
Alexander memang manis, aku tidak bisa memungkiri hal itu. Aku juga wanita normal yang bisa memandang objektif siapapun. Terlebih Alexander sudah berkali-kali mencoba mendekatiku. Mungkin tidak ada salahnya jika kali ini sedikit membuka hati untuknya. Siapa tahu bisa menyelam sambil meminum air. Kali-kali saja ada informasi yang bisa kudapatkan darinya.
"Tuan, aku lapar. Kemarin kan tidak jadi traktir. Bagaimana jika malam ini aku menraktirmu?" tanyaku, mencoba semringah di hadapannya.
Kulihat Alexander terkejut. Kedua matanya terbelalak mendengar ucapanku. "Kau serius, Cecilia?" Dia seperti tidak percaya dengan ucapanku.
Aku mengangguk. Saat itu juga kulihat Alexander menelan ludahnya. Sepertinya dia amat kaget dengan sikapku ini.
Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Aku mengikuti kata hati saja. Niatnya tadi ingin makan malam bersama Jackson. Tapi sesuatu yang menyakitkan itu terjadi di depan mataku. Hingga akhirnya hatiku sakit, pecah berkeping-keping. Dan tak lama Alexander pun datang mengobatinya. Jadi tidak ada salah kan jika aku mulai membuka hati untuknya? Hanya sekedar mengajak makan malam sebagai ucapan terima kasih. Toh, saat ini aku memang butuh hiburan untuk menawarkan lukaku.
"Baiklah. Kalau begitu aku ikut. Mari." Alexander beranjak dari duduknya.
Kami akhirnya berjalan bersama menuju ke pinggiran taman, tempat di mana dia memarkirkan mobil. Kulihat mobil Alexander memang lebih besar kapasitasnya jika dibanding mobil Jackson. Mungkin banyak peralatan yang harus dia bawa sebelum bekerja. Entahlah, pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang itu memang benar adanya. Mungkin aku harus lebih mengenalnya agar lebih tahu tentangnya. Jadi kita jalani saja alur cerita ini mau dibawa ke mana.
Setengah jam kemudian...
Malam ini malam yang berbeda untukku. Setelah bekerja keras menyelesaikan proses akuisisi, kini di hadapanku tengah duduk seorang pria berwajah rupawan dan manis. Dialah Alexander dengan sejuta pesonanya. Dia kini sedang menyantap hidangan laut berupa lobster bakar yang besar. Tapi, yang namanya orang kaya hanya memakannya sedikit. Mungkin jaga image kali, ya?
"Tidak mau cicipi lobster ini? Enak, lho."
Alexander menawarkan padaku lobster bakar yang dia makan. Dia tanpa segan menyodorkan garpu makannya kepadaku. Dia ingin menyuapiku daging lobster itu.
"Tuan, nanti pacarmu marah," kataku, tidak enak hati saat dia ingin menyuapiku.
Alexander tersenyum. Lagi-lagi senyumannya mampu membius penglihatanku. Entah mengapa malam ini aku seperti tidak peduli pada Jackson. Aku melupakannya saat Alexander berada di sisiku. Aku mulai merasa nyaman bersama pria berambut pirang ini.
Tuan, maafkan aku. Hatiku sakit sekali. Boleh aku cari pelarian?
Katakanlah jika saat ini aku butuh tempat bersandar. Katakanlah jika aku tidak mampu untuk mengingat apa yang terjadi di ruangan Jackson tadi. Katakanlah jika aku juga tidak tahu diri ingin marah kepada istri sah dari Jackson sendiri. Katakanlah dan katakanlah.
__ADS_1
Aku tetaplah seorang wanita yang mempunyai hati. Kadang bisa terluka, kadang bisa menangis. Namun, kadang kala aku juga butuh pelarian untuk mengalihkan rasa sakit di hatiku ini. Dan mungkin inilah saatnya. Aku tidak lagi memedulikan siapa Alexander sebenarnya.
"Kau mengejekku, ya? Aku tidak punya pacar. Aku masih sendiri." Alexander mengungkapkan status dirinya.
Entah benar atau tidak dia masih sendiri, sepertinya tidak perlu kuambil pusing. Lagipula Alexander hanya pelarian sesaat untukku. Hanya untuk menghibur hatiku yang sedang terluka ini. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku masih miliknya. Milik seorang pria berwajah muram dengan sejuta rencana yang belum mampu terbaca.
"Tuan Alexander tampan. Manis dan juga ... hmmm." Aku mulai memujinya dengan sedikit penekanan intonasi takjub.
Sontak Alexander tersedak makanannya sendiri. Segera kuambilkan air agar dia cepat meminumnya. Dan pada akhirnya, kami bersentuhan tangan. Saat itu juga entah mengapa suasana terasa berbeda sekali.
"Tuan ...."
Alexander memegang tanganku yang sedang memegang gelas untuknya. Dia menatapku, seolah tidak ingin aku pergi dari sisinya. Wajahnya menyiratkan jika dia tulus berada di sisiku. Seolah-olah kapan saja siap untuk menemaniku.
"Tuan, tanganmu." Segera kuingatkan jika tangannya terlalu lama memegang tanganku.
"Em, maaf." Dia menyeka mulutnya dengan tisu.
"Tidak apa-apa, Tuan. Aku hanya khawatir kesemutan." Aku malah menanggapi permintaan maafnya dengan kata-kata seperti itu.
Alexander terdiam. Dia kemudian menatapku. Tatapan matanya begitu dalam, tidak lagi memedulikan orang yang lalu-lalang di sekitaran kami. Dia seperti ingin mengungkapkan sesuatu padaku. Entah apa itu.
"Aku ... ingin cepat menikah," katanya yang membuat mataku terbelalak.
"Ap-apa?!" Aku seperti salah mendengar.
"Bulan depan aku genap berusia tiga puluh tahun. Dan aku ingin di hari ulang tahunku sudah mempunyai pasangan," katanya lagi yang membuatku menelan ludah sendiri.
Apa maksudnya, ya?
__ADS_1
Aku tidak tahu maksud sebenarnya dari perkataan Alexander. Tiba-tiba dia mengejutkanku dengan sebuah kalimat yang menyeramkan. Dia bilang ingin menikah bulan depan, sedang ini saja sudah pertengahan bulan. Apa iya dalam dua minggu dia bisa menemukan pasangan lalu segera menggelar pesta pernikahan?
"Err ...," Aku bingung harus menanggapi apa perkataannya.
"Cecilia." Alexander memegang tanganku. Sontak aku segera menjauhkan tanganku darinya. "Cecilia." Dia memegang tanganku yang satunya.
"Tu-tuan ...." Aku merasa situasi ini semakin aneh saja.
"Apa sudah ada yang melamarmu?" tanyanya yang membuat otakku tiba-tiba tidak bisa berpikir.
Zonk! Kata-kata itulah yang pantas untuk menggambarkan isi otakku saat ini. Aku tidak bisa berpikir apa-apa saat suasana di antara kami semakin dalam saja. Rasanya senang bercampur bahagia, tapi juga takut akan kembali terluka. Cukup sudah aku mengalami derita karena Jackson. Aku tidak ingin menambah pria lagi dalam hidupku.
"Tuan, maksudnya apa ya?" Aku bertanya untuk memastikannya.
Alexander menatap serius diriku. "Kau tahu maksudnya, Cecilia." Dia membuat hatiku cemas tak menentu jadinya.
"Em, Tuan. Maaf aku tidak bisa menjawabnya." Kujawab begitu saja.
Alexander mengangguk, sepertinya dia mengerti maksudku. "Kau masih menantikannya?" Dia seperti tahu siapa pria yang menahanku untuk membuka hati ini.
"Em ...." Aku pun seperti menemui jalan buntu untuk bicara lagi.
Tak lama kudengar ponsel Alexander berdering. Dia pun segera mengambil ponsel dari saku celananya. Dia melihat siapa gerangan yang menelepon. Dan ternyata...
Astaga! Jackson?!
Ternyata Jackson lah yang menelepon Alexander. Alexander menunjukkan kepadaku siapa yang meneleponnya saat ini.
Ini gawat! Jangan-jangan Jackson tahu jika aku sedang bersama Alexander?!
__ADS_1