Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Relakan Aku


__ADS_3

"Huufff ...." Dia mengembuskan asap rokoknya ke atas.


Aku masih terdiam di tempat, tidak ingin mendekatinya. Dia sendiri masih menatap ke arahku, memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tak tahu apa yang ada di pikirannya, aku bersiap-siap saja untuk membela diri. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, jadi harus selalu antisipasi.


Kupegang erat-erat parfum biusku tanpa diketahui olehnya. Dia kemudian menepuk-nepuk sofa agar aku duduk di sampingnya. Namun aku diam, tak bergeming. Aku tidak mau dekat-dekat dengannya.


"Belum sampai seminggu kau sudah berubah seperti ini, Cecilia." Dia meletakkan abu pembakaran rokoknya ke asbak.


Aku diam sambil menyandarkan diri di meja TV.


"Sepertinya kau telah melupakan sesuatu. Apa dia yang telah membuatmu lupa?" tanyanya.


Aku menarik napas dalam, berusaha tenang. "Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Jack." Aku menjawab sekedarnya.


Dia mengangguk pelan. Tersirat kekecewaan dari raut wajahnya. "Sekarang kau bersikap dingin padaku, Cecilia. Ternyata Alexander tidak bisa diremehkan begitu saja. Dia telah berhasil membiusmu." Dia berkata seperti itu.


"Jack! Jangan menyalahkan orang lain! Dia tidak berbuat apa-apa padaku!" Aku menegaskan hubungan di antara kami kepadanya.


Jackson mematikan puntung rokoknya lalu berdiri. Dia melipat kedua tangan seraya berjalan mendekatiku. "Kau bukan Ceciliaku. Di mana kau sembunyikan dirinya?" tanyanya yang semakin dekat denganku.


Aku menelan ludah saat Jackson berbicara seperti itu. Kurasakan atmosfer sekitar berubah mencekam saat kami semakin berdekatan. Sedang bara api mulai muncul dari dalam tubuhku. Aku ingin marah, mengumpatnya, mencacinya karena dia tidak memedulikanku. Tapi, dia masih bertahan dengan sikap angkuhnya. Dia tidak mau mengakui kesalahannya apalagi memberiku penjelasan.


"Aku masihlah yang dulu. Hanya saja hatiku yang sedikit berbeda," jawabku.


Jackson menatapku tajam. "Cecilia, kau sengaja bersikap seperti ini untuk menguji kesabaranku?" tanyanya dengan raut wajah serius.


"Aku tidak peduli," jawabku datar.


"Hah!" Dia memalingkan pandangannya dariku. "Aku tidak tahu harus berbicara apa lagi. Tapi sepertinya usahaku sia-sia selama ini." Dia membelakangiku.

__ADS_1


"Jelas sia-sia karena kau hanya memanfaatkanku, Jack." Dengan berani aku menjawabnya.


Dia kembali berbalik ke arahku. "Memanfaatkanmu?" tanyanya heran.


"Ya. Bukankah kau hanya memanfaatkanku? Bukankah aku ini hanya bonekamu? Yang kau datangi saat kau butuh? Jika tidak butuh, kau bisa pergi sesukamu. Kembali ke pelukannya atau mencari Cecilia yang baru." Tak bisa kutahan rasa kesal di hatiku ini.


"Oh ...," Dia sepertinya menyadari sesuatu. "Jadi kau pikir aku kembali dengannya?" tanyanya padaku.


"Aku tidak tahu." Aku pura-pura tidak peduli.


"Hahahaha." Jackson tertawa. "Cecilia-Cecilia, jadi kau cemburu karena kedatangannya ke ruanganku?" Dia seperti meminta penegasan dariku.


"Apa aku harus mengatakannya? Apa bayi ini harus lahir terlebih dahulu baru bisa membuatmu mengerti?" Aku kesal dia tidak juga memahami keinginanku.


Dia kemudian menatapku. Tatapan matanya menyiratkan sesuatu tentang kejadian kemarin. "Aku tidak melakukan apapun bersama Zea. Dia datang tanpa memberi tahuku sebelumnya." Jackson menjelaskan padaku.


Aku terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-katanya. "Sampai berbuat seperti itu?" tanyaku lagi.


"Jack, kau hanya ingin menenangkan hatiku agar kembali percaya padamu? Bahkan kau tidak tahu apa yang terjadi setelah itu!"


Entah mengapa aku ingin menangis saja saat mengingat hal yang terjadi setelah aku melihatnya bersama Zea di dalam ruangan. Jackson seakan tidak peduli. Dia sama sekali tidak mengejarku. Dia membiarkanku pergi dari Samudera Raya tanpa menahan sedikitpun.


"Cecilia, aku banyak urusan. Aku tidak sempat," belanya.


"Sampai hampir seminggu tidak ada kabar?" tanyaku lagi.


"Cecilia—"


"Jack, sebenarnya kau menganggapku apa? Mengapa kau setega ini padaku? Kau meninggalkanku di saat aku tengah mengandung bayimu. Kau tidak memberi penjelasan padaku. Kau diamkan aku berhari-hari, bahkan tidak menegur sapaku sama sekali. Sebenarnya siapa aku di hatimu? Apakah aku ini hanya boneka sa—"

__ADS_1


"Cukup, Cecilia! Cukup!" Jackson membentakku. "Kita bukan anak kecil lagi yang harus selalu bersama di setiap kesempatan. Aku punya urusan, kau juga punya urusan. Dan urusanku tidak bisa ditinggal. Sekarang katakan padaku apa yang kau mau? Aku akan memenuhinya meskipun itu sulit bagiku!" Dia seperti menyerah menghadapi sikapku.


Sungguh yang kuinginkan adalah dimanja olehnya. Terlebih aku sedang mengandung anaknya. Aku ingin selalu bersamanya, menghadapi hari sambil menanti kelahiran bayi kami. Tapi sepertinya, hal itu tidak bisa kudapatkan darinya. Jackson begitu sibuk sehingga aku harus menanggung penderitaan sendiri. Jujur saja aku merindukannya, belaian kasih sayangnya dan juga perhatiannya.


"Aku ... ingin kita pisah." Kata-kata itu terucap begitu saja dari mulutku.


"Apa?!" Seketika itu juga dia terkejut mendengar permintaanku.


"Jack, aku tidak sanggup bila terus begini. Aku butuh kepastian. Aku tidak mau anak ini menanggung derita karena ulah kedua orang tuanya. Mungkin lebih baik kita saling merelakan saja." Aku mencoba mengalah.


Waktu seakan terhenti saat kata-kata itu terucap dari mulutku. Mungkin aku memang harus merelakannya agar hati ini tidak merasa tersakiti lagi. Aku harus bangkit dari keterpurukan. Aku masih sanggup untuk menghidupi anak ini walaupun dengan keterbatasan. Dia tidak salah, kamilah yang salah.


"Katakan jika kau bercanda, Cecilia." Dia memegang kedua pundakku, menatapku dengan serius.


Aku menahan tangis, menepiskan kedua tangannya yang memegang pundakku ini. Lantas aku berjalan menuju pintu untuk membukakannya.


"Aku tidak mengundangmu datang kemari. Aku mau istirahat. Silakan pergi," kataku seraya memalingkan pandangannya darinya.


Jackson menelan ludah saat aku berbicara seperti itu. Raut wajahnya berubah drastis dalam sekejap. Dia seperti menahan kesedihan yang tidak bisa terungkapkan. Tetapi aku mencoba tidak peduli. Aku ingin dia merasakan apa yang kurasakan. Bagaimana sakitnya hati ini saat tidak dipedulikan. Entah bagaimana ke depannya, aku mencoba realistis terhadap keadaan. Aku tidak ingin tersakiti lagi.


Jackson kemudian berjalan mendekatiku yang berada di dekat pintu. "Kau sungguh-sungguh ingin aku pergi?" tanyanya seraya menatapku.


Aku memalingkan pandangan, tidak ingin melihatnya.


"Baik. Aku akan pergi." Dia kemudian memenuhi permintaanku.


Saat itu juga rasanya aku ingin berteriak saja. Hati ini seakan tidak rela untuk melepaskannya. Tapi jika dibiarkan berlarut-larut, rasa sakit itu akan semakin kurasakan. Sedang aku tidak sanggup untuk menanggungnya.


Sampai bertemu di lain kesempatan, Jack.

__ADS_1


Jackson melangkahkan kakinya, beranjak meninggalkanku. Dia kemudian meraih gagang pintu, seolah ingin menutupnya dari luar. Aku pun hanya bisa menahan tangis saat melihat kepergiannya. Baru kali ini aku berani mengusirnya.


__ADS_2