Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Ngajak Gelut


__ADS_3

Pukul satu siang waktu setempat dan sekitarnya...


Aku akhirnya kembali ke kantor bersama Jackson setelah menebus obat di apotek terbesar kota ini. Dan kini si bos sedang memperhatikanku dari depan meja kerjanya. Dia tidak membolehkan aku keluar ruangan.


"Bekerja di sini saja agar aku bisa menjagamu," katanya lalu mengambil dokumen untuk dibaca.


Jackson seperti amat khawatir dengan keadaanku. Dia ingin hari ini aku bekerja di ruangannya. Sampai-sampai meminta office boy untuk mengangkat meja kerjaku ke dalam. Dia benar-benar gila.


"Tuan, Anda tidak perlu sampai seperti ini." Aku risih sendiri.


"Kau tetap harus di sini agar berada dalam penjagaanku," katanya lalu menelepon seseorang.


Aku merasa Jackson begitu khawatir. Jangan-jangan dia berpikir aku ini sedang mengandung anaknya? Padahal proses pembuahannya pun belum tentu berhasil. Mendengar pemaparan dari dokter tadi saja membuatku pesimis sendiri.


Apa dia sangat mengharapkan anak dariku?


Entah sedang berbicara dengan siapa, Jackson seperti menyuruh orang untuk melakukan sesuatu. Aku pun hanya bisa duduk diam sambil menunggunya selesai menelepon. Dan tak lama, telepon itu pun diakhirinya.


"Cecilia, aku akan memberi orang untuk menjagamu. Apa kau keberatan?"


"Hah?! Apa?!" Aku terkejut seketika.


"Hadden mulai bergerak. Aku khawatir dia akan mencarimu. Sepertinya Zea juga tidak akan diam." Jackson menuturkan.


"Lalu aku harus bagaimana, Tuan?" Aku merasa panik sendiri.


"Kau takut?" Dia malah menggodaku.


"Tuan ...."


"Tenang saja. Mereka tidak akan melukaimu. Hanya mungkin menggunakan cara yang lebih halus." Jackson meneguk kopinya yang kubuatkan tadi.


Astaga ... berarti peperangan memang benar-benar telah dimulai. Ya Tuhan, lindungi aku dan Jacksonku. Jika memang harus mengandung anaknya, aku tidak keberatan. Lagipula anak tidak salah.


"Sedang memikirkan apa?" Jackson menatapku penuh makna.


"Aku ...."


Belum sempat menjawab, seseorang mengetuk pintu ruangan. Lantas aku menoleh, melihat siapa yang datang. Dan ternyata dari divisi keuangan.


"Maaf, Tuan. Estimasi biaya sudah jadi." Seorang pria menyerahkan map kepada Jackson.


Aku tidak tahu siapa nama dan jabatannya. Tapi tadi aku sempat melihatnya duduk di divisi keuangan perusahaan ini. Jadi mungkin saja dia salah satu orang dari sana.


"Terima kasih. Pastikan semua dibayar tunai," kata Jackson kepada pria itu.


"Baik, Tuan." Pria itupun undur diri.

__ADS_1


Jackson segera membuka laporan yang diberikan oleh pria itu. Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari laci mejanya kemudian diberikan padaku.


"Ini apa, Tuan?" tanyaku.


"Rincian gajimu," katanya tanpa melihat ke arahku.


Jackson fokus mengecek laporan estimasi biaya, sedang aku melihat rincian gajiku yang dibayarkan perusahaan. Seketika itu perempatan urat muncul di dahiku. Jackson seperti sedang memancing emosiku.


Kutepuk dahiku, kupijat pelipis kepala ini. Rasa-rasanya pusing sekali. Bisa-bisanya Jackson memberikan laporan perincian gaji seperti ini.


Dia sekarang sudah benar-benar gila.


Total gaji bulananku adalah tujuh juta, sudah termasuk uang makan dan lainnya. Dua juta untuk uang make up, dua juta untuk uang perawatan, dan satu juta untuk membeli pakaian dalam. Jackson mengajak ku gelut hari ini.


"Kenapa?" tanyanya tanpa merasa berdosa sama sekali.


"Tuan, ini Aurel yang membuatnya?" tanyaku cemas.


"Kalau iya, kenapa? Kalau tidak, kenapa?" Dia malah mengulur jawaban.


Arrghh ... dia membuatku kesal jika benar-benar Aurel yang membuat perinciannya. Apa kata Aurel jika Jackson memberiku gaji sampai untuk membeli pakaian dalam. Astaga ....


"Aku suka yang berenda," katanya di tengah-tengah membaca laporan.


"Berenda?"


"Ya, sedikit terbuka di bagian tengah dan menantang," katanya lagi.


"Malam ini semua karyawan lembur. Kau bisa beristirahat dulu di rumah lalu kembali ke sini." Dia memintaku beristirahat.


"Tapi ...."


"Demi menjaga kerja kerasku. Aku merelakanmu pulang," katanya yang membuatku menelan ludah.


Kerja keras? Iya sih dia memang telah bekerja keras. Bekerja terlalu keras malahan. Tapi tidak gini-gini juga. Dia pikir sudah berhasil apa? Astaga, Jackson! Rasanya aku ingin memukulmu!


"Em, Tuan. Aku di sini saja. Aku membantu penutupan buku di akhir tahun. Nanti jika lelah, aku bisa beristirahat." Aku tersenyum padanya padahal hatiku kesal.


"Baiklah. Kalau begitu mari periksa semua laporan yang masuk." Dia akhirnya mengangkat seikat dokumen ke hadapanku.


Astagaaaaa! Banyak sekali ...?!!


Aku pikir hanya beberapa dokumen yang harus diperiksa. Tapi ternyata sudah seperti Menara Miring Pisa. Tak kusangka jika akan sebanyak ini. Rasanya aku semakin bertambah pusing saja.


Semangat, Cecilia!


Lantas aku membagi terlebih dahulu dokumen yang harus diperiksa hari ini. Kutahu jika tutup buku di akhir tahun memang begitu melelahkan. Tapi semoga saja semua berjalan dengan lancar.

__ADS_1


Malam harinya...


Suasana kantor masih tampak sangat ramai. Pukul delapan malam seluruh karyawan PT Samudera Raya masih gegap gempita mengerjakan tugas akhir tahunnya. Mereka sambil bercanda ria agar tidak terlalu lelah. Dan baru kali ini aku melihat kantor bisa seramai pasar. Ternyata di luar jam kerja para karyawan dibebaskan untuk bercanda.


Kini aku baru saja selesai mandi dan mengenakan pakaian biasa. Blus berwarna hitam lengan panjang dan celana jeans biru. Jackson memperbolehkan karyawannya mengenakan pakaian bebas di luar jam kerja. Maklum mereka semua sedang lembur hari ini.


Estimasi lembur akhir tahun sampai jam sebelas malam. Seluruh karyawan diminta bekerja semaksimal mungkin sebelum libur panjang diberikan. Jackson memberikan libur dari tanggal 31 Desember sampai 2 Januari nanti. Dia begitu baik, apalagi saat kuketahui jika tanggal 3 Januari hanya masuk untuk rapat sebentar. Barulah di tanggal empat dapat bekerja kembali normal.


"Tuan, Anda tidak mandi?" tanyaku padanya, yang sedang merokok sambil melihat laporan di laptopnya.


"Nanti saja," jawabnya singkat.


Jackson tampak sibuk. Seluruh laporan yang diterima sudah selesai kami periksa saat petang tiba. Dia juga belum makan sama sekali. Terlalu serius melihat perkembangan perusahaan sampai lupa segala-galanya. Aku juga sedari tadi menemaninya di sini, jadi mungkin dia merasa tenang karena tidak khawatir memikirkan keadaanku.


Ya ampun, Cecilia. Kau begitu percaya diri.


Lantas aku ingin memesan makanan agar bisa disantap olehnya. Tapi saat keluar ruangan, ternyata divisi keuangan sudah memesan makan malam untuk kami semua.


Ambil dua saja.


Aku mengambil dua kotak nasi untuk disantap kami malam ini. Tapi, tiba-tiba Clara datang dengan wajah semringahnya, walau seharian sudah lelah bekerja.


"Clara?" Aku terkejut melihatnya sudah berada di sampingku.


"Cecilia, ini laporan dariku dan dari tim administrasi. Bisa langsung dicek. Aku akan menunggunya sampai jam lembur habis." Clara memberikan padaku beberapa dokumen untuk diperiksa.


"Baiklah, terima kasih." Aku tersenyum padanya lalu ingin masuk kembali ke ruangan Jackson.


"Cecilia." Dia menegurku lagi.


"Ya?" Aku pun menoleh.


"Tadi ada yang mencarimu," katanya yang membuatku terkejut.


"Hah? Siapa?" Aku jadi penasaran.


"Katanya namanya Alexander. Dia menitip pesan padaku untuk menyampaikan padamu, agar tidak memblokir panggilan masuknya." Clara menceritakan.


Apa?!


Seketika jantungku berdegup kencang. Saat itu juga aku menyadari sesuatu.


Astaga ... berarti Jackson tahu jika Alexander meneleponku? Dia sampai memblokir panggilan masuk dari Alexander. Oh, ya ampun, Jackson ....


"Em ... terima kasih. Kalau begitu aku masuk ke ruangan lagi."


Clara mengangguk, aku pun segera masuk kembali ke ruangan Jackson. Kubawa dokumen yang Clara berikan beserta dua kotak nasi untuk dimakan malam ini.

__ADS_1


Ya Tuhan, ketahuan lagi?!


Entah mengapa aku jadi takut untuk menghadap Jackson setelah mendengar pesan dari Clara malam ini. Sepertinya memang benar akan terjadi peperangan besar.


__ADS_2