
Sontak kupegang tangannya sambil menggelengkan kepala agar dia tidak mengatakan jika aku sedang bersamanya. Alexander pun mengangguk, seperti mengerti maksudku. Dia akhirnya mengangkat telepon itu di depanku.
"Halo?" jawabnya santai.
Kudengarkan saksama apa yang dikatakan oleh Jackson dari seberang sana. Alexander sengaja membesarkan volume suaranya.
"Kau sedang sibuk, Tuan?" tanyanya dengan intonasi dingin.
Alexander melihatku sejenak. "Em, aku sangat sibuk sekarang. Tapi jika ada kepentingan bisa hubungi aku di lain waktu," katanya dengan amat berani.
Sungguh aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Aku juga tidak tahu mengapa Alexander bisa seberani ini kepada Jackson. Apakah ada orang di belakangnya? Atau murni sikap pejantan saat memperebutkan betina? Kadang aku bingung untuk mengartikan sikapnya. Mungkin ada baiknya jika aku segera mencari tahunya sendiri.
Kudengar Jackson seperti mengembuskan asap rokoknya di sana. "Jangan merusak taman orang, Tuan Alexander. Kau tidak tahu bagaimana pemilik taman itu." Jackson berkata seperti itu kepada Alexander.
Aku menelan ludah. Saat itu juga aku menyadari apa yang dimaksudkan oleh Jackson. Aku takut sekali jika terjadi pertikaian nantinya. Apalagi secara tidak langsung Alexander seperti menantang Jackson.
"Kebetulan aku sedang lewat tamanmu. Dan aku tertarik kepada salah satu bunga yang ada di sana. Bagaimana jika berikan saja padaku? Aku akan dengan senang hati merawatnya." Alexander seperti sengaja memancing keributan.
Astaga ... beginikah cara pejantan memperebutkan betina?
Sungguh aku takut. Rasanya seperti petir menggelegar di malam hari. Tiada hujan, tiada angin. Alexander sebegitu berani kepada Jackson. Aku khawatir, takut, cemas yang menjadi satu. Aku takut Jackson tidak bisa menahan diri sehingga terjadi baku hantam nantinya. Walaupun status resmi dari Jackson belum kudapatkan, tetapi tetap saja Jackson harus diperhitungkan. Karena kadang tindakannya tidak terpikirkan sama sekali.
"Jika kau berminat, tunggu dia layu. Dengan senang hati aku akan memberikannya padamu. Gratis." Telepon pun terputus.
Kata-kata terakhir dari Jackson seolah menahan kesal kepada Alexander. Aku pun mengerti apa yang dimaksud bunga oleh mereka. Jackson tidak akan memberikanku kepada siapapun, kecuali jika aku sudah layu. Dengan kata lain aku tidak menggairahkan lagi.
Jadi aku ini hanya dianggap sebagai pemuas gairahnya saja?
Tiba-tiba aku tidak mempunyai selera untuk makan malam lagi. Aku segera meneguk air minum lalu duduk diam di depan Alexander. Pria berkemeja hitam itu pun menyadari perubahan sikapku. Dia kemudian ikut meneguk air minumnya. Setelahnya dia kembali menatapku.
"Cecilia." Dia menatap serius ke arahku. "Beri aku kesempatan," pintanya yang seketika membuat hatiku goyah terhadap Jackson.
__ADS_1
"Tuan ...?" Aku tak percaya jika dia seserius ini.
"Beri aku waktu. Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tidak pernah mencintaiku," katanya yang sontak membuat hatiku bergemuruh.
Tuan ....
Kusadari jika hati ini mulai goyah saat bersamanya. Logikaku mulai mengambil alih perasaan yang selama ini terjaga untuk Jackson. Aku seperti sudah di ujung batas kesabaran dalam menanti status resmi darinya. Tapi, di lain sisi aku juga takut jika ini hanya jebakan semata. Tidak ada cara lain untuk membuktikan kebenaran perasaan Alexander, selain berpura-pura menerima perasaannya. Mungkin beberapa waktu ke depan bisa kutemukan jawaban.
Jujur saja hatiku berbunga-bunga karena sikapnya. Ternyata Alexander tidak seperti yang dikatakan oleh Jackson. Dia baik, tampan dan juga perhatian. Aku pun berharap isi dompetnya sama seperti Jackson. Ya, semoga saja. Karena hidup jika hanya mengandalkan cinta bisa mati kelaparan. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi padaku dan anak-anakku kelak. Aku harus memperhitungkannya.
Cecilia-Cecilia, dasar mata duitan.
Sepulang makan malam...
Alexander mengantarkanku pulang sampai ke depan gerbang rumahku. Dia terkejut saat mengetahui jika aku sudah berpindah tempat tinggal ke dekat kantor. Aku pun hanya bisa tersenyum seraya berterima kasih kepadanya, karena dia telah mengantarkanku pulang sampai dengan selamat.
"Terima kasih, Tuan. Sampai nanti." Aku berpamitan padanya, berbalik lalu melangkahkan kaki untuk membuka gerbang rumahku.
"Maaf, Tuan. Sudah malam. Tidak baik di rumah wanita dewasa semalam ini." Aku mengingatkannya.
Dia seperti mengerti alasanku. "Baiklah. Tapi jika ada apa-apa, hubungi aku segera. Kapanpun aku akan datang, Cecilia." Dia membuat hatiku melayang lagi dengan kata-katanya.
"He-em." Aku pun mengangguk.
Alexander terlihat berat untuk melangkahkan kaki dari depan gerbang rumahku. Tapi, sepertinya dia bisa mengerti mengapa aku bersikap seperti ini. Sudah jam sembilan lewat juga, tidak baik mampir di rumah wanita semalam ini. Walaupun tidak melakukan apa-apa, tetapi tetap saja akan disangka melakukannya. Jadi lebih baik menghindari prasangka yang tidak-tidak.
Tuan, terima kasih. Malam ini kau telah berhasil menghibur hatiku.
Lantas aku bergegas masuk ke dalam rumah, membuka gerbang lalu melangkahkan kaki menuju pintu rumahku. Kuambil kunci dari dalam tas lalu segera membuka pintu. Kudengar mobil Alexander juga sudah mulai pergi menjauh. Kini saatnya bagiku untuk beristirahat sejenak. Aku butuh mandi air hangat untuk merelaksasikan saraf-saraf di tubuhku.
Saatnya beristirahat.
__ADS_1
Kubuka pintu lalu kuhidupkan lampunya. Namun, saat itu juga aku terbelalak kaget melihat isi dalam rumahku.
"Astaga!!!"
Ternyata semua perabotan rumahku berantakan, seperti sengaja diacak-acak seseorang. Sontak jantungku berdebar kencang karena rasa takut. Aku pun menelan ludah karena khawatir jika ada yang sedang mengintaiku. Dengan cepat aku keluar dari rumah lalu segera berlari menuju gerbang. Karena kutahu jika di dalam risiko yang kutanggung akan lebih besar.
Ya Tuhan, ada apa ini?
Rumahku berantakan. Perabotannya seperti diobrak-abrik seseorang. Entah mengapa aku merasa diteror saat ini. Aku takut jika ada yang sedang mencari kesempatan untuk mencelakaiku. Tidak tahu siapa, tapi lebih baik aku segera menelepon untuk meminta bantuan.
Aduh, tapi harus telepon siapa?
Pikiranku panik. Lantas kuambil cepat ponselku dari dalam tas lalu menelepon Jackson. Aku ingin memberitahukannya hal ini. Tapi, saat itu juga kejadian di ruangannya teringat kembali.
"Tuan ...." Sontak hatiku kembali sedih. Aku pun menahan niatanku untuk meneleponnya.
Kuhirup udara dalam-dalam saat kejadian itu teringat kembali di benakku. Aku tidak bisa menghubunginya karena bisa saja saat ini dia sedang sibuk bersama Zea. Entahlah, aku tidak mau berpikir jauh tentangnya.
Telepon Alexander saja.
Lantas aku memberanikan diri untuk menelepon Alexander. Dan ternyata, teleponku segera diangkat olehnya.
"Cecilia?" Kudengar suara deru kendaraan dari sana.
"Tu-tuan, kau sudah jauh dari komplek rumahku?" tanyaku padanya.
"Em, belum terlalu. Ada apa, Cecilia?" Dia antusias menanggapiku.
"Ak-aku ...," Aku seperti segan mengatakannya.
"Cecilia, kau baik-baik saja?" Dia bertanya lagi.
__ADS_1
Sungguh aku ragu untuk mengatakan meminta bantuannya. Aku khawatir jika ada yang melihat kami lalu dijadikan bahan bulan-bulanan media lagi. Aku bingung, khawatir bercampur pusing. Tapi aku juga takut jika tiba-tiba ada yang datang untuk mencelakaiku, sedang Jackson tidak berada di sini. Entah sedang apa dia di sana sekarang, aku tidak tahu.