
1 Januari pukul 11.00 siang...
Semalam kami segera tertidur karena begitu kelelahan. Dan kini badanku terasa pegal-pegal semua. Rasa mual pun kembali melanda. Aku sampai lupa membawa obat yang diresepkan oleh dokter karena semalam pergi terburu-buru.
Aku baru saja bangun dan kulihat Jackson masih tertidur di sampingku. Semalam dia benar-benar gila. Tidak ada puasnya hingga membuat tubuhku kelelahan. Sepertinya aku memang membutuhkan istirahat yang lebih banyak. Tenagaku seakan terkuras habis olehnya.
Posisiku sekarang ini seperti tidak dapat bergerak, terikat penuh oleh Jackson. Entah bagaimana nantinya jika bertemu Zea, Andreas ataupun Hadden. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan karena saat ini hanya Jackson yang bisa kuandalkan.
Sungguh aku penasaran dengan apa yang terjadi di keluarga Liandra. Aku juga ingin tahu hubungan antara Jackson dan Zea yang sebenarnya. Apakah benar mereka tidak pernah tidur bersama selama dua tahun pernikahan? Atau Jackson hanya ingin membuat hatiku senang dengan kebohongannya?
Tuan, sekalipun sedang tidur kau begitu tampan.
Aku ingin tahu sekali bagaimana perjanjian bisnis yang sesungguhnya terjadi antara ayah Zea dan Jackson. Apakah ada peluang untukku bersama Jackson di waktu ke depannya? Atau hanya sebatas anganku saja? Aku amat penasaran.
Seribu tanya mencuat di benakku. Rasa-rasanya kepalaku ini dipenuhi tanda tanya tentangnya. Aku sudah terlanjur cinta dan terikat. Jadi seperti menemui jalan buntu, tidak bisa lari lagi. Mungkin aku adalah wanita paling bodoh sedunia karena mencintai pria yang sudah beristri. Harusnya tidak seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur basah dengannya.
"Baby ...."
Tak lama Jackson menyebut namaku. Tangannya meraba-raba di atas kasur. Dia seperti sedang mencariku dengan mata yang masih terpejam.
"Aku di sini." Aku mendekat ke arahnya.
"Jangan tinggalkan aku," katanya. Entah mengigau atau sungguhan.
Meninggalkanmu? Sungguh itu tidak mungkin, Jackson. Aku sudah akan mengandung anakmu. Memangnya mau ke mana?
Jackson ada-ada saja. Dia memintaku untuk jangan meninggalkannya, membuat hatiku ini serasa tidak karuan. Dia memang memintaku menunggu urusannya selesai. Tapi, sisi lain hatiku bertanya, kapan urusannya akan selesai? Sungguh posisiku membingungkan. Entah harus bagaimana, mungkin lebih baik jalani saja.
"Tuan, bangun! Aku ingin melihat pantai di sekitar vila." Aku mengajaknya bangun.
"Baby ...." Dia memelukku. "Baby, janji dulu," katanya lagi.
"Janji apa?" tanyaku.
__ADS_1
"Janji tidak akan pernah meninggalkanku."
Dia ini mimpi apa sadar, sih?
Aku semakin heran dengannya. Ini seperti mimpi saja. Benarkah di sampingku adalah Jackson si bos bermuram wajah itu? Benarkah dia adalah pria yang dulu susah sekali kugoda? Aku seperti tidak percaya jika di sampingku ini orangnya sama. Perubahan drastis pada dirinya benar-benar mengejutkanku.
"Iya, aku janji. Tapi sekarang bangun dulu," kataku.
Jackson tersenyum. Dia lalu membuka kedua matanya. Dia tertawa tanpa suara di depanku. Ternyata dia sudah bangun sedari tadi. Lantas aku mencubit pipinya lalu mengajaknya bangun. Aku ingin menikmati liburan bersamanya di vila ini.
Pukul dua siang waktu sekitarnya...
Semilir angin pantai menjadi saksi dua insan yang saling berpegangan tangan dengan erat. Jackson dan aku duduk di bebatuan seraya melihat ombak yang berkejaran. Pria di sisiku ini mengenakan kemeja putih lengan pendek yang kancingnya tidak beraturan. Dia juga mengenakan celana gunung sebatas lutut yang berwarna krim muda. Tampan sekali.
Aku sendiri mengenakan pakaian pantai dengan bagian bahu terbuka. Kami menikmati pemandangan lepas pantai yang indah. Liburan bersamanya seperti liburan bulan madu yang manis. Jackson begitu memanjakanku, dan aku menyukainya.
"Aku mendapat kabar jika Hadden melakukan pertemuan dengan Oliver selepas kedatanganku ke sana." Jackson mengawali pembicaraan siang ini.
"Hadden sepertinya tahu jika prospek Angkasa Grup ke depannya amat bagus, jadi dia ingin membeli banyak saham dari sana." Jackson melihat ke arahku.
Aku segera menanggapinya. "Tuan, apa kau tahu jika Hadden mempunyai banyak mata-mata untukmu?" tanyaku serius.
Jackson mengangguk. "Hadden mengutus orang untuk memata-mataiku, sama dengan hal yang kulakukan padanya. Kami bekerja di belakang layar dan tinggal menunggu kabar. Saling serang dan saling bertahan. Tetapi tidak menggunakan cara kekerasan." Jackson menuturkan.
Aku merenungi kata-katanya.
"Cecilia, aku harap kau mau memegang beberapa persen saham di Angkasa Grup." Jackson mengatakannya padaku.
"Saham?"
"Ya. Sehingga bisa memantau apa saja yang terjadi di sana. Jika tidak, kau tidak mempunyai alasan untuk ikut bekerja." Jackson menerangkan.
"Oh ...." Aku jadi sedikit mengerti arah pembicaraan ini.
__ADS_1
"Kau mau membantuku, kan?" Jackson memegang erat tanganku.
"Tuan, tapi aku khawatir. Selama ini aku sudah melangkah terlalu jauh. Bagaimana jika Andreas dan Hadden mengetahui aku memegang beberapa persen saham di sana?" tanyaku, merasa keberatan.
"Itu mudah saja. Tinggal bilang jika aku yang memaksanya. Mereka juga tidak akan berani mengganggumu." Jackson begitu yakin.
"Tapi ...,"
Aku memalingkan pandanganku, merasa khawatir dengan permintaannya. Namun, aku juga tidak bisa jika tidak membantunya. Apapun alasannya dibalik permintaan ini, aku seperti terikat dan tidak bisa menolaknya.
"Tapi apa, Baby? Jangan cemas. Kau bilang saja jika aku yang mengancammu. Jadikan aku sebagai alasan." Jackson amat berharap aku menerima permintaannya.
Lantas aku berpikir keras. Berpikir masak-masak sebelum mengiyakan. Sungguh aku khawatir salah langkah, yang ada nanti malah menghancurkan semua. Dan aku tidak ingin hal itu sampai terjadi.
"Tuan, pembelian saham tidaklah sembarangan. Aku takut tidak bisa menghasilkan apa yang kau inginkan. Aku takut kau kecewa." Aku jujur seraya memasang wajah cemas.
Jackson merangkulku. "Dasar bodoh!" Dia malah mengataiku. "Aku hanya meminjam namamu saja. Lagipula ada maksud lain dari hal ini." Jackson meyakinkanku.
"Maksudmu ingin menjadikanku umpan?" tanyaku penasaran.
"Hahaha." Dia tertawa. "Jangan khawatir. Kita lihat saja nanti. Percayalah padaku, semua akan aman. Oke?" Dia mengedipkan satu matanya kepadaku. Seketika jantungku berdebar tak karuan.
Tuan, sadar tidak sih jika dirimu itu sangat tampan. Kau juga pria mapan yang bisa diandalkan. Terlebih kau bisa memuaskan di atas ranjang. Dan kini kau menggodaku dengan kedipan satu matamu. Aku semakin takut kehilangan. Bisa tidak jadi milikku saja? Tidak usah ke mana-mana. Aku sanggup kok mengurus dirimu dan anak-anak kita kelak.
Semakin besar rasa cintaku, semakin besar pula ketakutanku. Semakin dekat dengannya, semakin khawatir tiba-tiba menjauh. Walaupun dia sudah menunjukkan kesungguhannya, tetapi tetap saja status akan dirinya membuatku terganggu. Aku takut kehilangannya.
Aku takut, takut sekali jika dia tiba-tiba menghilang. Aku tidak sanggup kehilangan dirinya. Mungkin jika tahu hal itu akan terjadi, aku ingin menghilang terlebih dulu. Cintaku ini sudah menggila dan bersemayam di lubuk hati terdalam. Terlihat bodoh, tapi memang itulah kenyataannya.
"Em, baiklah. Tapi ajari aku, ya? Karena aku tidak mengerti dunia bisnis, apalagi berkaitan dengan saham." Aku memintanya membimbingku.
Dia tersenyum padaku. "Jangan banyak pikiran, Cecilia. Turuti saja apa kataku." Dia lalu memelukku.
Rasanya damai sekali saat berada di pelukannya ini. Harum tubuhnya, sentuhan lembutnya, semua yang ada pada dirinya seolah meyakinkan diri ini jika tidak salah memilih. Semoga saja ke depannya akan terus dilancarkan tanpa kendala. Karena aku ingin hidup bersamanya, sampai nanti sampai mati.
__ADS_1