Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Yang Kunantikan


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, di teras apartemen...


Aku sudah berganti pakaian dengan mengenakan daster biru tanpa lengan. Dan kini sedang berdiri bersama Jackson di teras apartemen sambil melihat pemandangan kota malam hari. Kulihat bulan dan bintang bersinar dengan terang. Aku pun sesekali melihat ke arahnya yang berdiri di sisi kananku. Kusadari jika aku membutuhkannya.


Sinar terang lampu perkotaan menghiasi malam ini. Lalu-lalang deru kendaraan bisa terdengar dan terlihat dari sini. Aku sendiri mencoba membuka hati untuk pria berjaket biru di sampingku. Kunikmati setiap hela napas bersamanya. Aku rasa tidak bisa jauh darinya.


Aku sudah terbelenggu oleh cintanya. Dia seakan mengikatku sehingga aku tidak bisa lari. Dia memang kasar dan juga berhati dingin. Tapi kuakui jika dia juga bisa bersikap hangat kepadaku. Dia bak kulkas dua pintu, pintu atas menghangatkan, pintu bawah mendinginkan. Dan dia adalah sosok yang langka bagiku.


Jackson singgah ke kehidupanku untuk meminta secangkir kopi, namun sayangnya aku malah memberikannya hati. Dan anehnya aku menikmati kesalahan itu. Hingga akhirnya tak bisa lepas lagi darinya. Jiwa dan ragaku seolah menuntut untuk terus bersamanya. Hati ini pun terpaut hanya kepadanya. Sungguh gila transaksiku kali ini. Tapi inilah kenyataan yang terjadi.


"Alexander yang mengurus semuanya selama aku tak ada?" Jackson bertanya padaku.


"Ya." Aku mengangguk. "Dia yang membayar semuanya dan juga membantuku mengurus penggeladahan orang-orang Zea." Aku jujur saja.


Jackson menghela napas, dia kemudian menatap ke arah perkotaan lagi. Aku rasa dia sedang memikirkan langkah ke depan untuk kami. Aku pun masih memperhatikannya, melihat semburat indah mata persiknya yang seolah menggodaku. Ingin rasanya aku memeluknya dan tak ingin kulepas lagi.


Kami memang sedang jujur tentang perasaan masing-masing. Aku yang cemburu karena melihatnya bersama Zea, dan Jackson yang cemburu karena kedekatanku dengan Alexander. Tapi jujur saja, aku dan Alexander memang belum ada hubungan apa-apa. Dan setelah mendengar kesaksian dari Jackson tentangnya, aku jadi berpikir ulang untuk dekat-dekat dengan pria berambut pirang tersebut. Tak kusangka jika dia ada maksud lain di belakangku.


Jackson mengatakan jika Hadden lah yang meminta Alexander untuk mendekatiku. Hal ini tentu saja membuatku tak percaya jika kenyataannya memang begitu. Alexander sudah membawa-bawa ibunya ikut terlibat dalam hal ini. Pastinya ibu Alexander tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya pada kami. Ibunya menganggap kami benar-benar dekat dan tidak ada rekayasa dari putranya. Aku pun masih berharap jika hal yang diceritakan oleh Jackson tidak benar adanya.


Aku terkejut dengan semua hal yang Jackson katakan. Ternyata kemarin Zea juga sengaja datang ke kantornya untuk menunda keberangkatan Jackson menjemputku. Dengan kedatangan Zea ke kantor, tentu saja membuat Jackson tidak bisa menemuiku. Zea sendiri yang menahan Jackson untuk pergi. Dan jika dikaitkan, saat Zea menahan Jackson di kantor, di saat itulah orang-orangnya bergerak untuk mengobrak-abrik rumah kontrakanku. Ini masuk akal sekali.


Jackson juga bilang jika dia mengejarku setelah bersusah payah lepas dari Zea. Yang mana saat itu dia melihatku di taman bersama Alexander. Sepertinya Zea dan Hadden memang telah bekerja sama. Aku merasa keduanya ingin mengobrak-abrik hubunganku dengan Jackson. Entah benar atau tidak, tapi rasanya setelah ini aku harus lebih berhati-hati lagi.


Sungguh aku bingung memikirkan cara agar bisa keluar dengan selamat dari permasalahan ini. Aku seperti didera kelaparan lalu menemukan buah simalakama, serba salah menghadapinya. Rasanya ingin lari saja dan tak kembali lagi.


"Kau belum dijamah olehnya, bukan?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala. Tentu saja aku belum dijamah olehnya. Ciuman pun tak jadi karena waktu itu tiba-tiba perutku sakit sekali.


"Cecilia." Dia menyebut namaku. "Aku banyak urusan akhir-akhir ini. Aku sudah mengerahkan orang-orangku untuk mengatasinya. Tapi sepertinya dua lawan satu tidaklah mudah." Dia mengatakan hal yang tersirat padaku.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanyaku padanya.


Jackson menyilangkan kedua tangan di dada. Dia seperti sedang berpikir keras. "Tujuan Zea sepertinya bukanlah aku, melainkan dirimu. Mungkin dia merasa kesal saat tahu aku memberimu 2,3% saham di Angkasa Grup." Jackson menuturkan.


"Jadi?" tanyaku lagi.


"Zea tidak peduli padaku. Dia hanya peduli dengan hartaku. Zea menginginkan setengah harta yang kupunya sehingga dia mencari cara untuk bisa mendapatkannya. Hingga saat ini aku belum melihat pergerakan dari Andreas. Dia sepertinya menunggu Zea untuk melancarkan aksinya," kata Jackson lagi.


Seketika aku teringat dengan pria itu. "Apakah dia menyinggungmu saat di kantor?" tanyaku ingin tahu.


Jackson menoleh ke arahku. "Dia lebih banyak diam sekarang, seperti sedang merencanakan sesuatu. Tapi, aku belum bisa tahu apa rencananya. Namun, satu hal yang pasti, dia sudah mengetahui jika kau memegang saham di Angkasa Grup." Jackson menceritakan.


Seketika aku menelan ludah mendengarnya.


Aku merenungi kata-katanya. "Aku masih bingung, timbal balik apa dari kerja sama antara Alexander dan Hadden." Aku tidak mengerti.


Jackson lalu menarikku agar berdiri di depannya. Dia kemudian memeluk tubuhku dari belakang. Saat itu juga sekujur tubuhku merinding karenanya. Dia kemudian mencium pundakku ini. Ciuman yang membuatku menginginkannya. Sungguh aku rindu padanya.


"Hadden ingin mengambilmu dariku. Tapi dia tidak secara langsung melakukannya." Jackson menjelaskan sambil memelukku.


"Mengambilku?" tanyaku heran seraya menoleh ke arahnya.


"Ya. Dia menggunakan Alexander untuk membuatmu jauh dariku. Saat kau jauh, dia bisa dengan mudah masuk dengan meminta Alexander meninggalkanmu. Hal itu mudah dilakukannya, Cecilia." Jackson meyakinkanku.

__ADS_1


Astaga ....


Saat itu juga aku merasa menyesal karena pernah dekat dengan pria berambut pirang tersebut. Aku tak percaya jika Alexander akan sampai seperti ini. Selama ini aku melihatnya tulus mendekatiku. Tidak tahu jika ada yang menyuruhnya apalagi sampai saingan bisnis Jackson sendiri, Hadden.


Jackson melingkarkan kedua tangannya di perutku. Dia memelukku erat seperti enggan melepasnya. "Aku memang sulit dimengerti, Cecilia." Dia jujur akan dirinya.


Aku pun berbalik untuk melihat wajahnya. "Jack?"


Jackson menatapku, memandang wajah ini. Tersirat tatapan kasih sayang dari matanya. Dia kemudian memegang lembut pipiku.


"Aku berharap kau bisa mengerti bagaimana sifatku ini. Karena yang kuinginkan hanya satu cinta saja. Dan cinta itu adalah dirimu," katanya yang membuat hatiku terenyuh seketika.


"Jack, kau sungguh-sungguh?" Aku masih tak percaya.


"Aku sungguh-sungguh padamu. Namun, aku memang seperti ini. Terkadang kasar melewati batasan. Aku belum mampu mengontrol diri karena tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya." Dia menjelaskan bagaimana dirinya kepadaku.


Aku pun mencoba mengerti.


"Sekarang dengarkan aku, Cecilia."


Dia menatapku dalam, tepat di kedua mataku. Kedua tangannya mengusap lembut pipi ini. Kami pun saling bertatapan dengan jarak yang dekat sekali. Kulihat dia ingin mengatakan sesuatu padaku.


"Aku..."


Aku pun masih menunggu hal apa yang ingin dikatakan olehnya. Aku menantikannya.


.........

__ADS_1


...Cecilia...



__ADS_2