
"Video apa?" tanyanya dari seberang telepon.
Lantas aku segera menjelaskan video yang dimaksud. Seketika itu juga kudengar intonasi bicaranya tidak lagi jutek.
"Baiklah. Kita bertemu di Moon Cafe."
Dia akhirnya menyepakati untuk bertemu denganku di Moon Cafe. Salah satu kafe mewah yang terkenal di kota ini. Aku pun mengiyakannya.
Aku beranjak bangun dengan tanpa mengenakan apapun. Kuambil handuk untuk menutupi tubuh lalu bergegas ke kamar mandi. Aku berniat membersihkan diri dari kotoran yang telah kubuat sendiri. Aku merasa telah kehilangan harta paling berhargaku.
Kuhidupkan shower air lalu melepas handuk, membiarkan tubuh bertelanjang di bawah pancuran air yang dingin. Tanpa kusadari jika air mataku jatuh begitu saja saat mengingat kejadian semalam. Rasa sesak pun kembali memenuhi seluruh dadaku.
"Harusnya aku tidak begini ...."
Aku seperti orang frustrasi. Kubiarkan diriku tenggelam dalam rasa sedih yang menyelimuti hati. Aku menangis di bawah pancuran air sambil memukul-mukul wajahku sendiri. Aku merasa malu.
Teringat jelas kejadian semalam yang membuat hatiku hancur. Bagaimana dia dengan liarnya menghisap seluruh bagian tubuhku. Dia menekan-nekan tubuhku di bawah kendalinya. Dia memperlakukanku bagai boneka mainan saja.
Dia menerobos dinding pertahananku dengan kasar. Sampai akhirnya aku berteriak sambil memeluk erat tubuhnya. Dan kulihat dia terbelalak kaget saat melihat darah segar mengalir dari selangkanganku. Dia berhasil mendapatkan keperawananku.
"Cecilia, ternyata kau masih ...?!"
Dia menatapku penuh dengan rasa heran. Mungkin tidak menyangka jika aku masih perawan. Saat itu pun aku hanya bisa menahan rasa sakit yang seperti mengoyak-ngoyak area pribadiku, lalu berusaha tersenyum kepadanya. Dan setelah kejadian itu dia benar-benar memperlakukanku dengan lembut. Begitu lembut sampai aku ketagihan dan melupakan semuanya.
"TIDAAAAAAKKK!!!"
Kini aku hanya bisa menyesali apa yang terjadi. Aku berteriak keras di dalam kamar mandi setelah kehilangan satu-satunya hal yang bisa kubanggakan dari diriku. Bukannya aku munafik, tapi hatiku belum rela sepenuhnya jika hal itu hilang begitu saja. Karena aku baru mulai menyukainya, belum mempunyai perasaan yang dalam padanya, selain hanya sebatas menjalankan perjanjian. Dan kini pancuran air menemani kesedihanku.
__ADS_1
Aku harus menyelesaikan semua ini secepatnya, menyelesaikan perjanjian antara aku dan Zea. Aku harus mendapatkan upah dari pekerjaanku. Ya, tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain menunggu upah atas kerja kerasku. Aku ingin tetap menjadi Cecilia yang menyukai uang. Dan aku berharap selamanya seperti itu.
Lima belas menit kemudian...
Aku mengambil ballpoint yang ada di depan meja laptop, dekat dengan kasurku. Kuambil ballpoint itu lalu kukeluarkan chip yang ada di dalamnya. Sejenis micro SD yang bisa menyimpan bergiga-giga data. Ballpoint ini adalah ballpoint berkamera sangat mini. Sehingga tidak ada yang menyangka jika bisa merekam segala yang terjadi di sekitarnya.
Lantas kumasukkan micro SD itu ke dalam flashdisk untuk melihat hasil rekaman kami semalam. Kubuka laptopku lalu kumainkan ulang apa yang terekam. Di saat itu juga bulir air mata penyesalan datang.
Lagi dan lagi aku menangis saat melihat tubuhku berada di atas tubuhnya. Bisa kulihat dengan jelas bagaimana tubuhku bergetar hebat saat itu. Dia pun tidak berhenti menggerakkan pinggulnya dari arah bawah dengan cepat.
Ya Tuhan ....
Kupegang kepalaku lalu berusaha berpikir jernih. Kuedit video dengan memberikan sensor pada wajahku. Terutama tahi lalat merah yang ada di dadaku ini. Sehingga yang terlihat hanya menyisakan Jackson saja.
Lantas aku berpikir sambil mengedit video ini. Jika Jackson menolak untuk bercerai sesuai perjanjian, maka Zea mungkin saja melawanku. Jika hal itu sampai terjadi, maka tidak akan ada yang memedulikanku. Dan aku akan menjadi tokoh utama dalam skandal ini. Sehingga uang tak kudapatkan melainkan jeruji besi yang melayang. Sungguh aku tidak sanggup jika hal itu sampai terjadi.
Sebisa mungkin aku harus segera menyelesaikan perjanjian ini. Setelah uang kudapatkan, aku akan menghilang dari kehidupan mereka dan juga kota ini. Aku ingin menutup lembaran kelam kisahku dengan lembaran baru di kota lain. Atau mungkin di negara lain. Karena jika masih berada di kota ini akan sangat membahayakan bagiku.
Jika aku menyimpan bukti untuk mengancam mereka, mungkin saja akan menjadi musibah di suatu hari untukku. Apalagi aku sadar jika mempunyai perasaan terhadap Jackson, walaupun hanya baru sebatas rasa suka. Dan aku berharap diriku tetap menjadi Cecilia yang hanya menyukai uang. Hubungan percintaan semalam adalah hal yang di luar kendali bagiku. Dan mungkin juga bagi Jackson.
Setengah jam kemudian...
Aku berniat menemui Zea di Moon Cafe dengan mengendarai mobilku sendiri. Tak lama kemudian ponselku berdering yang membuatku harus menepikan mobil. Dan kulihat jika Hadden lah yang meneleponku.
"Halo?" Aku menjawab telepon darinya.
"Cecilia, kau meneleponku semalam?" tanyanya dari seberang.
__ADS_1
"Em, maaf. Aku telah mengganggumu, Tuan," kataku padanya.
"Tidak masalah, Cecilia. Bukan wanita yang penting. Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" tanyanya lagi.
Aku memijat keningku. "Tuan, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Tapi bisakah menjawabnya dengan jujur?" tanyaku.
Tidak ada suara yang kudengar selain bunyi klakson mobil dan kendaraan yang lalu-lalang. Entah apa yang ada di pikiran Hadden saat ini, sepertinya dia sedang mempersiapkan diri untuk menjawab hal yang akan aku tanyakan.
"Tanyakan saja, Cecilia." Dia lalu menjawab setelah hening beberapa saat.
Aku menghela napas. Hampir saja aku terisak kala mengingat kejadian semalam.
"Tuan, apakah Anda akan jatuh cinta pada wanita yang sudah menikah?" tanyaku padanya, sambil menahan tangis karena kesal kepada diri ini.
"Jika itu cinta sejati, maka jawabannya iya." Dia menjawab dengan lugas. "Lalu bagaimana denganmu?" Dia balik bertanya padaku.
"Tidak." Aku menjawabnya dengan tegas.
Kudengar Hadden menghela napasnya. "Cecilia, jangan terlalu mudah membuat penilaian terhadap diri sendiri. Kau itu mempunyai hati." Entah apa maksudnya, dia berkata seperti itu padaku.
Aku terdiam.
"Kau tahu, Jackson telah memutuskan hubungan bisnis dengan sugar daddy Aurel pagi ini. Yang telah dibicarakan selama setengah tahun lamanya." Dia memberi kabar padaku.
Terdengar dentingan korek apinya di telingaku. Dia seperti sedang menghidupkan puntung rokoknya. Sontak aku menyadari jika kabar ini adalah imbalan dari Jackson untukku semalam.
"Aku tidak mengerti apa yang Anda maksudkan, Tuan Hadden. Aku harus pergi. Sampai nanti." Kututup segera teleponku tanpa peduli dengan bagaimana perasaannya.
__ADS_1
Bertahanlah, Cecilia. Ini adalah yang terakhir.
Kuletakkan ponsel di kursi samping lalu kembali menyetir menuju Moon Cafe. Kutarik napas dalam-dalam sebelum bertemu Zea pagi ini. Aku harus segera menyelesaikan perjanjian sebelum semuanya terlambat. Ya, jangan sampai terlambat karena hal itu dapat membahayakan diriku sendiri.