
Mungkin saat ini yang kubutuhkan adalah Jackson. Tapi, yang ada di hadapanku adalah Alexander. Jadinya aku beranggapan jika yang ada di hadapanku adalah si pria berwajah muram itu, sehingga aku diam saja saat di peluknya.
Jujur saja aku rindu padanya. Rindu sekali. Tapi apalah daya, aku juga harus dapat menerima kenyataan. Karena nyatanya Jackson tidak ada, yang ada hanyalah Alexander.
Andai dia itu dirimu. Pastinya sudah kucurahkan isi hati ini.
Alexander terdiam. Alunan detak jantungnya semakin terdengar jelas di telingaku. Suasana sekitar seperti hening sejenak dari deru kendaraan yang berlalu. Bentuk dada bidangnya mampu terasa di telapak tangan ini. Aku pun mencoba berdamai dengan diri sendiri. Mungkin tidak ada salahnya jika membuka hati.
Alexander mempunyai bola mata biru yang sama seperti Jackson. Tubuhnya juga lebih tinggi, berbeda beberapa senti dari Jackson. Alexander amat bersahaja dalam bersikap dan mempunyai kharisma tersendiri. Dia terlihat kalem dan memiliki budi pekerti lebih baik dari Jackson. Sedang Jackson, dia dingin dan berucap sesuka hati, seolah tidak memedulikan perasaan lawan bicaranya.
Kuakui jika kami sering bertemu, perasaan ini akan bertambah semakin merekah saja. Tapi aku berharap hubungan kami tidak akan berlanjut sampai ke tahap selanjutnya. Aku tidak mau menyakiti hatinya. Terkecuali jika dia sendiri yang siap disakiti. Karena bagaimanapun hatiku ini, tubuhku, dan seluruh pikiranku telah terisi oleh Jackson. Rasanya akan sulit untuk menggeser namanya dari hidupku.
Sebagai seorang wanita pastinya lebih mengedepankan perasaan dibanding logika. Wanita memiliki hati yang lembut, selembut sutra. Mungkin karena hal itulah wanita yang ditakdirkan untuk mengandung, melahirkan, menyusui hingga membesarkan anaknya. Karena perasaan wanita lebih peka dibandingkan pria.
Pria lebih banyak bertindak menggunakan logika dibanding perasaannya. Berbanding terbalik dengan wanita. Mungkin karena hal itulah dia dijadikan pemimpin dunia agar dapat bertindak adil dan tidak tebang pilih terhadap siapapun. Dan aku menyadari jika Jackson juga seperti itu. Entah jika dengan Alexander. Tapi, kalau melihat dari roman wajahnya, Alexander sepertinya mempunyai perasaan yang lebih peka dibanding pria pada umumnya. Dia terlihat lebih lembut kepada wanita.
"Cecilia, kau tidak kenapa-kenapa?"
Alexander bertanya padaku. Kedua tangannya masih melingkar di pundak dan pinggangku. Aku pun mendongakkan kepala untuk melihatnya. Saat itu juga kusadari jika wajah kami berdekatan sekali. Mungkin jaraknya hanya sekitar satu jengkal saja. Hangat napasnya pun sampai terasa menerpa permukaan pipi ini.
"Tuan ...."
Aku seolah tidak bisa melepaskan diri dari dekapannya. Magnet bumi seakan mengunci tubuhku agar tetap merasakan kehangatan ini. Malam yang dingin pun menjadi saksi atas peristiwa yang baru saja terjadi. Di mana Alexander melindungiku dari cipratan air yang dilewati kendaraan.
Apa yang ada di pikiranmu, Tuan?
Alexander terdiam. Dia seolah sedang ikut merasakan betapa kuat gaya tarik-menarik di antara kami. Dia menatapku dalam, melihat kedua bola mataku ini. Detak jantungnya pun terasa mengalami perubahan. Tangannya kemudian memegang pipiku ini. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu yang entah apa itu.
__ADS_1
Semilir angin malam menjadi saksi atas kedekatan kami. Dan ini pertama kalinya dalam sejarah pendekatan yang dilakukan Alexander kepadaku. Kami berdiri di halaman restoran dan tidak mengindahkan mobil yang lalu-lalang. Cahaya lampu jalan pun seolah menyinari kedekatan kami. Aku rasa aku mulai gila karena terbawa perasaan sendiri.
"Kau begitu cantik, Cecilia. Bolehkah ... aku memilikimu?" tanyanya dengan sedikit tersendat.
Kutelan ludahku. Kurasakan atmosfer sekitar semakin dalam saja. Detak jantungku pun berpacu cepat saat merasakan sentuhan tangannya yang mengusap pipiku. Benarkah dia jodohku? Atau hanya sekedar numpang lewat dalam perjalanan hidup ini? Sungguh aku takut salah langkah. Dan akhirnya kebingungan sendiri.
"Tuan, aku—"
Belum sempat menjawab pertanyaannya, tiba-tiba klakson mobil di jalan menyadarkan kami. Aku pun segera tersadar dari suasana yang hampir menghanyutkan ini. Kujauhkan diriku, lalu merapikan segera poni rambutku karena grogi. Seketika itu juga deru kendaraan kembali terdengar di telingaku. Sepertinya aku baru saja terhipnotis olehnya.
"Em, Tuan. Aku lapar."
Lantas aku pergi dari hadapannya. Berjalan cepat menuju pintu masuk restoran. Entah apa yang dia pikirkan, aku mencoba tidak peduli. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk berbalik ke belakang karena tak kudengar langkah kakinya yang mendekatiku. Dan ternyata, Alexander tengah tersenyum-senyum sendiri di sana.
Senyumnya ....
.........
...Alexander...
.........
Makan malam...
Alexander memesan banyak makanan untuk kusantap malam ini. Dan rata-rata olahannya memang masih mentah. Tapi kucoba saja, karena katanya sudah disterilkan sebelum disajikan kepada pelanggan. Pihak restoran berani menjamin semua makanan steril dari kuman dan telah dibersihkan berulang kali. Jadi ya, aku coba.
__ADS_1
Kini aku sedang memanggang irisan kecil daging sapi di tempat pemanggangan yang telah disediakan. Kucicipi saus kecap yang diberikan, dan ternyata rasanya lumayan enak. Mungkin karena belum terbiasa menyantap makanan Jepang jadinya lidahku belum bisa menyesuaikan.
"Besok aku surfing. Ikut, ya?" Alexander membuka percakapan sambil membalik daging panggangnya.
"Em, aku ...." Aku seperti kesulitan untuk menjawab.
"Kau terlihat mengalami kelelahan, Cecilia. Mengapa tidak sesekali menyegarkan pikiran dengan berjalan-jalan di pantai?" Dia membujukku.
Aku terdiam sejenak, mencari alasan yang tepat untuk menolak.
"Jangan khawatir. Di sana ramai. Lagipula ombak sedang bagus untuk berselancar. Mungkin kau juga ingin ikut mencobanya." Dia seperti amat berharap aku ikut dengannya.
Aku berpikir cepat untuk menanggapi ajakannya. Tapi di saat itu juga pikiran dan perasaanku tidak sepakat untuk mengambil keputusan. Pikiranku mengatakan iya, sedang hatiku mengatakan tidak. Karena bisa saja Jackson tiba-tiba datang memergokiku. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
Cecilia, tidak ada salahnya jika kau menyenangkan diri dengan berlibur di pantai bersamanya. Jackson juga belum memberimu status. Bahkan di ruangannya pun dia seperti tidak memedulikanmu. Sadar dirilah siapa. Jackson pasti lebih memilih istrinya.
Jangan, Cecilia. Siapa tahu Jackson sengaja mendiamkanmu karena suatu alasan tertentu. Mungkin dia sedang mengikuti alur yang dibuat istrinya. Bukankah Jackson ingin semuanya terlihat natural?
Tidak-tidak. Harusnya Jackson menjelaskan kepada Cecilia jika dia memang benar-benar peduli. Tapi nyatanya dia belum menghubungi juga sampai sekarang, kan?
Hei, jangan berprasangka buruk terhadap orang lain. Belum tentu dia seperti itu. Bisa saja Jackson sedang sibuk sekarang. Dia banyak urusan ditambah masalah yang datang. Harusnya lebih banyak bersabar.
Arrrrgghh! Rasanya aku tidak kuat berlama-lama di posisi seperti ini. Saat pikiran dan hati tidak selaras, aku kebingungan untuk mengambil keputusan. Aku tidak tahu langkah apa yang harus kuambil. Aku merasa serba salah. Mungkin ada baiknya jika berpikir menggunakan logika saja. Aku mencoba realistis terhadap keadaan.
.........
...Cecilia...
__ADS_1