
Sepuluh menit kemudian...
Di atas ketinggian aku merasa mual. Jackson kemudian memintaku untuk mengunyah permen asam. Dan akhirnya sedikit demi sedikit aku bisa membiasakan diri. Kulihat Jackson sesekali melirik ke arahku seraya menahan tawanya. Mungkin dia merasa wajahku lucu saat berada di ketinggian.
Kini kami masih berada di udara, melihat pemandangan indah dari atas. Kulihat ada pulau cukup besar di bawah sana. Jaraknya tidak terlalu jauh, mungkin beberapa menit lagi sudah bisa sampai. Pasirnya begitu putih jika dilihat dari sini. Mungkin itu pulau yang akan menjadi tempat liburan kami.
"Sudah tenang?" tanyanya lalu menyalakan kendali otomatis.
"Tu-tuan, jangan! Nanti jatuh!" Seketika aku gugup saat kendali otomatis dinyalakan olehnya.
"Kemari, Cecilia." Dia memintaku untuk mendekat.
"Tap-tapi, Tuan. Helikopternya—"
"Sudah menurut saja." Dia menatapku tajam.
"Ba-baik." Akhirnya aku mengangguk setelah melihat tatapan tajamnya walaupun dengan amat ragu.
Aku menurut, mendekat ke arahnya yang duduk di sampingku. Saat aku mendekat, saat itu juga kurasakan hangat menyentuh bibir ini. Rasanya lembut sekali, ternyata dia menciumku. Dia menciumku di dalam helikopter ini. Sontak jantungku berdegup kencang karena takut terjatuh.
"Mmhh, Tuan—" Aku mencoba melepaskan diri karena takut helikopternya jatuh.
"Santai sedikit," katanya lalu lanjut menciumku.
Jackson ternyata menyalakan kendali otomatis karena ingin menciumku. Dia mencium bibirku dengan sapuan amat perlahan. Kedua matanya terpejam seolah menikmati sensasi ciuman di dalam helikopter ini. Sedang aku sesekali melirik ke samping. Aku tidak fokus berciuman karena takut tiba-tiba helikopternya terjatuh.
Tuan, kau ini memang ada saja. Tak mengerti apa jika aku takut?
Dia kemudian melepaskan ciumannya. "Cecilia, kau lucu." Dia kemudian mengusap-ngusap kepalaku.
Ap-apa?!
Saat itu juga aku merasakan jika dia menyayangiku. Sentuhannya mengusap kepalaku ini seperti mengusap kekasihnya saja, lembut sekali. Tapi apa boleh aku menyebut diriku sebagai kekasihnya? Kurasa tidak.
"Jangan takut selama bersamaku, Cecilia." Dia lantas mencium keningku.
__ADS_1
Tuan ....
Jackson mencium keningku. Dia juga memegang kedua tanganku ini. Aku pun pasrah saat dicium olehnya, berusaha merasakan kehangatan yang diberikan dengan keadaan jantung yang berdebar. Sungguh aku takut jika helikopter ini jatuh.
"Cecilia ...."
Jackson menatapku. Dia kemudian tersenyum tulus di depanku. Mungkin dia merasa bahagia sekali saat ini. Ya, semoga saja aku tidak salah mengartikan roman wajahnya.
"Tuan, em ... aku ....." Aku pun seperti tidak bisa berkata apa-apa padanya, hanya bisa menatap wajahnya saja.
Entah apa yang ada di dalam pikirannya, dia kemudian melepaskan pegangan tangannya dariku. Dia mengambil alih kendali otomatis lalu mendaratkan helikopter ini ke pulau yang kulihat. Mungkin pulau itulah yang akan menjadi tempat berlibur kami hari ini.
Cecilia, kondisikan hatimu. Jangan terbawa perasaan. Bisa saja hal yang dilakukan Jackson hanya untuk membalas kebaikanmu semalam. Jangan gede rasa dulu.
Entah mengapa aku masih merasa takut untuk menempatkan hati ini. Semakin lama bersamanya, bunga-bunga cinta itu semakin bermekaran. Aku takut salah langkah dan salah prasangka padanya. Terkecuali jika Jackson menegaskan status kami, mungkin akan lain lagi ceritanya. Aku tidak perlu ragu untuk mengungkapkan semua perasaan yang ada di hati.
Sesampainya mendarat di pulau...
Kami akhirnya mendarat di pesisir pantai, khusus untuk pendaratan helikopter. Pantai ini merupakan dataran pasir putih di sebuah pulau yang cukup besar. Di mana terdapat vila berjejer di tengahnya. Jackson kemudian mengajak ku masuk ke vila yang paling ujung, dekat dengan pesisir pantai. Mungkin dia memang sengaja memesan tempat di sini.
"Ganti pakaian pantai saja, Cecilia." Jackson memintaku berganti pakaian.
Baru saja sampai, dia sudah memintaku berganti pakaian. Seperti terburu-buru sekali. Padahal aku ingin foto-foto dulu di sini, melihat keindahan pantai ekslusif yang pemandangannya memang menakjubkan.
Pulau ini berada di tengah laut dengan hamparan pasir putih yang mengelilingi. Pohon-pohon hijau nan rimbun ikut membuatnya bak lukisan delusi yang indah, terasa amat sejuk dipandang. Dan air lautnya begitu jernih, tidak ada sampah sama sekali. Bebatuan besar juga masih ada di sekitarannya, membuatku merasa ingin segera berfoto-foto di sana.
"Tuan, barang bawaan kita diletakkan di mana?" Aku menanyakan barang bawaan kami.
"Kamar ada di lantai dua. Masukkan saja semuanya dulu ke dalam. Aku mau menelepon sebentar," katanya.
Vila yang kami kunjungi terbuat dari kayu mahoni yang terpahat halus. Berlantai dua dengan kamar tidur di lantai atas. Sedang lantai pertamanya terdapat ruang tamu, dapur dan juga kamar mandi. Jadi aku letakkan semua barang kami di ruang tamu terlebih dahulu. Sedang Jackson sedang sibuk menelepon seseorang.
Ponselku sampai saat ini belum dikembalikan. Entah diletakkan di mana olehnya. Aku mau bertanya juga segan. Segan mendengar ucapan pedasnya. Jadi kupercayakan saja semua padanya. Dia bilang aku akan aman selama berada di dekatnya.
"Ya, baik. Ditunggu." Tak lama Jackson mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Entah menelepon siapa, aku tidak tahu. Dia lantas masuk ke dalam vila dan melihatku yang belum berganti pakaian.
"Mau digantikan?" tanyanya, melihatku.
"Em, Tuan. Maaf aku terkesima. Kau begitu tampan," kataku, dengan bodohnya mencari alasan.
Kulihat Jackson tertegun mendengar ucapanku.
"Aku ganti sekarang, Tuan. Tunggu, ya."
Lantas aku menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Ternyata kamar mandi vila ini begitu luas dan juga bersih. Ada shower air dan juga bathub. Ini sih seperti liburan di daerah eksotis.
Beberapa menit kemudian...
Aku keluar kamar mandi dengan mengenakan pakaian yang lebih mirip seperti gaun terbuka. Entah apa namanya, yang jelas pakaian ini berwarna putih dan sangat pendek. Mungkin bisa dikatakan gaun penari perut.
Saat keluar dari kamar mandi kulihat Jackson sedang memasukkan pakaian ke dalam tasnya. Dia hanya mengenakan celana pantai hitam selutut tanpa baju. Sepertinya dia sudah amat siap untuk berlibur hari ini. Aku pun dengan malu-malu mendekat ke arahnya.
"Tuan, aku sudah siap," kataku dari belakangnya.
Jackson menoleh, dia melihat penampilanku dengan rambut yang dibiarkan tergerai begitu saja. Dia juga memperhatikan penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Jackson seperti terkejut melihat pakaian yang kukenakan.
"Cecilia, apa kau berniat menggodaku?" tanyanya seraya menatapku.
"Ti-tidak, Tuan. Apakah ini terlalu terbuka?" tanyaku polos.
Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Aku hanya punya gaun pendek ini untuk menemaninya bermain di pantai. Rasa-rasanya tidak terlalu vulgar karena bukan pakaian renang ataupun bikini yang kukenakan. Tapi entah mengapa pandangan matanya menyiratkan sesuatu untukku.
Jackson kemudian mengusap lenganku, wajahku, lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Saat itu juga aku tersadar akan maksud dari tatapannya. Seketika aku mendorongnya agar menjauh. Setelah itu aku berjalan cepat melewatinya. Aku tidak ingin dia menginginkan hal itu lagi.
"Tuan, ayo cepat! Nanti terburu surut airnya."
Aku berjalan melewatinya tanpa memedulikan bagaimana perasaannya. Aku pergi saja daripada dia menginginkan hal yang tidak-tidak. Pinggangku ini terasa sudah remuk semua. Jika dipaksakan yang ada malah aku tidak bisa jalan.
Maaf, Tuan. Sudah terlalu banyak semalam.
__ADS_1
Lantas kunikmati liburan hari ini bersamanya. Aku bersikap bak Cecilia yang manja. Kutunjukkan sisi lain dari diriku. Suka atau tidak itu urusan belakangan. Yang jelas aku ingin mencoba terbuka tentang bagaimana diriku ini. Seorang wanita yang mempunyai hati dan menginginkan kepastian akan sebuah status dalam hubungan.