
Aroma parfum yang dikenakannya begitu membuatku tenggelam dalam angan. Sampai akhirnya aku berdiri tegak di hadapannya. Dia lalu menatapku dengan tatapan yang menginginkan. Kembali menarik pinggulku agar mendekat ke perutnya.
"Cecilia Humeera."
Dia memanggilku dengan sebutan nama lengkap. Tangan kirinya memegang pinggulku, sedang tangan kanannya mengusap lembut pipiku. Dia seperti ingin mengajak ku bercumbu.
"Tuan, mandi dulu ya," kataku, sambil memegang dada bidangnya dengan telapak tangan kiri ini.
"Aku menginginkanmu malam ini, Cecilia." Nada suaranya terdengar serak dan seksi sekali.
"Tuan ingin aku?" tanyaku menggodanya.
"Cecilia, kau sudah membuatku mabuk. Malam ini aku akan menginap di sini," katanya.
Aku tersenyum lalu mendekatkan bibir ini ke bibirnya. Bibir kami hampir bertemu jika ujung hidungku tidak bersentuhan dengan hidungnya.
"Baiklah. Tapi mandi dulu, ya." Entah mengapa kalimat itu terucap begitu saja dari mulutku.
Jujur saja Jackson sangat menawan di pandanganku. Selama bergelut di bidang ini, dialah yang terbaik dari segala aspek. Tubuhnya benar-benar menggugah hasrat terpendam. Wajahnya memiliki ketampanan melebihi pria-pria sebelumnya. Terkadang aku merasa heran, mengapa Zea malah lebih memilih Andreas yang menurutku masih di bawah Jackson?
"Kau tidak ingin mandi?" tanyanya.
Kini kata-katanya berubah, tidak seperti dulu. Kata panggilannya berubah menjadi lebih dekat, aku dan kamu. Tidak lu and gue lagi.
Aku menggelengkan kepala. "Aku nanti saja. Aku ingin menyiapkan anggur terlebih dahulu."
Satu jariku menyusuri dadanya yang bidang. Dari atas hingga ke bawah lalu berhenti tepat di pusarnya. Kulihat sekujur tubuhnya menegang, seperti sudah siap untuk bermain malam ini.
"Tunggu aku." Dia kemudian pergi sambil meremas pinggulku.
Aku melambaikan tangan padanya seraya tersenyum. Mempersilakan dirinya untuk mandi terlebih dulu. Entah setan apa yang merasuki, aku jadi tidak bisa berpikir jernih malam ini. Saat dia menutup pintu kamar mandi, barulah kusadari permainan apa yang akan kami lakukan nantinya.
Astaga ....
__ADS_1
Aku tersadar dari apa yang kulakukan. Aku tidak boleh seperti ini. Tugasku hanya sebatas menggodanya, bukan untuk tidur dengannya. Tapi malam ini dia sudah menyatakan keinginannya untuk bermalam di apartemenku. Itu berarti dia juga menginginkanku.
Apa yang harus aku lakukan?
Kudekati pintu kamar mandi dan ternyata tidak dikunci. Kulihat dia baru saja menghidupkan shower airnya. Dia lantas mandi, membasuh tubuhnya, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang begitu menawan. Bohong jika aku tidak tergoda olehnya. Tapi aku juga tidak boleh melakukan hal itu dengannya. Dia sudah beristri. Aku tidak boleh melewati batasan.
Aku telepon Hadden saja. Mungkin dia bisa membuat Jackson pergi dari sini.
Jarak antara kasur dan kamar mandi apartemenku tidaklah jauh. Mungkin hanya sekitar dua meter dari pintu kamar mandi. Jika aku menelepon Hadden di dekat kasur, pastinya percakapanku bisa terdengar olehnya. Sehingga aku memutuskan untuk menelepon di dekat pintu masuk yang jaraknya lebih jauh. Aku kemudian menelepon Hadden.
"Halo?"
Suara dari seberang segera mengangkat teleponku. Tapi ternyata bukan Hadden yang menjawab panggilan dariku. Yang kudengar malah suara seorang wanita.
Apa itu istrinya?
"Hei, siapa ini?!" tanya seorang wanita dari seberang.
"Em, maaf. Apakah ... ada tuan Hadden?" tanyaku ragu.
Wanita di telepon ini malah menaikkan intonasi bicaranya, tidak tahu kenapa. Padahal aku sudah bicara baik-baik padanya.
"Aku ada urusan dengan tuan Hadden, Nyonya." Aku memberi tahunya.
"Hei, Rubah Betina! Gue peringatin lu, ya! Jangan coba-coba deketin Hadden. Asal lu tahu, tahun ini gue sudah berhasil membasmi tiga perempuan kayak lu. Jadi lu jangan macem-macem. Gue wanita terakhir buat Hadden!" serunya.
"Tap-tapi aku bukan—"
Belum sempat aku menjelaskan siapa diri ini dan apa keperluanku menelepon Hadden malam-malam, wanita di seberang telepon sudah memutuskan sambungan teleponnya. Aku jadi merasa tidak menemukan jalan keluar kalau seperti ini.
Mungkin aku telepon Andreas saja.
Aku teringat dengan Andreas dan ingin meminta tolong kepadanya agar datang dan menggagalkan apa yang ingin Jackson lakukan padaku. Karena tidak mungkin aku bisa pergi begitu saja. Jackson pasti curiga dan bahkan mungkin akan marah besar padaku. Yang akhirnya malah membuat misiku ini gagal.
__ADS_1
Tapi ... bukannya Andreas malah menginginkan Jackson jatuh hati padaku? Pastinya dia tidak akan membantuku. Astaga ... bagaimana ini?
Aku pusing, sangat pusing. Memikirkan bagaimana cara untuk lari dari permainan yang akan segera dimulai. Aku seperti tidak dapat berpikir. Terlebih kudengar shower air dimatikan. Rasa khawatir dan takut itu menjadi satu menyelimuti pikiran ini.
Kutarik napas panjang lalu kuembuskan perlahan. Kuletakkan ponsel di atas meja lalu berjalan mendekat ke arah pintu kamar mandi. Sesampainya di sana, kulihat Jackson sedang menghanduki tubuhnya. Entah mengapa aku jadi tegang sendiri. Takut, cemas, dan juga kalut menjadi satu. Hatiku seolah tidak mengizinkan jika hal itu sampai terjadi.
Apa aku harus berpura-pura menstruasi? Tapi bagaimana jika dia ingin mengetahuinya sendiri?
Otakku masih berputar untuk mencari cara agar bisa lari. Tapi semakin aku berpikir, semakin pusing kepala ini. Di dalam pikiranku kini diselimuti rasa takut jika sampai terjadi cinta satu malam dengannya. Walaupun tidak dapat kupungkiri jika aku mulai menyukainya.
Jackson adalah seorang pebisnis. Menjadi kekasih para bos tidak akan mendapatkan status sah bahkan sampai tua sekalipun. Inilah hal yang kutakuti jika sampai berhubungan badan malam ini. Aku tidak mungkin naik ke ranjang dengan pria yang sudah menikah dan melewati batasannya. Jika ada kali pertama, pasti ada kali ke dua, ke tiga, begitupun seterusnya. Jadi lebih baik aku menghindarinya saja. Tapi masalahnya, bagaimana caranya?
Mungkin aku bisa sedikit mengulur waktu.
Jackson dan Zea sudah resmi berstatus suami istri. Walaupun pernikahan mereka didasari hubungan bisnis dan sama-sama selingkuh, pastinya mereka tidak akan saling mengganggu. Dan juga pastinya tidak akan bercerai. Jadi begitu berisiko jika aku mengambil keputusan untuk maju.
"Kok melamun?"
Tanpa kusadari Jackson sudah keluar dari kamar mandi. Kulihat dia mengenakan handuk mandiku yang berwarna putih dan agak besar. Dia lalu berjalan mendekatiku.
Aduh, apa yang harus aku lakukan?
Handuk yang dia kenakan hanya sebatas pusar sampai lututnya. Dan sepertinya tidak terkait terlalu kuat. Hatiku jadi tak karuan saat memikirkan kalau-kalau handuk itu bisa terlepas begitu saja. Sejujurnya aku masih takut untuk melihatnya.
"Cecilia, apa kau terpesona dengan bentuk tubuhku?" tanyanya yang kini berdiri di hadapanku.
Sejenak kurasakan laju darahku kurang stabil, membuatku tegang, tak karuan sendiri. Dan kini tubuhnya bertelanjang dada di depanku. Dada bidang, perut bak roti sobek, seakan menggoda hasratku. Apa yang harus aku lakukan jika sudah seperti ini?
"Sudah selesai mandinya?"
Aku berusaha tersenyum. Tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya. Sehingga hanya kalimat itu saja yang bisa kutanyakan untuk menutupi rasa canggung ini. Dan kulihat dia tertawa melihat tingkahku.
"Bisa dimulai, Cecilia?" Dia lalu menuangkan segelas anggur untukku.
__ADS_1
Aku bingung, benar-benar bingung. Sampai dia menyuapiku meminum anggur, aku masih juga bingung. Aku tidak bisa lari saat ini, dia sudah di hadapanku. Alasan apa yang harus kubuat agar dia melepaskanku?