
Sepuluh menit kemudian...
Aku diperbolehkan pulang oleh dokter yang memeriksaku. Dan saat ini sedang diantar pulang oleh Jackson dengan mobilnya. Di dalam mobil dia hanya diam saja sedari tadi, seperti sedang memikirkan sesuatu. Lantas aku ingin menanyakan hal yang mengganjal hatiku.
"Tuan, apakah dokter bilang hal buruk tentangku?" tanyaku pura-pura tidak tahu.
Jackson menoleh sesaat lalu kembali fokus menyetir mobil. "Saat ini ada dua orang yang harus kujaga. Aku tidak ingin kalian kenapa-kenapa," katanya.
Dua orang?! Jangan-jangan ...?!!
"Tuan, apa maksudmu? Apa aku hamil?" Aku bertanya segera padanya.
Jackson diam, sampai akhirnya kami tiba di perempatan lampu merah. "Beristirahatlah di rumah. Perbanyak makan sayur dan buah, ya." Dia mengusap perutku.
Tuan ....
Rasanya seperti ingin menangis saja. Jackson ternyata begitu peduli padaku. Dia menunjukkan amat bertanggung jawab terhadap hal yang dia lakukan. Usapannya pada perutku seolah menguatkan, jika aku tidak perlu khawatir atau takut atas apa yang akan terjadi nanti. Aku menyayanginya, menyayangi Jacksonku.
Menjelang petang...
Aku benar-benar beristirahat total hari ini. Sepertinya dokter memberiku obat tidur atas persetujuan Jackson. Selepas diantarkannya pulang ke rumah, aku segera tertidur. Dan kini baru saja terbangun. Kulihat semburat merah sudah menghiasi langit angkasa.
Sayup-sayup terdengar suara burung berterbangan. Semakin lama semakin jelas di telingaku. Kulihat jam di dinding ternyata sudah hampir pukul enam sore. Lekas saja aku bangun lalu beranjak mandi untuk membersihkan tubuh.
Malam ini aku mempunyai janji dengan Clara. Rasanya tidak enak jika menolak ajakannya datang ke acara pesta dansa perusahaan Hadden. Dia sudah memohon padaku dan menjanjikan jika Jackson tidak akan datang ke sana. Jadi aku menimbang ulang ajakannya.
Sebenarnya aku ingin sekali datang bersama Jackson. Menggandeng mesra tangannya seraya berjalan bersama. Tapi sepertinya hal itu baru sebatas anganku saja. Aku belum bisa memiliki Jackson sepenuhnya karena statusnya belum memungkinkan. Aku cukup tahu diri akan hal itu.
Hah ... segarnya.
Lantas setelah mandi, aku segera mengambil gaun pestaku. Aku berniat memenuhi janjiku dengan Clara walau hanya sebentar. Toh, aku tidak tahu siapa Clara jika belum pernah jalan bersamanya. Siapa tahu dengan memenuhi ajakannya aku bisa mendapat informasi penting. Aku jadi ingat perkataan Jenny semalam, kita tidak akan tahu jika belum pernah masuk ke dalam.
"Sepertinya gaun ini bagus."
Kukenakan gaun pesta berwarna ungu muda yang polos, tetapi tetap terlihat glamor di pandangan. Gaun ini terbuka di bagian bahu dan dadanya, juga memperlihatkan kemulusan pahaku. Walaupun ada tirai di belakangnya, tetap saja gaun ini menampakkan keindahan tubuh si pemakainya. Dan aku ingin mencoba saat pergi bersama Clara. Aku mau tahu bagaimana reaksi para bos besar yang ada di sana.
Gaun ini cantik sekali.
__ADS_1
Kukenakan sepatu berwarna krim yang tidak terlalu tinggi. Rambut kusanggul dan kuberi pita karena akan datang ke acara formal. Tentunya penampilanku harus anggun dan juga elegan. Tetapi tidak lupa untuk menunjukkan sisi kecantikannya.
Awal malam...
Malam ini kukenakan make up yang sedikit tebal dengan polesan lipstik berwarna merah. Dan kini aku sedang menunggu Clara menjemputku. Tak lama dia pun datang lalu keluar dari mobil. Tepat pukul tujuh Clara tiba di tempat janji temu. Aku pikir dia membawa mobil sendiri, tapi nyatanya tidak.
"Cecilia."
Clara semringah saat menjemputku di kafe yang berada di dekat kantor. Kulihat dia mengenakan gaun berwarna biru muda. Cantik sih, tapi kurasa tubuhnya kurang berisi. Mungkin jika ditambah sedikit dia akan terlihat lebih menggoda.
Cecilia, tolong berkaca diri sebelum membicarakan orang lain.
Aku kemudian masuk ke dalam mobil sambil membawa tas pestaku yang juga berwarna ungu. Untungnya tidak terlalu lama menunggu Clara. Dia datang tepat setelah lima menit aku sampai. Jadi kami segera melaju ke gedung pertemuan, tempat acara dansa diadakan.
Maafkan aku, Tuan. Aku cuma sebentar. Hanya untuk memenuhi janji kepada Clara. Tidak lebih dari itu.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju gedung pertemuan. Ternyata gedung yang dituju tidaklah jauh dari kantor. Hanya beberapa belas menit saja, kami akhirnya sampai. Sepertinya Hadden sengaja memilih gedung ini untuk pamer kepada Jackson. Pastinya Jackson pulang lewat jalan di depan gedung dan melihat betapa ramainya kendaraan yang diparkirkan. Terlebih rangkaian bunga banyak dipajang di pinggir jalan untuk mengucapkan selamat kepada Hadden. Jadi sudah peperangan ini dimulai.
Beberapa menit kemudian...
Aku dan Clara masuk ke dalam gedung. Kami diarahkan menuju halaman belakang gedung ini, di mana terdapat sebuah ruangan besar untuk pertemuan. Di sini juga ada kolam renang tanpa atap, sehingga bisa melihat indahnya malam. Tapi aku bersama Clara memilih untuk duduk di kursi tamu yang ada di dalam ruangan. Sampai akhirnya aku melihat seseorang dari kekejauhan.
Aku terkejut saat melihat Alexander bersama seseorang yang kukenal. Pria paruh baya berjas hitam itu tampak berbincang bersama Alexander. Entah apa yang mereka bicarakan. Dan karena jarak kami semakin dekat, aku beranjak dari dudukku.
"Cecilia, mau ke mana?" Clara menahanku.
"Em, aku ke toilet sebentar, ya. Sepertinya aku dapat." Aku beralasan.
"Aku ikut," katanya.
Apa?! Ikut?!
Aku merasa Clara tidak akan membiarkanku pergi. Kulihat sebentar ke belakang, dan ternyata jarak kami semakin dekat. Akhirnya aku membelakangi mereka, berdiri di hadapan Clara agar Alexander dan pria itu tidak melihatku.
Ya Tuhan, jangan sampai dia melihatku.
Pria itu adalah Arka Cyrano. Pria yang berhasil kutaklukkan dan masuk ke dalam perangkapku. Dia menaruh dendam karena kehilangan setengah harta yang dimilikinya. Pastinya jika melihatku di sini, bisa-bisa dia mendorongku lagi hingga jatuh ke lantai. Dan aku tidak mau hal itu sampai terjadi.
__ADS_1
"Cecilia, kau baik-baik saja?" Clara merasa heran denganku.
"Clara, jangan panggil namaku," pintaku padanya.
Clara melihat ke belakangku. Dan sepertinya dia mengerti mengapa aku memintanya untuk tidak memanggil namaku. Sampai akhirnya kuintip ke belakang dan tidak melihat keduanya lagi. Barulah aku bisa bernapas lega.
Astaga ... tadi itu ....
Akhirnya aku bisa bernapas lega. Aku segera kembali ke Clara yang masih berdiri di hadapanku. Namun, tidak beberapa lama ada seseorang yang menyentuh pundak ini.
"Cecilia." Dia mengenaliku.
Astaga, siapa ini?
Jantungku berdegup kencang, laju napasku terasa berat. Rasanya tidak enak jika dikejar-kejar seperti ini. Setiap langkah terasa sesak sekali. Hingga akhirnya aku pasrah kepada keadaan, bertemu dengan sosok yang tidak kuinginkan.
Ya Tuhan, tolong aku ....
Kupasrahkan diri, menoleh ke belakang untuk melihat siapa gerangan yang memegang pundakku. Pelan-pelan kuputar badan ini seraya menelan ludah karena takut. Dan akhirnya...
"Cecilia, kaukah itu?" tanyanya.
Sontak aku menyadari siapa gerangan pria yang menyentuh pundakku.
Alexander?!
Ya, dia adalah Alexander. Kami akhirnya bertemu di pesta ini setelah susah sekali membuat janji temu. Aku tidak tahu mengapa bisa bertemu dengannya, mungkin saja Alexander memang rekan bisnis Hadden. Kulihat Clara juga tersenyum kepadanya.
"Tuan." Clara menyapa Alexander.
"Kau Clara?" tanya Alexander kepada Clara.
"Ya, Tuan. Saya Clara." Clara dengan pedenya mengajak Alexander berjabat tangan.
Kupikir Clara memang sudah kebelet kawin. Atau mungkin dia ingin mencari sugar daddy seperti Aurel? Entahlah. Wanita di sampingku ini belum kuketahui kepada siapa dia berpihak. Jika tahu, mungkin saja aku bisa menindak tegas pertemanan kami. Sayangnya, aku belum bisa mengambil keputusan sebelum membuktikannya sendiri. Karena aku tidak mudah percayaan orangnya.
"Tuan, senang bisa bertemu kembali denganmu."
__ADS_1
Aku tersenyum semringah kepada Alexander. Pria berjas abu-abu ini membalas senyumku. Dia juga tersenyum kepada Clara. Sedang Clara seperti tidak jelas sendiri. Dia menggandeng tanganku di depan Alexander, entah mengapa.