
Jackson mengubah panggilan telepon menjadi panggilan video. Tidak tahu kenapa, kuterima saja panggilan videonya. Saat itu juga kulihat dirinya baru saja duduk di sofa tunggal dengan meja kecil di samping. Yang mana di atas meja itu ada segelas kopi. Dia juga menggunakan earphone bluetooth sambil melihat ke arah kamera. Sepertinya ponselnya di letakkan di atas meja lain sehingga dia bisa video call tanpa harus memegang ponselnya.
"Tumben panggilan video?" tanyaku.
Aku duduk di kasur sambil menggunakan earphone agar mudah mendengarkan suaranya. Dan kulihat Jackson mengambil satu puntung rokok dari kotak rokoknya. Dia kemudian menghidupkan puntung rokok itu lalu menghisapnya.
Dia kok diam saja, sih? Apa aku salah bicara?
Tak tahu kenapa, Jackson diam saja kepadaku. Aku jadi berpikir yang aneh-aneh tentangnya. Jangan-jangan dia tahu jika Andreas habis meneleponku?
"Sedang apa?" tanyanya tiba-tiba dengan intonasi dingin padaku.
"Tuan, aku menunggumu menelepon," jawabku, memasang wajah manja padanya.
"Benar, kah?" Dia mengembuskan asap rokoknya dengan raut wajah tak percaya.
"Tuan, kenapa sih? Mengapa kau menyebalkan?!"
Aku jadi malas bicara padanya jika dia tidak ada mesranya sama sekali. Padahal aku ingin dimanja. Ingin mendapat kasih sayang dan kelembutannya, seperti yang dia berikan saat di atas ranjang bersamaku.
Dia kemudian tersenyum tipis. "Aku baru sampai. Di luar hujan deras." Dia kemudian meneguk kopinya.
Jackson ternyata membeli kopi jadi. Roman-romannya dia memang baru pulang dari pertemuan. Belum apa-apa, baru juga sampai. Dan mungkin sikap dinginnya itu karena kelelahan.
"Tuan, mandilah. Pakai air hangat." Aku mencoba perhatian.
Dia mendekatkan kamera ponselnya ke wajah, sehingga aku bisa melihat kedua bola mata birunya. "Kini asistenku sudah berubah drastis. Dia tidak bermain drama lagi." Jackson seperti meledekku.
"Tuan!" Aku pun jadi kesal.
"Hahaha."
Jackson tertawa, seolah meledekku karena jatuh cinta sungguhan padanya. Hal ini membuatku merasa malu dan juga kesal. Dia sempat-sempatnya membicarakan hal itu di tengah kerinduanku. Seakan menarik-ulur hati ini.
Lantas aku menyudahi panggilan videonya saja karena merasa kesal. "Tuan, aku ngantuk. Sampai nanti." Kututup panggilan videonya tanpa basa-basi.
Tak tahu apa yang Jackson pikirkan, aku mencoba tenang menghadapi sikapnya yang seperti ini. Mungkin belum saatnya bagiku mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari Jackson. Aku juga tidak tahu apa isi hatinya. Tapi ada baiknya memang tidak terlalu berharap terlebih dulu.
__ADS_1
Tak lama satu pesan kuterima darinya. Kubuka pesan itu lalu segera kubaca. Dan ternyata isinya hanya satu kata disertai tanda tanya. Ngambek? Seketika itu juga aku ngambek sungguhan padanya.
Tuan, Zea ada benarnya. Kau memang pintar mengendalikan perasaan orang dengan sikap acuh tak acuhmu.
Aku segera menarik selimut lalu berusaha untuk tidur. Kujauhkan ponsel agar bisa terlelap dengan cepat. Aku berharap Jackson tidak seperti itu lagi. Aku ingin dia mencintaiku sepenuh hati. Karena aku sudah terlanjur basah dan mencintainya.
Ya, semoga saja Jackson hanya sekedar bercanda untuk menguji seberapa jauh kesabaranku dalam menghadapi sikap dinginnya ini. Bukan sungguhan karena mulai merasa bosan denganku. Saat ini aku hanya bisa berharap dan terus berharap. Semoga saja dirinya bisa membantuku lepas dari semua kesulitan yang kualami.
Esok harinya...
Hari ini tanggal dua Januari. Hari ini juga pertemuan keluarga Liandra akan dilakukan. Jackson sedari pagi mengirimiku pesan agar ikut datang di acara pertemuan sebelum jam makan malam. Aku pun membalas pesannya hanya dengan kata ya. Aku masih ngambek padanya.
Kini aku baru saja masuk ke dalam mobil, berniat untuk menemui Angela terlebih dahulu. Aku ingin menanyakan hal apa saja yang Angela ketahui tentang Liandra. Bagaimanapun sebelum berperang harus mempunyai persiapan yang matang. Jika tidak, malah bisa mati mengenaskan. Kebetulan Angela juga sudah senggang. Jadi aku berniat meluncur ke sana sekarang.
Kubuka semua kaca mobil lalu kuhidupkan AC. Kubiarkan udara di dalam mobilku ini bersirkulasi terlebih dulu. Sementara aku mengetik pesan kepada Angela jika sudah mau berangkat menemuinya. Dan tak lama pesan balasan kudapatkan. Angela sudah ada di restorannya sekarang.
Lantas aku segera menutup semua jendela mobil lalu mulai melaju ke Restoran Blue Sea. Aku akan menemui Angela pagi ini. Kulihat jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Jadi aku mempunyai banyak kesempatan bicara sebelum datang ke alamat yang Jackson berikan. Semoga saja aku bisa mendapatkan informasi tentang apa yang terjadi sesungguhnya.
Sesampainya di Restoran Blue Sea...
Aku berjalan menuju ruangan Angela yang ada di salah satu sudut restoran ini. Hari ini kukenakan pakaian simpel nan modis dengan berbahan dasar satin. Blus lengan panjang berwarna putih dan celana dasar panjang berwarna biru. Kulangkahkan kaki sambil menjinjing tas kecilku. Tak lama aku pun sampai di ruangan yang dituju.
"Angela," sapaku.
"Cecilia, cepat sekali kau datang?" Dia menoleh ke arahku.
"Angela, bagaimana malam tahun barumu?" Aku berbasa-basi sambil masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Em, lumayan. Kau sendiri bagaimana? Apa ada perkembangan yang berarti?" Cecilia mengajak ku duduk di sofa.
Aku mengikuti, duduk di sampingnya. Angela lalu meneguk secangkir kopi yang dibuatnya. Aku pun ikut mencobanya. Sepertinya kopinya ini adalah kopi robusta yang dicampur krim pekat. Rasanya luar biasa, membuatku ketagihan. Kami akhirnya berbagi segelas kopi menjelang siang ini.
"Hari ini aku akan datang ke acara keluarga Liandra," kataku mengawali.
"Acara keluarga?" Angela berpikir.
"Ya. Jackson memintaku untuk datang agar bisa mengetahui sendiri apa yang terjadi di sana." Wajah si pria menyebalkan yang mesum itu tiba-tiba teringat di benakku.
__ADS_1
"Apakah hubungan kalian sudah dekat?" Angela seperti ingin mengorek lebih lanjut hubunganku dengan Jackson.
"Hmm ... entahlah. Tapi sepertinya dia memberiku angin segar. Lihat!" Aku menunjukkan anting dan kalung pemberian dari Jackson kepada Angela.
Seketika Angela terkejut melihatnya. "Cecilia, ini?!" Angela tak percaya.
"Aku tidak tahu apa maksudnya, kuterima saja," jawabku polos.
Wajah Angela berbinar-binar. Dia sepertinya senang melihat kemajuan yang terjadi. Dia tersenyum lalu memegang pundakku ini. Aura kebahagiaan tersirat darinya, seperti seorang kakak yang bahagia saat melihat adiknya mendapatkan kepastian akan masa depan. Angela ikut senang mendengar kabar dariku.
"Jackson bukanlah tipikal pria yang suka menarik kembali ucapannya." Angela seperti tahu benar track record Jackson.
Aku mendengarkannya.
"Cecilia, aku rasa jika kau bisa melewati semua ini, kebahagiaan itu akan kau dapatkan." Angela seperti menguatkanku.
"Angela ...." Tak tahu apa yang harus kukatakan padanya. Aku merasa Angela begitu peduli dan menyayangiku.
"Aku sudah membicarakan hal ini kepada suamiku. Katanya, Jackson tidak pernah ragu terhadap keputusan yang diambilnya. Jika dia berkata A, maka selamanya A. Jika berkata B, maka selamanya B. Tinggal bagaimana kita yang mempertahankan keputusannya." Angela menerangkan.
"Maksudnya?" Entah mengapa aku merasa khawatir saat mendengar kalimat akhir.
"Jackson akan membalas kepercayaan dengan kepercayaan. Dia juga akan membalas pengkhianatan dengan pengkhianatan. Entah sifatnya pendendam atau bukan, tapi sepertinya sikap Jackson tergantung bagaimana sikap kita kepadanya. Itu yang suamiku ceritakan." Angela meneguk kembali kopinya.
Jadi begitu ... dia seperti cermin.
Mendengar penjelasan Angela membuat hatiku semakin kukuh kepada Jackson. Tapi ada rasa khawatir jika ke depannya terjadi salah paham atau salah prasangka di antara kami. Aku takut Jackson mengira berkhianat padanya. Padahal hal itu tidak kulakukan sama sekali.
"Suamimu pernah bekerja sama dengannya?" Aku mengorek informasi lebih dalam.
Angela menoleh, melihatku. "Dia bilang pernah. Pembangunan restoran ini juga hasil olah tangan tim Jackson. Kebetulan waktu itu suamiku sedang mencari vendor yang tepat untuk restoran ini. Dan dia mendengar dari temannya jika Jackson mempunyai tim yang handal dalam urusan pembangunan maupun dekorasi. Jadi suamiku percayakan semuanya kepada Jackson. Dia menuruti apa yang dikatakan Jackson. Dan hasilnya bisa dilihat sekarang." Angela menceritakan bagaimana dedikasi Jackson kepadaku.
Bagaimana rasa ini tidak semakin berbunga-bunga saja, Jackson ternyata mempunyai prinsip yang teguh di dalam hidupnya. Dia sosok pria idaman bagi semua wanita. Dan aku semakin mencintainya.
"Cecilia."
"Ya?"
__ADS_1
"Apakah semua musuhmu akan berkumpul di acara keluarga Liandra nanti?" tanya Angela yang tiba-tiba membuat jantungku berdebar khawatir.