
Apa yang harus kukatakan?
Aku bingung saat pertanyaan itu diajukan. Pertanyaannya simpel, tapi jawabannya terasa sulit. Jika jujur bertemu dengan Hadden, Jackson pasti marah padaku. Bisa-bisa janji kebebasan itu tidak jadi kudapatkan. Tapi jika berbohong, aku khawatir dia sudah mengetahui jika bertemu dengan Hadden. Jadi ... kuputuskan untuk mengambil jalan tengahnya saja.
"Aku habis dari luar, Tuan. Membeli makanan. Kita makan bersama, ya?" kataku lalu berjalan melewatinya, menuju dapur kecil yang ada di apartemenku ini.
Hatiku sungguh dag-dig-dug tak karuan saat berpapasan dengannya, rasa-rasanya jalanku seperti sempoyongan. Aku tidak bisa mengendalikan sikap tubuhku saat berbohong padanya. Di saat itu dia juga memegang lenganku.
"Tuan?!" Aku pun terkejut saat dia menahanku.
Jackson berbalik menghadapku. "Sampai kapan kau akan terus berbohong, Cecilia?" tanyanya, yang sontak membuatku gugup seketika. Pertanyaan Jackson seolah-olah sudah mengetahui jika aku habis dari mana.
"Tuan, aku membeli makanan. Sungguh. Aku—"
Belum sempat meneruskan kata-kata, Jackson menarik tubuhku ke pelukannya dengan cepat. Dia mencium bibirku, seperti sedang mencurahkan perasaan yang ada di hatinya. Kedua tanganku dikalungkan di lehernya. Jackson menuntunku agar memeluknya. Saat itu juga aku terpaku dengan sikapnya. Dia menciumku seolah-olah tidak ada yang boleh memilikiku selain dirinya.
Tuan, ciuman ini ....
Lantas aku ikut memejamkan mata, merasakan kehangatan bibirnya yang menyentuh bibirku. Aku mencoba membalas ciumannya yang memburu, terkesan seperti orang yang tengah cemburu. Aku mencoba mengimbanginya walaupun tak lama. Karena Jackson segera melepas ciumannya dari bibirku.
"Kau bilang akan patuh pada suamimu. Tapi, kenapa tidak menunggunya pulang?" tanyanya yang membuat degup jantungku melaju kencang.
Patuh pada suami? Apa maksud dari perkataannya?
Aku tidak tahu mengapa Jackson mengucapkan kalimat itu padaku, seperti bermimpi saja. Aku tak percaya dengan apa yang kudengar. Rasa-rasanya aku harus pergi ke THT untuk memeriksa kesehatan telingaku ini.
"Tuan, Anda ...?"
Jackson berjalan menuju sofa. Dia membuka bungkus rokoknya yang baru. Dia menghidupkan puntung rokoknya seraya berdiri, melihat ke arahku.
"Mau aku yang membuang makanan itu atau membuangnya sendiri?" Dia membuatku kaget.
"Tuan, kenapa harus dibuang? Makanan ini tidak salah," kataku.
"Cecilia, tidak cukupkah hanya diriku?" Pertanyaannya seolah-olah membuatku merasakan angin segar.
__ADS_1
"Tuan, aku tidak mengerti maksud dari perkataanmu. Bisakah diperjelas? Apa ini tentang hubungan kita yang tanpa status?" tanyaku seraya melihat ke arahnya.
"Kau ingin status?" Dia balik bertanya padaku.
"Tentu." Tentu saja aku mengangguk, mengiyakan.
Dia terdiam sejenak. "Aku tidak bisa memberikannya, Cecilia," katanya yang sontak membuatku kecewa.
"Kenapa?" tanyaku kembali dengan hati yang terluka.
Jackson diam lalu mengeluarkan ponsel pintarnya. Dia memutar sesuatu untuk kudengarkan. Tak lama kemudian, kuketahui sesuatu apa yang diputar ulang olehnya itu.
"Kapan kita bisa bermalam, Cecilia?"
Astaga! Suara itu?!!
Aku begitu kaget saat mendengar rekaman suara Hadden di restoran tadi. Ternyata Jackson telah mengetahui jika aku bertemu dengan paman istrinya. Kulihat dia mengembuskan asap rokoknya ke arahku yang sedikit jauh darinya. Tapi, aura kecemburuan itu begitu kurasakan darinya.
"Jika kau mau menjadi wanitaku, tiga puluh milyar akan kuberikan cuma-cuma untukmu. Bagaimana?"
"Hanya untuk menjadi wanitamu? Tidak ada pekerjaan lain?"
"Tuan, maafkan aku. Aku hanya berlagak seperti Cecilia yang dulu. Sungguh." Aku mencoba meyakinkannya.
Jackson diam, dia kembali ke sifat aslinya yang dingin. Dia terus menghisap puntung rokoknya dan membiarkan aku memeluknya. Kusadari jika aku tidak dapat bermain-main dengannya.
Tuan, kenapa diam saja?
Beberapa menit aku memeluknya, dia tidak juga membalas pelukanku. Sampai satu puntung rokoknya habis, dia baru melepaskan pelukanku. Dia seperti tidak ingin kupeluk. Dia berjalan menjauh lalu duduk di sofa paling ujung.
"Aku tidak suka bekasan orang, Cecilia." Dia duduk lalu memainkan ponsel pintarnya.
Aku mendekatinya. "Tuan, maafkan aku," kataku seraya duduk di dekatnya.
Dia menoleh ke arahku. "Kau selalu meminta maaf. Apa hidupmu selalu mengharap belas kasihan orang?" tanyanya seperti membunuhku.
__ADS_1
Tuan, perkataanmu sungguh membuatku sakit hati.
Aku menunduk di sampingnya. Kuakui jika telah berbuat kesalahan karena telah berbohong padanya. Kubiarkan Jackson memainkan ponsel sedang aku duduk termenung di sisinya. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Tapi, kalau dipikir-pikir ada sesuatu hal yang mengganjal di hatiku. Aku dan Jackson belum mempunyai status resmi, tapi kenapa dia seperti marah saat aku bertemu dengan pria lain? Seolah-olah tidak ingin aku bersama yang lain.
"Tuan, apa kau cemburu?" tanyaku seraya menoleh ke arahnya.
Dia hanya diam sambil melirikku. Entah apa yang ada di dalam pikirannya.
"Kuakui jika tadi bertemu dengan Hadden. Aku melakukannya juga berdasarkan perintah darimu. Kau sendiri yang memintaku untuk tetap menjadi Cecilia yang mereka tahu, bukan? Jadi aku menemuinya. Apa aku salah?" tanyaku lagi seraya menoleh ke arahnya.
Jackson mengembuskan napasnya dengan berat. Dia beranjak berdiri. "Aku hanya ingin kau menjadi milikku," katanya lalu berjalan menjauh.
"Tuan!" Seketika aku berdiri lalu menahannya. "Jika kau ingin aku hanya menjadi milikmu, maka berikan aku status," pintaku padanya.
Jackson berbalik ke arahku. "Kau menuntutku, Cecilia."
Dia seperti keberatan akan hal yang aku pintakan. Dia tidak bisa memberikan status kepadaku. Di saat itu juga kusadari jika dia hanya sebatas ambisi untuk memilikiku tapi tidak untuk menikahiku. Sedangkan yang kubutuhkan adalah kepastian akan hubungan.
"Tuan, di dalam dunia bisnis ada yang namanya hubungan saling menguntungkan sehingga membuat kedua belah pihak tidak merasa dirugikan. Tapi kenapa dalam hubungan ini tidak bisa terjalin hal itu?" Aku merasa sedih saat mengetahui kenyataan yang kuhadapi.
"Status itu tidak penting, Cecilia." Dia dengan mudah mengatakannya.
Kulihat Jackson menelepon seseorang.
"Kirimkan makanan terbaik yang kalian punya ke apartemen lantai enam nomor enam puluh enam," katanya berbicara di telepon.
"Aku pesan sepuluh porsi yang berbeda Tagihan bisa dimasukkan ke akunku," katanya lagi.
"Denah lokasi sudah kirimkan. Aku tunggu makanan itu sebelum jam sembilan malam." Dia kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Kulihat jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan, tapi Jackson meminta makanan sampai sebelum jam sembilan. Dia seperti sedang mengigau saja. Tak kira-kira memberi perintah kepada orang.
Tuan, apa aku hanya menjadi bahan ambisimu?
Aku berdiri di hadapannya dengan perasaan bercampur aduk. Dua kali meminta status, dia tidak juga menghiraukannya. Jackson malah menelepon salah satu restoran dan meminta makanan diantarkan ke apartemenku. Sungguh aku bingung memahami bagaimana perasaannya. Apakah dia benar menyayangiku? Atau hanya sebatas ambisi karena tidak ingin direbut oleh Hadden? Aku tidak tahu sebenarnya apa yang ada di dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku sudah memesan makanan untukmu. Yang itu buang saja." Dia lalu berjalan melewatiku.
Jackson masuk ke dalam kamarku. Dia seperti memberi tahu jika ingin bermalam di sini. Tapi, hatiku sedang tidak bisa menerimanya. Hatiku terluka karena mengetahui kenyataan yang kuhadapi. Sungguh aku menginginkan kepastian darinya.