Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Siapa Kamu?


__ADS_3

Dua jam kemudian...


Aku tidak tahu siapa nama pria di sampingku ini, tapi tadi dia membantuku membawa mobil ke bengkel terdekat. Tak tahu kenapa ban mobilku bisa kempes, namun kata orang bengkel sih, ban mobilku memang sengaja dikempeskan. Entah oleh siapa, aku juga belum tahu.


Apa aku harus bertanya siapa namanya?


Pria di sampingku ini memiliki tinggi yang hampir sama dengan Jackson. Bola matanya berwarna biru dengan rambut tipis yang mengelilingi wajahnya. Dia tampak lebih muda dari Jackson, mungkin sekitar berusia tiga puluh tahun. Tidak tahu siapa namanya, tapi yang jelas dia telah menolongku hari ini.


Kini kami berjalan bersama setelah memarkirkan mobil di halaman parkir apartemen. Pria di sampingku mengantarkanku pulang sampai ke depan pintu masuk gedung. Katanya sih dia ingin memastikan jika aku sampai dengan selamat. Jadi ya sudah, kupenuhi saja keinginannya karena dia juga telah menolongku. Lagipula hanya sekedar mengantarkan pulang, tidak ada salahnya.


"Tuan, terima kasih karena sudah menolongku." Aku berpamitan padanya saat akan masuk ke dalam gedung.


"Hanya terima kasih?" Dia seperti pamrih akan kebaikannya.


"Em, Tuan. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Anda. Maafkan aku." Aku tidak enak hati sendiri.


"Aku antarkan sampai ke depan pintu apartemenmu, boleh?" tanyanya.


"Em, tidak-tidak. Sampai di sini saja. Rasanya sudah cukup mengantarkanku sampai di depan pintu masuk gedung." Aku menolaknya secara halus.


Kulihat dia tertawa. "Hahaha, baiklah. Tapi tidak ada yang gratis, Nona." Dia seperti meminta imbalan dariku.


Kutelan ludahku. Rasa-rasanya hanya wajahnya saja yang tampan, tapi hatinya pamrih bukan kepalang. "Em, baiklah. Bagaimana jika besok kutraktir makan siang untuk membalas kebaikan Anda malam ini?" Aku mencoba membayar jasanya.


Kulihat dia memandang gedung apartemenku. "Boleh. Tapi bagaimana cara kita bertemu kembali?" Secara tidak langsung dia seperti menanyakan nomor ponselku.


"Tuan, ini kartu namaku." Aku berikan kartu namaku saja padanya.


"Cecilia?" Dia menyebut namaku seperti ada rasa tertarik.

__ADS_1


Aku tersenyum. "Kalau begitu sampai nanti. Terima kasih, Tuan." Aku pun lekas-lekas pergi dari hadapannya.


Aku tidak tahu siapa dia dan namanya. Yang kutahu malam ini dia telah menyelamatkanku dari kawanan bandit yang menganggu dan ingin memperkosaku. Dia juga membantu memanggilkan mobil derek agar mobilku bisa sampai ke bengkel terdekat. Dan ya, aku tidak enak hati jika hanya membalasnya dengan tangan hampa. Setidaknya harus tahu terima kasih karena dia telah membantuku.


Siapapun dia, aku berharap dia orang baik.


Lekas-lekas aku melangkahkan kaki menuju lift gedung agar sampai ke apartemenku. Kucoba untuk tidak memedulikan pria yang telah menolongku. Aku bersikap sekedarnya saja, tidak lebih dari itu. Ya, walau harus kuakui jika wajahnya terlihat lebih muda dari Jackson. Tapi bagiku Jackson tetaplah yang nomor satu.


Pukul sepuluh malam waktu setempat dan sekitarnya...


Aku baru saja mandi dan sedang menghanduki rambut sambil berdiri di depan cermin. Rasa-rasanya hari ini lelah sekali karena harus mengalami adegan lari dari bandit.


Aku tidak tahu kenapa bisa mengalami hal seperti itu. Pikiranku langsung tertuju jika ini adalah ulah Jackson karena kesal padaku. Tapi, hatiku menolaknya. Jackson tidak mungkin melakukan hal itu setelah apa yang kulakukan untuknya. Lalu siapa dalang dari kejadian hari ini?


Kubuat kopi susu untuk menemani malamku yang sepi. Mungkin sudah tiba saatnya bagiku untuk pergi dari apartemen ini. Aku merasa Jackson tidak akan pernah lagi ke sini karena sudah mengusirnya semalam. Sejak semalam dia juga belum menghubungiku sama sekali. Mungkin dia benar-benar telah marah padaku.


Sungguh, tidak ada niatan di dalam hatiku untuk mengusirnya. Namun, tamparan dari Zea seolah menyadarkan siapa diriku ini. Aku hanya seorang pekerja yang mengemban tugas darinya, tidak lebih dari itu. Jadi kenapa sekarang malah menjadikan nyata aktingku?


"Kenapa hidupku seperti ini, ya?"


Aku duduk di sofa sambil menyetel TV. Kurasakan Jackson seperti berada di sini. Bau-bau asap rokoknya seakan masih bisa tercium olehku. Aroma tubuhnya seolah mengelilingi sekitaran tubuh ini. Tapi sayang, raganya tidak ada di sampingku.


Jackson-Jackson, apa yang harus aku lakukan sekarang?


Aku tidak mungkin menghubunginya setelah mengusirnya semalam. Mungkin lebih baik kubiarkan saja dia menenangkan pikiran. Daripada dipaksakan bicara malah yang ada keluar kata ancaman. Ya, sudah. Kutenangkan diriku sambil meneguk secangkir kopi susu buatanku ini.


Ponselku berbunyi?


Tiba-tiba saja saat sedang bersantai, aku mendengar dering ponselku. Untung saja kawanan bandit itu tidak mengambil apapun dariku. Ponselku segera ditemukan oleh pria yang menolongku. Walaupun hari ini amat melelahkan, setidaknya masih bisa bersyukur karena tidak kehilangan apapun.

__ADS_1


Segera saja aku mencari di mana ponselku berada. Aku sengaja tidak memedulikan panggilan sejak tiba tadi. Aku hanya menenangkan pikiran yang telah lelah ini dengan berendam di dalam bathtub. Jadi tidak tahu jika ada dering ponsel memanggilku.


"Zea?"


Kulihat jika Zea lah yang menelepon. Entah ada apa gerangan, rasa-rasanya aku malas untuk mengangkat telepon darinya. Tamparan darinya masih terasa sakit sampai sekarang. Lalu akhirnya, kudiamkan saja panggilan darinya.


Beberapa menit berlalu, Zea masih terus saja meneleponku. Dan karena bising sekaligus penasaran, akhirnya aku mengangkat telepon darinya. "Halo?" jawabku datar.


"Cecilia, kau berniat menabuhkan genderang perang denganku?!" tanyanya dengan intonasi yang membunuh.


Seketika aku merasa jika percakapan malam ini akan berakhir tidak baik. Kuhirup udara dalam-dalam untuk menjawab pertanyaannya.


"Maaf, Nyonya. Aku tidak mengerti apa maksud Anda." Aku berlagak santai menerima telepon darinya.


"Di mana bukti kemarin yang ingin kau berikan padaku?" tanyanya lagi.


Aku terdiam sejenak, mencari cara agar dapat menjawab pertanyaannya tanpa menimbulkan masalah.


"Cepat katakan, Cecilia! Jangan buat kesabaranku habis!"


Zea seperti menggebu-gebu sekali. Seakan tidak ingat apa yang telah dia lakukan kemarin malam padaku. Sungguh aku kesal padanya. Jika tidak mengingat siapa saja orang yang ada di belakangnya, tentu aku sudah membuat perhitungan dengannya.


"Nyonya, tuan Jackson telah mengambil semua bukti kemarin," kataku jujur.


"Dasar bodoh!" Dia langsung mencaciku. "Kenapa tidak kau simpan dulu bukti itu? Kenapa kau begitu bodoh menjalankan tugas dariku?!" Dia semakin menjadi-jadi.


Aku pun tidak mengerti mengapa Zea marah padaku. Jelas-jelas dia yang menyuruhku untuk menjebak suaminya. Tapi kenapa dia malah seperti ini sekarang?


Jika dia cemburu karena kedekatanku dengan Jackson, itu salahnya sendiri. Jika ada alasan lain, aku tidak tahu kenapa. Selama ini sebisa mungkin aku menjadi Cecilia yang dia tahu. Tapi malam ini dia seenaknya mencaciku.

__ADS_1


"Nyonya, aku tidak mengerti mengapa Anda seperti ini. Anda menamparku dan sekarang mencaciku. Apakah Anda cemburu karena kedekatanku dengan tuan Jackson?" Aku memberanikan diri bertanya padanya.


__ADS_2