
...Alexander...
...Cecilia...
.........
"Aku pikir kita tidak bisa lagi bertemu, Cecilia." Alexander seperti menyindirku.
Clara melirik ke arahku. Mungkin dia merasa heran dengan tatapan Alexander yang seperti menyiratkan sesuatu kepadaku.
"Tuan Alexander datang sendiri?" Clara memberanikan diri bertanya kepada Alexander. Dia juga melepaskan pegangan tangannya dariku.
"Em ... ya. Aku datang sendiri, belum punya gandengan." Alexander tersenyum bergantian kepada kami.
Sendiri?
Sontak di hatiku bertanya, apa iya pria sepertinya belum mempunyai gandengan? Rasa-rasanya mustahil sekali. Alexander tampan dan juga mapan. Wanita mana yang mampu menolaknya?
"Cecilia, mari kita duduk di sana. Di sini terlalu jauh dari meja utama." Alexander mengajak ku sedikit ke tengah.
Kursi-kursi dan meja tamu di ruangan ini memang disusun berbaris-baris pada bagian sisinya. Tapi jika lebih ke tengah, disusun berkelompok yang mana setiap satu meja terdapat empat sampai lima kursi tamu, dengan hiasan pot kristal di atasnya. Sedang bagian tengah ruangan dibiarkan lapang untuk tempat berdansa.
Saat kami datang tadi para pelayan sedang sibuk menghias meja tamu dengan berbagai macam bunga pot dan juga serbet tangan. Sedang semua hidangan diletakkan di meja utama yang ada di depan.
Lantas aku bersama Clara mengikuti Alexander menuju ke salah satu meja tamu yang ada di dekat meja hidangan super besar. Satu per satu tamu undangan pun datang memasuki ruangan, kursi-kursi kosong didudukkan. Namun, entah mengapa aku tidak melihat Arka Cyrano saat ini. Entah ke mana dia, aku juga tidak peduli.
Semoga saja Jackson benar-benar tidak datang.
Sejujurnya aku masih khawatir jika Jackson tiba-tiba datang dan melihatku di sini. Namun, alasan dipaksa Clara bisa kupakai jika nanti sampai kepergok olehnya. Aku juga akan meminta pertanggungjawaban Clara jika Jackson sampai marah. Tapi semoga saja hal itu tidak terjadi.
Kini aku duduk di depan meja tamu dengan Clara di kananku sedang Alexander di samping kiriku. Beberapa pengusaha kota kulihat menghampiri Alexander untuk mengajak berjabat tangan. Aku pun hanya bisa tersenyum kepada orang-orang yang melihatku. Tujuanku datang ke sini hanya untuk menemani Clara. Jadi sebentar lagi aku akan segera pulang ke rumah, tidak ingin berlama-lama di sini.
Setengah jam kemudian...
Acara baru saja dimulai oleh seorang pembawa acara. Kulihat sekeliling ruangan sudah dipenuhi oleh tamu undangan. Namun, sampai saat ini aku belum juga melihat Hadden. Entah di mana dirinya. Dan karena tidak betah, aku berpamitan saja ke luar ruangan.
"Clara, aku keluar sebentar. Mau ke toilet," kataku, berbisik padanya.
__ADS_1
"Mau kuantar?" tanyanya segera.
"Tidak perlu. Kau di sini saja." Aku beranjak berdiri.
"Cecilia, mau ke mana?" Alexander segera bertanya begitu melihatku berdiri.
"Em, Tuan. Aku mau ke toilet sebentar," kataku seraya tersenyum. "Sebentar ya, Clara." Aku berbicara kepada Clara kembali.
Clara mengangguk. Kulihat dia seperti keberatan kutinggalkan. Tapi jika tidak kutinggalkan, aku akan semakin lama berada di sini. Aku tidak mempunyai waktu untuk mengurusi jodoh orang. Jodohku saja masih menggantung di tiang jemuran.
Aku harus cepat pergi.
Lekas-lekas kulangkahkan kaki keluar ruangan lalu menuju toilet gedung. Sesampainya di toilet, kucuci tangan lalu memperbaiki dandananku sebentar. Setelahnya segera keluar agar bisa cepat kembali ke rumah. Namun, tiba-tiba saja...
"Cecilia."
Baru saja membuka pintu toilet, kulihat Alexander sudah berdiri di depan pintu. Dia mengagetkanku.
Astaga?! Kenapa dia ada di sini?!
Rupa-rupanya Alexander mengikutiku sampai ke toilet ini. Untung saja dia tidak sampai masuk. Jika masuk, sudah kutendang anunya.
"Tuan?!" Aku terheran-heran dengan kehadirannya.
"Cecilia, aku ingin bicara." Alexander melangkah mendekatiku.
Lekas-lekas aku berjalan menuju ke ruang acara kembali. Berjalan sedikit pelan agar dia tidak curiga padaku jika aku ingin menghindarinya.
"Tentang apa, Tuan?" tanyaku, berusaha bersikap biasa-biasa saja.
"Tentang urusan pekerjaan," katanya yang membuatku sedikit lega.
"Ada apa memangnya?" Kami terus melangkah bersama menuju ke ruangan acara.
"Kau masih lajang?" tanyanya seperti mengorek informasi tentangku.
Aku pura-pura tertawa saja. "Hahaha. Tuan Alexander bisa saja jika bertanya." Kupasang wajah pura-pura senang di hadapannya.
"Cecilia, aku serius. Aku juga masih sendiri." Dia terlihat bicara serius padaku.
Entah mengapa aku merasa Alexander begitu menakutkan. Mungkin karena biasa menggoda orang, sekali digoda akhirnya takut. Aku jadi ingin tahu, apakah pria yang kugoda dulu merasa takut padaku?
__ADS_1
"Em, aku ... aku masih menunggu." Aku beralasan padanya.
"Menunggu?" Dia amat antusias menanggapi ucapanku.
"Hm, ya. Aku menunggu saja, Tuan. Aku capek jika harus mengejar," kataku berusaha melucu.
"Hahaha. Cecilia-Cecilia." Dia ternyata tertawa karena perkataanku. "Kau wanita yang menarik. Senang bisa berjumpa denganmu." Dia memujiku.
"Terima kasih, Tuan. Suatu kehormatan bagiku mendapat pujian dari Anda." Aku bersikap formal padanya.
"Cecilia." Tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti.
"Tuan?" Aku pun ikut berhenti, tepat di belasan meter dari pintu masuk acara.
"Aku ingin mengajakmu makan malam. Aku tertarik padamu," katanya yang membuatku bingung.
"Maksud Tuan?" tanyaku yang kini berdiri berhadapan dengannya.
Alexander menatap wajahku. Dia memperhatikan setiap apa yang ada di wajah ini. Tersirat dari wajahnya jika dia bukanlah pria yang terburu-buru. Dia adalah tipikal pria pendiam yang pintar menyembunyikan sesuatu. Biasanya orang pendiam lebih menakutkan, jadi aku harus ekstra berhati-hati dengannya.
"Kapan ada waktu?" tanyanya seraya menatapku tepat di mata.
"Cecilia!!!"
Bersamaan dengan berakhirnya pertanyaannya, bersamaan dengan itu juga kudengar langkah kaki melangkah cepat ke arahku. Aku mendengar suara seseorang yang berteriak memanggil namaku. Rasa-rasanya suara itu begitu familiar di telinga ini. Lantas aku menoleh untuk melihat siapa gerangan yang memanggil. Dan ternyata...
Astaga?! Jackson?!!
Sungguh aku gugup bukan main saat melihat Jackson berjalan cepat ke arah kami. Jantungku berdegup kencang, tidak karuan. Napasku pun terasa berat sekali. Bahaya sudah di depan mata, lalu apa yang harus kulakukan? Haruskah aku berlari untuk menghindari hal yang akan terjadi?
Habislah aku malam ini ....
Raut wajah Jackson sungguh tidak enak dilihat. Roman wajahnya seperti seekor singa yang siap mencabik-cabik mangsa. Aku kemudian berbalik, membelakanginya yang berjalan cepat ke arahku. Aku berniat kabur sebelum tertangkap olehnya. Aku harus menyelamatkan diri ini.
"CECILIAAA!!!"
Suaranya semakin terdengar keras, seolah memenuhi seluruh koridor ruangan. Dan tiba-tiba saja tanganku ada yang memegangnya.
.........
...Jackson...
__ADS_1