Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Ingin Dimanja


__ADS_3

Pukul sepuluh pagi waktu ibu kota dan sekitarnya...


Menjelang siang ini cuaca tampak cerah dan terasa panas. Aku pun baru sampai di depan sebuah gedung bernama CV Permata Indah. Aku ingin menemui seseorang di sini. Seseorang yang telah setia berada di sisiku. Menemani hari-hariku di rumah sakit, menjaga dan merawatku di tengah-tengah kesibukannya. Dialah Alexander.


Bola mata birunya, rambut pirangnya dan tubuhnya yang begitu sempurna, menarik alam bawah sadarku untuk menemuinya. Seolah-olah jiwa dan ragaku ini digerakkan untuk bertemu dengannya. Entah apa yang akan kulihat di kantornya hari ini, aku mengikuti kata hatiku saja.


Kuparkirkan mobil lalu segera keluar. Kulangkahkan kaki masuk ke dalam kantornya. Hari ini sengaja tidak memberi tahunya jika aku akan datang. Aku ingin memberinya kejutan sekalian ingin tahu apa yang dia lakukan di belakangku. Semoga saja tidak seperti Jackson.


"Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?"


Saat pertama kali datang, sebuah kata sapaan kuterima dari seorang wanita cantik berseragam batik merah. Dia adalah resepsionis kantor ini. Tertera namanya adalah Amelia di ID card yang menggantung. Dia sepertinya masih muda, mungkin usianya masih di bawahku. Seperti anak baru lulus kuliah.


"Selamat pagi. Saya Cecilia ingin bertemu dengan tuan Alexander," kataku padanya.


"Oh, Nona Cecilia." Di seperti mengingat-ingat kembali diriku. "Selamat datang. Sudah membuat janji temu sebelumnya?" tanyanya ramah.


"Sudah," jawabku. "Katanya aku diminta langsung masuk ke ruangannya." Aku berbohong.


"Oh, begitu. Baiklah. Silakan masuk saja, Nona. Ruangannya sudah tahu, kan?" Resepsionis itu ternyata masih ingat padaku.


Aku mengangguk. "Terima kasih." Aku pun segera pergi menuju ruang bosnya.


Aku melangkahkan kaki menuju ruang kerja Alexander. Sesampainya di depan ruangan, kuketuk pintunya lalu segera masuk ke dalam. Namun, ternyata di dalam tidak ada orang. Kulihat sekitar ruangan juga tampak sepi. Mungkin dia sedang keluar sekarang.


Aduh, apa itu? Pusing sekali melihatnya.


Kulihat papan tulis yang ada di dinding ruangannya, terdapat hitung-hitungan matematika yang membuat kepalaku pusing tujuh keliling. Sepertinya tadi dia sedang melakukan perhitungan untuk rancangan bangunan. Aljabar beradu dengan algoritma. Lengkap sudah.


Duduk sajalah.


Lantas aku pun duduk sambil menunggunya datang. Kulihat ada roti sandwich di belakang meja kerjanya. Aku pun jadi ingin mengambilnya. Tapi masih merasa segan. Jadinya kutunggu saja dia datang sambil memainkan ponselku ini. Sekalian memblokir nomor Jackson agar dia tidak menggangguku lagi.


"Kedalaman pasak bumi ditambah satu meter dan gunakan baja paling kuat untuk cakar ayamnya. Tekanan angin juga perlu diperhitungkan jika gedungnya tinggi. Setidaknya menggunakan pipa dengan ketebalan di atas rata-rata."


Kudengar suaranya berbicara seperti itu di depan pintu. Aku pun menoleh untuk memastikan asal suara. Dan kulihat Alexander tengah berdiri bersama seseorang di luar sana. Kaca tembus pandang yang ada di pintu ruangannya ini bisa membantuku untuk melihat keluar. Dan dia tampak memberi arahan kepada seseorang. Mungkin itu salah satu anggota dari tim arsiteknya.


Dia ternyata sangat teliti.


"Baik, Tuan. Kalau begitu kami akan tambahkan." Seseorang itu menuruti arahan darinya.

__ADS_1


Kulihat Alexander mengangguk. Dia lalu masuk ke dalam ruangan. Dia membuka pintu lalu melihatku yang tengah duduk di sini. Dia pun terkejut melihat kedatanganku.


"Cecilia?!" Dia tak percaya jika aku datang.


"Hi, Dear. How are you today?" tanyaku padanya.


Dia tersenyum lalu segera menutup pintu ruangannya. "I am Fine. And you?" tanyanya seraya duduk di depanku.


"Not good. But when I see you, I am feel good." Aku menggodanya.


Dia tersenyum manis sekali. "Dasar." Dia pun mengusap-usap kepalaku ini.


Entah mengapa aku merasa sangat disayang olehnya walaupun belum ada ikatan resmi di antara kami. Energi perhatian dan kasih sayang itu bisa kurasakan dan seolah menembus relung hatiku. Aku pun serasa ingin selalu bersamanya. Mungkin saja kini aku sudah mulai ketergantungan padanya.


"Baiklah, ada yang bisa dibantu?" tanyanya seraya menatapku.


Kami duduk berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana rupanya. Dan mungkin hatiku juga sudah mulai kepincut dengan parasnya.


"Aku ingin sandwich itu, boleh?" tanyaku sambil menunjuk roti yang ada di meja belakangnya.


Alexander menoleh ke belakang. "Astaga. Ini?" Dia membawa roti itu ke hadapanku.


"Kenapa tidak orangnya saja? Kenapa hanya rotinya?" Dia seperti menggodaku.


Aku terkejut mendengar kata-katanya. Lantas kudekatkan wajah ini ke wajahnya. "Tuan, jangan memancingku. Kau belum tahu siapa diriku. Nanti menyesal!" Aku menggertaknya.


"Oh, ya?" Dia menanggapi ucapanku. "Kalau begitu tunjukkan bagaimana dirimu. Aku akan menerimanya dengan senang hati." Dia malah menantangku.


"Hah ...."


Saat itu juga kusadari jika pria di depanku ini memang benar-benar mempunyai rasa padaku. Dia seolah tidak peduli bagaimana aku dan masa laluku. Jadi ya sudah, aku pun tidak akan malu-malu lagi padanya.


"Cecilia."


"Hm?"


"Kau cantik," katanya yang membuatku ingin menelan bulat-bulat roti yang diberikan olehnya.


Tuan, awas ya. Kau terus menggodaku. Suatu hari aku akan bergantian menggodamu. Apa kau mampu menghadapinya?

__ADS_1


Tak tahu mengapa canda tawa selalu tercipta di setiap kesempatan kami bertemu. Mungkinkah ini pertanda alam jika dia adalah jodohku? Atau ini hanya perasaanku saja? Entahlah, aku juga tidak tahu.


Sore harinya...


Hari ini aku menemani Alexander bekerja. Aku juga menjelajah setiap isi kantornya. Ternyata kantor ini terdiri dari tiga lantai yang mana lantai ke tiga digunakan untuk tempat tinggal karyawan pria. Sedang lantai dua digunakan untuk bekerja dan lantai satu untuk menerima tamu perusahaan. Tak ayal kantor ini terlihat luas walaupun tidak terlalu besar.


Di halaman belakang kantor juga terdapat kolam ikan yang ada pancuran airnya. Jam makan siang tadi pun kami bersantap di sini. Dia sama sekali tidak keberatan aku seharian berada di kantornya. Dia mengasuh, mengayomi dan juga menyayangiku. Aku merasa menjadi wanita paling beruntung karena bisa bersamanya. Dia tidaklah seperti yang Jackson ceritakan padaku.


Entah siapa yang benar, sampai saat ini pun aku belum tahu pasti. Aku hanya menjalani yang ada dan mencoba mengikuti alurnya saja. Namun yang jelas, aku mulai kepincut dengan pria berambut pirang yang ada di depanku ini.


"Hah ... akhirnya." Dia merenggangkan otot tubuhnya setelah seharian bekerja.


"Lelah, ya? Mau aku pijat?" Aku menawarkan diri.


"Kau tidak keberatan?" tanyanya.


"Tidak." Aku pun beranjak dari duduk lalu mendekatinya.


Aku memang sedang berada di ruang kerja Alexander sekarang. Menemaninya bekerja sambil membantu menyusun dokumen proyek rancangan bangunannya. Dan kini kami sudah menyelesaikan pekerjaan hari ini sebelum menyambut akhir pekan. Aku pun mulai memijat bahunya agar rasa pegal yang dirasakan berkurang. Kupijat sebisa mungkin dan dia pun seperti menikmatinya.


"Cecilia."


"Hm?"


"Pijatanmu enak sekali. Bisakah setiap hari seperti ini?" tanyanya padaku.


Aku mengernyitkan dahi. Kucubit bahunya lalu dia pun seketika menoleh ke arahku. "Kenapa?" tanyanya.


"Keterlaluan! Aku diminta setiap hari memijat!" Aku kesal padanya.


Dia terkejut lalu beranjak berdiri. Kami pun akhirnya berdiri berhadapan.


"Cecilia." Dia menatapku, memerhatikan apa yang ada di wajahku. "Maksudku bukan begitu." Dia lalu memegang kedua tanganku ini. "Maksudku bisakah selamanya kita seperti ini?" tanyanya dengan tatapan penuh harap padaku.


.........


...Cecilia...


__ADS_1


__ADS_2