Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Penyesalan Dari Hati


__ADS_3

"Tuan." Aku menyapanya.


Kulihat Jackson diam saja saat berhadapan denganku di depan pintu. Dia menatap wajahku dengan pandangan dingin. Kutahu jika dia marah karena kejadian semalam yang kabur darinya. Tahu sendiri bagaimana pria jika hasratnya tidak terpenuhi, pasti sudah kalang-kabut dan marah sendiri. Lantas segera saja kuutarakan tujuanku datang kemari untuk mengalihkan hal yang terjadi.


"Aku ada urusan kantor, Tuan," kataku padanya.


Jackson masih diam. Dia lalu memberi jalan padaku agar masuk. Aku pun segera menuju ke ruang tamu apartemennya. Sedang dia mengikutiku dari belakang sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Aura kekesalan pada dirinya bisa kurasakan amat besar. Terbukti dia diam saja tanpa berkata apapun saat ku datang.


"Oliver diam-diam bertemu dengan Hadden. Proyek Angkasa Grup yang sudah selesai menghadapi masalah serius," kataku.


Jackson duduk di sofa lalu mengeluarkan bungkusan rokok tanpa terlihat terkejut. Dia seperti biasa-biasa saja mengetahui hal ini. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang, wajah tenangnya membuatku merasa ketakutan.


"Tuan, Oliver berniat berkhianat padamu. Hadden dan Oliver bekerja sama untuk membahayakan jabatanmu yang sekarang. Jika dibiarkan, kau akan mengalami kerugian besar." Kutunjukkan rasa empatiku padanya.


"Iya."


Dia hanya menanggapi kabar yang kuberikan dengan satu kata iya. Sontak aku terpaku karena ternyata dia sudah tahu. Saat ini Jackson benar-benar dingin padaku. Dia mengeluarkan sebatang cerutu besar, menjepitnya dengan dua jari lalu menyalakannya. Dia kemudian memandangi cahaya matahari di luar jendela dengan ekspresi datar.


Jackson sama sekali tidak panik padahal hanya tinggal sebulan lagi bom itu akan meledak. Apakah ini perawakannya yang asli? Jika iya, itu berarti hanya dia sajalah yang bisa mengalahkan musuhnya. Tidak ada satupun yang bisa menjebak Jackson. Apalagi aku.


Dia diam saja, aku harus bagaimana?


Kami duduk berhadapan di sofa tamu dengan masih acuh tak acuh padaku. Lantas kutarik napas dalam agar atmosfer sekitar berubah menjadi sedikit lebih tenang. Dan ya, aku mendapatkannya. Aku bisa sedikit tenang sekarang.


"Aku belum memutuskan rencana untuk menghadapi hal ini," tanggapnya datar.


"Tapi, Tuan. Aku sudah menyeret Andreas," kataku penuh rasa prihatin.


Jackson diam. Dia hanya menoleh sedikit ke arahku. Aku pun menunduk, tidak berani melihatnya. Aku takut dia marah karena sudah bertindak sendiri. Tapi hal yang kulakukan hanya untuk melepaskan diri dari jeratannya. Aku berharap setelah membantunya, dia bisa melepaskanku.


"Tuan, aku harap kau dapat mengampuniku jika berhasil menyingkirkan Andreas." Aku mencoba bernegosiasi dengannya.

__ADS_1


Jackson menatapku dengan penuh maksud. Mungkin dia ingin menagih imbalan dari bantuannya karena sudah membereskan Aurel. Aku jadi bingung harus berkata apa lagi. Yang kubisa hanya menunduk di depannya.


"Tadi Andreas menawarkan bonus besar kepadaku jika berhasil mendapatkan stempelmu."


Aku tak berdaya di hadapannya, lantas jujur saja. Mungkin dia juga sudah tahu pertemuanku dengan Andreas tadi. Jackson tidak mudah untuk dibohongi.


Kulihat dia beranjak berdiri, berjalan menuju meja tehnya. Dia kemudian membaca beberapa dokumen di sana lalu berkata, "Ada di kantor," ucapnya amat singkat, seperti tidak peduli.


Lantas aku mencoba bertahan menghadapi sikapnya. Aku berusaha bertanya kembali. "Apa Tuan pergi ke kantor dalam dua hari ini?" tanyaku, berharap dia tidak lagi dingin padaku.


Tangan kirinya memegang cerutu, asapnya sangat tebal. Sedang raut wajahnya datar dan berkata tergantung mood-nya saja. Sepertinya aku memang salah waktu datang kemari. Maksud hati ingin bernegosiasi, ternyata dia malah tidak peduli.


Mungkin aku pulang saja.


Lantas aku beranjak berdiri, berniat berpamitan padanya karena tidak tahu harus berkata apa lagi. "Tuan, hanya itu yang bisa aku kabarkan. Aku permisi." Aku berjalan melewatinya.


"Tunggu!"


Astaga?!


Kulihat ada celana lace milikku di dalam kotak ini. Segera saja kututup sambil berdiri diam di tempat. Aku tidak tahu harus berkata apa.


Dulu Jackson sangat sulit dijebak, dan sekarang kalau diingat-ingat, renda setengah tembus pandang memang terlalu menggoda. Seketika aku tersadarkan dari perbuatanku dulu padanya.


"Tuan, maafkan aku. Aku melakukan semua ini karena pekerjaan. Aku tidak ada maksud jahat padamu. Sungguh. Maafkan aku."


Entah mengapa aku seperti ingin menangis saat mengakui hal itu. Hatiku merasa sedih sekali karena mempunyai pekerjaan seperti ini. Aku pun menunduk di hadapannya, tidak berani melihatnya. Aku merasa diriku amat rendah di hadapannya.


Dia menekan daguku dengan jarinya. "Apakah permohonan maaf ini tulus dari hatimu, Cecilia?" tanyanya, agar aku menatap wajahnya.


"Tuan, tolong jangan berlaku kasar padaku. Aku juga manusia," kataku lalu menghempaskan tangannya. "Permisi." Aku pun segera pergi dari hadapannya.

__ADS_1


Jackson tidak mengejarku. Aku terus saja melangkahkan kaki keluar dari apartemennya. Tidak tahu apa yang ada di pikirannya sekarang, aku harap Jackson dapat memahami dan melepaskanku karena perbuatan dulu. Sungguh aku melakukan semua ini karena pekerjaan dan uang. Tidak ada niatan buruk padanya.


Perjalanan pulang ke apartemen...


Rasa di hatiku kini bercampur aduk. Aku menyesal karena telah melakukan pekerjaan ini. Tapi di lain sisi aku juga membutuhkan uang untuk melanjutkan hidup. Dan kini uang tidak kudapatkan malah hal berharga dari hidupku melayang. Jackson telah mengambilnya dariku.


Di tengah-tengah rasa frustrasi akan kehidupan ini, dering ponsel menyadarkanku. Dan ternyata Angela lah yang meneleponku. Lantas segera kuangkat telepon darinya sambil mengemudikan mobil menuju apartemenku.


"Halo?" jawabku segera.


"Cecilia, nanti malam ada acara festival di kuil. Kau mau ikut?" tanya Angela dari seberang telepon.


Aku berdehem agar suaraku tidak serak didengar olehnya. "Sepertinya aku di rumah saja, Angela. Keadaanku kurang baik saat ini." Aku menolaknya.


"Hei, sudahlah. Kau butuh menyegarkan pikiranmu, Cecilia. Sekali-kali berjalan-jalanlah. Suamiku mengajak melihat festival. Sekalian aku kenalkan dirimu padanya." Angela sangat berharap aku dapat ikut.


"Em ... bagaimana, ya ...?" Aku jadi segan untuk menolaknya.


"Pokoknya nanti malam aku tunggu di bawah. Kau harus datang. Jika tidak, lupakan Angela selamanya," lanjutnya.


Eh?!!


Lantas telepon terputus setelah dia mengatakan hal itu. Aku pun dirundung kegalauan akan perasaanku sendiri. Saat ini penyesalan memenuhi seluruh relung hatiku, dan aku amat membutuhkan sandaran. Tapi kepada siapa? Aku hanya punya Angela, kawan terdekatku. Selain itu aku tidak punya siapa-siapa lagi.


Malam harinya...


Angela benar-benar datang menjemputku. Dia menarikku keluar dari apartemen seperti seorang kakak menghadapi adik bandelnya. Dan ya, aku hanya bisa menurut.


Untung saja aku sudah bersiap walaupun tidak tahu jadi pergi atau tidak. Malam ini kukenakan lengan panjang berwarna cokelat muda yang berbahan lembut, dengan bawahan celana dasar putih ketat. Make up yang kusapukan juga minimalis, tidak terlalu mencolok. Dan akhirnya aku pergi juga bersama Angela. Sesampainya di mobil, kulihat suami Angela memang sudah tua. Tapi Angela seperti benar-benar menyayanginya.


Andai aku bisa memiliki pria yang dapat mengerti akan diriku.

__ADS_1


Di dalam mobil aku melihat kemesraan di antara keduanya setelah Angela memperkenalkanku kepada suaminya. Dan jujur saja membuat hatiku iri. Aku juga ingin seperti Angela yang bahagia dengan pilihannya. Aku ingin menikmati cinta tanpa rasa khawatir di hati. Tapi masalahnya, kapan hal itu akan terjadi?


__ADS_2