Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Sampai Kapan?


__ADS_3

"Terima kasih atas kedatangannya. Kita akan memulai rapat hari ini."


Jackson memulai rapat. Di ruangan seluas 7x3 meter ini dia menjadi pimpinan rapat penyerahan Angkasa Grup. Tampak beberapa pemegang saham duduk di sekitaran meja bundar dan yang lain melingkarinya. Semua mata tertuju kepada Jackson. Jackson pun menunjukkan siapa dirinya di hadapan para pemegang saham tanpa memedulikan siapapun, termasuk aku.


Dia belum menegurku juga sedari tadi.


Di sini ada Aurel dan juga Oliver. Mereka duduk bersampingan, dekat dengan Jackson. Sedang aku duduk berbeda tiga kursi dari pria berwajah muram itu. Aku pun hanya diam sambil mendengarkan. Kulihat ruang rapat seperti sesak dipenuhi pemegang saham yang hadir. Sepertinya mereka tidak bisa mengabaikan rapat kali ini.


"Aku sudah membaca laporan final akuisisi Angkasa Grup. Dan juga sudah mencari tahu kebenarannya. Aku rasa Tuan-tuan bisa membacanya sendiri."


Jackson meminta Aurel untuk membagikan foto kopi hasil final akuisisi kepada semua pemegang saham. Sedang aku tidak diliriknya sedikitpun. Seolah-olah tidak menganggapku ada di ruangan ini.


Tegarkan hatimu, Cecilia.


Oliver dan seluruh pemegang saham kemudian melihat foto kopi hasil final akuisisi. Jackson pun beranjak dari duduknya. Dia berdiri di tengah-tengah kami yang sedang melihat saksama berapa nominal laba rugi perusahaan setelah dilakukan jurnal penyesuaian.


"Halaman berikutnya adalah peraturan baru untuk perusahaan ini. Jika di antara Tuan-tuan ada yang kurang berkenan dengan peraturan tersebut, Tuan-tuan bisa menjual sahamnya kepadaku. Aku akan membelinya dengan senang hati," katanya lagi.


Begitulah apa yang dikatakan Jackson kepada seluruh pemegang saham perusahaan ini. Dia terkesan begitu angkuh dan juga sombong. Baginya pemikirannya lah yang terbaik dan semua orang harus menurutinya. Aku sendiri hanya bisa diam saat rapat berlangsung. Tidak berbicara sepatah kata pun. Jackson juga tidak melirikku sama sekali. Rasanya hatiku ini semakin sakit saja. Aku merasa tidak dianggap olehnya.


"Saya kira semua bisa diterima, Tuan." Salah satu pemegang saham menuturkan.


"Bagaimana yang lain?" tanya Jackson, dengan kedua tangan menopang tubuhnya di atas meja.


"Kami setuju." Yang lain pun ikut menjawab.


Rapat kemudian terus berlangsung sampai didapati kesepakatan bersama. Jackson pun menuturkan program kerjanya untuk Angkasa Grup selama satu tahun ke depan. Yang mana sebagian besar keuntungannya akan diserahkan kepada pihak Samudera Raya. Dan tentu saja nominalnya tidaklah sedikit. Secara tidak langsung Jackson akan menjadi orang terkaya dan mengalahkan saingan bisnisnya, Hadden. Tapi, bagaimana dengan aku?


Mungkin saja jalan satu-satunya agar hati ini tidak merasa sakit lagi adalah pergi. Mungkin juga aku harus membuka lembaran baru di kota yang baru. Saat ini persentase Jackson kembali seperti dulu sangatlah kecil. Aku saja seperti sudah tidak mampu menghadapi keadaan yang menerpaku. Apalagi jika hubungan ini sampai teruskan. Mungkin saja aku ingin mengakhiri hidup dan pergi selama-lamanya. Tapi, apakah aku harus sebodoh itu? Sedang Alexander masih menantiku.

__ADS_1


Dua jam kemudian, selesai rapat...


Aku kembali ke ruanganku. Duduk di kursi sambil merenungi apa yang terjadi. Setelah rapat selesai dan tanda tangan penyerahan perusahaan didapatkan, aku memutuskan untuk kembali ke ruangan. Berharap Jackson memanggilku untuk menemaninya di sana. Tapi nyatanya, belasan menit kulalui dia tidak muncul juga.


Aku tidak bisa hanya diam seperti ini. Aku harus meminta kejelasan padanya.


Lantas aku berniat kembali ke ruangan rapat untuk menemuinya. Aku harus segera meminta kejelasan atas hubungan kami. Apakah dia berniat melepaskanku dan tanggung jawabnya? Atau dia ingin memberi janji kembali padaku agar aku tetap menunggu? Aku tidak bisa diam seperti ini. Aku butuh kepastian.


"Cecilia."


Tiba-tiba saja Aurel datang membawakan sebuah map di tangannya. Wanita berblus putih dan rok hitam itu mendatangiku saat aku baru beranjak, berniat untuk menemui Jackson. Kedatangannya pun mau tak mau menunda niatanku untuk menemui ayah dari janin yang kukandung ini. Dia kemudian memberikan map yang dibawanya kepadaku.


"Tuan Jackson memintamu untuk menscan semua tanda tangan pemegang saham lalu dikirimkan ke email-nya. Bukti otentik diminta disimpan baik-baik. Sewaktu-waktu dia akan mengambilnya kembali." Aurel menyampaikan pesan Jackson kepadaku.


"Baik."


"Cecilia." Aurel kembali menegurku saat memasukkan map ini ke brangkas.


"Ya?" Aku pun menjawabnya segera.


Dia terlihat segan padaku. "Maaf, apakah terjadi sesuatu di antara kalian?" Aurel tiba-tiba menanyakan hal itu padaku.


Aku terdiam sesaat, lalu cepat-cepat menutup brangkas ini. "Kami baik-baik saja. Memangnya ada apa?" tanyaku menutupi.


Aurel seperti takut menanyakannya. "Aku lihat kalian tidak bertegur sapa sedari awal sampai rapat berakhir. Apakah karena berita di majalah bisnis kemarin?" tanyanya lagi.


Aku tidak tahu mengapa Aurel jadi sekepo ini padaku. Apakah ada orang yang menyuruhnya? Atau murni dari dalam hatinya ingin menanyakan hal ini padaku? Saat ini tidak ada yang bisa kupercaya, bahkan Jackson sekalipun. Aku harus berhati-hati di mana saja berada. Karena bisa saja perangkap sudah dipersiapkan untukku.


Aku tidak menuduh, tapi curiga apa salahnya? Posisiku serba salah saat ini. Pergi dari Jackson, tidak mendapat perlindungan dari kebuasan Zea. Kembali berpihak kepada Zea, maka tamatlah riwayatku di tangan Jackson. Begitu juga jika aku berpihak kepada Hadden, Jackson bisa saja menyuruh orangnya untuk mencelakaiku. Sedang jika bersama Alexander, bagaimana dengan janin di kandunganku ini? Apakah dia mau menerima anakku?

__ADS_1


"Kami baik-baik saja. Mungkin karena sama-sama kelelahan jadinya terkesan acuh tak acuh." Aku masih menutupi.


"Oh ...." Aurel pun mengangguk, tapi sepertinya dia masih penasaran.


"Sudah kembali bekerja saja. Aku ingin menemui tuan Jackson dulu. Aku ada urusan dengannya," kataku lalu beranjak keluar ruangan.


"Cecilia." Aurel memanggilku kembali.


"Ya?" Aku berbalik menghadapnya.


"Tuan Jackson sudah pergi. Dia tidak ada lagi di ruangan rapat," katanya yang membuatku menelan ludah seketika.


"Dia sudah pergi?" tanyaku memastikan.


"Iya." Aurel mengangguk. "Aku rasa nyonya Zea meneleponnya tadi. Dan sepertinya nyonya Zea meminta tuan Jackson agar segera pulang." Aurel menjelaskan.


Seketika itu juga hatiku pecah berkeping-keping. Tak menyangka akan mendengar kabar ini. Rasanya sungguh sakit sekali.


Sepertinya mereka sudah kembali dan Jackson tidak membutuhkanku lagi. Mungkin ada baiknya jika aku memang benar-benar pergi.


"Cecilia, kau baik-baik saja?" Aurel mendekatiku. Dia terlihat perhatian padaku.


Aku pura-pura tersenyum di hadapannya. "Aku baik-baik saja. Jangan khawatir," kataku, menutupi.


Aurel mengangguk. Dia sepertinya mengerti. "Baiklah. Kalau begitu aku permisi, Cecilia." Aurel berpamitan padaku.


"Iya." Aku membiarkannya pergi.


Kepergian Aurel tentu saja meninggalkan luka yang mendalam untukku. Entah sengaja atau tidak, dia mengatakan hal itu padaku. Tapi jujur hatiku terasa sakit sekali. Seakan aku ini tidak ada harganya lagi. Dan rasanya bodoh jika terus mengharapkannya. Aku harus mencari kebahagiaanku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2