
Entah mengapa aku merasa ada hubungan kerja sama antara Hadden dan Alexander. Tapi aku tidak bisa memastikannya karena belum membuktikannya sendiri.
"Em, Tuan." Aku berpikir sebelum menjawab ajakannya. "Aku sedang kurang enak badan beberapa hari ini. Maaf, ya. Lain kali saja." Aku beralasan yang sama ke Alexander.
"Cecilia, ingin kuantar ke rumah sakit?" Dia menawarkan bantuan padaku.
"Tidak perlu, Tuan. Aku hanya butuh istirahat beberapa waktu. Kalau begitu sampai nanti." Segera kumatikan teleponnya.
Aku tidak peduli bagaimana perasaan Alexander saat kumatikan teleponnya. Hal yang terjadi malam ini sedikit aneh. Sepertinya harus menanyakan langsung kepada Jackson. Toh, tidak ada lagi yang perlu kusembunyikan darinya. Jadi kuputuskan untuk menanyakan benarkah dugaanku jika Hadden dan Alexander ada hubungan kerja sama?
"Hah ... lebih baik beristirahat."
Karena lelah, akhirnya aku beristirahat segera. Memejamkan kedua mata di atas kasur yang pernah menjadi saksi bisu antara aku dan Jackson. Tidak baik juga tidur malam-malam. Jadi untuk sementara pikiran tentang Alexander dan Hadden kuabaikan, karena harus beristirahat segera. Semoga saja hari esok akan lebih baik lagi.
Selamat tidur, Cecilia. Mimpi indah bersama bintang.
Keesokan harinya...
Aku bangun kesiangan. Dan mungkin karena kesiangan jadinya mual-mual. Lambungku tidak enak sekali. Sampai bolak-balik ke kamar mandi untuk mengeluarkan rasa mualku. Tapi nyatanya, aku harus meminum obat mag rasa peppermint, baru rasa mualku berkurang. Aku jadi berpikiran yang aneh-aneh. Benarkah aku hamil?
Hari ini kukenakan kemeja lengan panjang berwarna putih dibalut rompi berwarna pink. Sedang bawahannya celana dasar putih yang hampir menutupi mata kaki. Entah mengapa aku sedang ingin mengenakan warna putih.
Make up juga kupoleskan sedikit tebal dengan beberapa sapuan blash on dan eye shadow berwana pink. Seperti rompiku agar terlihat serasi. Sedang sepatunya kukenakan pantofel putih yang tidak terlalu tinggi. Beberapa semprotan parfum juga siap menemaniku untuk menjalani hari, membuatku lebih percaya diri.
Akhirnya sampai juga.
Kini aku baru saja tiba di kantor. Pagi ini akan diadakan rapat awal tahun oleh Jackson. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Tapi ternyata, kantor masih sepi. Padahal aku pikir akan telat datang ke sini. Namun nyatanya, aku adalah orang pertama yang datang.
Clara?
Tak lama kulihat Clara datang dengan wajah berseri-seri. Dia berjalan menghampiriku lalu menarik kursi. Duduk bersamaku di depan meja kerja ini.
"Cecilia, bagaimana nanti malam?" tanyanya kepadaku.
"Maksudmu ...?"
"Acara dansa. Aku ingin sekali ikut. Bantu aku ya, Cecilia." Clara memohon padaku.
"Em ...," Aku jadi bingung menjawabnya.
"Please, Cecilia. Kau pasti bisa membantuku." Clara merayu.
Aku memikirkan ajakannya, ingin menolak. "Aku khawatir tuan Jackson tidak membolehkannya, Clara," jawabku.
Clara memegang tanganku. "Tenang saja. Tuan Jackson tidak pernah datang ke acara dansa perusahaan tuan Hadden. Kita bisa cuci mata di sana." Clara merayuku kembali.
"Cuci mata?" Aku pura-pura tidak mengerti maksudnya.
__ADS_1
"Cecilia, banyak pengusaha muda di sana. Kita bisa cuci mata dan siapa tahu dapat jodoh." Dia lagi-lagi membicarakan tentang jodoh padaku.
Duh, dia ini sudah kebelet kawin rupanya.
Aku terdiam sejenak memikirkan ajakan Clara.
Dia lebih muda dariku, tapi sudah ngebet sekali ingin mendapatkan jodoh. Apa kabar diriku yang masih digantung kepastiannya?
"Cecilia." Tiba-tiba Aurel datang, menghampiri kami. Dia memasang wajah menyesal di hadapanku.
"Aurel?!" Aku terkejut melihat kehadirannya.
"Clara, bisakah kau pergi sebentar? Aku ingin berbicara kepada Cecilia." Aurel meminta Clara pergi.
Aku jadi merasa heran dengan kedatangan Aurel. "Ada apa, Aurel? Jika ada keperluan, katakan saja," kataku.
"Em ...." Aurel seperti ragu-ragu untuk mengatakannya.
Clara berdiri. "Cepat katakan. Aku juga ada keperluan dengan Cecilia." Clara menyilangkan kedua tangannya di dada.
Eh? Apakah Clara tidak menyukai Aurel?
Dua wanita di hadapanku ini seperti menyiratkan tidak saling suka satu sama lain. Entah benar atau tidak, aku merasa ada sesuatu hal yang terjadi di antara mereka. Namun, aku tidak ingin banyak bertanya. Bukan urusanku juga.
"Aku ...," Aurel seperti sungkan mengatakannya, sedang aku masih menunggu. "Aku ingin meminta maaf padamu, Cecilia," katanya yang membuatku terkejut.
Clara melihat ke arahku. "Cecilia, Aurel meminta maaf padamu. Memangnya kesalahan apa yang dia perbuat?" tanya Clara padaku.
Aku melihat ke Clara, sedang Aurel menundukkan wajahnya di depanku. Aku jadi tidak mengerti ada apa sebenarnya ini. Beberapa hari terakhir memang sedikit aneh. Entah saling berhubungan atau tidak, tapi lebih baik aku terus berjaga-jaga. Aku belum tahu siapa kawan, siapa lawan sebenarnya.
"Terima kasih atas permintaan maafmu, Aurel. Semoga tidak terulang lagi." Aku hanya mengatakan hal itu padanya.
"Cecilia, aku sungguh menyesal atas perkataanku waktu itu. Maafkan aku," katanya lagi.
"Sudah? Selesai?" Clara bertanya kepada Aurel.
"Clara?"
"Biarkan saja wanita ini, Cecilia. Dia memang suka seenaknya saja." Clara seolah membelaku.
Kulihat Aurel menatap tajam ke arah Clara, tapi Clara seperti tidak peduli. Dia tetap cuek sambil menyilangkan kedua tangannya. Menguatkan dugaanku jika pernah terjadi sesuatu pada mereka sebelumnya. Sehingga sampai saat ini mereka tetap saling tidak menyukai satu sama lain.
Setahuku wanita adalah tipikal pengingat yang baik. Sekali saja kejadian menyakitkan diterima olehnya, sampai mati dia akan mengingatnya. Dan mungkin hal itu juga yang terjadi pada keduanya.
"Ya, sudah. Aku terima maafmu." Aku tersenyum kepada Aurel. Anggap saja sebagai apresiasi atas keberaniannya meminta maaf padaku.
"Pagi-pagi sudah ngerumpi." Tiba-tiba saja kudengar suara yang kukenal.
__ADS_1
Tuan?!
Seketika kami segera berdiri menghadap ke arahnya seraya membungkukkan badan, memberi hormat kepada pimpinan perusahaan ini. Siapa lagi kalau bukan Jackson Baldev. Pria berkemeja biru muda itu datang sambil membawa kopernya.
"Tuan, biar aku bawakan." Aku pun segera mengambil koper yang Jackson bawa lalu mengantarkannya masuk ke dalam ruangan. Sedang Clara dan Aurel kutinggalkan begitu saja.
Beberapa menit kemudian...
Aku menyediakan teh untuk Jackson tanpa berbicara sepatah katapun. Jackson juga tidak mengajak ku bicara, jadi kudiamkan saja. Sampai akhirnya aku beranjak ke luar ruangannya. Saat itu juga dia menahanku.
"Kenapa terburu-buru?" Dia seperti ingin kutemani.
Aku berbalik, menghadapnya. Padahal hampir saja tanganku menyentuh gagang pintu. "Aku ingin menyiapkan bahan rapat, Tuan." Aku beralasan.
Jackson membaca lembaran surat yang diterimanya. "Tidak perlu. Duduk di sini saja," katanya sambil terus membaca lembaran surat.
Aku tidak menolak, menurut padanya. Duduk di kursi sambil menunggu instruksi selanjutnya.
"Semalam diantar Hadden?" tanyanya tanpa melihat ke arahku.
Sontak aku kaget. Aku pikir dia akan menanyakan tentang diriku, tapi ternyata malah menanyakan Hadden. "Aku pulang sendiri, Tuan," jawabku segera.
Dia menoleh ke arahku yang duduk berhadapan dengannya. "Peperangan sudah dimulai, Cecilia. Berhati-hatilah." Dia berpesan padaku.
Aku mengangguk pelan.
Aku mencoba memahami situasi kami saat ini. Aku yakin jika Jackson tidak akan diam saja. Dia pasti bisa menyelesaikan urusannya dengan segera. Aku memegang ucapannya sambil mencoba mengendalikan rasa cemburu yang muncul. Bagaimanapun aku ingin memilikinya, dan tidak rela jika ada yang menyentuhnya selain aku. Aku sudah terlanjur basah dan tenggelam dalam lautan cintanya. Seakan tidak bisa menemukan jalan keluar karena dia telah menguasai duniaku.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Jangan terbawa perasaan. Hari ini bantu aku mencatat jawaban dari semua kepala divisi." Jackson berpesan lagi.
"Baik, Tuan." Aku mengiyakan.
Rasanya sedikit tenang setelah mendengar perkataannya. Itu berarti Jackson sedang melancarkan strateginya agar terlihat natural di depan banyak orang. Aku tidak tahu seperti apa dan bagaimana strateginya, tapi aku yakin jika Jackson punya cara tersendiri untuk memenangkan peperangan ini. Aku percaya padanya.
.........
...Cecilia...
...Clara...
...Aurel...
__ADS_1