Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Bangkit


__ADS_3

Dua jam kemudian...


Hari ini aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari Angkasa Grup. Aku sudah tidak bisa menoleransi sikap Jackson terhadapku. Aku ingin bahagia meski tanpanya. Ya, walaupun sesuatu dariku telah terenggut olehnya. Anggap saja pembayaran atas transaksiku yang ketahuan kemarin. Aku rasa itu sudah cukup untuk menebus kesalahanku.


Kini aku sedang bersiap-siap sebelum berangkat ke Angkasa Grup. Kukenakan blus putih berenda yang pendek lengannya. Kubuat poni di rambutku dengan polesan make up ceria di wajahku. Aku tidak boleh menunjukkan kesedihan di hadapan siapapun. Tidak boleh terlihat lemah di mata orang lain. Karena yang peduli akan sedih, yang benci akan kegirangan. Jadinya kutunjukkan jika aku bahagia agar orang-orang yang membenciku semakin menderita melihat kebahagiaanku.


"Pakai lipstik oranye saja."


Kupoleskan lipstik berwarna oranye lalu kukecap-kecap menggunakan bibirku. Kusemprotkan juga parfum ke sekujur tubuh agar lebih percaya diri. Aku pun siap berangkat ke Angkasa Grup untuk menyerahkan surat pengunduran diri ini.


"Baiklah, sudah selesai."


Lantas setelah berdandan aku segera menyiapkan map untuk surat pengunduran diriku. Aku sudah menulisnya sejak pagi dan sengaja menggunakan tulisan tangan agar Jackson percaya jika aku benar-benar ingin mengundurkan diri. Karena bisa saja dia mengira ketikan komputer itu hanya akal-akalan belaka. Jadi kutegaskan padanya melalui surat ini jika aku ingin melupakan semuanya. Aku tidak peduli lagi terhadapnya.


"Baiklah, kita berangkat."


Semuanya sudah siap. Aku pun bergegas melangkahkan kaki menuju parkiran apartemen. Hari ini hari Jumat yang mana besok adalah akhir pekan untukku. Jadi kunikmati hari sebelum melancarkan aksiku selanjutnya.


Minggu nanti aku akan datang ke acara pesta pantai milik Queen Club di selatan kota. Aku jadi tidak sabar menantikannya. Apakah Alexander akan berada di sana juga? Sepertinya aku harus menyusun rencana sebelum pergi ke sana. Mungkin dengan pura-pura memintanya menemaniku berbelanja pada hari itu. Kira-kira dia mau apa tidak, ya?


Di perjalanan...


Sekitar setengah perjalanan, aku mendapatkan telepon dari Angela. Aku pun segera menepikan mobil agar aman dari kendaraan yang melintas. Kuangkat telepon darinya lalu kudengarkan dengan saksama apa yang dia katakan. Dan ternyata, dia sudah berhasil mendapatkan tiket masuk ke pantai yang ada di selatan kota.

__ADS_1


"Tiketnya hanya satu. Ini juga suamiku yang dapat. South Beach Exotic nama pantainya. Nanti langsung masuk saja untuk menemui penjaga pantai."


"Eh?!" Aku jadi teringat sesuatu. "Pantai tempat turis itu, ya?" tanyaku lagi.


"Iya. Tapi tidak di area umum. Lebih ke arah timur dari pintu masuk. Ada banyak penjaga yang akan memeriksamu. Kau dilarang membawa senjata tajam dan juga ponsel berkamera. Hanya boleh membawa telepon selular biasa," kata Angela lagi.


"Hah?! Jadi aku tidak bisa mendapatkan bukti, dong?" Aku berkecil hati.


Angela menghela napas. "Tenang saja, Cecilia. Aku akan membantumu untuk merekam semua kejadian di situ. Aku punya kamera mini yang tidak bisa terdeteksi alat keamanan." Dia meyakinkanku.


"Bayar lagi, tidak?" tanyaku.


Angela tertawa. "Hahahaha. Tidak. Tidak perlu. Pakai saja. Tapi kau tetap harus berhati-hati di sana. Bersikaplah seperti seorang tamu undangan. Jangan bersikap seperti penguntit. Nanti kau malah ditendang paksa oleh penjaga di sana. Dan malunya tidak akan bisa dilupakan seumur hidup," kata Angela lagi.


Aku mengerti. "Baiklah. Tapi apakah semua pengusaha kaya di kota ini juga ikut hadir di sana?" tanyaku kembali.


"Em, baiklah. Kalau begitu nanti akan kuhubungi kembali. Aku ingin menyelesaikan urusanku terlebih dahulu," kataku mengiyakan.


"Hah, oke. Selamat berjuang untuk masa depan, Adikku." Angela memanggilku dengan sebutan adik.


Saat itu juga aku tersenyum bahagia. Aku merasa mempunyai seorang kakak di sini. Padahal kenyataannya kami berbeda ayah dan ibu. Tapi sudah seperti saudara kandung saja.


Lantas akhirnya kami akhiri pembicaraan ini. Aku pun kembali melajukan mobilku menuju Angkasa Grup. Aku akan menyerahkan surat pengunduran diri ini.

__ADS_1


Dua puluh menit kemudian, sesampainya di Angkasa Grup...


Aku datang. Kedatanganku tentu saja disambut oleh semua karyawan Angkasa Grup. Mereka meminta maaf karena kemarin tidak bisa mencegah hal yang terjadi. Mereka mengatakan tidak tahu jika kedatangan Zea akan sampai membuatku masuk rumah sakit. Mereka pun meminta perlindungan padaku dari kekejaman Jackson. Namun, aku bilang hari ini resmi mengundurkan diri dari Angkasa Grup. Sontak mereka terbelalak mendengarnya.


Tangis haru pun menyelimuti suasana kantor pagi ini. Baru kali ini aku dikerubungi orang banyak yang meminta agar aku tidak pergi. Aku merasa mempunyai keluarga yang selama ini kuidam-idamkan. Walaupun pada kenyataannya mereka hanya sebatas rekan kerja. Tapi sepertinya hal yang terjadi pagi ini cukup untuk menghibur hatiku.


Lantas aku meneruskan langkah kaki untuk masuk ke dalam ruanganku. Meletakkan map pengunduran diri ke atas meja kerjaku. Sebuah meja yang menjadi saksi atas mengalirnya darahku.


Semua sudah usai. Perjuanganku sampai di sini. Mungkin aku terlalu lemah untuk menghadapi peperangan. Maafkan aku, Cecilia.


Aku meminta maaf kepada diriku sendiri karena tidak bisa berjuang lebih jauh lagi. Rasa sakit akibat diabaikan dan diusir itu begitu merenggut jiwaku. Wanita mana yang bisa bersabar jika berhari-hari tanpa kabar dari prianya. Sulitkah bagi seorang pria memberi kabar wanitanya walau hanya sehari sekali?


Everything is gonna be OK, Cecilia.


Kutatap sekeliling ruanganku. Kuusap pelan kursi kerjaku. Saat itu juga air mataku jatuh membasahi pipi. Ternyata harus sampai di sini perjuanganku untuk bersamanya. Aku mesti menata hidup kembali yang sudah terlanjur porak-poranda. Aku merasa membutuhkan waktu sejenak dari lelahnya hati.


Selamat tinggal. Semoga bisa bertemu kembali.


Lantas aku keluar dari ruangan lalu berpamitan kepada semua karyawan Angkasa Grup. Setelahnya aku pun beranjak pergi meninggalkan kantor ini. Aku akan kembali menjalani hidup tanpa rasa sesal di hati. Bagaimanapun ini risiko pekerjaanku yang dulu. Dan aku ingin mencari pekerjaan yang baru.


Aku juga meminta kepada semua karyawan Angkasa Grup untuk tidak bilang ke Jackson jika aku mengundurkan diri. Biarlah dia yang mencariku sendiri. Toh, tidak ada hubungan lagi di antara kami. Dan aku harus tahu diri untuk mengharapkannya kembali.


Aku tetap harus bertahan hidup. Kebahagiaan itu pasti bisa kudapatkan. Walaupun tanpa dirinya yang pernah mengisi hari-hariku.

__ADS_1


Biarkanlah berlalu apa yang sudah terjadi. Kini saatnya untuk membuka lembaran baru. Rasa sakit hanya sesaat. Aku yakin itu. Lambat laun hati dan pikiranku pun pasti bisa menerima kenyataan.


Inilah hidup. Kadang suka kadang duka. Tapi aku Cecilia tidak akan menyerah begitu saja. Akan kuarungi hidup ini dengan sekuat tenaga dan sepenuh hatiku. Demi masa depan yang lebih cerah lagi.


__ADS_2