Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Dear...


__ADS_3

Pukul satu siang waktu pantai dan sekitarnya...


Kami sedang duduk-duduk di bebatuan pantai selepas makan siang. Kesempatan ini pun kugunakan untuk memberikan pengertian padanya. Kukatakan sejujurnya jika masih takut menjalin cinta karena terluka dengan yang sebelumnya. Alexander pun seperti mengerti bagaimana posisiku saat ini.


"Jadi dia membeli saham atas namamu di Angkasa Grup?" tanyanya yang duduk dekat denganku.


Kami menatap ombak pantai berkejaran sambil ditemani semilir angin yang berembus dengan kencangnya. Aku pun sebisa mungkin menahan topiku agar tidak terbawa angin.


"Iya. Kehidupanku dulu tidak seperti kebanyakan wanita. Bekerja di kantor atau paruh waktu di rumah. Aku agen bayaran sesuai perintah yang kuterima. Aku tidak sebaik yang kau kira, Tuan." Aku jujur padanya.


"Kau melakukan hal itu tanpa menaruh perasaan?" tanyanya lagi.


Aku mengangguk. "Hanya dengan Jackson saja aku merasa ada perasaan lain di hatiku. Dan dia telah berhasil menjebakku. Misi terakhirku gagal karenanya." Aku menceritakan seraya tertunduk.


"Sejauh mana hubungan kalian?" tanyanya lagi.


Aku menoleh sesaat kepadanya. Saat itu juga kulihat raut wajahnya yang begitu serius mendengarkanku. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku takut dia kecewa dengan kejujuranku. Tapi jika tidak jujur, aku khawatir dia malah lebih sakit hati karena tahu dari yang lain.


"Selayaknya seorang bos yang amat berkuasa dan bisa melakukan apa saja." Akhirnya hanya kata-kata itu yang bisa kuucapkan padanya.


Alexander terdiam lalu mengangguk. Sepertinya dia mengerti akan maksud kata-kataku. Dia kemudian memegang tanganku ini.


"Aku tidak peduli dengan masa lalumu, Cecilia. Kau sudah berniat untuk mengakhiri pekerjaan itu, bukan?" tanyanya lagi.


"Iya." Aku mengangguk. "Aku ingin hidup layaknya manusia normal. Aku ingin berumah tangga tanpa rasa khawatir akan dampak dari masa laluku." Kututurkan keinginanku padanya.


Dia menarikku agar merebahkan kepala di dadanya. "Percayalah padaku, Cecilia. Aku tidaklah seperti Jackson." Dia lalu mencium tanganku ini."


Tuan ....


Saat itu juga aku merasa lega karena telah menceritakan bagaimana masa laluku padanya. Aku harap dia akan menimbang ulang akan perasaannya padaku. Jika dia pergi meninggalkanku setelah ini, maka aku akan terima. Tapi jika dia tetap berada di sisi, aku lebih mensyukurinya.


"Yang kutahu semua orang pasti mempunyai masa lalu. Tidak terkecuali diriku. Aku pun sama, pernah menyukai seorang wanita. Namun, wanita itu menikah dengan temanku sendiri. Untungnya aku belum sempat menyatakan perasaan karena terlalu sibuk mengejar cita. Dan baru kusadari jika perasaanku itu hanya sebatas kagum padanya. Tidak lebih dari itu. Mungkin aku kagum karena dia adalah seorang pekerja keras yang berusaha menggapai mimpi." Dia mulai menceritakan kisahnya padaku.


"Lalu?" tanyaku lebih lanjut.


"Dia sudah punya anak sekarang. Dua malah. Dia bahagia bersama suaminya. Dulu kami satu universitas di Dubai, hanya berbeda fakultas saja." Dia melanjutkan.

__ADS_1


"Oh ...." Baru kusadari jika ternyata dia pernah menyukai seorang wanita di dalam hidupnya.


"Tapi kau bilang aku yang pertama?" Aku meminta kepastian dengan bermanja padanya.


"Iya, Cecilia. Kau yang pertama. Wanita pertama yang membuatku jatuh hati. Aku selalu merasa senang saat melihatmu."


Dia meletakkan telapak tanganku di dadanya. Saat itu juga kurasakan detak jantungnya yang stabil. Sepertinya dia benar-benar jujur akan perasaannya.


Lantas aku tersenyum seraya memberatkan kepalaku di dada bidangnya. Merasa bahagia karena seperti mendapat durian runtuh langsung dari pohonnya. Ternyata dia begitu sabar dan bisa mengayomiku.


"Cecilia."


"Hm?"


"Bolehkah aku menciummu?" tanyanya seraya melihatku.


Aku pun melihatnya. "Cium apa?" Aku balik bertanya.


"Cium ... kening." Dia seperti berpikir ulang untuk mengatakannya.


Aku mengangguk seraya tersenyum. Hanya anggukan yang bisa kuberikan untuk menjawab pertanyaannya.


Tuan, jangan kecewakan aku ya.


Alexander mencium lama keningku, seperti sedang mencurahkan seluruh perasaannya di hati. Aku pun menikmati setiap detik pancaran energi yang dia berikan untukku. Aku merasa bahagia sekali. Baru kali ini keningku dikecup lama sambil tanganku dipegangi. Seolah-olah meyakinkan jika dia hanya mencintaiku dan aku berhak penuh atasnya. Entah bagaimana perasaannya yang sesungguhnya, aku tidak peduli lagi. Kurasakan jika benih-benih cinta itu mulai tumbuh merekah di hatiku.


Dia kemudian melepaskan ciumannya dari keningku. Kami pun bertatapan dengan saling berpegangan tangan. Di saat itu juga aku merasa seperti menginginkan sesuatu darinya. Tapi, aku takut jika sampai keterusan. Kuakui jika Alexander begitu menawan pandangan.


"Tuan."


"Ya?"


"Bolehkah aku mencium pipimu?" tanyaku malu-malu.


Dia tersenyum lebar di sisiku. "Kenapa masih bertanya? Cium saja." Dia menunjuk pipinya sendiri.


Lantas aku pun melepas topi pantaiku lalu mendekati wajahnya. Kucium pipi kirinya dengan sepenuh hatiku. Saat itu juga kulihat dia tersenyum merasakan ciuman ini. Aku pun segera menjauhkan bibirku karena takut keterusan. Maklum wanita normal.

__ADS_1


"Terima kasih." Dia pun mengusap-usap pipiku.


Aku mengangguk. Lalu merebahkan kepala di dada bidangnya. Dia pun merangkul sambil terus memegangi tanganku ini. Kubiarkan ombak pantai menjadi saksi atas benih-benih cinta yang mulai tumbuh di hati.


Beberapa saat kemudian...


Kami bergandengan tangan menyusuri pesisir pantai. Menikmati ombak yang berkejaran seraya melangkahkan kaki bersama. Alexander pun menggenggam erat tanganku. Dia juga membantu membawakan sandalku. Dia romantis sekali.


Keadaan sekeliling pantai tampak sepi karena kami memilih tempat yang tidak terlalu ramai dari pengunjung. Suasana syahdu dan dalam pun kami rasakan di setiap kebersamaan ini. Pijakan demi pijakan di atas pasir putih kami lewati. Hingga akhirnya sampai di sebuah tempat yang terdapat tanda hati. Di mana di sekeliling hati tersebut adalah bunga-bunga yang berwarna-warni. Tak jauh dari pepohonan yang ada di ujung sana. Aku pun meminta Alexander untuk memotretku di tanda hati ini. Aku berpose tanpa malu di depannya. Dia pun tertawa melihat gayaku.


"Kita foto bareng, Tuan."


Lantas aku mengajaknya foto bersama. Foto dengan angle dari sudut atas. Saat itu juga kulihat keceriaan di wajahnya. Sepertinya dia menikmati liburan hari ini bersamaku. Aku pun memegang erat-erat topiku agar tidak terkena embusan angin pantai yang kencang. Kami sudah seperti kekasih sungguhan.


"Oke." Aku pun melihat hasil jepretan kami.


Slide demi slide kulihat di depannya. Dan ternyata hasil fotonya bagus semua. Aku pun menyimpannya sebagai kenang-kenangan liburan hari ini. Aku tidak akan melupakannya.


"Cecilia."


"Ya?"


Dia kemudian memegang tanganku. "Mulai sekarang jangan panggil aku tuan ya, bisa?" tanyanya.


"Eh?!" Aku pun terkejut.


"Panggil saja nama atau seperti kemarin," katanya.


"Kemarin?" Aku mencoba mengingat-ingat.


"Iya. Lupa, kah?" tanyanya padaku.


Aku pun mengingat-ingat apa yang kukatakan waktu itu. "Dear?" Aku teringat kata itu.


Dia pun mengangguk. "Tidak keberatan, bukan?" tanyanya lagi.


Aku tersipu malu sendiri. Rasanya tidak berani untuk menatap wajahnya.

__ADS_1


Lantas aku mengangguk. Kulihat dia pun menelan ludahnya seraya tersenyum. Dia terlihat amat bahagia. Tatapan matanya seperti menyiratkan keinginan yang besar untuk memilikiku. Dia kemudian memegang tanganku ini. Perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku pun segera tersadar dengan apa yang diinginkannya. Aku pasrah jika dia akan menciumku.


__ADS_2