
Angela lalu berdiri, dia berjalan menuju ke dispenser yang ada di dekat meja kerjanya. Dia membuatkan secangkir kopi untukku. Dia juga mengambil laptopnya lalu kembali duduk di sampingku.
"Masalah yang kau hadapi terlalu rumit, Cecilia. Mungkin setelah ini kau harus banyak-banyak beristirahat." Angela memberikan secangkir kopi untukku.
"Ya, aku rasa juga begitu. Aku ingin segera pensiun dari pekerjaan ini," kataku pasrah.
"Hah ... aku tidak bisa bicara apa-apa lagi saat mendengar Jackson telah mengambilnya darimu." Angela meneguk kopinya.
Aku terdiam. Kutahu jika Angela prihatin dengan keadaanku. Tapi, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa. Semuanya telah terjadi. Andai waktu bisa diulang, mungkin tidak mau sampai seperti ini.
"Di ruangan mana Hadden dan Oliver akan bertemu?" tanya Angela sambil melihat layar laptopnya.
"Sepertinya di ruangan paling ujung. Hadden suka sekali di ujung," jawabku.
"Baik. Aku akan meminta karyawan untuk memasangkan sesuatu di sana. Nanti kita bisa mendengar apa saja yang mereka bicarakan." Angela berniat membantuku.
"Jadi kau ingin ...?!"
Dia mengangguk.
"Astaga, Angela. Terima kasih."
Aku tak percaya jika Angela akan cepat tanggap terhadap permasalahanku. Dia akan membantuku mendapatkan informasi hari ini.
"Terima kasih, Angela. Kau memang sahabat terbaik." Aku memeluknya dengan erat.
"Sudah-sudah. Kita selesaikan dulu masalah ini. Kau jangan sampai gegabah, Cecilia. Ingat! Orang-orang yang kau hadapi bukanlah orang sembarangan. Aku cukup tahu track record mereka." Angela memperingatkan.
"Siap, terima kasih. Aku akan berusaha semampu mungkin untuk menyelesaikannya. Beri aku dukungan, ya!"
Aku mengepalkan tangan, pertanda semangat berkobar karena ingin lekas menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Aku pun tersenyum kepada Angela seraya memeluknya kembali.
__ADS_1
Hari ini aku ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh Hadden dan Oliver. Entah bagaimana nanti, aku harap Hadden tidak sampai mengetahui keberadaanku di restoran ini. Ya, semoga saja.
Lantas kukenakan kaca mata hitam agar dapat mengelabui pria paruh baya itu. Aku juga menggulung cepat rambutku sebelum keduanya datang ke ruangan yang dituju. Hari ini harus kudapatkan informasi mengenai keduanya. Aku yakin pasti bisa.
Beberapa menit kemudian...
Aku tiba di ruangan yang ada di sebelah ruangan Hadden dan Oliver. Aku datang lebih awal setelah meminta bantuan Angela. Aku pun dipasangkan earphone untuk mendengarkan percakapan yang terjadi di ruang sampingku ini. Lantas aku duduk diam sambil menikmati irama musik yang diputar di ruanganku. Tak beberapa lama kudengar suara langkah kaki mendekat ke ruangan sebelah.
/Cecilia, sudah ada yang datang./
Angela segera memberi kabar padaku lewat pesan biasa. Aku pun segera bersiap untuk mendengarkan apa yang akan mereka bicarakan. Dan ternyata Oliver datang terlebih dahulu setelah membaca pesan dari Angela.
Aku harus mendapatkan informasi hari ini. Bagaimanapun caranya.
Aku bertekad mengetahui hal yang sebenarnya terjadi antara Hadden dan Oliver. Telinga kiriku fokus mendengarkan percakapan di ruang sebelah, sedang telinga kananku waspada terhadap keadaan sekitar. Berjaga-jaga jika Hadden sampai memergokiku di sini. Tak lama yang kutunggu pun datang.
Kudengar mereka saling menyapa dan berjabatan tangan. Keduanya lalu duduk bersamaan dengan pelayan datang menawarkan pesanan. Aku bisa mendengar jelas percakapan mereka dari sini, sedang Angela membantuku mendapatkan rekaman CCTV-nya. Dia bekerja dari ruangannya sendiri.
Ternyata mereka bersekongkol untuk mencelakai Jackson.
Setelah beberapa lama mendengarkan pembicaraan, dapat kutarik kesimpulan jika Hadden dan Oliver bekerja sama untuk mencelakai Jackson. Hadden sepertinya sangat memahami bagaimana Jackson.
"Dia memang bisa dibilang mempunyai strategi yang hampir sempurna untuk setiap bisnis. Tapi, aku mengetahui kelemahannya. Jika aku tertarik, sekalipun dia tidak tertarik, dia akan memperjuangkannya." Kudengar Hadden berkata seperti itu kepada Oliver.
"Saya rasa Tuan Hadden bisa lebih diandalkan dibandingkan Jackson." Oliver seperti sedang mencari muka kepada Hadden.
"Ya, aku harap kita bisa saling bekerja sama dalam hal ini. Kutahu Jackson akan tetap bersikeras menang dariku. Meskipun dia sama sekali tidak tertarik." Hadden mengetahui titik kelemahan Jackson.
"Saya harap Tuan Hadden menjamin penuh keselamatan Angkasa Grup dan juga saya sendiri. Karena saya merasa Angkasa Grup sudah menjadi bom waktu di tangan saya." Oliver meminta perlindungan kepada Hadden.
"Sudah sampai di tahap mana proses akuisisinya?" tanya Hadden kemudian.
__ADS_1
"Paling banyak sekitar satu bulan lagi sebelum penyerahan sepenuhnya." Oliver menjawabnya segera.
Gawat! Itu berarti sebentar lagi?!
Tiba-tiba saja firasatku tidak enak mendengar hal ini. Ternyata Jackson dikeroyok banyak orang terdekatnya. Ini gila, benar-benar gila.
Saat ini jika akuisisi berakhir, maka proyek atas nama Angkasa Group yang sedang berlangsung tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Sebelumnya Jackson belum sempat memeriksanya. Bahaya tersembunyi apapun dapat memberi pukulan berat bagi Jackson. Dan hal itu pasti akan membuat Jackson trauma. Lalu apa yang harus kulakukan?
Jika saja aku bisa membantu Jackson keluar dari bahaya ini, mungkin dia akan melepaskanku. Ya, semoga saja. Aku berharap apa yang kulakukan setimpal dengan tebusan yang harus kubayarkan padanya. Dan setelah semua selesai, aku akan pergi. Aku tidak akan menampakkan diri lagi. Tapi, harus kuakui jika apa yang dikatakan oleh Angela memang benar adanya, aku harus tetap berhati-hati.
Tak lama perbincangan mereka berakhir. Aku kemudian segera mengirimkan pesan kepada Angela untuk melihat apakah keduanya sudah benar-benar pergi atau belum. Dan selama menunggu, aku melihat-lihat isi ponselku. Tak lama Angela pun memberikan kabarnya untukku.
"Cecilia, rekaman sudah kudapat. Mereka juga sudah pergi meninggalkan restauran." Angela meneleponku.
"Baik, aku segera ke sana sekarang," kataku lalu bergegas menemuinya di ruang kerja.
Hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Jika Oliver berkhianat, pastinya bukan hanya Jackson saja yang kena, tetapi juga semua karyawannya. Begitu juga dengan Andreas, GM-nya. Lantas aku segera ke ruangan Angela untuk menelepon Andreas di sana.
Tak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi saat ini aku berada di situasi yang rumit. Aku harus mencari bekingan terkuat agar bisa selamat dari yang lainnya. Tapi masalahnya, siapakah yang bisa aku percaya? Saat ini hanya ada Angela saja.
Sungguh aku ingin masalah ini cepat berakhir karena sudah tidak kuat lagi. Aku ingin hidup normal seperti manusia pada umumnya. Menikmati cinta tanpa rasa kekhawatiran akan bahaya yang mengancam.
.........
...Visual Tokoh Zea...
...Visual Tokoh Andreas...
__ADS_1