
"Tuan ...?" Aku pun tak mengerti apa maksudnya.
Dia menatapku lembut sekali. Sampai bayanganku terpantul di bola mata birunya. Sinar bening matanya mampu menghipnotis pikiranku. Aku sampai tidak bisa berpikir saat melihat bayanganku sendiri di matanya. Mungkinkah aku jatuh hati?
"Aku ... aku tidak tahu mengapa. Tapi ... aku merasa selalu bahagia saat melihatmu di sisiku. Bisakah kau terus menemaniku, Cecilia?" Tersirat kesungguhan dari raut wajahnya.
Aku menelan ludah. Tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku masih bingung untuk menjawabnya. Aku baru saja terluka dan tidak ingin menjadikannya hanya sebagai pelarianku saja. Aku ingin sepenuhnya.
Dia kemudian mengusap pipiku ini. Usapan lembut yang membuat jantungku berdebar kencang sekali. Dia mengusap pipiku lalu perlahan-lahan jari-jemarinya itu menyusuri leherku. Tubuhku pun merinding merasakan sentuhannya. Seperti terkena aliran listrik yang menggetarkan setiap saraf di tubuhku. Dia pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Tuan—"
Tiba-tiba saja ada yang membuka pintu lalu melihat keberadaan kami di sini. Aku pun segera menyadari jika ada yang datang ke ruang kerjanya. Lekas-lekas aku menjauhkan diri lalu berpura-pura sibuk sambil membelakanginya. Aku kepergok oleh karyawannya.
"Em, Tuan. Maaf. Aku tidak tahu." Seorang pria berkemeja hijau datang memasuki ruangan dan mengagetkan kami.
Kulihat Alexander menepuk dahinya sendiri. "Aduh ... kenapa datang di saat seperti ini?" Dia menyayangkan kedatangan pria itu.
"Maaf, Tuan. Aku benar-benar tidak tahu. Sungguh! Aku hanya ingin menyerahkan ini. Selamat berakhir pekan." Pria itu pun lekas pergi dari hadapan kami setelah meletakkan map ke atas meja.
Duh, malunya aku.
Aku pun jadi tidak enak sendiri. Hampir saja ketahuan berciuman. Apalagi, bukan? Pastinya Alexander ingin menciumku tadi. Dan bodohnya aku sampai lupa jika masih berada di ruang kerjanya. Mungkin aku juga terbawa suasana sehingga bisa lupa seperti ini.
"Cecilia, maaf ya." Dia kemudian meminta maaf padaku.
"Tak apa, Tuan," kataku yang masih menjauh darinya.
"Ya, sudah. Kita pulang sekarang. Aku bereskan meja kerjaku dulu." Dia mulai merapikan meja kerjanya.
Aku mengangguk, membiarkannya merapikan meja kerjanya. Hampir saja aku terhanyut dengan suasana yang dia ciptakan. Mungkin jika tadi tidak ada yang datang, kami sudah berciuman. Tapi lagi-lagi hal itu tidak terjadi. Sepertinya semesta belum merestui kami. Atau akan ada momen yang indah setelah ini? Entahlah. Jalani saja yang ada. Aku juga sudah mulai merasa nyaman bersamanya.
__ADS_1
Menjelang petang...
Suasana perkotaan bisa dibilang macet saat ini. Padatnya lalu-lintas kendaraan menjelang akhir pekan membuat ibu kota seperti berjalan di tempat. Mungkin seperti itu juga yang dialami olehku sekarang. Bosan menunggu jalanan lancar saat menjelang petang. Padahal aku tinggal duduk diam saja tanpa menyetir mobil. Karena Alexander lah yang menyetirnya.
Mobilku ditinggalkan di kantor CV Permata Indah. Alexander sendiri yang memasukkan mobilku ke garasi kantornya. Sedang sekarang aku berada di dalam mobilnya. Dia ingin mengantarkanku pulang ke apartemen. Tapi belum ada sepertiga jalan, kami sudah terjebak macet di sini.
"Bete, ya?" tanyanya seraya menoleh ke arahku.
Aku menggelengkan kepala. Pura-pura tidak bosan padahal bosan sekali karena ditimpa kemacetan seperti ini.
"Mau mampir ke pasar seni dulu?" tanyanya padaku.
"Pasar seni?"
"He-em. Tak jauh dari sini. Mungkin kau ingin melihat para siswa melatih kemampuan teaternya." Dia menawarkan.
Aku menoleh ke belakang. Kulihat di belakang sudah banyak mobil yang mengantri untuk jalan. Aku rasa jika menunggu sampai ke apartemen akan lama. Jadinya kuambil keputusan saja.
Alexander mengangguk. Dia kemudian menghidupkan lampu sen untuk memutar arah. Kami pun akhirnya keluar dari jalanan macet ini.
"Sudah jangan bete." Dia mengusap kepalaku sambil terus menyetir mobilnya.
"Tidak. Tidak bete. Hanya saja aku lapar," kataku jujur.
Dia tertawa kecil di sampingku. "Mau makan apa? Di pasar seni banyak jajanan pasar. Mungkin kau mau mencobanya." Dia menawarkan kembali.
"Boleh." Aku pun mengangguk.
"Tunggu, ya. Sebentar lagi kita sampai." Dia kemudian memotong jalan dengan masuk ke dalam gang perumahan.
Aku tidak mengerti mengapa setiap kali terkena sentuhannya dadaku ini berdebar sekali. Seperti terkena sengatan listrik yang membuat seluruh saraf di tubuhku terhubung. Sampai sekarang dia juga belum menunjukkan tanda-tanda keinginan biologisnya terhadapku. Apakah dia ingin aku yang memulainya lebih dulu?
__ADS_1
Sungguh setiap wanita pastinya membutuhkan belaian lembut dan kasih sayang dari prianya. Begitu juga denganku yang menginginkannya. Tapi entah mengapa jika bersamanya, aku merasa aneh sendiri. Dia yang bertahan dan aku yang malu-malu. Jadinya tidak pernah bertemu. Padahal kesempatan itu selalu ada untuk kami. Namun ya, memang selalu gagal, sih.
"Itu pasar seninya!"
Alexander menunjukkan padaku pasar seninya.
Kulihat pasar seni ini sejenis tempat untuk berlatih peran dan kegiatan seni lainnya. Saat memasuki halaman parkirnya, kulihat banyak siswa-siswi SMA yang memarkirkan motornya. Di sekeliling tempat ini juga terdapat banyak sekali penjual makanan. Tak jarang juga kulihat muda-mudi yang duduk santai di sini. Sepertinya tempat ini memang menarik sambil menunggu jalanan tidak macet lagi.
Kami kemudian keluar dari mobil. Alexander pun segera mengunci pintu mobilnya. Dia melihat ke sekeliling lalu ke arahku. "Mau makan apa? Di sini banyak yang berjualan." Dia menawarkan.
Tiba-tiba saja aku merasa kehausan. "Tuan, aku mau es krim. Ada?" tanyaku.
Alexander melihat ke sekeliling lagi. "Itu sepertinya ada pedagang es krim. Kita ke sana, ya." Dia mengajakku menuju salah satu tempat yang ada di pinggir pasar seni ini.
Aku mengangguk lalu mengikutinya menuju tempat itu. Kami pun berjalan dengan sedikit berjauhan. Mungkin karena masih sama deg-degan jika bersentuhan. Entahlah. Aku juga tidak tahu hal apa yang kurasakan ini. Setiap kali berdekatan dengannya serasa jantungku ini berdetak tak karuan. Naik-turun terbawa suasana yang diciptakan. Atau mungkin ini hanya perasaanku saja?
"Rasa apa, Cecilia?" tanyanya, saat kami sudah sampai di penjual es krim.
"Campur saja, Tuan," jawabku.
Alexander pun segera membelikan es krim untukku. Rasa strawberry, vanila dan cokelat yang dicampur menjadi satu. Dia membelinya dua. Satu untukku, satu untuknya. Lantas aku pun segera mencicipi es krim ini. Dan ternyata rasanya tidak kalah dengan yang ada di restoran.
Enak sekali jajan di pinggir jalan ternyata.
Kusadari jika aku mulai menyukai caranya menyayangiku. Entah benar atau tidak perasaannya, aku jalani saja. Toh, dia juga belum berbuat macam-macam. Jadi dibawa santai saja. Entah bagaimana ke depannya, mungkin itu juga yang terbaik untukku. Aku tidak merasa keberatan jika dia memang jodohku. Dia sempurna dan menyempurnakan aku.
.........
...Alexander...
__ADS_1