
"Kau tidak berhak menanyakan hal itu padaku. Kau hanya wanita murahan yang harusnya berterima kasih karena telah mendapatkan pekerjaan ini. Kuperingatkan padamu, jangan sekalipun mencoba untuk berkhianat padaku. Karena aku akan menjadi musuh yang paling merepotkan untukmu, Nona Cecilia!" Zea mengancamku.
Aku menghela napas panjang, serasa memegang bom waktu saat ini. "Nyonya, semua hal yang kulakukan pada tuan Jackson itu karena tugas darimu. Tidak lebih dari itu." Aku menjelaskan padanya.
"Cecilia, kau sudah tertangkap basah berlibur dengannya. Kau masih ingin berkelit dariku? Aku bisa saja melaporkan hal ini kepada polisi karena kau telah pergi dengan suamiku. Apa kau menantangku untuk melakukannya?"
"Nyonya—"
"Nona Cecilia, jangan kira aku tidak tahu jika kau bersekongkol dengan Jackson. Jika bukti kudapatkan, maka jangan pernah mengira bisa selamat dariku." Dia kemudian menutup teleponnya.
Seketika itu juga rasa takut menghantuiku. Detak jantungku tidak stabil dalam memompa aliran darah ini. Aku merasa tertekan dan seperti tidak dapat berpikir. Rasa takut akan ancaman Zea menyelimuti seluruh pikiranku.
Ya Tuhan, benar apa yang dikatakan oleh Angela. Zea mencoba mencuci tangan dari perbuatannya.
Aku merasa frustrasi menghadapi situasi ini. Ingin rasanya aku pergi sejauh mungkin dari masalah yang kuhadapi. Tapi, apakah semuanya akan menyelesaikan masalahku? Yang ada malah semakin memperburuk keadaan jika aku pergi sampai ketahuan. Sungguh lebih baik aku sama sekali tidak pernah menerima tugas ini.
...
Detik demi detik akhirnya berlalu. Menit demi menit terlewati. Hingga jam demi jam pun terus berganti. Aku masih mencoba untuk menenangkan diri ini. Aku menelepon Angela untuk mendamaikan hati dan pikiranku. Namun sayang, Angela tidak mengangkat teleponku malam ini.
Cecilia, kau harus berjuang sendiri. Bersemangatlah, jangan mudah menyerah!
__ADS_1
Jiwaku seperti menyemangati diriku yang mulai lemah. Aku merasa tersudut dengan semua sikap Zea kepadaku. Tidak tahu bagaimana nantinya, aku mencoba pasrah saja. Baik atau buruk sudah ada yang mengaturnya. Di sisa-sisa keyakinanku ini aku harus percaya jika Tuhan akan menolongku dari masalah yang menerpa. Karena kuyakin jika Tuhan tidak akan pernah meninggalkan hamba-NYA.
Esok harinya...
Hari ini aku memutuskan untuk tidak masuk kerja karena pikiranku sedang kacau bukan main. Dan kini aku sedang duduk di taman kota seorang diri. Taman yang berada di dekat Taman Kanak-kanak. Kulihat para ibu mengantarkan anak-anaknya masuk ke dalam sekolah. Penampilan mereka seperti ingin menghadiri acara di sana. Mungkin mau mengambil rapor semesteran atau ada acara khusus yang sedang diselenggarakan.
Andai aku punya orang tua.
Kadang kala rasa kesepian menyelimuti hati ini. Aku tetaplah manusia yang mempunyai hati nurani. Tidak akan selamanya menjadi iblis karena mata uang duniawi. Terkadang aku juga merasa lelah dengan semua hal yang kulakukan. Tapi karena kebutuhan hidup, mau tak mau aku harus melanjutkan pekerjaan.
Pekerjaanku mungkin dipandang sebelah mata oleh banyak orang, khususnya kaum wanita. Tak bisa kupungkiri jika sebagian dari mereka mungkin ada yang merasa jijik denganku karena pekerjaan ini. Tapi, ketahuilah jika ada maksud baik dari setiap transaksinya.
Selain mendapatkan uang, aku juga bisa menolong orang lain. Menolong seorang istri dari pelakor yang berusaha merebut suaminya. Atau menolong seorang istri dari kekejaman suaminya. Tapi entah mengapa semenjak menerima misi dari Zea, aku seperti salah langkah.
Sedari pagi aku duduk di sini. Rasa lapar menerjang perutku yang mulai keroncongan. Lantas aku menuju ke warung makan yang ada di pinggir jalan. Aku berniat mengganjal perutku. Aku memang bangun pagi tapi langsung membereskan pakaian karena berniat kembali ke rumah kontrakan. Entah bagaimana nantinya, aku jalani saja yang ada.
Setengah jam kemudian...
Tepat pukul setengah sepuluh pagi aku baru saja selesai sarapan. Aku duduk di paling ujung warung makan yang ada di dekat sekolah ini. Aku tidak membawa mobil sendiri, aku naik taksi. Sengaja tidak membawa mobil karena pikiranku sedang kacau. Dikhawatirkan jika membawa mobil malah akan menimbulkan kecelakaan. Jadi aku naik taksi saja.
Semalaman aku sulit tidur hingga harus meneguk bergelas-gelas susu hangat. Enam tahun terakhir baru kali ini aku banyak meminum susu, karena biasanya meneguk minuman beralkohol untuk menemaniku dalam melancarkan aksi. Dan sekarang efek dari minuman memabukkan itu kurasakan. Tubuhku jadi kurang stabil dan mudah lelah jika harus berlari jauh. Padahal dulu aku juara ke dua lomba lari di sekolahku.
__ADS_1
Tadi aku keluar dari apartemen dengan berdandan tebal untuk menutupi mata sembabku. Kuakui jika semalam aku menangis. Menangisi diri ini yang sekarang berada di lingkaran kebuasan orang-orang kaya. Andai aku mempunyai orang tua, tentulah hidupku tidak akan seperti ini. Mungkin lebih baik walaupun dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan.
Hari ini kukenakan blus putih dengan bagian bahu yang terbuka. Sedang bawahannya kukenakan celana jeans biru panjang. Tampilanku modis, lagipula belum terlalu tua. Jadi masih pantas mengenakan pakaian anak muda. Tapi ya dada dan pinggulku memang tidak bisa ditutupi. Mungkin kelebihanku memang ada di sini.
Sekarang aku masih berada di warung makan sambil menikmati jus jeruk yang belum habis. Beberapa helaan napas keluar dari dadaku ini. Mungkin sudah saatnya bagiku untuk beristirahat total dari pekerjaan. Setelah keadaan membaik, aku akan mencari pekerjaan lain atau membuka usaha sesuai hobiku sendiri. Entahlah, saat ini aku belum bisa berandai-andai, karena yang sekarang saja masih terasa berantakan.
Ada telepon?
Tak lama berselang, ponselku berbunyi. Kulihat siapa yang menelepon dan ternyata jika Jackson lah yang meneleponku. Aku jadi bingung harus mengangkat teleponnya atau tidak.
Hari ini aku memang membolos kerja tanpa memberikan kabar kepada siapapun. Aku sengaja melakukannya agar Jackson menghubungiku. Biarlah dia marah asal ada bahan bicara untuk kami. Tapi bukan untuk sekarang karena aku ingin menenangkan pikiran terlebih dahulu.
"Angkat tidak, ya?"
Sungguh aku merindukannya. Tapi mungkin sifat alami seorang wanita memang ingin didahulukan, jadi rasa gengsi itu menahanku untuk tidak menghubunginya. Padahal aku yang salah karena telah mengusirnya. Dan kini Jackson meneleponku.
Aku tidak tahu bagaimana cara agar memulai pembicaraan dengan Jackson. Rasa-rasanya aku sudah menemui jalan buntu karena posisiku sekarang ini. Mundur salah, maju apalagi.
Andai bisa terbang, aku akan terbang untuk menyelamatkan diri. Sayang ini bukan cerita fantasi yang tiba-tiba bisa mempunyai sayap untuk lari. Yang kubisa hanya bertahan sambil memikirkan bagaimana cara agar bisa selamat dari kebuasan mereka. Setidaknya kebebasan itu kudapatkan, baru setelahnya segera pergi sejauh mungkin dari mereka.
Eh, dia menelepon lagi?
__ADS_1
Telepon dari Jackson kuabaikan sekali, namun dia menelepon lagi. Panggilan ke dua ini membuat jantungku berdegup kencang karena takut mendengarnya marah. Tapi mau bagaimana, aku juga sedang tidak ingin diganggu olehnya.
Aku meliburkan diri dari rutinitas harianku untuk memperbaiki suasana hati dan pikiran yang sedang kurang baik. Lantas kudiamkan saja telepon darinya. Pura-pura tidak tahu jika dia meneleponku. Tak lama, nada pesan pun berbunyi. Dan ternyata pesan itu datangnya dari Jackson.