Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Aku Serius


__ADS_3

Pukul dua siang waktu sekitarnya...


Setelah makan siang kami akhirnya memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum itu, Alexander memintaku untuk menemaninya berjalan-jalan di sekitar pantai. Dan karena tidak enak, akhirnya aku memenuhi ajakannya. Toh, pantai juga ramai. Tidak mungkin dia berbuat macam-macam padaku.


Sepanjang jalan kami tidak bersentuhan sama sekali. Dia berjalan di sisi kananku yang lebih rendah permukaannya. Sehingga kami terlihat sama tinggi. Padahal jelas-jelas aku hanya sedagunya saja saat tidak memakai alas kaki. Tapi entah mengapa, saat jalan-jalan tadi menyimpan kesan yang mendalam untukku. Ternyata Alexander tidaklah sebuaya Jackson.


Aku bilang Jackson buaya karena dia sama sekali tidak mau rugi saat mengetahui transaksiku bersama Zea. Aku pikir dia dengan penuh kerelaan terjebak dalam perangkapku. Namun nyatanya, aku malah ikut terjebak di dalamnya.


Jackson membuatku tak berkutik di perangkapku sendiri. Rasanya aku menjadi orang paling bodoh di sepanjang misi ini. Sudah jatuh tertimpa tangga dan kini juga harus menanggung luka. Sungguh pekerjaan yang berisiko sekali. Tapi mau menyesali pun tiada arti.


Tuan, sedang apa kau di sana?


Ragaku bersama Alexander, tapi jiwaku masih memikirkannya. Entah sedang apa dia di sana, aku juga tidak tahu. Ingin sekali meneleponnya, tapi aku malu. Aku ini bukan siapa-siapanya, mungkin hanya sekedar pelarian hasrat semata. Jackson pernah bilang jika selama dua tahun pernikahannya, dia tidak pernah berhubungan sama sekali dengan Zea. Karena katanya tidak ingin memakai bekasan orang.


Kini aku mencoba menata hidup dari pikiran yang tak menentu. Mencoba membuka hati untuk seorang pria yang tiada henti-hentinya mengejarku. Dan kini kami sedang dalam perjalanan pulang dari pantai. Kulihat cuaca mulai mendung di sekitar. Mungkin tidak lama lagi akan turun hujan.


"Kau menyukai sesi akhir dari liburan ini?" tanyanya sambil terus menyetir mobil.


Aku berpikir sejenak. Alexander tiba-tiba menanyakan bagaimana perasaanku saat berjalan-jalan di pantai bersamanya.


"Mungkin kau merasa suntuk karena diam di gubuk saja. Harusnya ikut aku surfing juga." Dia mengutarakan keinginannya secara tak langsung.


"Aku tidak bisa berselancar, Tuan," jawabku jujur.


Dia menoleh sesaat ke arahku lalu kembali fokus menyetir mobil. "Semua itu bisa karena terbiasa, Cecilia. Jika tidak dicoba, kita tidak akan tahu bagaimana hasilnya." Ucapannya seolah menjurus ke arah hubungan kami.


Aku tersenyum seraya menunduk. "Tuan, aku sudah dewasa. Aku tidak ingin main-main." Aku mencoba memahami maksud perkataannya.


Dia diam sejenak lalu tertawa kecil di sampingku. "Kau pikir aku bercanda, ya?" tanyanya seraya menahan tawa.


Aku mengangkat bahu, tidak tahu.


Dia menoleh ke arahku. "Baiklah. Tidak lama lagi aku akan membuktikan keseriusanku padamu." Dia terus melajukan mobilnya.

__ADS_1


Entah mengapa kalimat terakhir darinya itu membuat hatiku dag-dig-dug tak karuan. Rasanya ingin tapi tak ingin. Tak lama berselang pun kudengar dering dari ponselnya. Kulihat Alexander segera mengenakan earphone bluetooth di telinga. Dia segera mengangkat telepon itu.


"Halo?" Entah sedang berbicara dengan siapa, aku menunggu saja.


"Besok saja ya, Bu. Aku sedang sibuk sekarang." Dia menyebut seseorang di telepon itu dengan sebutan ibu.


Alexander menoleh ke arahku. "Em ...," Dia seperti sedang memikirkanku. "Nanti aku telepon lagi, Bu. Sebentar." Dia kemudian mematikan sambungan teleponnya dengan earphone masih di telinga.


"Siapa?" Tiba-tiba aku kepo sendiri.


"Ibu. Ibuku," jawabnya sambil terus melajukan mobil.


"Ibu kandung?" tanyaku lagi.


Dia mengangguk. "Ibu memintaku datang sekarang. Katanya sedang banyak pesanan. Dia memintaku untuk membantunya." Alexander mengatakan padaku.


"Pesanan?" Entah mengapa aku jadi semakin penasaran.


"Iya, Cecilia. Ibu punya usaha bunga hidup di desa. Dia memintaku datang untuk membantunya. Tapi aku bilang sedang sibuk." Sepertinya dia jujur padaku.


"Tidak apa, Cecilia. Jangan khawatir." Dia tersenyum padaku.


Tersirat dari wajahnya seperti kebingungan untuk menentukan pilihan. Aku pun tersadar dari keadaan ini. Lantas aku memintanya untuk berhenti saja.


"Tuan, turunkan aku di sini saja. Kau tidak usah mengantarku pulang," kataku tak enak hati.


"Hah? Apa?!"


Alexander terkejut dengan permintaanku. Dia melihat kaca spion lalu segera menepikan mobilnya. Kebetulan jalan pulang kami memang sepi dari kendaraan.


Jangan bilang dia marah.


Kulihat raut wajahnya berubah seketika. Sepertinya dia tidak senang dengan ucapanku. Tapi, aku juga harus tahu diri. Aku tidak boleh sampai membuat Alexander melupakan ibunya.

__ADS_1


"Cecilia." Dia menegurku.


"Ya?"


Raut wajahnya kurang enak dipandang. "Ibu memintaku datang tapi bukan berarti aku tidak mengantarmu pulang. Aku bukan lelaki yang meninggalkan wanita di tepi jalan." Dia sepertinya tersinggung dengan perkataanku.


"Eh, Tuan. Bukan begitu!" Seketika aku panik. Dia seperti sedang menahan amarahnya padaku.


"Lalu?" tanyanya memastikan.


"Aku hanya tidak enak jika karenaku kau sampai mengabaikan ibu. Aku rasa kau harus ke sana sekarang." Aku menyarankan.


Alexander melihat jam di tangannya lalu melihatku kembali. "Kau mau ikut?" tanyanya. "Sebentar saja kita ke sana lalu aku akan mengantarmu pulang." Dia berjanji.


Errrr ....


Sontak aku menelan ludah sendiri. Apa yang baru dia katakan akhirnya menjadi kenyataan. Aku tidak tahu mengapa bisa begini. Tiba-tiba saja ibunya menelepon dan memintanya untuk datang. Apakah ini pertanda alam untukku?


Bagaimana ini?


Aku seperti kelabakan menjawab pertanyaannya. Tapi aku mencoba untuk tetap berpikiran positif. Mungkin tidak ada salahnya jika aku ikut ke sana, sekalian membuktikan siapa Alexander sebenarnya. Benarkah dia seperti apa yang dikatakan Jackson waktu itu? Karena rasanya tidak sopan jika langsung menanyakan hal itu kepadanya. Aku khawatir Alexander akan tersinggung dengan pertanyaanku.


"Tuan, aku rasa ... aku belum pantas untuk menemui ibu. Aku khawatir ibumu berpikiran yang bukan-bukan tentang kita." Aku mencari alasan penolakan yang tepat.


Dia tersenyum tipis. "Cecilia, kau terlalu keras kepada dirimu sendiri. Aku bukanlah orang jahat untuk kau takuti." Dia seperti kecewa denganku. Dia menyandarkan punggungnya di kursi mobil.


Astaga ....


Seketika aku jadi bingung harus bagaimana. Kulihat Alexander juga mengusap kepalanya. Dia seperti frustrasi menghadapiku.


"Tuan, setahuku jika pria membawa seorang wanita ke rumah adalah pertanda bahwa mereka serius ke jenjang pernikahan. Aku takut terbawa perasaan. Aku belum siap." Aku jujur padanya.


Alexander memutar tubuhnya ke arahku. Dia meraih tanganku lalu memegangnya dengan lembut. "Cecilia, awalnya aku hanya mengikuti arus. Tapi, lama-lama aku tertarik sungguhan padamu. Sekarang katakan padaku, hal apa yang bisa membuatmu percaya jika aku serius?" tanyanya yang membuat isi pikiranku berantakan seketika.

__ADS_1


Sungguh aku bingung sekali. Apa yang harus kukatakan padanya? Sinar matanya menyiratkan keseriusan yang mendalam. Sedang aku masih ingin bersenang-senang menjalani hidup. Salahkah aku jika hanya diam dan tidak menjawabnya?


__ADS_2