
...Visual Tokoh...
...Fall in Love with Lover...
...Godaan Sekretaris Cantik...
.........
...Cecilia...
.........
...Jackson...
.........
...Fall in Love with Lover...
...Godaan Sekretaris Cantik...
.........
"Kak Jakson, sudah. Aku tidak sanggup."
Lidahnya begitu cepat bergerak-gerak di atas pucuk dadaku. Dia benar-benar membuat sekujur tubuhku menggeliat tak karuan. Baru kali ini aku merasakan sensasi geli yang menjalar ke seluruh tubuh. Aku seperti tidak mendapat kesempatan untuk bernapas.
"Kak Jackson ... uuuhh!"
Dadaku naik-turun, detak jantungku berpacu cepat karena permainannya. Tapi tidak hanya sebatas itu. Dia seperti belum puas bermain dengan kedua bukit ranumku. Dia lalu memberikan ritme perlahan pada setiap permainannya.
"Aaahh ...."
Dia kini dengan lembut mempermainkan kedua dadaku sehingga pucuk itu bergoyang di depan matanya. Sedang aku ... aku hanya bisa mengatur ulang napas yang semakin tidak terkendali ini.
"Kak Jackson, sudaaaahhh."
Tubuhku lemas, padahal dia hanya mempermainkan dadaku saja. Seluruh tenagaku seperti terserap olehnya. Aku seakan tidak dapat melawannya.
"Sudah lemas?" tanyanya, seraya mendekatkan wajah ke wajahku. Permainannya dihentikan sejenak.
"Kak Jackson, aku ... tidak sanggup lagi," kataku yang terengah-engah.
Entah bagaimana wajahku di pandangannya sekarang. Yang kutahu aku seperti habis berlari, lelah sekali. Keringat pun mulai bermunculan dari keningku.
"Kasihan sekali keringatan."
__ADS_1
Dia lalu mengusap keringatku dengan lembut. Dengan satu tangan yang menahan kedua tanganku ke atas.
Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Tapi malam ini dia menunjukkan kelembutannya padaku. Entah hanya sebatas sandiwara atau memang tulus dari hatinya. Karena terkadang aku takut jika ingin mengambil kesimpulan lagi tentangnya. Aku sudah berulang kali salah menilai. Rasanya aku ingin sekali mengetahui isi hati yang sebenarnya tentangku.
"Cecilia, kau sangat cantik." Dia lantas memujiku.
"Kak Jackson ...." Aku menatapnya dengan sayu.
Dia lalu mendekatkan wajahnya, mendekati wajahku. Hangat napasnya mulai terasa di pipi ini. Dia lalu mencium bibirku dengan mengecupnya berulang kali, sambil terus memainkan dadaku ini. Dia juga menghisap bibirku sampai aku bisa melihat dengan jelas bibirku ditarik oleh bibirnya.
Belum puas sampai di situ, tangan kanannya mulai merayap-rayap di atas tubuhku. Dari dada hingga turun ke bawah dan ke bawah lagi. Sampai akhirnya aku berhasil melepaskan satu tanganku dari cengkeramannya, lalu menahan tangannya yang ingin menaikkan gaunku.
"Jangan di situ. Tolong ...." Aku memohon padanya.
Sungguh aku takut kehilangan kendali. Sudah cukup sudah permainan ini. Dia sudah menjelajahi setiap inchi dari bukit ranumku. Tidak seharusnya dia mencari yang lain lagi.
"Cecilia, waktu itu kau bilang ingin memenuhi kebutuhanku. Kenapa sekarang menarik ucapanmu?" Dia seakan menagih ucapanku.
Astaga ....
Kini semua kata-kataku dibalikkan olehnya. Aku jadi semakin tersudut di bawah tubuhnya. Dia benar-benar pintar membalikkan kata-kata.
"Aku bisa kehilangan kendali. Jangan, ya." Aku memohon dengan masih menahan tangannya.
Begitu bodohnya aku berkata seperti itu. Aku tidak lagi memikirkan apa yang akan dia lakukan karena ucapanku. Aku pikir dengan kata-kata itu dia akan berhenti. Tapi ternyata...
Tangannya dengan cepat menyelinap di antara kedua pahaku, mencari-cari sesuatu di bawah sana. Lalu masuk ke dalam celana lace yang kupakai, meraba-raba untuk menemukan sesuatu paling sensitif dalam tubuhku. Dan akhirnya ... sesuatu itu ditemukan juga olehnya.
"Kak Jacksoooon ...!!!"
Aku meracau, kehilangan kendali saat dia menemukannya. Tubuhku bergetar saat merasakan jari itu menyentuhnya.
"Jangan ... berhenti ... kumohon ...." Aku menggeliat ke sana dan ke sini, mencoba melakukan perlawanan. Tapi tenaganya lagi-lagi tidak bisa kulawan.
"Kau bilang apa, Cecilia? Jangan berhenti? Baiklah. Aku akan mempercepat gerakannya."
"Tidak! Aaaaaaaahh ...!!!"
Seketika tubuhku bergetar hebat hingga sesuatu keluar tanpa terkendali. Tapi, setelah itu dia semakin menggila. Dia melebarkan kedua kakiku lalu mulai menghisap sesuatu itu sampai habis dan tak bersisa. Dia membuatku mabuk dan kehilangan akal sehat.
"Cecilia, call me baby," pintanya.
"Baby?"
"Yeah."
"Oh, noooooo! It's so deep! Aaaahhhhh!"
Malam yang panjang kulalui. Kami melakukannya berulang kali hingga dia tidak mempunyai kekuatan lagi. Dia benar-benar buas dan tak terkendali. Dan aku hanya bisa menuruti apa keinginannya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian...
Semilir angin berembus melewati celah jendela apartemenku. Seolah semakin membuat tubuhku menggigil dan menambah kekacauan di pikiran ini.
Aku duduk menempel di badannya dengan lemas, tak bertenaga. Peluh keringat mewarnai kisah semalam hingga rambutku basah seperti habis mandi. Kasur yang kududuki pun kini tidak lagi menyisakan tempat yang kering.
"Dingin."
Satu kata terucap dari mulutku. Aku mengucapkannya seperti tidak sadar, mungkin bermimpi. Ya, aku harap ini hanyalah mimpi. Apa yang kami lakukan semalam bukanlah kenyataan.
"Cecilia, apa ulang tahunmu sudah lewat?
Kudengar Jackson bertanya seperti itu padaku. Tapi aku seakan tidak dapat menjawab pertanyaannya. Hawa dingin menusuk seluruh sendi tulangku hingga lidahku terkaku. Aku hanya bisa melihat dirinya yang sedang merokok di sisi kasur sambil melihat pesan masuk di ponselnya.
"Mau hadiah apa?" tanyanya lagi, seraya menoleh ke arahku. Tapi, aku masih juga tidak bisa menjawab. Pikiranku kalut saat ini.
Jackson lalu mendekatkan puntung rokoknya ke bibirku. Aku pun menghisapnya sekali. Mencoba meredakan rasa dingin yang menerjang tubuhku. Tapi nyatanya, kehangatan rokok itu hanya sesaat kurasakan. Setelahnya tubuhku kedinginan kembali.
Rasanya ingin menangis saja. Beberapa saat kusadari jika telah melepas hal yang paling berharga dalam hidupku. Selama dua puluh enam tahun aku telah menjaganya sepenuh hati. Tapi akhirnya, kandas begitu saja di tubuh seorang targetku.
"Cecilia, apakah sebelumnya pernah melakukan hubungan sampai ke tahap ini?"
Jackson lagi-lagi bertanya. Pertanyaannya itu membuatku kesal setengah mati. Jelas-jelas dia yang mengambil keperawananku, tapi bisa-bisanya dia bertanya seperti itu. Rasanya aku ingin membunuhnya detik ini juga. Melampiaskan rasa kesal yang tengah berkobar-kobar.
Aku hanya menoleh ke arahnya, melihat wajahnya yang semalam tak henti-hentinya menjelajahi seluruh lekuk tubuhku. Dia mencium di sana dan di sini yang membuatku kehilangan kendali. Aku sungguh malu, tidak ada lagi yang bisa kubanggakan dari diriku.
Walaupun bergelut dengan pekerjaan ini, hanya Jackson lah satu-satunya pria yang berhasil mengambil semuanya dariku. Sebelum-sebelumnya hanya sebatas ciuman dan juga sentuh-menyentuh dada. Tidak sampai memegang atau mempermainkan seperti dirinya.
"Cecilia, aku pergi dulu. Beristirahatlah."
Dia lalu mengecup keningku setelah mengenakan pakaiannya. Aku pun hanya bisa melihatnya pergi tanpa berkata apa-apa.
"Sampai nanti." Dia pun meninggalkanku sendiri di sini.
Pintu ditutup olehnya dari luar. Bersama dengan itu kurasakan bulir-bulir air mataku keluar. Aku tidak lagi bisa bersembunyi dari rasa penyesalan. Aku hancur di dalam permainan yang kubuat sendiri.
"Arrghh!"
Aku kesal. Sampai langit terang aku hanya duduk di atas kasur seraya menyesali apa yang terjadi. Rasa sesak melanda dada ini. Hatiku hancur berkeping-keping karena kejadian semalam. Risiko tinggi harus kuhadapi karena pekerjaanku.
Selesaikan perjanjianmu, Cecilia. Lalu pergi menjauh untuk melupakan semua.
Kuambil ponselku lalu menelepon Zea, istri dari pria yang semalam merenggut keperawananku. Aku tidak peduli dia mau marah atau tidak karena meneleponnya pagi-pagi. Aku hanya ingin segera menyelesaikan perjanjian ini.
"Halo?"
Ternyata Zea dengan cepat mengangkat teleponku. Namun, dari nadanya seperti kesal karena kutelepon pagi-pagi. Tapi aku tidak peduli. Aku terus terang saja akan maksud tujuanku meneleponnya.
"Nyonya, aku telah mendapatkan video dan rekaman suara. Perjanjian sudah selesai," kataku dengan suara yang serak.
__ADS_1