
"Kau ini lucu."
Pria bertubuh maskulin ini tertawa kecil saat melihat tingkahku yang kaku. Dia masih memegangi gelas anggurnya dengan tubuh hanya terbalut handuk sebatas pusar hingga lutut. Aku jadi bingung harus bagaimana.
"Gaunmu bagus," katanya lalu ingin menyentuh tali gaunku.
Aku menghindar, tidak ingin disentuh olehnya. Entah mengapa tubuhku refleks begitu saja. Dia lalu meletakkan gelas anggurnya ke meja, kemudian menyilangkan kedua tangan di dada seraya menatapku.
"Oh ... jadi tidak ingin disentuh olehku setelah berhasil menggodaku?" tanyanya dengan intonasi membunuh.
Aku berpikir cepat untuk mencari alasan yang tepat dalam menjawab pertanyaannya. "Em, Tuan. Sebaiknya Anda beristirahat dulu. Aku ingin keluar sebentar," kataku sambil menyampirkan rambut ke belakang telinga, menutupi rasa grogi di hati. Lantas aku beranjak pergi dari hadapannya.
"Cecilia." Dia menahan tanganku saat berjalan melewatinya. "Kau memang yang terbaik. Aktingmu sungguh luar biasa di saat pria tidak terpancing. Tapi di saat pria sudah terpancing, kau ingin pergi meninggalkannya?" Dia mengatakan hal itu sambil memegangi tanganku.
Aku berbalik menghadapnya. "Tuan, aku rasa ...,"
"Aku rasa apa, Cecilia?"
Jackson berjalan mendekatiku. Dia memegang kedua lenganku seraya menundukkan sedikit kepalanya. Wajahnya dekat sekali dengan wajahku ini. Sepertinya dia ingin berbicara dengan jarak bibir yang berdekatan.
Sungguh aku tidak tahu harus bagaimana. Aku seperti tidak bisa kabur dari cengkeramannya. Kami memang belum melakukan apa-apa, tapi hawa memburu itu sudah begitu terasa.
"Aku menyukai gaunmu." Dia lalu memegang bahuku. "Tapi aku lebih suka jika diturunkan talinya." Dia lalu menurunkan tali gaunku.
"Tuan—"
"Ssst." Dia menyumpal bibirku dengan jari telunjuknya. "Kau masih ingat jika pernah mengemut jari ini?" Dia seperti mengingatkanku.
Hangat napasnya begitu terasa di pipiku. Dia lantas menyingkapkan rambutku ke samping dengan perlahan-lahan. Terasa sekali jari-jemarinya begitu lembut menyentuh permukaan kulit leherku. Dan entah mengapa aku malah terpejam di saat jemarinya melewati tengkuk leherku. Seolah sedang menikmati setiap sentuhan darinya.
"Dadamu sungguh indah. Bolehkah hanya aku yang berhak atasnya?" Dia berbisik di telingaku.
Tubuhku merinding, bisikan lembut darinya seolah memompa laju jantungku. Kini jantungku berdetak kencang karena ulahnya. Ditambah lagi jari-jemarinya seperti sengaja menggelitik tengkuk leherku. Aku jadi kesulitan mengendalikan diri.
__ADS_1
"Tuan."
"Cecilia ...."
Dia memegang lembut wajahku dengan kedua tangannya. Dia lantas mendekatkan bibirnya ke bibirku. Entah mengapa aku tidak bisa bergerak saat ini. Dia seperti magnet yang mengunci tubuhku agar tidak bisa lari. Pelan tapi pasti, bibirnya semakin mendekati bibirku. Hingga hangat napasnya terasa begitu memburu. Dan akhirnya hanya dengan sedikit gerakan lagi saja, bibir kami dapat bertemu. Aku pun memejamkan kedua mata ini.
Suara itu?
Di tengah suasana yang hampir menghanyutkan, aku mendengar dering ponselnya. Padahal sedikit lagi kami bisa berciuman. Lantas saja kubuka kedua mataku. Kulihat dirinya seperti enggan untuk mengangkat telepon itu. Tapi akhirnya dia mengangkatnya juga.
"Halo?" jawabnya.
Entah apa yang dibicarakannya di dalam telepon, aku merasa saat ini adalah waktu yang tepat untukku lari. Atau setidaknya, aku bisa mengulur waktu dengan berpura-pura pergi ke mana dulu. Lantas aku beranjak pergi. Namun, di saat itu juga dia menahan tanganku.
Tuan, kau ...?!!
Pegangan tangannya sungguh erat. Dia seolah tidak menginginkan aku pergi dari sini. Dia masih terus saja menelepon sambil memegangi tanganku. Sampai akhirnya dia mematikan sambungan teleponnya. Dia lalu beralih kepadaku.
"Cecilia, kau membuatku gemas." Dia mencubit kedua pipiku.
"Tuan—"
Kutelan ludahku, kurasakan atmosfer sekitar berubah kelam saat dia memaksaku untuk tetap bersamanya. Namun sesaat kemudian, kurasakan suasana berubah begitu cepat saat dia menarik pinggulku. Dia mendudukkan ku ke atas pangkuannya.
"Aku tidak mempunyai borgol untuk menahanmu saat ini. Jadi temani aku mengirim email sebentar."
Kami duduk di depan meja laptop dengan posisi aku duduk di atas pangkuannya. Dia lalu mengirimkan email dengan kedua tangan yang mengunciku dari sisi kanan dan kiri agar tidak bisa lari. Hangat napasnya begitu terasa di lengan ini.
Aku tahu sekeras apapun usahaku untuk kabur, malam ini dia tidak akan membiarkanku lolos. Dia sudah dipenuhi oleh hasratnya akan diriku. Dia menginginkanku. Aku pun seperti terjebak ke dalam perangkap sendiri. Aku tidak bisa lari.
"Selesai," katanya setelah mengirim email. "Kau tidak mandi, Cecilia?" tanyanya seraya melihatku dari samping.
"Em, baiklah. Aku mandi." Aku beranjak bangun darinya. Tapi... "Tuan!" Tiba-tiba saja dia menarik tubuhku kembali, memelukku lalu mengangkat tubuhku ke atas kasur.
__ADS_1
"Cecilia, sudah tidak ada waktu lagi." Dia melepas handuknya di depanku.
Astaga! Astaga!
Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Lekuk tubuhnya begitu polos tanpa tertutupi sehelai benang pun. Dia melemparkan handuk itu ke lantai lalu merendahkan tubuhnya untuk mendekatiku. Kedua mataku pun berkelap-kelip saat melihat dirinya semakin mendekat ke arahku. Dia bagai pemburu yang tidak akan melepaskan mangsanya malam ini.
"Kau tahu, Cecilia. Kau bagai ikan yang sudah menggigit pancingan tapi tidak berani memakan umpannya." Dia berkata lalu mencengkeram kedua tanganku.
"Kak Jackson, tolong jangan terburu-buru!"
Kata-kata itu terucap begitu saja saat dia berniat mencumbuku. Dia lantas berhenti, tidak jadi mencumbuku.
"Kak Jackson? Boleh juga, aku menyukai nama panggilan itu," katanya lalu menggigit telingaku ini.
"Ah ...."
Kuakui jika tubuhku tegang karena masih mencoba bertahan dari sikap agresifnya. Aku mencoba bertahan dari setiap sentuhannya. Tapi semakin bertahan, dia semakin liar mempermainkanku. Hingga akhirnya kedua tanganku lemas di cengkeramannya.
Sorot mataku dipenuhi oleh pesonanya. Tubuh maskulinnya, harum tubuhnya. Seluruh otot-otot yang membentuk tubuhnya seolah menghipnotisku. Ditambah lagi malam ini dia bisa merayuku. Merayu dengan tutur perilaku yang tidak seperti biasanya.
Ini adalah tabiat aslinya. Penaklukan yang dia lakukan padaku bukan seperti penaklukan seorang bos ke asisten pribadinya. Melainkan penaklukan seorang pejantan terhadap betinanya. Hal ini dilakukannya secara alami dan tidak dibuat-buat. Aku bisa merasakannya.
"Cecilia, tubuhmu membuatku menggila!"
Dia menurunkan paksa gaunku hingga tersingkaplah apa yang selama ini aku sembunyikan darinya. Dua bukit ranum dengan tahi lalat merah di tengahnya, membuatnya menelan ludah berulang kali.
"Cecilia, kau milikku."
Kata-kata itu lantas kudengar. Mungkin dia sudah benar-benar mabuk malam ini. Dia kemudian menyapu dadaku dengan bibirnya. Perlahan-lahan hingga getaran kecil itu kurasakan dari dalam tubuhku. Hangat dan geli bercampur menjadi satu saat bibirnya bergerilya di permukaan dada ini.
"Kak Jackson, emmh ...."
Dia seperti mengetahui apa yang kuinginkan. Aku tidak ingin terburu-buru dalam melakukan permainan. Hingga akhirnya dia memainkan perannya dengan baik. Dia membuatku terjerumus ke dalam permainannya.
__ADS_1
"Kak Jackson, geli. Sudah ... ah!"
Dia mencumbui dadaku dengan perlahan. Menghirup aroma dari setiap inchi dadaku ini. Hingga akhirnya bibirnya berhenti tepat di pucuknya. Dia lantas menghirupnya, menciumnya, mungkin berniat mempermainkannya dengan irama yang menggila. Sontak tubuhku menggeliat sendiri, namun aku tidak bisa lari. Kedua tanganku masih berada di cengkeramannya.