
"Tu-tuan ...."
Aurel terkejut melihat kehadiran Jackson. Mungkin dia tidak tahu jika Jackson sudah berada di ruangan sedari tadi.
"Masuk lu berdua!" Jackson memerintahkan kepada kami agar masuk ke ruangannya.
Beberapa menit kemudian...
Jackson melihat rekaman CCTV atas apa yang terjadi. Dia kemudian menatap aku dan Aurel dengan pandangan acuh tak acuh. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya, tapi yang jelas aku tidak pernah memulai keributan di kantornya. Sebisa mungkin bekerja dengan baik. Jikapun belum selesai hari itu juga, aku akan lembur atau membawa pekerjaan ke rumah. Tapi, tatapannya saat ini amat menyorot dan menakutkanku.
"Lu ada masalah apa sama Cecilia?" Jackson bertanya kepada Aurel.
Aurel menunduk, dia tidak berani melihat Jackson. "Maaf, Tuan. Cecilia yang mendorongku hingga jatuh. Jadi aku khilaf menjambak rambutnya." Aurel beralibi.
Apa dia bilang?! Jelas-jelas dia yang mendatangiku lalu berbicara seenaknya. Tapi kenapa malah menyalahkanku?!
Aurel seperti sedang mencari alasan untuk membela dirinya di hadapan Jackson. Dia menyalahkanku karena tadi aku mendorongnya sampai jatuh. Padahal hal itu kulakukan karena kesal dengan ucapan dan juga perbuatannya yang mengacak-acak meja kerjaku. Pagi-pagi sudah kubersihkan dengan sepenuh hati, eh dia datang malah memberantakkannya. Siapa yang tidak marah coba?
"Ini peringatan terakhir. Kalau lu masih ribut di kantor orang, lu buat kantor sendiri. Ngerti?" Jackson bertanya kepada Aurel.
Satu kalimat mempunyai arti besar Jackson ucapkan. Secara tidak langsung Jackson meminta Aurel untuk mengundurkan diri jika masih ribut di kantornya. Namun, sepertinya Aurel begitu dendam padaku. Dia tidak diam saja saat Jackson berkata seperti itu.
"Tuan, yang salah adalah Cecil. Kenapa Anda malah membela dia?" Aurel tidak terima, dia menunjukku.
Jackson berdiri dari duduknya. "Lu pagi-pagi udah ribut di kantor orang juga berani ngatur yang punya kantor. Keluar!" Jackson menyuruh Aurel keluar dari ruangannya.
Kudengar napas Aurel memburu. Dia tidak terima Jackson membelaku. Dengan raut wajah penuh dendam dia keluar dari ruangan. Dia berjalan melewatiku dengan tatapan yang begitu sinis.
Dia yang salah, malah menyalahkan orang. Dasar sakit jiwa.
Pintu ditutup dari luar oleh Aurel. Jackson pun berjalan mendekatiku. Dia berdiri di hadapanku yang masih tertunduk karena takut dimarahi olehnya.
"Ada yang luka?" tanyanya yang sontak membuatku terkejut.
"Tu-tuan ...?" Aku tak percaya jika kalimat itu yang pertama dia tanyakan padaku.
__ADS_1
Dia memegang wajahku dengan kedua tangannya. Dia memperhatikan wajahku dengan saksama. Tak tahu apa yang ada di pikirannya, Jackson seperti memberikan perhatiannya kepadaku.
"Kancingmu terbuka dua, Cecilia." Dia lantas melihat kancing kemeja bagian atasku yang terbuka dua karena keributan tadi.
"Em, maaf, Tuan." Aku lekas-lekas ingin mengancingi kemejaku.
"Biar aku saja." Jackson menahan tanganku. Dia lalu mengancingi kemejaku ini. "Sepertinya semakin besar, kau membutuhkan yang baru," katanya yang sontak membuatku menyadari apa yang dimaksudkan olehnya.
"Tu-tuan." Aku jadi tidak enak sendiri.
Dia lantas menatap wajahku kembali. "Kau bawa surat perjanjiannya?" tanyanya seraya menatapku tepat di mata.
"Aku membawanya, Tuan." Aku segera menjawabnya.
"Antarkan kemari," pintanya sambil membelai telingaku.
Sontak sekujur tubuhku merinding karena sentuhannya ini. Aku tidak mempunyai persiapan sama sekali sehingga rasa geli itu begitu kurasakan. Sampai-sampai aku mengangkat bahuku tanpa sadar. Dan kulihat Jackson seperti menahan tawanya di depanku.
"Tu-tuan, aku ambilkan dulu." Aku pun segera pergi dari hadapannya dengan bekas sentuhan yang masih terasa di telingaku.
Jackson seperti ingin menggodaku pagi ini. Dia memberikan sentuhan yang membuat sekujur tubuhku merinding karenanya. Aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi setelah melihatnya menahan tawa, mungkin dia ingin membalas dendam atas perbuatanku dulu yang menggodanya. Entahlah, lebih baik kuambilkan saja apa yang dia inginkan.
Aku duduk di depan Jackson sambil menanti apa yang akan dia bicarakan. Kulihat dia masih membaca saksama isi dari surat perjanjianku bersama Zea. Sepertinya Jackson benar-benar marah setelah mengetahui isi perjanjian itu. Dahinya berkerut, wajahnya muram tak terbendung. Napasnya pun seperti menahan kesal.
"Apa yang dia inginkan, Cecilia?" tanyanya, seraya meletakkan surat perjanjian itu ke atas meja dengan kasar.
"Nyonya Zea ingin mendapatkan setengah harta dari kekayaanmu, Tuan." Aku menjawabnya dengan jujur.
Kulihat Jackson mengepalkan kedua tangannya. Dia lalu beranjak berdiri, berjalan menuju jendela besar ruangannya, seraya menatap ke kejauhan. Sepertinya Jackson tidak dapat lagi membendung amarahnya.
"Tuan, maaf. Aku tidak bermaksud untuk mengadu domba Anda dan juga nyonya. Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya." Aku ikut berdiri.
Dia menoleh ke arahku. "Tidak. Kau tidak perlu meminta maaf. Aku menyukai kejujuranmu, Cecilia. Terima kasih," katanya lalu kembali menatap ke kejauhan.
Lantas aku merasa tidak enak hati padanya. Aku mendekatinya lalu memeluk dirinya dari belakang. "Aku siap menjadi tempat mengadumu, Tuan," kataku seraya memeluknya.
__ADS_1
Dia lantas membalikkan badannya menghadapku. Kami berdiri berhadapan sambil menatap indah paras masing-masing.
"Untuk saat ini bersikaplah selayaknya Cecilia yang dia tahu. Aku akan memikirkan cara agar terlihat natural." Dia seperti menjanjikan sesuatu padaku.
Lantas aku mengangguk di depannya kemudian memejamkan kedua mata ini. Aku memberi kode padanya agar dia menciumku. Tapi, lama menunggu dia tidak bergerak juga. Dan saat kuintip apa yang dia lakukan, ternyata Jackson sedang memandangi wajahku. Entah apa yang dia pikirkan.
"Tuan." Tiba-tiba pintu terketuk dari luar.
Saat itu juga aku segera menjauh darinya. Aku berusaha bersikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa. Dan ternyata yang datang adalah salah satu karyawan prianya. Karyawan dari departemen IT.
"Tuan Jackson, saya membawa laporan yang Anda minta." Pria berjas abu-abu itu memberi tahu Jackson.
Lantas aku pun segera berpamitan kepada Jackson. Keluar dari ruang kerjanya lalu kembali menuju meja kerjaku. Kubiarkan Jackson menyelesaikan urusannya di dalam. Toh, memang sedang berada di jam kerja. Tidak sepantasnya aku melakukan hal seperti itu. Dasar memang akunya saja yang sudah kegatelan, tidak tahan untuk mempunyai pasangan.
Sabar, Cecilia. Jangan buat Jackson ilfeel padamu. Biarkan dia yang mengejarmu. Wanita memang ditakdirkan untuk dikejar.
Sore harinya...
Setelah hampir sepuluh jam berada di kantor, akhirnya aku bisa beristirahat sejenak dari aktivitas hari ini. Kini aku sedang menikmati secangkir kopi hitam di depan meja kerjaku sambil menunggu jam pulang kantor. Tak lama, ponselku pun bergetar.
"Siapa, ya?"
Lekas-lekas aku membuka laci lalu mengambil ponselku. Aku memang sengaja meletakkan ponsel di laci meja jika sedang berada di kantor, dengan maksud agar getarnya menyadarkanku jika ada panggilan masuk, tanpa harus membuat berisik ruangan. Dan ya, segera kulihat siapa yang meneleponku.
"Hadden?" Ternyata Hadden lah yang meneleponku. "Halo?" Aku segera mengangkat telepon darinya.
"Cecilia, kau sibuk?" tanyanya dari seberang.
Aku melihat jam di komputer yang masih menyala. "Em, tidak juga. Ada apa, Tuan?" tanyaku, biasa-biasa saja padanya.
"Tidak ada apa-apa, Cecilia. Aku hanya ingin mengajakmu bertemu. Kau ada waktu?" tanyanya lagi.
Mengajak bertemu? Tumben? Aku bertanya dalam hati. "Di mana, Tuan?" tanyaku segera.
"Restoran Blue Sea. Aku tunggu secepatnya." Dia memintaku segera datang.
__ADS_1
"Em, baiklah. Aku segera ke sana begitu jam pulang tiba," kataku, lalu tak lama sambungan telepon kami pun terputus.
Aku tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Hadden. Tapi, jika menuruti keinginan Jackson untuk bersikap biasa saja seperti Cecilia yang dulu, maka aku harus menemuinya dengan jati diriku yang palsu. Lantas segera kurapikan meja kerja sebelum melaju ke Restoran Blue Sea, tempat di mana Hadden membuat janji bertemu denganku.