Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Jangan Tinggalkan Aku


__ADS_3

Malam harinya...


Saat ini pukul tujuh malam waktu ibu kota dan sekitarnya. Tapi Dear-ku belum pulang juga ke apartemennya. Aku khawatir terjadi apa-apa dengannya. Aku juga tidak mempunyai nomor teman-teman kantornya. Rasanya aku ingin ke sana saja.


Alexander berpesan padaku untuk tetap berada di apartemen sampai dia pulang bekerja. Dia juga khawatir jika sewaktu-waktu Jackson akan menemuiku. Pastinya Jackson tahu di mana gerangan kantor Alexander berada. Sehingga untuk meminimalisir terjadi pertemuan, Alexander memintaku untuk tetap berada di sini. Karena dia bilang Jackson tidak tahu di mana tempat tinggalnya.


Sejujurnya aku merasa khawatir terhadap keselamatan Alexander. Aku sudah cukup tahu bagaimana cara kerja Jackson selama ini. Aku khawatir dia berbuat nekat kepada Alexander. Apalagi sejak pertemuan terakhir kami di belakang panggung itu, Jackson seperti memendam kekesalannya padaku. Tapi semoga saja hal ini hanya sebatas rasa ketakutanku.


Kini aku sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Kucari channel TV yang bagus untuk menemani malamku ini. Aku juga sesekali melihat ponsel untuk mengecek pesan yang masuk. Namun ternyata, tidak ada satupun pesan masuk darinya. Mungkin Alexander memang sedang sibuk sekarang.


Lantas sambil menunggunya pulang, aku merebahkan diri di sofa. Kutunggu kepulangannya sambil mencoba beristirahat. Walaupun aktivitas hari ini tak banyak, tetapi tetap saja aku membutuhkan waktu untuk merelaksasikan pikiranku. Jadi ya sudah, mari kita beristirahat sejenak.


Beberapa saat kemudian...


Sayup-sayup terdengar nada dering ponselku. Aku pun perlahan-lahan terbangun dari alam mimpi yang baru saja menemani tidurku. Kubuka kedua mata lalu mencoba mengambil ponsel yang berada di atas meja. Kucoba melihat siapa gerangan yang meneleponku. Dan ternyata, banyak panggilan tak terjawab di ponselku ini. Namun, nomornya tidak kukenal. Entah siapa gerangan yang meneleponku.


Aku kemudian beranjak bangun lalu menarik napas panjang. Kucoba duduk lalu melihat pesan yang masuk ke ponselku. Dan ternyata, ada seseorang yang mengaku sebagai ibu Alexander. Dia mengirimkanku pesan. Kulihat jam pesan masuk di ponsel dan jam di dinding ruangan, ternyata terdapat perbedaan waktu sekitar satu jam. Dan isi pesan itu meminta aku untuk segera mengangkat telepon darinya.


"Ada apa, ya?"


Lantas aku mencoba menelepon balik nomor tak dikenal itu. Dengan hati berdebar aku pun menunggu teleponku diangkat. Namun, teleponku tak kunjung dijawab olehnya. Kucek kembali nomor tak dikenal ini, dan ternyata nomornya sama dengan pesan masuk di ponselku yang mengatakan jika dia adalah ibu Alexander. Tak tahu ada apa gerangan, lebih baik kubasuh wajahku saja terlebih dahulu.


Tumben ibunya meneleponku?


Aku beranjak ke kamar mandi lalu membasuh wajah ini. Setelahnya kukeringkan menggunakan handuk kecil yang tergantung di kamar mandi. Aku pun bergegas mengenakan sweter agar terasa lebih hangat karena malam sudah semakin larut.


Saat ini jam menunjukkan pukul sembilan malam waktu ibu kota dan sekitarnya. Tapi ternyata Dear-ku belum pulang juga. Tak tahu mengapa, tiba-tiba aku merasa cemas memikirkannya.

__ADS_1


Lantas kukenakan jaket putih dan celana jeans biru panjang sambil menunggu kepulangannya ke apartemen. Namun, tak beberapa lama kemudian ponselku kembali berdering.


"Siapa ya?" Aku pun cepat-cepat menuju ruang TV untuk mengangkat telepon yang masuk. Dan ternyata... "Nomor yang tadi?"


Kulihat yang meneleponku adalah nomor tak dikenal itu. Lantas aku segera menjawab teleponnya karena khawatir ada hal penting yang ingin disampaikan. Aku berharap nomor ini bukanlah nomor jebakan untukku. Karena bagaimanapun Jackson sedang mencariku.


"Halo?" jawabku.


Dengan hati berdebar aku menantikan suara dari seberang. Dan kudengar suara beberapa orang sedang lalu-lalang di sana. Aku juga seperti mendengar suara roda besi yang berputar dengan cepat. Entah di mana posisi orang yang sedang meneleponku saat ini, namun tak lama kemudian kudengar suara seorang wanita seperti sedang terisak.


"Cecilia." Saat itu juga kusadari jika yang meneleponku memang benar adalah ibu dari Alexander.


"Ibu?" Aku pun memastikannya.


"Cecilia, ini ibu Alexander. Kau di mana?" tanyanya dengan suara terisak.


"Cecilia sedang di apartemen, Bu. Ada apa? Kenapa ibu menangis?" tanyaku dalam degup jantung yang berdetak kencang.


Kudengar Ibu Alexander menangis. Dan tangisannya itu terdengar amat menyayat hati. Saat itu juga pikiranku semakin ke mana-mana. Bahkan untuk berpikir tenang pun aku tak bisa. Aku khawatir jika terjadi sesuatu terhadap Alexander. Aku takut sekali. Aku tidak ingin terjadi sesuatu apapun padanya.


"Cecilia ...,"


"Ya, Bu?"


"Alexander ...,"


"Kenapa, Bu?" tanyaku antusias.

__ADS_1


Ibu Alexander seperti tertahan untuk mengatakannya. Membuat jantungku seperti ingin copot saja. Aku takut sekali kabar buruk akan kudengar lagi hari ini. Cukup sudah kabar tentang Jackson yang membuatku takut. Aku tidak ingin mendengar kabar yang lainnya.


"Ibu, Alexander baik-baik saja, kan?" tanyaku kembali.


Kudengar isakan tangisnya semakin keras. Saat itu juga jantungku semakin berdebar dengan kencang. Aku harap-harap cemas menantikan kabar darinya.


"Alexander ... kecelakaan tadi sore, Cecilia. Mobilnya ditabrak oleh orang tak dikenal."


"Ap-apa?!!"


Saat itu juga aku merasa seisi dunia ini runtuh. Bagai guntur menggelegar di angkasa tanpa aba-aba. Aku terkejut bukan main dengan kabar yang kudengar. Lututku terasa lemas sekali. Aku sampai tidak kuasa untuk berdiri.


"Ibu ... sekarang ...?" Aku seperti tidak dapat berkata apa-apa.


Ibu Alexander seperti menahan tangisnya. "Alexander sedang dirawat sekarang. Dia harus menjalani perawatan intensif," kata ibunya lagi yang membuat ponselku ini terjatuh dari pegangan tanganku sendiri.


Dear ....


Saat itu juga aku tidak tahu harus berkata apa. Ternyata hal yang kutakutkan kini benar-benar terjadi. Aku merasa udara menghilang cepat dari sekelilingku. Dadaku terasa sesak sekali. Tak menyangka akan mendengar kabar ini. Ternyata Dear-ku tengah berada di rumah sakit.


"Cecilia ... Cecilia ...?!"


Ibu Alexander masih memanggil-manggil namaku dari seberang telepon. Tapi entah mengapa, aku seakan tidak mampu untuk mengambil ponsel yang terjatuh. Tubuhku seperti kaku di tempat dan tidak bisa digerakkan lagi. Seluruh saraf di tubuhku seakan berhenti berfungsi.


Dear ... jangan tinggalkan aku ....


Bulir-bulir air mata pun jatuh membasahi pipi ini. Aku tidak mampu menahan sesak lebih lama lagi. Pada akhirnya aku menangis di antara keheningan malam. Sungguh apa yang kudengar seperti mimpi buruk yang tak kuinginkan terjadi. Aku lemas hingga tidak mampu untuk melangkahkan kaki. Aku tak percaya dengan kabar yang kuterima ini.

__ADS_1


__ADS_2