
Cecilia, bertahanlah.
Aku masih di sini dan aku harus kuat menghadapi hal apapun. Semua ini demi janin di dalam kandunganku. Aku tidak boleh menyerah pada keadaan. Aku harus berdiri tegar bagaimanapun kencangnya angin menerpa. Aku yakin pasti bisa.
Menjelang malam...
Proses akuisisi Angkasa Grup sudah selesai. Seluruh administrasi perusahaan juga telah kupegang. Kini tinggal giliran Jackson yang melakukan rapat dengan seluruh pemegang saham dan kepala divisi untuk meminta tanda tangan peresmian. Pastinya Jackson akan memeriksa hasil final akuisisi ini sendiri sebelum peresmian dilakukan. Dan aku harap kinerjaku memuaskan untuknya.
Petang ini juga aku akan mengantarkan dokumen akuisisi langsung kepada Jackson. Kebetulan hari ini kami belum sama sekali bertemu. Mungkin Jackson sedang mengurusi kabar yang sedang beredar. Selama dia belum memerintahkan apapun padaku, selama itu juga aku masih bisa bersantai. Seperti saat ini yang sedang meminum kopi.
Akhirnya selesai juga.
Kuakui satu minggu ini bekerja ekstra untuk mengejar waktu. Alhasil dengan dibantu Aurel, pekerjaan bisa selesai lebih cepat dari target. Aurel memang bisa diandalkan dalam hal pekerjaan. Dia begitu gigih dan pintar mengatur sesuatu. Termasuk memimpin proses akuisisi ini bersama karyawan Angkasa Grup. Ya, terlepas dari mulut pedas dan wajahnya yang jutek. Aku sendiri sih tidak mempermasalahkannya selama dia bisa bekerja.
Petang ini tugasku memang sudah selesai. Saatnya untuk menyerahkan dokumen final akuisisi kepada Jackson sendiri. Lantas aku segera bersiap-siap untuk menuju ke sana. Kurapikan meja kerjaku lalu kubawa dokumen beserta tas kerjaku. Segera saja aku keluar ruangan.
Sudah sepi.
Saat ini memang sudah pukul enam petang. Jadi pantas saja jika keadaan kantor sudah sepi. Lampu-lampu kantor juga sudah dimatikan. Hanya ada lampu emergency yang masih hidup dan seorang office boy yang sedang bersih-bersih. Aku pun menyapanya lalu segera melangkahkan kaki menuju lantai satu. Aku akan menaiki taksi untuk sampai ke kantor Jackson petang ini.
Satu jam kemudian, sesampainya di kantor Jackson...
Kulihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh malam. Aku pun keluar dari taksi lalu segera membayar ongkos perjalanan. Kupandangi sekeliling Samudera Raya yang tampak amat sepi. Dan kulihat ruangan Jackson lampunya masih menyala. Itu berarti dia masih ada di sana.
__ADS_1
Kami memang tidak berkomunikasi sejak tadi siang. Biasanya Jackson selalu mengingatkanku untuk makan siang dengan makanan sehat. Tapi hari ini mungkin dia sedang sibuk karena kabar itu. Jadi aku juga mencoba memakluminya.
Sedang apa ya dia di sana?
Kulangkahkan kaki masuk ke dalam kantor Samudera Raya. Kulihat suasana kantor sudah tampak sepi. Aku pun segera menuju ruangan kerja Jackson. Tapi entah mengapa hatiku berdebar-debar malam ini. Mungkinkah aku sudah sangat rindu padanya?
Tuan, aku datang.
Kulangkahkan kaki pelan-pelan agar kedatanganku tidak disadari olehnya. Sesampai di depan pintu ruangan, aku pun segera membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Aku ingin memberi kejutan kepadanya. Namun, saat pintu terbuka saat itu juga hatiku terasa pecah berkeping-keping. Tenyata aku melihat ada Zea di dalam sana. Dia sedang bergelayut manja dengan Jackson.
Tuan ....
Aku tak percaya dengan yang kulihat ini. Saat membuka pintu, kulihat Jackson mendorong Zea sampai jatuh ke meja kerjanya. Kedua kaki Zea pun terbuka lebar di hadapan Jackson. Sehingga belahan gaun kimononya terbelah sampai ke pangkal paha. Di saat itu juga pikiranku ke mana-mana melihatnya.
Apa yang akan mereka lakukan?
"Cecilia?" Jackson kemudian menyadari kehadiranku.
Di saat itu juga aku seperti kehilangan udara. Dadaku terasa sesak, seakan tidak mampu bernapas. Hatiku hancur berkeping-keping dengan apa yang kulihat. Aku seperti kehilangan hidupku dalam sekejap. Aku tidak tahu harus bagaimana saat ini.
"Cecilia!" Jackson ingin menemuiku. Tapi dia ditahan oleh Zea.
Sebisa mungkin aku pun tersenyum. "Maaf, Tuan. Aku tidak tahu jika ada nyonya Baldev di sini."
__ADS_1
Tanganku gemetaran saat memegang dokumen final akuisisi. Jackson pun seperti menyadari apa yang tengah kurasakan. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, kulihat Zea menoleh ke arahku. Dia berbalik, tersenyum tipis lalu berkata, "Lancang sekali datang tanpa mengetuk pintu," katanya seraya menatap tajam ke arahku.
Otakku seperti tidak dapat berpikir. Melihat pemandangan itu degup jantungku seakan ingin pecah. Rasa sesak melanda seluruh dada hingga hampir menghentikan denyut nadi darah ini. Rasa-rasanya aku ingin berteriak sekencang mungkin.
"Ma-maaf. Aku tidak tahu."
Kakiku bergetar, lututku terasa lemas. Aku tidak tahu harus bicara apa. Bulir-bulir air mata seolah akan segera lepas landas. Aku pun berulang kali menelan ludah lalu memutuskan untuk berpamitan kepada mereka.
"Permisi, Tuan, Nyonya. Maafkan aku," kataku lalu segera menutup pintu.
Dadaku terasa sesak sekali. Aku seperti kehabisan udara. Rasanya begitu menyakitkan saat melihat Jackson seperti itu kepada Zea. Entah apa yang akan mereka lakukan jika aku tidak datang.
Lekas saja aku melangkahkan kaki dari depan ruangannya. Ruangan di mana aku dan Jackson pernah berbicara intens tentang masa depan. Tapi kini ... semua itu hanya tinggal kenangan.
Tuan, kenapa kau melakukan ini padaku?!
Aku bergegas pergi karena tidak bisa berlama-lama di situasi ini. Karena jika dibiarkan, air mataku tidak lagi bisa diajak berkompromi. Aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri. Aku pergi, mengalah dengan keadaan yang tidak kuketahui penyebabnya terjadi.
"Cecilia?"
Tak tahu datangnya dari mana, tiba-tiba saja Clara menegurku saat aku berpapasan dengannya. Tapi aku diam saja, tidak ingin bicara karena hatiku sedang sakit sekali. Aku benar-benar hancur dalam angan yang kubangun sendiri.
Sekuat tenaga aku melangkahkan kaki, pergi dari kantor Samudera Raya. Aku tidak tahu mau ke mana. Kuikuti saja langkah kaki ini. Namun, semakin melangkah pergi, kakiku semakin kuat tertarik magnet bumi, seakan tidak mengizinkanku untuk pergi dari sini. Tapi, keadaan hatiku sedang hancur. Aku tidak boleh menampakkan kesedihan di depan mereka. Aku harus kuat, tegar dan tahan cobaan. Semampu mungkin aku akan melakukannya.
__ADS_1
Cecilia, berjuanglah!
Lantas kukumpulkan sisa-sisa tenaga yang kupunya lalu segera berlari. Aku tidak sanggup jika berlama-lama di kantor ini. Hingga akhirnya aku menemukan sebuah tempat yang tidak jauh dari kantor. Dari kejauhan kulihat tempat itu bisa untuk menyendiri. Aku pun melangkahkan kaki ke sana tanpa peduli dengan kakiku yang memakai hak tinggi.