
Detak jantungku tak karuan karena kekurangan oksigen sehabis dicekiknya. Dan kini aku terduduk lemas di samping pria yang semalam telah membuatku kehilangan keperawanan. Aku tak menyangka jika akhirnya akan seperti ini. Dia seperti tidak mempunyai hati nurani sama sekali.
“Cecilia, aku sudah memberimu kesempatan.”
Sungguh aku sangat ketakutan. Aku tidak bisa lari lagi setelah tertangkap basah olehnya. Yang aku bisa hanya bersandiwara. Ya, kembali bersandiwara agar selamat dari Jackson. Karena jika tidak, habislah riwayatku di sini.
Lantas kutarik semua rasa sedihku, kuingat lagi kejadian semalam yang telah mengoyak jiwaku. Hingga rasa sesak itu kembali datang menyelimuti seluruh relung hati ini. Aku menangis di depannya.
Aku berlinangan air mata sambil memasang wajah paling menyedihkan yang kubisa. Seolah-olah meminta pertanggungjawaban darinya atas kejadian semalam yang telah merenggut keperawananku. Aku ingin Jackson menjadi milikku. Aku mengemis cinta padanya. Walaupun hanya pura-pura, biarlah aku mengalah asal selamat darinya.
"Tuan, Anda telah sangka padaku." Aku menangis terisak di depannya. "Aku tidak akan memberikan video, foto atau apapun kepada nyonya. Aku hanya takut dia melukaiku jika tidak menemuinya." Aku bersandiwara.
"Setelah perjanjian itu?" tanyanya singkat dengan lirikan tajam yang menghunus ke arahku.
"Ya. Aku bingung saat ini. Hanya dirimu yang aku punya. Tapi aku sadar jika kita tidak bisa selalu bersama. Maka dari itu aku mengambil keputusan untuk bertemu dengannya." Aku merendahkan diri di hadapannya.
Kulihat dia memalingkan pandangannya dariku, lalu kembali tersenyum sinis padaku. Mungkin dia tidak lagi bisa memercayaiku. Aku jadi harus berpikir cepat, bagaimana cara untuk meyakinkannya. Lantas kudekatkan tubuh ini kepadanya.
"Tuan, aku telah menyerahkan keperawananku padamu. Apa hal itu belum bisa dijadikan bukti jika aku berpihak padamu?" tanyaku memohon.
Dia menatapku tajam.
"Aku hanya takut nyonya menggunakan cara lain untuk melukaiku. Itu saja. Sedang kau tidak ada. Lantas aku harus bagaimana selain menemuinya agar dia tidak curiga jika aku berpihak padamu?"
__ADS_1
Lagi dan lagi aku merangkai kata untuk mengelabui Jackson. Rasanya aku muak kepada diriku sendiri. Aku benci dengan situasi ini.
Jackson hanya diam. Dia lantas memanggil supirnya. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, dia meminta supirnya melajukan mobil ke suatu tempat. Yang sepertinya belum pernah kukunjungi sebelumnya. Karena dari namanya saja serasa kurang familiar.
"Tuan, aku mencintaimu ...."
Kurebahkan kepalaku di dadanya. Terserah dia mau berpikir apa asal aku selamat saja. Aku membenamkan wajahku di dadanya seraya memeluknya dari samping. Dan kulihat dia hanya diam, tidak melakukan sesuatu apapun padaku. Seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Namun, bisa kudengar jika detak jantungnya mulai stabil. Sepertinya dia sudah tidak marah lagi padaku.
Entah benar atau tidak, aku tidak mau cepat-cepat menarik kesimpulan tentang sikapnya, sebelum terbukti sendiri. Dia sudah membuatku berulang kali salah menilai sehingga aku tidak mau hal itu terulang kembali.
Beberapa waktu kemudian...
Aku tiba di sebuah pulau terpencil dari kota. Tidak tahu pulau apa, tapi sepertinya aku belum pernah ke sini sebelumnya. Tadi kami menaiki kapal pesiar pribadi untuk sampai ke sini. Dan saat menyeberang, rasa mualku tidak lagi bisa tertahankan. Sehingga aku hanya sibuk dengan diriku sendiri. Dan kini aku baru saja sampai di suatu tempat yang seperti klub. Benar atau tidak, kucoba masuki saja untuk melihat keadaan di dalamnya.
Kami lantas melewati sebuah pintu. Di mana setelah pintu dibuka seperti koridor ruangan tertutup yang mirip koridor hotel. Di mana pintu ruangan ada di sepanjang koridornya dan tertata rapi. Tapi, Jackson terus saja berjalan hingga ke ruangan paling ujung. Dan saat kami memasuki ruangan itu, ternyata telah duduk beberapa orang di dalamnya. Dan kudengar salah satu dari mereka menyebut nama Jackson.
"Tuan Jackson, tumben Anda kemari?"
Seorang pria paruh baya menyambut kedatangan Jackson siang ini. Usianya terlihat tidak jauh berbeda dengan Hadden, mungkin sekitar empat puluh dua tahun ke atas dengan setelan seragam bisnis bak bos kaya.
Jackson lalu berbasa-basi sebentar. Mereka membahas bisnis yang diakuisisi oleh Jackson dengan harga satu triliun. Sedang aku tetap menemaninya di sisi. Aku berdiri di belakangnya sambil mendengarkan perbincangan yang terjadi. Seperti biasa, ini adalah tugas seorang asisten pribadi. Dan aku melakukannya lagi.
"Di sebelah datang penari yang bagus, Tuan Jackson."
__ADS_1
Akhirnya setelah lama membicarakan bisnis akuisisi, pria di sebelah Jackson berkata kepadanya. Seperti memberi sebuah kode untuk menyewa penari siang ini. Dan entah sudah berapa lama aku menunggu perbincangan mereka, rasanya kakiku pegal sekali.
Jackson lalu tersenyum kepada pria itu, dia kemudian beralih kepadaku. "Cecilia, kau bisa menari?" tanyanya padaku.
Sontak aku merasa gelagat Jackson aneh hari ini. Aku tidak mungkin menjawabnya tidak. Aku telah membuatnya marah besar padaku. Sebagai seorang penggoda tentunya bisa melakukan apa saja selama uang kudapatkan. Tapi, sungguh aku tak percaya jika Jackson memintaku menari di hadapan temannya. Terlebih di hadapan pria lain yang baru saja kutemui. Sehingga pikiranku menarik kesimpulan jika Jackson...
Dia ingin mengeksposku?
Tiada hal lain yang kupikirkan selain itu. Jackson seperti ingin mengeksposku di hadapan kawanan bos besar kota ini. Aku jadi menelan ludah saat menyadari apa yang akan dia lakukan padaku. Aku tak habis pikir jika dia ingin aku menunjukkan lekuk tubuhku di hadapan pria selainnya. Dia seperti tidak lagi mempunyai hati nurani.
"Cecilia, menarilah untuk kami," katanya, yang sontak membuatku menyadari betapa jahat dirinya padaku.
"Baik, Tuan."
Aku lantas hanya bisa mengiyakan. Keluar dari ruangan lalu lekas berganti pakaian. Kukenakan gaun tanpa lengan dengan bagian kedua paha yang terbuka, untuk memudahkan gerakan tarianku di hadapan mereka. Kudapatkan gaun ini dari petugas klub yang berjaga. Ternyata tempat ini memang sangat rahasia namun lengkap menyediakan apa saja.
Hari ini aku sudah terlanjur diekspos olehnya. Dan akan kutunjukkan keseksianku di depan kawanan bos besar lainnya. Di hadapannya juga, di hadapan seorang pria yang telah menggagahiku semalam.
"Tuan Jackson." Aku masuk kembali ke ruangan dengan gaun terbuka di bagian lengan, bahu dan juga paha.
"Wow! Ternyata sekretaris tuan Jackson cantik sekali." Salah seorang pria memujiku.
Aku tersenyum. Kulihat Jackson menghidupkan puntung rokoknya. Dia menatapku dengan tatapan tega. Seketika itu rasanya ingin menangis saja. Tapi kupikir buat apa juga. Aku sudah terlanjur basah, sehingga hanya bisa menuruti semua keinginannya.
__ADS_1
Aku lantas mulai menari di hadapannya dan juga teman-temannya. Aku menari bak penari striptis yang menggoda birahi. Aku tak lagi peduli siapa diri ini asal nyawaku selamat dari jeratannya.