
Malam harinya...
Aku sudah memasukkan semua pakaian ke dalam koper, sehingga tidak ada pakaian yang tersisa di dalam lemari, terkecuali seperlunya. Aku rasa harus segera pergi dari kota ini. Aku tidak mempunyai alasan untuk tetap tinggal di sini. Aku sudah kehilangan semuanya.
Sejak pulang dari restoran Angela, aku membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Untung saja masih bisa sampai dengan selamat ke apartemen. Jika tidak, mungkin cerita ini tidak bisa kulanjutkan lagi.
Jujur saja aku masih tak percaya jika Jackson akan berkata sekejam itu padaku. Aku tak percaya jika dia akan berubah secepat ini. Dia bersikap amat dingin, seolah tidak peduli denganku. Dan sekarang di hatiku ini hanya ingin membalas dendam kepadanya. Aku ingin membuat Jackson sengsara dan menderita dalam hidupnya. Karena dia telah menyia-nyiakan hati dan perasaanku.
Aku merasa alur cerita ini seperti tidak berpihak kepada Jackson. Seolah sang Penulis Skenario sedang menunjukkan jika bukan dirinya lah yang terbaik untukku. Lalu siapa? Siapa pria yang akan dikirimkan untuk menemani sisa-sisa usiaku? Saat ini hati dan pikiranku kacau-balau tak menentu. Aku seperti kehilangan semuanya dalam hidupku.
Aku ingin mengakhiri drama ini. Tidak mau terlarut lebih lama dalam penantian dan rindu. Jackson tidak pantas untuk mendapatkan cintaku. Dia telah mengusirku. Rasanya aku butuh seseorang untuk melampiaskan amarahku. Tapi siapa? Kusadari kembali jika diriku hanya sebatang kara. Tidak punya siapa-siapa selain Angela yang masih setia.
"Hah ... lelahnya."
Kini aku duduk di sofa tamu sambil membesarkan suhu AC ruangan. Aku merasa kepanasan setelah merapikan semua pakaianku ke dalam koper. Dan kini tinggal lelahnya saja. Tubuhku ikut berkeringat sehingga sepertinya aku harus segera berganti pakaian. Lantas kukenakan kaus berwarna pink yang pas di ukuran tubuhku. Kusemprotkan parfum agar aroma tubuhku tidak terlalu menyengat. Aku kelelahan.
"Eh? Ada yang datang?"
Tiba-tiba saja ada yang memencet bel apartemenku. Dengan segera aku mengelap wajah dengan tisu basah lalu melangkahkan kaki menuju pintu. Mungkin saja Angela yang datang untuk mengantarkan paspor dan tanda pengenalnya untukku.
Aku pun membuka pintu. Pintu terbuka dan memperlihatkan siapa yang datang. Dan ternyata ... dia yang datang ke apartemenku malam ini.
"Selamat malam, Cecilia." Pria itu tersenyum kepadaku. Kulihat dia menjinjing roti dan juga susu. Sepertinya memang membawakannya untukku.
"Tuan ...?" Entah mengapa hatiku merasa sedih saat melihat dia yang datang.
"Aku bawakan roti dan susu untukmu. Bagaimana kondisimu sekarang? Apa sudah baikan?" tanyanya begitu perhatian padaku.
Saat itu juga aku tidak bisa lagi menahan rasa sedih ini. Mungkin dialah pria yang Tuhan berikan untuk menemani sisa-sisa usiaku. Jujur saja aku merasa malu sendiri kepadanya. Selama ini aku selalu mengabaikannya. Tapi selama ini juga dia selalu ada untukku. Rasanya aku tidak mampu untuk terus berdiri di hadapannya.
"Tuan ...."
Segera saja aku menghambur ke pelukannya. Di depan pintu apartemen aku memeluknya. Seolah ingin mendengar detak jantungnya yang telah setia menemaniku. Kurasakan dia terperanjat dengan sikapku. Ini memang pertama kalinya bagiku memeluknya. Memeluk tanpa diminta atau dipaksa terlebih dahulu. Ini atas kesadaranku sendiri.
__ADS_1
"Cecilia, ada apa?"
Perlahan-lahan kurasakan dia membalas pelukanku. Dia mengusap rambutku sambil memegang punggungku ini. Aku pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mulutku seakan terkunci agar tidak menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Hatiku meminta untuk tetap menjaga perasannya.
"Tuan, terima kasih."
Kurasakan kehangatan tubuhnya yang menyelimuti tubuhku dari dinginnya udara yang menusuk kulit. Dia memberiku kehangatan di tengah badai salju yang hampir membekukanku. Dia matahariku.
"Cecilia, sudah jangan menangis, ya. Ada aku di sini," katanya lalu memberatkan kepalanya di kepalaku.
Aku mengangguk. Aku tahu hal yang terjadi amat menyakitkan bagiku. Tapi aku berharap dia masih memberiku kesempatan untuk menebus kesalahan. Aku membutuhkannya untuk menjalani hidup ini.
Beberapa menit kemudian....
Semilir angin malam menemaniku yang sedang duduk bersama Alexander di teras apartemen. Pria yang selama ini kuabaikan ternyata tak jemu-jemu untuk meminta hatiku. Dia selalu ada di setiap hari-hariku. Sedang Jackson hanya bisa menyakitiku. Jadi jangan salahkan aku jika mulai membuka hati untuknya.
Sampai saat ini belum terbukti apa yang dikatakan oleh Jackson adalah benar. Sehingga tidak seharusnya aku menghakiminya sebelah pihak. Karena bagaimanapun setiap manusia mempunyai hak untuk mencinta dan dicinta. Begitu juga dengan dirinya dan diriku. Kami berhak untuk menentukan pilihan.
"Jadi kau ingin pergi?" Pria bersweter gelap itu bertanya setelah melihat koper besar di depan kamarku.
Alexander menghela napasnya. Dia lalu mendekatiku. Dia kemudian melakukan sesuatu yang membuatku kaget. Dia berlutut di depanku.
Tuan?!!
Saat itu juga aku terperanjat, tak percaya mengapa dia bisa sampai melakukan hal ini. Aku bukanlah seorang putri yang amat berharga. Tapi dia menunjukkan rasa hormatnya kepadaku.
"Cecilia, kenapa harus pergi? Masih ada aku di sini. Kau ingin meninggalkanku?" tanyanya yang membuat hatiku bertambah sedih.
Kedua tangannya menggenggam tanganku ini. Hangat tangannya begitu terasa mendamaikan hatiku. Dia benar. Tidak seharusnya aku pergi karena masih ada dirinya di sini. Tapi apakah dia bisa menerima keadaanku nantinya?
"Besok aku berniat mengundurkan diri dari Angkasa Grup. Aku ingin mencari pekerjaan yang baru di luar negeri," kataku padanya.
Dia tersenyum seraya menunduk, lalu menatapku kembali. "Bekerja saja denganku. Tidak perlu sampai pergi ke luar negeri. Jikalau harus pergi, nanti bisa bersamaku. Terkadang aku juga ke luar negeri untuk urusan pekerjaan. Jadi jangan terbawa emosi." Dia mencubit pipiku.
__ADS_1
Tuan ....
Kusadari perasaanku terhadap Jackson menghalangiku untuk melihat pria lain. Di hatiku hanya ada namanya seorang. Tapi, setelah dia mengucapkan kata-kata itu, semua persepsiku tentangnya hilang seketika. Dia tidak bisa memegang ucapannya. Dan aku rasa memang sudah saatnya bagiku untuk melupakan si pria berwajah muram itu.
"Nanti kalau aku di sana, kau malah tidak bekerja," kataku jujur saja.
"Hahaha." Alexander tertawa. "Kau bisa saja. Tapi aku akan lebih semangat jika ada dirimu. Serasa ada yang harus kupenuhi kebutuhannya." Dia menggodaku.
"Tuan, kau menyebalkan!" Aku pun mencoba memukul lengannya. Tapi dia dengan cepat menahan tanganku.
Tuan ....
Dia mencium tanganku ini. "Sudah ya, jangan sedih lagi. Masih ada jalan lain untuk tersenyum. Bunciiiis," katanya.
"Hah?!" Aku pun jadi bingung.
"Katakan buncis, Cecilia," pintanya.
"Buncis." Aku pun menurutinya.
"Nah, begitu. Tersenyumlah, Putri." Ternyata dia menghiburku.
Air mata ini serasa ingin menetes saat dia menghibur hatiku. Rasanya ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk membalas kebaikannya. Aku merasa sedikit lega setelah kedatangannya ke sini, seolah tidak merasa sendiri lagi.
.........
...When Cecilia Crying...
...Alexander...
__ADS_1