Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Penasaran


__ADS_3

...Peter...



...Zea...



...Andreas...



..........


"Jackson pemilik saham terbesar PT Samudera Raya. Dia memegang setengah atau lima puluh persen dari saham perusahaan tersebut. Sehingga dialah yang menjadi pimpinan perusahaan," kata Jenny lagi.


"Oh ...."


Aku mengangguk pelan. Ternyata Jackson pemilik saham terbesar PT Samudera Raya. Itu berarti jika Zea ingin bercerai dari Jackson dan memenangkan setengah dari hartanya, Zea akan menjadi bos besar di sana. Tapi masalahnya, apakah Zea anak satu-satunya yang berhak mendapatkan hak waris dari Peter? Tapi bukannya Zea itu bukan anak kandung dari Peter, ya? Benar-benar membingungkan.


Duh, kenapa semakin mengetahui yang sebenarnya, kepalaku semakin pusing?


Sungguh aku pusing saat mengetahui hal rumit seperti ini. Mungkin lebih baik jika aku disuruh berkeliling lapangan badminton daripada memikirkan hal ini. Aku pikir semuanya akan mudah dijabarkan. Namun, pada kenyataannya malah dibuat penasaran sekaligus sulit untuk memahami keadaan yang sesungguhnya.


Mungkin ada baiknya jika si mesum itu sendiri yang menceritakan.


Inginnya Jackson menceritakan langsung padaku. Inginnya juga Angela membeberkan apa yang diketahui olehnya. Tapi semua itu hanya sebatas inginku. Aku diminta mencari tahu sendiri jika ingin mengetahui hal yang sesungguhnya terjadi. Rasanya seperti berjalan di tengah malam sendirian, dingin dan juga takut.


"Silakan diminum tehnya, Nona Cecilia. Kau ingin bernyanyi?" tanya Jenny padaku.


Acara pertemuan keluarga ini memang bisa dibilang mewah dan juga meriah. Tapi si pemilik rumah tetap menjunjung tinggi nilai kesederhanaan. Aku jadi merasa nyaman saat mengetahui bagaimana sikap Peter yang sebenarnya. Entah jika dengan Jenny yang menjadi istrinya. Ingin sekali mencari tahu, tapi takut melewati batas-batas kesopanan.


"Terima kasih, Nona Jenny. Suaraku sedang serak." Aku beralasan saja agar tidak menyinggung hatinya.


"Oh, baiklah." Jenny pun tersenyum padaku.


Kami akhirnya mengobrol ringan sampai Peter memutuskan untuk membuka acara dansa. Jenny pun pergi meninggalkanku, dia berdansa dengan Peter. Sedang aku ... aku sendiri.


Kasihannya dirimu, Cecilia.


Pukul sembilan malam...


Langit tampak cerah berbintang. Bulan bersinar dengan terang. Cuaca malam ini juga menghangatkan, tidak dingin seperti biasanya. Mungkin karena hatiku sudah baikan dari rasa sakit akibat cemburu. Jackson kini tengah berjalan bersamaku menuju halaman depan rumah. Tapi seperti biasa, dia diam saja sambil menghisap puntung rokoknya.


"Tuan, aku pulang saja, ya? Sudah malam." Aku ingin pamit padanya.


"Sudah merasa cukup tahu?" Dia seperti menyindir aksiku.


"Belum, sih. Tapi aku lelah." Aku beralasan agar dia perhatian padaku.

__ADS_1


Inginnya saat ini dirangkulnya, dipeluknya. Tapi pria yang berjalan di sampingku diam saja, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami. Ya, aku juga sadar diri sih jika sedang di mana. Apalah daya ini yang hanya bisa menunggu perintahnya.


"Cecilia, kau ingin pulang?"


Tiba-tiba saja Hadden datang menghentikan langkah kami. Dia bertanya padaku yang membuat Jackson mengerutkan dahinya. Gelagat Hadden membuat Jackson curiga.


"Em, iya, Tuan. Ada apa, ya?" tanyaku ramah.


"Mau kuantar?" Dia berani-beraninya bertanya seperti itu di depan Jackson.


Astaga! Apa ini yang dinamakan perang sesungguhnya?!


Raut wajah Jackson sungguh tidak enak dilihat. Pria di sampingku ini begitu muram, seperti memendam kekesalan. Aku sendiri bingung untuk menjawab pertanyaan Hadden. Takut salah bicara karena ada Jackson di sampingku.


"Cecilia sudah besar, dia pasti tahu jalan pulang." Jackson yang menjawabnya.


Tuan?!


Seketika aku tersentak dengan jawaban Jackson. Dia menunjukkan jika aku hanya boleh berpergian dengannya, tidak bersama yang lain. Rasanya aku ingin memeluknya sekarang.


"Tuan Jackson, wanita secantik nona Cecilia tidak layak untuk pulang sendiri. Apa Anda tidak khawatir?" Hadden membalasnya.


What?! Hadden semakin berani.


"Aku lebih khawatir jika Cecilia diantarkan olehmu, Tuan Hadden." Jackson membalasnya dengan tatapan mematikan.


"Ada urusan apa?" Jackson mengembuskan asap rokoknya sambil menatap dingin Hadden.


"Tidak berkaitan dengan pekerjaan. Anda tidak perlu khawatir." Hadden meyakinkan Jackson.


"Sayang, kau di sini?!" Tiba-tiba Zea datang menghampiri kami.


Astaga, situasi ini?!


Kini di hadapanku ada Hadden dan juga Zea. Kami seperti sedang ingin bertanding solo malam ini. Aku dengan Zea, Jackson dengan Hadden. Situasi seperti ini akhirnya terjadi di dalam hidupku.


"Sayang, ayah memanggilmu. Mari!" Zea menggandeng tangan Jackson dengan mesra seraya melirik tajam ke arahku. Aku pun hanya bisa menunduk di depannya.


Tak tahu apa yang ada di pikiran Jackson, dia seperti menurut saja kepada Zea. Mereka kemudian pergi dari hadapanku dan juga Hadden.


Kenapa hatiku terasa sakit, ya?


Entah mengapa hatiku terasa sakit saat melihat Jackson digandeng wanita lain, walaupun itu istrinya sendiri. Mungkin inilah yang dinamakan cemburu tak tahu diri. Harusnya aku sadar diri siapa aku ini, bukannya malah cemburu.


Ya, bagaimanapun aku manusia, hatiku masih terbuat dari daging, bukan batu. Sehingga rasa sakit karena cemburu itu masih bisa kurasakan. Aku tetaplah manusia biasa yang terkadang khilaf dan juga lupa.


"Cecilia." Di tengah-tengah lamunanku, Hadden kembali menegurku. Saat itu juga aku tersadarkan lalu kembali fokus. "Aku ingin mengundangmu pada tanggal empat nanti." Hadden mengatakan padaku.


"Mengundang?" tanyaku bingung.

__ADS_1


"Ya. Akan ada acara sesama rekan bisnisku di resort tepi pantai. Mungkin kau berminat," katanya.


Aku terdiam sejenak memikirkan undangan ini.


Andai aku seorang pendendam, tentunya aku akan mengiyakan undangan Hadden dan membalas rasa cemburuku. Tapi sayangnya, aku tidak begitu. Aku sudah terlanjur mencintai Jacksonku.


"Em, maaf, Tuan Hadden. Sebenarnya kondisi tubuhku sedang kurang sehat. Aku datang ke sini juga karena diancam oleh tuan Jackson. Jika tidak datang dia akan memecatku. Jadi kupaksakan datang." Aku beralasan.


"Dia berkata seperti itu?!" Hadden terlihat terkejut.


"Iya. Tuan Hadden pasti lebih mengetahui bagaimana tuan Jackson dibanding diriku. Aku permisi ya, Tuan. Selamat malam." Aku segera berpamitan seraya membungkukkan sedikit badan kepadanya.


Hadden tertegun. Kurasa dia sedang memikirkan sikapku yang begitu sopan kepadanya. Pastinya dia juga berpikir tentang ucapanku yang menyiratkan jika tidak berpihak kepada Jackson.


Aku harus kuat menghadapi situasi ini.


Kuusap perutku, mencoba tegar menghadapi apapun yang terjadi. Walau hati ini sakit, aku harus terus berjuang demi masa depanku. Aku tidak boleh menyerah. Aku yakin aku bisa melewatinya. Karena aku adalah Cecilia yang tangguh. Sedari kecil aku sudah berjuang melawan kerasnya hidup. Sehingga hal ini tidaklah berarti apa-apa bagiku.


Kulangkahkan kaki, masuk ke dalam mobil lalu segera melajukannya, menuju rumah kontrakanku. Kutinggalkan Hadden yang masih terdiam dan terpaku di sana. Aku tidak memedulikannya. Sebisa mungkin kutunjukkan jika aku tidak tertarik padanya. Aku tidak ingin memacu api. Aku ingin hidup tenang tanpa rasa was-was dikejar orang. Hidup sederhana dan bahagia sampai nanti.


Empat puluh menit kemudian...


Sesampainya di rumah aku langsung merebahkan diri di atas kasur. Rasanya lelah sekali, tapi setidaknya ada informasi yang kudapatkan malam ini. Informasi yang begitu penting untuk menjadi bahan pertimbangan ke depannya. Tak kusangka jika Jackson dan Peter adalah pemegang saham terbesar PT Samudera Raya. Pastinya nilai kekayaan mereka tidak bisa masuk hitungan kalkulator lagi, sudah melampaui.


Tuan, sedang apa kau sekarang?


Kuambil ponsel lalu melihat pesan masuk. Kupikir Jackson mengirimiku pesan malam ini. Namun nyatanya, tidak. Aku kemudian mengambil napas panjang agar hatiku lega. Tak lama panggilan masuk muncul di layar ponselku.


"Alexander?"


Aku melihat Alexander meneleponku. Tak tahu kenapa dia meneleponku. Tapi, mungkin lebih baik jika kuangkat saja telepon darinya. "Halo?" jawabku.


Kudengar suara musik mengalun dari jauh. Suara musik klasik yang begitu merdu. Mungkin dia sedang berada di kafe sekarang. Entahlah, aku tidak tahu.


"Cecilia." Suaranya terdengar serak.


"Tuan, kau baik-baik saja?" Aku mencoba menanyakan keadaannya.


"Hm, ya. Aku ... baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" Dia bertanya padaku.


"Aku baik, Tuan. Syukurlah jika Anda juga baik." Aku merasa senang.


Dia terdiam sejenak. "Aku mendapat undangan dari salah seorang pengusaha di kota ini. Dia mengajak ku datang ke resort tepi pantai. Apa kau mau menemaniku, Cecilia?" tanyanya yang mengejutkanku.


"Resort tepi pantai?"


"Ya."


Astaga ... jangan-jangan Alexander diundang oleh Hadden. Jangan-jangan dia juga rekan bisnis Hadden?!

__ADS_1


__ADS_2