Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Dia Lagi?!


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Jam makan siang hampir tiba. Jackson pun sudah mengirim pesan untuk mengingatkanku agar segera datang ke Angkasa Grup. Dia bawel sekali. Bisa-bisanya dia berubah sampai seperti ini.


"Temui Oliver sebelum jam satu. Bahas pekerjaanmu di sana bersamanya. Jika dia berkata yang aneh-aneh, segera laporkan padaku. Dan jangan sampai dia menyentuh seujung kuku pun darimu. Kau mengerti, Cecilia?!"


Begitulah kata-katanya tadi. Karena pesannya belum sempat kubalas. Jackson langsung menelepon dan berpidato padaku. Aku pun hanya bisa mendengarkan setiap kata yang dia ucapkan. Ya, anggap saja kereta sedang lewat.


"Kenapa setelan seragam bisnis ini bisa pas di tubuhku?"


Kini aku sedang berdiri di depan cermin setelah mengenakan seragam bisnis yang dikirimkan Jackson lewat resepsionis apartemen. Ternyata seragam ini amat pas di tubuhku, bahkan membentuk sempurna. Tidak kebesaran, tidak kekecilan. Aku jadi heran mengapa bisa sampai pas seperti ini?


"Mungkin Jackson sudah mengetahui semua ukuran tubuhku."


Pria berwajah muram itu memang tidak bisa ditebak. Dia diam-diam memperhatikan dan bergerak dalam senyap. Mungkin seragam bisnis yang kukenakan ini juga hasil olah perkiraannya. Sehingga amat pas di tubuhku.


"Baiklah, Cecilia. Kita temui Oliver itu."


Aku sudah siap untuk bertemu Oliver siang ini. Setelan seragam bisnis berwarna hitam dan make up yang cerah, membuat penampilanku terlihat elegan dan berkelas. Jackson sendiri yang memilihkannya untukku. Pastinya dia ingin membuatku lebih percaya diri lagi. Jadi ya sudah. Sekarang kita berangkat saja.


Sesampainya di Angkasa Grup...


Aku datang diantarkan oleh supir pribadi Jackson. Ternyata si supir sudah menungguku sejak jam sebelas tadi. Pantas saja jika Jackson memintaku untuk segera berangkat ke Angkasa Grup. Ternyata supir pribadinya telah lama menunggu.


Kini aku baru saja tiba di lantai pertama gedung. Kalau dilihat-lihat hampir sama seperti gedung perusahaan lainnya. Bedanya Angkasa Grup lebih banyak menggunakan kaca pada bagian sisi gedungnya. Mungkin memang sengaja dirancang seperti itu agar terkesan lebih mewah dan berkelas.


Lantai lima.


Kulangkahkan kaki menuju ruang di mana Oliver berada. Aku mengikuti semua petunjuk dari Jackson. Katanya sih dia akan segera menyusul setelah pekerjaan di kantor selesai. Dan ya, aku menurut saja daripada harus dipukul lagi pantatnya. Aku memang tidak berdaya.

__ADS_1


Sepanjang langkah kaki sejak keluar dari lift, kulihat banyak sekali karyawan Angkasa Grup yang sedang berbincang karena sudah waktunya makan siang. Dan mereka terlihat tidak memedulikan kehadiranku sama sekali. Mereka asik sendiri.


Ya sudahlah, Cecilia. Namanya juga orang baru, jadi wajar saja jika tidak ada yang tahu.


Tak lama aku pun hampir sampai di depan ruang kerja Oliver. Namun, kulihat ada seseorang yang tengah berbincang dengannya di sana, di depan pintu masuk ruangannya. Seseorang itu sepertinya sudah kukenal sebelumnya.


Ngapain dia ke sini?


Aku bingung dan ragu untuk terus melangkahkan kaki. Jadinya aku berhenti lalu membalikkan badan ini. Aku khawatir jika ini adalah jebakan dari Jackson untukku. Aku tidak mau jika harus dihukum lagi. Tapi aku juga lebih tidak mengerti mengapa dia ada di sini.


Ada hubungan apa Oliver dengan Alexander?


Pria yang kulihat tengah mengobrol bersama Oliver adalah Alexander. Lagi-lagi aku bertemu dengannya, di tempat dan waktu yang berbeda. Dan karena ingin menghindarinya, lekas saja aku melangkahkan kaki, menjauh agar tidak terlihat olehnya. Namun, saat itu juga...


"Nona Cecilia!" Oliver memanggilku. Tentu saja kehadiranku diketahui juga oleh Alexander.


Astaga ... kenapa selalu bertemu dengannya di setiap kesempatan? Apa dia ingin memata-mataiku? Sebenarnya siapa dirinya?


"Nona Cecilia, kita bertemu lagi." Alexander tampak senang saat melihatku datang. Aku pun hanya bisa pura-pura tersenyum di depannya.


"Tuan Alexander, mengapa Anda bisa ada di sini?" tanyaku padanya.


Alexander tertawa. Tawanya begitu manis sekali. Untung saja hatiku sudah ada yang mengisi. Jika belum, pasti mulai dari nol lagi.


Alexander adalah seorang pria tampan dengan tubuh yang proporsional. Kedua bola matanya biru, sama seperti Jackson. Namun, harus kuakui jika dia lebih muda dari si muram itu. Dan juga lebih kalem. Alexander lebih banyak tersenyum jika dibanding dengan Jackson.


"Mungkin sudah takdir." Dia berkata sambil tersenyum malu-malu padaku.


Seketika aku jadi oleng melihat senyum malu-malunya.

__ADS_1


Ini aneh. Kenapa Alexander ada di Angkasa Grup? Apa hubungan dirinya dengan Oliver? Sebenarnya siapa Alexander? Haruskah aku menanyakan langsung padanya?


Di tengah-tengah senyum Alexander yang memabukkan, aku merasa ada hal aneh sedang terjadi padanya. Dia seperti tahu di mana tempat yang berhubungan dengan Jackson. Aku jadi khawatir jika musuh Jackson yang sebenarnya adalah Alexander, bukan Hadden.


"Nona Cecilia, tunggulah di dalam ruanganku. Aku ingin mengantar tuan Alexander sebentar." Oliver meminta izin.


"Em, baiklah." Aku pun mengiyakannya.


"Mari, Tuan." Oliver mempersilakan Alexander untuk berjalan lebih dulu.


Alexander tidak langsung pergi. Dia berbicara dulu padaku. "Cecilia, aku akan menunggu jawabanmu." Dia tersenyum lalu berlalu pergi dari hadapanku.


Astaga ... dia tidak menyerah?!


Aku berbalik, melihat kepergian Alexander dari depan pintu ruang kerja Oliver. Keduanya berbincang lagi sambil berjalan bersamaan. Sepertinya mereka sedang membahas sesuatu hal yang penting. Entah apa. Aku jadi semakin penasaran dengannya. Siapa sebenarnya Alexander?


"Cecilia!" Tak lama kudengar suara memanggilku.


"Aurel?" Aku pun melihat Aurel sedang berjalan mendekatiku.


"Akhirnya kau datang. Selamat, ya." Dia mengucapkan selamat padaku.


Selamat?


Aku tidak mengerti mengapa Aurel bisa berubah sikap sedrastis ini padaku. Sebelumnya kami sempat bertengkar karena ucapan pedasnya itu. Tapi kali ini dia tersenyum, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami. Sungguh membingungkan sekali.


"Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau bisa seceria ini saat ku datang?" tanyaku ingin tahu.


Kulihat Aurel tersenyum. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Aku pun jadi curiga karena merasa perubahan sikapnya itu sangat terpaksa sekali. Tidak mungkin orang sepertinya tiba-tiba berlaku baik jika tidak ada alasan yang kuat. Pastinya ada sesuatu hal yang melatarbelakangi perubahan sikapnya ini.

__ADS_1


"Cecilia, mari masuk ke ruangan. Aku sudah menunggumu sejak tadi." Aurel membukakan pintu ruangan Oliver untukku.


Aku mencoba untuk mengabaikan perubahan sikapnya, lalu bergegas masuk ke dalam ruang kerja Oliver. Kulihat ruang kerja Oliver dipenuhi oleh miniatur-miniatur perkotaan. Sepertinya Angkasa Grup bekerja pada proyek pembangunan di bidang rancang-merancang sesuatu. Benar-tidaknya, aku belum tahu pasti. Kita lihat saja nanti.


__ADS_2