Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Memenuhi Kriteria


__ADS_3

"Cecilia." Dia menatapku dengan pandangan mata yang seperti masih mengantuk.


"Dear, katanya mau tidur?" Aku meledeknya.


Dia beranjak bangun. Kami akhirnya sama-sama duduk di kepala kasur. "Bagaimana bisa tidur jika diganggu seperti ini? Yang ada malah bangun," katanya seraya mengusap wajahnya sendiri.


Aku mendekatinya. "Apanya yang bangun?" tanyaku, menggodanya.


Seketika Alexander menatap ke arahku. "Cecilia?" Dia seperti terkejut.


"Ya?" Tapi aku bersikap biasa-biasa saja.


"Honey, aku pria normal," katanya, jujur padaku.


Sontak aku tertawa mendengarnya. Akhirnya dia mau jujur juga padaku. Aku juga senang saat dia memanggilku dengan sebutan honey. Serasa kata-katanya itu merasuk hingga ke relung jiwaku. Dia bisa saja membuatku bahagia.


"Hahahaha."


Tanpa merasa berdosa, aku tertawa. Kuakui jika amat penasaran dengannya. Karena sampai saat ini dia belum juga menunjukkan rasa ketertarikan biologisnya terhadapku. Tapi sore ini akhirnya dia mau mengakui bagaimana dirinya padaku. Aku pun tersenyum sendiri, tak percaya jika dia akan sejujur ini.


"Cecilia." Dia memegang tanganku.


"Ya, Dear?" Aku menoleh ke arahnya.


"Boleh aku menciummu?" tanyanya padaku.


"Cium apa?" Aku balik bertanya kepadanya.


"Em ...." Dia seperti ragu mengatakannya.


Kuakui jika Alexander lebih bisa menjaga sikap dibandingkan Jackson. Entah mengapa sifat malu-malunya itu membuatku geregetan sendiri. Aku juga wanita normal yang ingin disayang. Tapi jika bersamanya, aku harus memancingnya terlebih dulu. Jika tidak, dia tidak akan menanggapinya. Mungkin dia adalah tipikal pria yang lebih suka diserang daripada menyerang.


"Dear, aku masih menunggu, lho." Kukatakan padanya jika aku masih menunggunya.


Kulihat pipinya merona sendiri. Dia seperti tersipu dengan kata-kataku. Mungkin dia malu untuk mengatakan hal yang sesungguhnya. Mungkin dia juga takut aku berpikiran yang macam-macam tentangnya. Lantas aku mencoba berinisiatif. Kudekatkan wajahku ini ke wajahnya. Kulihat dia pun menelan ludahnya sendiri. Lalu kemudian dia memejamkan matanya, seolah siap untuk kucium. Namun...


"Aw!" Seketika itu juga dia memegangi pipinya. "Cecilia, apa yang kau lakukan?!" Dia terkejut dengan hal yang kulakukan barusan.


"Habisnya lama. Aku kesal menunggunya." Aku menggerutu, pura-pura ngambek kepadanya.

__ADS_1


"Tapi kan tidak harus menggigit pipi, Honey. Masih ada bagian lain yang bisa digigit," katanya. Entah sadar atau tidak mengucapkannya.


Alexander seperti memancing gelora dari dalam tubuhku. Tapi dia juga tampak segan untuk memulainya lebih dulu. Dia hanya menunjukkan keinginan melalui kata-katanya itu. Dan sebagai wanita dewasa, aku mengerti apa yang dimaksudkan olehnya. Kutahu jika dia menginginkannya juga.


"Cecilia."


Dia kemudian memegang tanganku, menatapku dengan lembut lalu memutar tubuhnya ke arahku. Sepertinya dia sudah siap untuk menciumku.


"Ya?" Aku pun menunggu hal apa yang ingin dia lakukan padaku.


Alexander kemudian merebahkan punggungku. Kedua tangannya mendorong lembut pundakku ini. Kurasakan ciuman itu sebentar lagi akan terjadi pada kami. Aku pun memejamkan mata sambil menunggunya menciumku. Dadaku ini terasa berdebar sekali menantikannya.


Hangat napasnya mulai terasa menerpa permukaan pipiku. Aku pun mencoba membuka kedua mata saat merasakan ujung hidungnya mulai menyentuh ujung hidungku. Detik demi detik terasa lama sekali menunggu. Napasku pun terasa berat menantikannya. Hingga akhirnya aku mulai pasrah saat bibir merah muda itu mulai mendekati bibirku. Aku pun memejamkan mata di hadapannya. Namun, saat itu juga...


As long as you love me...


Dering ponselnya berbunyi mengagetkan kami. Aku pun tersadar jika ada telepon masuk untuknya. Lantas Alexander segera menjauhkan wajahnya dariku.


Astaga, gagal lagi.


Alexander tidak jadi menciumku. Dia segera mengambil ponselnya yang ada di sampingku. Sebagai seorang pebisnis pastinya harus cepat dalam menjawab telepon. Jika tidak, bisa kehilangan kesempatan besar di depan mata. Dan aku menyadarinya.


Ibunya?! Astaga! Gawat! Jangan-jangan mau video call?!


Sontak aku pun panik sendiri. Aku segera pergi dari hadapannya. Seketika itu juga Alexander menahanku. "Cecilia, mau ke mana?" Dia tidak ingin aku pergi dari sisinya.


"Dear, lihat pakaianku. Aku juga berada di atas kasurmu. Pasti ibu akan berpikiran yang tidak-tidak tentang kita." Aku amat panik.


"Astaga, iya juga." Akhirnya dia ikut menyadari.


Alexander segera beranjak dari kasurnya. Dia menuju lemari pakaiannya lalu mengambilkan sweter untukku. "Ini pakailah, Cecilia." Dia memintaku untuk mengenakan sweternya.


Lekas-lekas aku pun memakai sweter miliknya. Kupakai lalu kurapikan rambutku segera. Aku tidak ingin ibunya sampai berpikir yang tidak-tidak tentang kami.


Setelah melihat aku siap, Alexander segera menjawab telepon dari ibunya. Dia menghidupkan speakernya di hadapanku.


"Halo, Bu." Alexander menjawab sambil memastikan aku sudah rapi.


"Lama sekali, Nak. Ibu ingin melihat bagaimana keadaanmu." Suara dari seberang terdengar.

__ADS_1


Astaga!


Saat itu juga kutelan ludahku. Ternyata benar ibu Alexander menginginkan video call dengan anaknya. Aku pun merasa khawatir sendiri. Namun, Alexander segera menggenggam erat tanganku. Seolah meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja.


"Aku sedang bersama Cecilia, Bu. Dia sudah keluar dari rumah sakit." Alexander bicara kepada ibunya seraya melirikku.


"Benarkah, Nak? Kalau begitu ibu ingin sekalian melihat keadaannya. Di mana dia sekarang?" tanya ibunya.


Aku melirik ke arah Alexander. Alexander juga melirik ke arahku. "Sebentar ya, Bu. Nanti aku telepon lagi. Sepertinya Cecilia sedang di kamar mandi." Alexander beralasan.


"Baiklah. Nanti langsung video call, ya." Ibunya meminta.


"Baik, Bu." Alexander pun mengiyakan. Tak lama telepon mereka terputus.


Alexander kemudian melihatku. "Cecilia, ibu ingin tahu keadaanmu. Bagaimana? Apa kau tidak keberatan?" tanyanya padaku.


"Em ...." Aku sedikit ragu.


"Aku lihat kau panik sekali tadi. Keningmu juga berkeringat." Alexander segera mengusap keringat di dahiku.


Kuakui jika aku panik karena tidak ingin dianggap macam-macam oleh ibunya. Aku takut hubungan kami terhenti karena persepsi yang salah. Sampai aku tidak sadar jika keningku berkeringat sendiri.


"Em, iya. Tadi aku takut ibu berpikiran yang tidak-tidak tentang kita. Tapi sekarang aku baik-baik saja," kataku, meyakinkannya.


Dia kemudian memelukku. "Cecilia, jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Percayalah padaku," pintanya yang membuat hatiku terenyuh.


Hangat tubuhnya seolah menyelimuti tubuh ini. Alexander mampu menerangi gelap malamku yang sepi. Dan aku rasa tidak perlu takut lagi sekarang. Karena ada dirinya di sisi. Semoga saja perasaannya benar-benar tulus dan tanpa pamrih kepadaku.


"Iya." Aku pun mengangguk.


Alexander kemudian melepaskan pelukannya. Menatap kedua bola mataku lalu mengusap-usap pipiku ini. "Kita telepon ibu, ya?" ajaknya yang kutanggapi dengan anggukan.


Sore ini akhirnya menjadi saksi kedekatan kami yang semakin lama saling mengenal satu sama lain. Akhirnya aku pun bisa bercengkrama bersama ibunya melalui jaringan video call. Dan ternyata ibu Alexander begitu perhatian padaku. Dia menanyakan kabarku dan memintaku untuk tetap menjaga kesehatan. Rasanya senang sekali diperhatikan. Dan aku berharap selamanya bisa tetap seperti ini.


.........


...Cecilia...


__ADS_1


__ADS_2