
"Tuan, apakah aku ini mainan di mata Anda?" tanyaku, sambil mengurut rahang yang sakit karena ulahnya.
Jackson diam, dia menatapku tanpa berkata apa-apa.
"Aku tahu Anda berkuasa, Tuan. Tapi tidak sepantasnya Anda melakukan kekerasan ini padaku. Di mana kelembutan dan kasih sayang yang Anda berikan saat berada di atas ranjang bersamaku? Apakah aku ini hanya sebatas boneka mainan saja?" tanyaku dengan hati yang pilu.
Jackson masih terdiam. Tersirat dari wajahnya seperti menyesali tindakan kasarnya padaku.
"Aku memang sebatang kara di sini. Tapi tidak sepantasnya memperlakukanku bak binatang. Aku manusia!" kataku, lalu butiran air mata itu jatuh membasahi pipi.
Aku menangis. Akhirnya aku menangis setelah lama menahan sesak di dada akibat perlakuannya. Kutekuk kedua lutut lalu menangis sejadi-jadinya. Aku tidak peduli lagi dia mau marah atau apa. Sudah saatnya bagiku untuk menumpahkan semua kesedihan yang selama ini kupendam. Aku tidak bisa lagi memendamnya lebih lama.
"Cecilia." Jackson ingin menyentuhku.
"Jangan sentuh aku! Aku sudah bekasan orang!" kataku, menepiskan tangannya.
"Cecilia, aku—"
"Kau memang tidak pernah peduli padaku. Di depan Zea pun kau tidak melakukan apa-apa untuk membelaku. Padahal jelas-jelas dia menamparku. Kenapa, Tuan? Apa yang kau takutkan darinya? Kenapa diam saja tidak membelaku?!"
Entah mengapa aku semakin mendramatis keadaan, seakan tidak tahu diri siapa aku ini. Seolah ingin mendapatkan pembelaan lebih darinya, padahal aku hanya seorang pekerja, tidak lebih dari itu. Jackson pun menelan ludahnya seperti tidak tega padaku.
Aku ingin mendapatkan pembelaan darinya, walaupun hanya sebagai simpanannya. Ya, anggap saja jika aku sekarang adalah simpanannya. Saat ini aku merasa serba salah, tidak tahu harus bagaimana.
Jackson lalu duduk di sampingku. "Maaf." Kata maaf itu akhirnya terucap darinya. "Aku tidak tahu jika dia akan menamparmu." Jackson berniat memelukku.
"Jangan sentuh aku! Pergi!" Aku pun berusaha menghindar darinya.
"Cecilia ...." Dia kini sudah berubah menjadi lembut, tidak lagi dingin padaku.
"Tuan, cepat kita selesaikan semua ini! Aku sudah tidak sanggup. Hal yang berharga dalam hidupku sudah kuserahkan padamu. Aku harap itu cukup untuk membayar kebaikanmu. Aku permisi." Aku beranjak bangun, menuju pintu keluar.
__ADS_1
"Cecilia!" Jackson mengejarku. "Cecilia, maafkan aku." Dia memelukku dari belakang.
Suasana hening sesaat saat dia meminta maaf padaku. Permintaan maafnya seperti permintaan maaf seorang pria kepada kekasihnya.
"Maaf atas sikap kasarku. Aku ... tidak bisa melihatmu dengan pria lain," katanya tertatih.
Aku terdiam, sedikit merasa tenang. Tapi, hatiku masih kesal karena status itu belum kudapatkan darinya.
"Kau hanya ingin memiliki tanpa memberi status yang jelas padaku, Tuan. Kau sangat egois." Aku melepaskan tangannya.
"Cecilia—"
"Izinkan aku pergi." Aku membuka pintu kamar lalu pergi dari hadapannya.
Kutahu jika tidak dapat lari darinya. Tapi setidaknya bisa sedikit menangkan diri ini. Aku berlari ke lantai bawah, menuju teras depan vila. Kulihat ada pancuran air yang bisa menenangkan hatiku. Lantas aku duduk di sana sambil mengecek ponselku. Untung saja ponsel kutaruh di saku. Jika tidak, aku tidak bisa berbuat apapun sekarang.
Mungkin bisa memesan taksi online dari sini.
"Tidak ada taksi?"
Aku mencoba memesan taksi agar bisa kembali pulang ke apartemen dan beristirahat di sana. Tapi nyatanya, saat mengecek google map vila ini jauh dari keramaian ibu kota. Beberapa menit mencari taksi, tidak ada satu pun yang terdeteksi. Akhirnya aku jadi lemas sendiri karena tahu tidak bisa pulang ke kota dengan segera.
Ya sudah, nikmati saja. Mau bagaimana lagi?
Suara burung berkicauan dan percikan air kolam, sedikit bisa meredakan kesedihan di hatiku. Aku duduk di teras vila sambil menyandarkan punggung di tiangnya. Kutatap jauh pemandangan dari atas bukit untuk menyegarkan pikiranku. Dan hatiku dapat kembali sedikit tenang.
Mengapa jalan yang kulalui harus seperti ini?
Tak berapa lama kudengar suara langkah kaki mendekat. Suara itu tentunya suara langkah kaki Jackson. Siapa lagi, tidak ada orang selain dirinya di sini.
"Cecilia, aku ingin bicara padamu."
__ADS_1
Nada suaranya tidak setinggi tadi. Dia seperti sudah berubah menjadi dirinya yang asli. Mungkin dia amat menyesal dengan perlakuan kasarnya kepadaku tadi.
"Semua sudah kita bicarakan, Tuan. Tidak ada lagi yang perlu dibahas." Aku menjawab tanpa melihat ke arahnya.
"Cecilia." Dia lantas membangunkanku, memegang kedua lenganku agar melihatnya. "Aku sudah minta maaf. Apakah maafku belum cukup?" tanyanya seraya menatapku.
Aku terdiam, memalingkan pandangan darinya.
"Baby ...," Dia menyebutku dengan kata itu. Dia menatapku lembut. "Aku minta maaf, ya?" Dia mengatakannya lagi.
Jackson meluluhkan hatiku dengan permintaan maafnya. Dia meminta maaf bukan seperti seorang atasan ke bawahan, melainkan seperti seorang pria ke wanitanya. Jackson mengucapkannya dengan tulus kepadaku.
"Kita ke teras atas saja. Di sini bisa terdengar penjaga vila yang lewat. Mari." Dia merangkulku.
Entah mengapa aku seperti terkena hipnotis olehnya, aku pasrah begitu saja saat dia merangkulku masuk ke dalam vila. Kami akhirnya berjalan bersama menuju teras lantai atas vila ini. Sesampainya di teras dia memintaku untuk segera duduk di kursi. Dia lalu menelepon seseorang untuk meminta dibawakan hidangan. Dan sambil menunggunya memesan, aku diam saja.
Lima belas menit kemudian...
Cuaca siang ini terasa sejuk karena banyak pepohonan di sekitar vila. Di puncak ini terdapat vila yang jaraknya saling berjauhan, tetapi ada pos satpam yang berjaga di pintu masuknya. Setiap vila yang disewa pun mendapatkan pelayanan terbaik dari pihak restoran yang ada di kaki bukit. Sehingga di sini bisa dibilang tidak terlalu sepi. Mungkin lebih tepatnya nyaman sebagai tempat beristirahat.
Jackson memesan banyak makanan dan minuman untuk disantap. Tapi aku hanya meneguk secangkir wedang jahe yang diberikan pihak restoran. Wedang jahenya sedikit berbeda dengan yang ada di pasaran. Begitu kental bahkan aku sampai mengira jika gula merahnya terlalu banyak.
Lantas aku menunggu Jackson bicara. Dia berdiri membelakangiku sambil memegang pagar teras. Matanya menatap ke kejauhan. Entah apa yang sedang dia pikirkan, aku mencoba untuk mendengarkannya terlebih dahulu.
"Aku sering ke sini jika senggang. Bekerja sambil menikmati indahnya pemandangan puncak." Dia mulai membuka pembicaraan.
Aku mendengarkan apa yang dikatakan olehnya. Aku belum mau menyela atau menanyakan hal lain. Kulihat Jackson membalikkan tubuhnya ke arahku.
"Pernikahanku dengan Zea hanya sebatas hubungan bisnis antara aku dan ayahnya." Jackson menceritakan, seketika itu juga aku terkejut mendengarnya.
Sebatas hubungan bisnis? Apa maksudnya?
__ADS_1
Aku tidak tahu apa maksud Jackson membicarakan hal ini kepadaku. Sungguh aku terkejut dengan perkataan yang diucapkannya. Benar atau tidak, itu masih menjadi misteri untukku. Ingin sekali aku menanyakan kebenarannya langsung. Tapi, aku masih gengsi karena habis menangis tadi.