Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Ketemu


__ADS_3

Esok harinya, Minggu pukul sepuluh pagi...


Aku baru saja sampai di pantai yang ada di selatan kota. Aku masuk ke area parkiran lalu menemui pos yang berjaga. Dan ternyata benar apa yang dikatakan oleh Angela. Aku diperiksa dengan ketat sebelum memasuki area yang dituju. Alat detektor berulang kali naik-turun di hadapanku. Rasanya seperti tawanan perang saja.


"Kode undangannya. Silakan scan." Seorang pria berbadan besar memintaku menscan barcode undangan.


Aku menurut, menscan barcode yang kudapatkan dari Angela. Lalu aku pun dimintai untuk memperlihatkan tanda pengenal diri. Dan benar saja, mereka mencocokkan datanya. Benar-benar gila. Aku jadi semakin penasaran dengan acara ini, mengapa sebelum masuk saja harus melalui pemeriksaan yang amat ketat sekali. Sebenarnya ada apa di sana?


"Baik. Silakan masuk."


Setelah melalui proses pemeriksaan, akhirnya aku diperbolehkan masuk ke area pesta pantai. Dan kulihat ada panggung besar dengan tatanan meja kursi yang banyak di depannya. Tatanannya begitu rapi, meja hidangan pun sudah disediakan di salah satu sisi area pesta pantainya. Dan aku rasa bisa mengambil makanan dari sana.


Baiklah, Cecilia. Bersikaplah seperti tamu undangan lainnya.


Hari ini kukenakan pakaian yang sedikit terbuka seperti busana pantai pada umumnya. Seksi sih, tapi mau bagaimana lagi. Jika tidak begini aku bisa-bisa dicurigai. Namun, aku tetap mengenakan celana putih panjang, hanya saja bagian atasnya terbuka. Itu juga kututupi dengan rambut agar tidak terlalu mencolok pandangan.


Kini aku sedang berjalan menuju salah satu kursi pantai sambil membawa teropong ajaib dari Angela. Teropong ini bisa digunakan untuk melihat objek sejauh mata memandang. Penglihatan bisa diperbesar sampai ribuan kalinya. Sehingga walaupun dari jauh, objek bisa dilihat dengan jelas. Dan canggihnya, teropong ini juga dilengkapi kamera mini untuk merekamnya. Kata Angela sih harganya bisa sampai puluhan juta. Benar-benar mahal sekali.


"Eh, itu bukannya Clara?!"


Aku terkejut saat meneropong keadaan pantai dan melihat Clara berjalan sendirian. Kulihat dia sesekali membenarkan earphone di telinganya. Muncul dugaan di dalam hatiku jika dia juga sedang ikut menyelidiki acara ini. Apakah dia agen ganda? Sampai saat ini aku belum tahu kepada siapa dia berpihak. Jackson kah atau Hadden?


Lantas aku melihat ke sekeliling dengan teropong ini. Aku juga mengenakan topi pantai agar tidak terlalu panas dan cepat ketahuan keberadaanya. Aku juga membawa kaca mata hitam untuk berjaga-jaga dari terik sinar matahari. Aku ingin tahu lebih lanjut acara ini.


"Cecilia!"


Tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggilku. Suara seorang pria yang sepertinya kukenal. Aku pun mencari ke asal suara. Dan kulihat seorang pria berkacamata hitam dengan busana pantainya datang menghampiriku. Dia seperti teman lamaku.


"Halo, Cecilia. Lama tidak bertemu." Dia kemudian melepas kaca mata hitamnya. Saat itu juga kusadari siapa gerangan dirinya.


"Steve?!" Aku tak percaya jika akan melihatnya di sini.


"Cecilia? Kau tambah cantik sekarang. Apakah karena umurmu sudah bertambah tua?" tanyanya tanpa merasa berdosa.


Seketika itu juga kusikut perutnya. Dia pun kesakitan sambil memegangi perutnya sendiri. Kasihan sih, tapi mau bagaimana lagi. Mulutnya itu memang mengesalkan sekali.

__ADS_1


"Oh, Cecilia. Kau tidak berubah juga, ya," katanya sambil meringis karena terkena sikutanku.


Steve adalah teman lamaku. Dia dulu bekerja di salah satu bar yang ada di kota ini. Tapi kami sudah lama tidak bertemu. Mungkin ada sekitar dua atau tiga tahun lamanya. Dia bertato tapi baik hatinya. Hanya saja ucapannya terkadang memang tidak enak didengar.


"Hei, ngapain di sini?" tanyaku padanya.


Dia berusaha berdiri tegak setelah terkena sikutanku. "Aku sedang bekerja," jawabnya.


"Hah? Kau sudah pindah haluan?" tanyaku lagi.


Dia mengajak ku duduk di kursi. Aku pun duduk bersamanya di kursi yang telah disediakan ini. Kuletakkan teropongku di atas meja agar lebih aman dan tidak jatuh.


"Iya. Mungkin. Aku ke sini karena mencium aroma parfummu. Belum berubah juga ya sedari dulu." Dia menduganya.


Steve memang teman lamaku. Dia juga yang bilang jika parfumku ini begitu menggairahkan. Dia jujur mengatakannya. Dan pertemuan kali ini juga karena dia mencium aroma parfumku. Entah mengapa hidungnya bisa sepeka itu. Mungkin dia adalah pengendus yang handal.


"Aku memang suka parfum ini. Tapi sekarang sangat susah untuk mendapatkan yang originalnya. Aku sampai harus PO dulu," kataku.


"Oh." Dia seperti menyadari kesulitanku. "Aku punya teman dari Paris, Cecilia. Mungkin kau mau meminta bantuannya untuk meracik parfum. Kau berminat?" tanyanya padaku.


"Hahaha. Tenang saja." Dia kemudian mengeluarkan ponsel selularnya. "Ini, ketik nomormu lalu simpan. Nomor lamaku sudah entah ke mana, jadi semua kontaknya hilang." Dia memintaku menyimpan nomor di ponselnya.


"Sudah." Aku pun dengan cepat menyimpannya.


"Baiklah. Nanti kuhubungi. Tapi, Cecilia. Bagaimana bisa kau berada di sini? Bukannya tempat ini tertutup, ya?" tanyanya padaku.


Kulihat area sekitar pesta pantai sudah mulai ramai didatangi para tamu undangan. Satu per satu bos besar berbusana pantai datang memasuki area. Namun, belum kulihat Jackson, Hadden ataupun Alexander di sini. Tempat ini begitu luas sehingga menyulitkanku untuk menemukan mereka. Belum lagi banyak pepohonan rindang di sekitarnya. Aku jadi harus lebih teliti lagi dalam mencari. Ditambah suara musik remix yang mulai dimainkan. Membuat pendengaranku sedikit terganggu karenanya.


"Aku ada misi. Makanya ke sini." Aku mengatakan padanya.


"Kau masih bergelut dengan pekerjaan lamamu?" tanyanya padaku.


"Hm, mungkin." Aku menjawabnya dengan ragu.


"Hei, kenapa tidak bergabung dengan Queen Club saja? Kau bisa mendapatkan uang tanpa harus bersusah payah." Dia menyarankan.

__ADS_1


"Eh, benarkah?" tanyaku, mulai tertarik.


"Benar. Queen Club bisa menjadi jembatan untuk mendapatkan banyak uang. Tinggal duduk diam dan menunggu pesanan," katanya lagi.


Steve seperti banyak tahu tentang Queen Club. Aku pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Segera kususun pertanyaan di dalam otakku untuk mencari tahu tentang Queen Club dan keterkaitan Alexander di dalamnya. Benarkah dia menjual wanita seperti yang dikatakan Jackson waktu itu?


"Em, memangnya bagaimana cara bermain di Queen Club?" tanyaku pada Steve.


Steve memasukkan kembali ponselnya ke saku celana. "Mudah. Daftar saja. Terus kau akan diperiksa luar dalam oleh timnya." Dia mengatakan.


"Apa?! Maksudnya?!" Seketika aku terkejut mendengarnya.


"Mak-maksudku kau diminta memakai bikini lalu berjalan di depan mereka. Seperti model bikini di catwalk. Nanti tim mereka akan menilai pantasnya kau berada di level apa. Silver kah, Gold, atau platinum." Dia menuturkan.


"Memangnya berapa batasan usianya?" tanyaku lagi.


"Delapan belas sampai dua puluh delapan tahun. Bukankah usiamu baru dua puluh enam, ya?" Dia seperti ingat usiaku.


"Kau ingat saja." Aku pun menepiskan tangan ke arahnya, tak percaya jika dia masih ingat usiaku.


"Hei, di Queen Club bisa menjalani hidup tanpa rasa takut. Kau akan disimpan baik-baik oleh pembeli dan akan dijaga selayaknya barang berharga. Bayarannya juga mahal." Steve seperti sedang menggodaku.


"Memangnya kau tahu siapa pemilik Queen Club?" tanyaku menyelidik.


"Tentu. Aku juga kan bekerja padanya," katanya yakin.


"Apa?!!"


Sontak aku terkejut mendengarnya. Sepertinya aku tidak perlu jauh-jauh lagi untuk mengorek informasi jika temanku sendiri bisa memberitahukannya. Lantas aku pun segera bertanya kembali tentang Queen Club ini.


.........


...Steve...


__ADS_1


__ADS_2