Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Dia Datang


__ADS_3

Seketika aku tersenyum miris mendengarnya. "Dia temanku, Dok." Aku menjawab seadanya.


"Oh, teman. Suaminya ke mana, Nona? Kenapa sendiri saja memeriksakan kandungan?" tanyanya lagi lalu membiarkan suster mengoleskan sesuatu pada perutku. Sejenis krim yang terasa dingin di kulit.


Aku tertegun mendengar pertanyaannya. Aku bingung harus menjawab apa. "Suamiku sedang di luar kota, Dok. Kemungkinan nanti malam baru sampai," jawabku. Aku bingung harus beralasan apa.


"Oh ... baiklah. Sekarang kita cek langsung kondisi rahimnya, ya." Dokter itu pun memegang sebuah alat seperti scanner. Tak lama kemudian layar besar memperlihatkan bagaimana keadaan rahimku. Aku pun dengan saksama memperhatikannya.


Sepuluh menit kemudian...


Setelah pemeriksaan selesai dilakukan, aku kembali duduk bersama dokter spesialis ini. Dia kemudian menunjukkan hasil keadaan kandunganku sekarang.


"Lapisan dinding rahim Nona tidak setebal kebanyakan wanita pada umumnya. Sehingga hal ini menyebabkan janin sulit bertahan lama di dalamnya. Istilah mudahnya, kandungan Nona lemah sehingga rentan mengalami keguguran." Dokter mulai menuturkan padaku.


Aku mengernyitkan dahi. "Kenapa bisa seperti itu, Dok? Apakah memang penyakit bawaan?" tanyaku yang merasa cemas terhadap diriku sendiri.


Dokter berpikir sejenak. "Suka minum minuman yang beralkohol?" tanyanya.


Sontak aku terkejut, aku pun mengangguk pelan. Kuakui jika kehidupanku dulu tidak jauh dari minuman seperti itu. Karena tidak mungkin tidak minum jika berbaur bersama targetku. Tapi, semenjak lututku terasa lemas setelah minum, aku jadi mengurangi porsi minumku. Dan bisa dibilang sekarang sudah berkurang drastis.


"Itulah, Nona. Kandungan dari minuman beralkohol sangat tidak baik untuk kesehatan organ dalam. Jadi mulai sekarang, jauhilah minuman yang beralkohol. Apalagi jika Nona sampai merokok. Asap pembakaran akan menempel pada paru-paru." Dokter menjelaskan.


Aku hanya terdiam, merasa bersalah kepada diri sendiri.


"Saat ini kandungan Nona sedang mengalami luka yang cukup parah sehabis keguguran kemarin. Saya sarankan untuk tidak melakukan hubungan intim selama tiga bulan ke depan. Sekalipun sudah amat darurat karena efeknya dapat membahayakan Nona sendiri," katanya lagi.


"Apakah sampai separah itu, Dok? Apa tidak ada jalan lain?" tanyaku lagi.


Dokter sepertinya mencoba memahami kebutuhanku. "Jika amat terpaksa, mungkin bisa menggunakan pengaman. Tapi tidak boleh terlalu keras, harus selembut mungkin. Ada baiknya Nona dan suami menahan karena risiko yang ditimbulkan cukup besar. Jika memang menginginkan punya anak, beri waktu rahim untuk memulihkan dirinya sendiri selama tiga bulan ini. Berhenti minum minuman yang beralkohol dan juga stop merokok atau terpapar asap rokok. Semoga setelah tiga bulan kandungan Nona bisa normal seperti kebanyakan wanita pada umumnya." Dia memberiku harapan.


"Baik, Dok. Aku mengerti," kataku.

__ADS_1


"Saya beri obat dengan dosis tinggi agar lebih bisa cepat pulih. Antibiotiknya harus dihabiskan dalam waktu tiga hari. Setelah itu minum sesuai petunjuk yang tertera di sampul obat. Jangan sampai terlewat, ya," katanya lagi.


"Baik, Dok." Aku pun mengiyakan.


"Semoga lekas sembuh, Nona Cecilia. Sehat selalu dan bahagia menyertai." Dokter mendoakanku.


"Terima kasih, Dok. Aku juga berharap Dokter seperti itu."


Pemeriksaan hari ini akhirnya selesai tanpa kendala. Suster pun kembali membantuku keluar dari ruangan periksa. Sesampainya di luar, kulihat Alexander sedang menunggu dengan wajah harap-harap cemas. Tak tahu mengapa aku malah kasihan melihatnya. Dia begitu setia mendampingiku sedang aku tidak bisa memberikan cinta. Lalu siapa yang salah?


Menjelang malam, persiapan pulang dari rumah sakit..


Jam di dinding ruang inapku sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Dan saat ini pria yang masih setia menemaniku adalah Alexander. Aku jadi heran, di mana Jackson berada? Sampai saat ini dia belum juga membalas pesanku. Saat kutelepon nomornya juga dialihkan. Entah kenapa.


Jangan-jangan dia marah lagi padaku?


Aku sempat bilang kepada Angela takut Jackson cemburu dan marah lagi karena ada Alexander di sini. Tapi Angela meyakinkan jika Jackson tidak akan marah. Dia sendiri yang akan memberikan penjelasan kepadanya. Jadinya aku bisa sedikit lega. Karena nyatanya tidak ada orang lain yang bisa dimintai bantuan selain dirinya.


"Cecilia, semua biaya rumah sakit sudah kulunasi. Kita bisa kembali malam ini." Alexander datang dengan membawa selembar kertas.


"Coba lihat berapa biayanya?" kataku yang duduk di pinggir kasur pembaringan.


"Eh, tidak boleh. Ini rahasia perusahaan." Alexander melarangku untuk mengetahuinya. Dia cepat-cepat menyimpan selembar kertas tersebut.


"Hah ...." Aku pun mengembuskan napas di depannya.


Dia kemudian duduk di sampingku. "Sudah, jangan dipikirkan. Semua baik-baik saja. Aku di sini." Dia berkata lagi.


Aku menoleh ke arahnya yang duduk sedikit menjauh. Tidak tahu mengapa saat melihatnya selalu saja merasa bersalah. Apakah hatiku ini sedang tidak baik kondisinya? Atau nurani sudah ikut berbicara?


Angela mana, sih? Kok belum juga datang?

__ADS_1


Aku sudah siap untuk pulang malam ini. Tapi Angela belum datang untuk menjemputku. Katanya sih dia akan datang untuk mengantarkanku pulang. Tapi sampai sekarang dia belum juga datang. Aku jadi khawatir, jangan-jangan Alexander lagi yang akan mengantarkanku.


Ruangan rawat inapku ini terdapat kamera CCTV di pintu masuk dan area tempat tidurnya. Di koridor luar juga ada. Kusadari jika rumah sakit ini bukanlah rumah sakit biasa. Ruangan rawat inapku saja sudah seperti apartemen mini yang ada dapur, kamar mandi dan sofa tamunya. Mungkin ruangan ini adalah kelas VIP yang mahal harganya. Entahlah, aku rasa tidak perlu pusing memikirkannya karena Alexander telah melunasinya.


"Tuan, sana mandi. Bau tahu!" Aku mencoba mengusirnya.


"Eh?!" Dia pun terkejut.


"Dari siang belum mandi, kan? Asam, tahu!" kataku lagi.


Dia segera mencium aroma tubuhnya sendiri, seperti amat percaya dengan apa yang kukatakan. Padahal dia amat harum dan aroma parfumnya begitu menenangkan.


Tuan, andai kita bisa berteman saja, mungkin aku akan lebih senang.


Aku berharap bisa bersama Jackson tanpa harus bermusuhan dengan Alexander. Aku ingin menjadi temannya saja. Tapi apakah bisa? Saat ini aku masih khawatir jika apa yang dikatakan oleh Jackson itu benar.


"Baiklah, aku mandi dulu." Dia beranjak pergi.


"Eh, tunggu!" Aku menahannya.


Dia berbalik melihatku. "Cecilia?"


"Aku bercanda, Tuan. Hahaha," kataku lalu tertawa di depannya.


"Dasar." Dia pun mengusap-usap kepalaku ini.


Alexander tanpa ragu menunjukkan kasih sayangnya terhadapku. Dia begitu penyayang sekali. Sungguh aku ingin dia selalu ada di dekatku. Namun, bukan sebagai kekasih, tetapi hanya sebatas teman. Apakah bisa?


Lantas aku tersenyum padanya. Beberapa hari ini dia sudah setia menemaniku di rumah sakit. Rasanya begitu jahat jika tidak berterima kasih sama sekali. Ya, walaupun hanya sebatas senyuman.


"Cecilia."

__ADS_1


Tak lama kemudian, kulihat seorang wanita masuk ke ruangan rawat inapku. Dia membiarkan rambutnya tergerai dengan baju rajutan yang terbuka di bagian lengannya. Sontak aku terkejut begitu menyadari siapa yang datang. Dia melihatku bersama Alexander di sini.


__ADS_2