleh ke arahku.
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya bertanya saja," kataku.
"Baiklah, kita mulai." Aku segera menyetel lagu pilihanku, Senorita.
Kutarik napas panjang lalu mulai mengambil nada. Di hadapan Alexander aku tidak akan malu-malu lagi. Dia sudah melihat wajah polosku saat baru terbangun dari tidur. Dan aku rasa tidak perlu ada lagi yang ditutup-tutupi selain isi hatiku. Jadi mari kita mulai kehidupan yang baru.
Tuan, mari berdansa denganku.
Beberapa menit kemudian...
Kami tertawa bersama. Alexander membantuku menyanyikan lagu pilihanku. Aku pikir dia akan tergoda dengan sikapku saat menyanyikan lagunya. Namun nyatanya, dia malah tersenyum-senyum sendiri. Mungkin dia ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
Kuakui jika mulai menggila karena cinta yang terabaikan. Kusadari jika pria di depanku ini hanya sekedar pelarian. Tapi, aku mencoba menikmati waktu bersamanya. Seolah-olah aku memang sedang menyukainya. Kata orang sih pura-pura itu bisa menjadi kenyataan. Dan aku mencoba melakukannya. Semoga saja ada jalan untuk kami melanjutkan hubungan ini. Karena sungguh apa yang akan terjadi nanti, kami tidak bisa mengetahui.
"Selamat malam. Layanan pelanggan." Ruangan kami pun terketuk setelah Alexander menekan tombol layanan.
Pelayan tempat ini masuk lalu menanyakan kebutuhan kami. Aku pun segera menunjuk menu yang ingin kupesan. "Red Grape satu, ya." Aku memesan sebotol anggur kepada pelayan.
"Cecilia!" Seketika itu juga Alexander menahanku.
"Eh?" Aku menoleh ke arahnya.
"Kau yakin ingin minum?" tanyanya di hadapan pelayan yang menunggu pesanan kami.
__ADS_1
"Iya, memangnya kenapa?" Aku bersikap biasa saja.
Dia menggelengkan kepala lalu beralih ke pelayan itu. "Jus mangga dan alpukat satu. Cemilannya pisang keju dan kentang goreng. Selebihnya akan kami panggil kembali." Alexander berbicara seperti itu kepala pelayan yang datang. Dia melarangku untuk memesan minuman.
"Tuan?!" Aku pun terheran dengan sikapnya.
Alexander diam. Dia hanya menggelengkan kepala seraya memegang pergelangan tanganku ini. Dia tidak mengizinkanku untuk memesan minuman itu.
"Baik, Tuan, Nona. Mohon ditunggu." Pelayan itupun berpamitan.
Suara musik masih terdengar di ruangan ini. Seolah mewarnai betapa dekatnya jarak di antara kami. Dimana Alexander sudah berani melarangku.
Pelayan itu pergi lalu menutup pintu. Aku pun segera bertanya padanya. "Tuan, kenapa aku tidak boleh memesan anggur?" tanyaku ingin tahu.
Alexander menyandarkan punggungnya di sofa. "Tidak boleh. Perempuan tidak boleh minum minuman beralkohol," katanya.
"Memangnya ada yang salah?" tanyaku lagi.
"Cecilia." Dia menatapku. "Kau itu calon ibu. Maka jadilah ibu yang baik untuk anak-anakmu. Jika aku tidak bisa mencegah keinginanmu, sama saja aku gagal menjadi seorang pria," katanya yang membuat hatiku terenyuh.
Aku menatapnya, melihat sinar bening bola mata birunya. Kurasakan getaran aneh saat dia berkata seperti itu padaku. Rasa-rasanya aku sudah menemukan pelabuhan terakhir untuk hidupku ini. Tapi masalahnya, apakah dia benar-benar tulus kepadaku? Sungguh aku masih khawatir akan hal ini.
"Permisi."
Tak lama pelayan datang mengantarkan pesanan kami. Dia kemudian meletakkan semua pesanan ke atas meja. Aku pun mulai mencicipinya.
Enak sekali.
"Ini untuk beli es." Tiba-tiba aku terkejut saat melihat Alexander mengeluarkan selembar uang merah kepada pelayan itu.
"Tidak usah, Tuan. Terima kasih." Pelayan itu menolaknya.
"Tidak apa-apa. Aku yang berterima kasih karena sudah diantarkan pesanannya." Alexander tersenyum kepada pelayan itu.
Sontak aku terperangah melihat sikap Alexander. Ternyata dia bermurah hati kepada siapapun. Pantas saja jika dalam lima tahun terakhir dia bisa membangun CV sendiri. Mungkin karena doa baik yang selalu menyertainya. Dan memang kebaikan itu akan selalu berbuah kebaikan. Aku pun berharap dapat seperti itu suatu hari nanti.
Tuan, terima kasih telah mengajarkanku arti dari memberi.
Pelayan itu kemudian pergi. Aku pun segera menyeruput jusku ini. Namun, tiba-tiba saja...
"Cecilia!!!"
Kulihat pintu ruangan didobrak dari luar, sebelum sempat menyeruput jus ini. Dan kulihat yang mendobraknya adalah...
"Jackson?!" Seketika aku terperanjat melihat kedatangannya.
__ADS_1