Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Ketemu Musuh


__ADS_3

Pukul satu siang waktu setempat dan sekitarnya...


Aku baru saja mandi dan sedang berkaca di depan cermin. Kulihat banyak tanda merah di dadaku. Tanda yang dibuat oleh si bos bermuram wajah. Katanya agar aku tidak mengenakan pakaian dengan bagian bahu yang terbuka. Dia benar-benar gila.


Aku tidak mengerti mengapa Jackson sampai seperti ini. Lama-lama aku bisa ngeri dengan sikap posesif dan over protektifnya. Apa mungkin dia mempunyai kelainan kejiwaan hingga bisa seperti ini? Aku tidak tahu pasti. Yang jelas Jackson sudah merasa memilikiku sepenuhnya. Aku hanya miliknya dan tidak ada yang boleh mendekatiku. Tapi sayangnya, status resmi itu belum kudapatkan.


Tuan, apa aku harus pergi agar kau mencariku? Atau harus lari agar kau mengejarku? Perasaan ini bukanlah taman bermain untuk seenaknya kau datangi. Aku butuh kepastian darimu.


Sering kali hasrat memaksa itu menuntutku agar mendapatkan kepastian darinya. Tapi, bersamaan dengan itu aku mencoba untuk mengerti statusnya. Jackson seperti memintaku untuk menunggu, bersabar akan kepastian itu.


Walaupun dia tidak mengatakannya secara langsung, namun dari cerita dan perkataannya seolah mengisyaratkan jika dia menginginkanku, tapi belum bisa memberikan status. Dan aku hanya bisa menunggu dalam penantian akan terwujudnya harapan. Entah sampai kapan, aku akan mencoba untuk bersabar.


"Pakai kaus dan kardigan saja."


Lantas aku mengenakan kaus putih dibalut kardigan hitam lengan panjang. Kukenakan celana kulot hampir menutupi mata kaki dengan sepatu sandal berwarna putih. Aku ingin membeli keperluan pribadiku dulu hari ini. Sekalian mengecek kontrakanku di dekat kantor.


Setengah jam kemudian...


Akhirnya aku tiba di supermarket terdekat dari apartemenku. Kuparkirkan mobil di paling sudut lalu lekas-lekas masuk ke supermarket. Aku ingin berbelanja karena kata Jackson hari ini gaji sudah ditransfer.


Aku tidak tahu berapa gajiku. Aku juga belum sempat mengeceknya. Aku mempunyai dua ATM debit yang berbeda. Satu khusus pribadi, satu untuk pekerjaan. Jadi tidak tumpang tindih. Agar mudah juga mengecek transferan. Sedang uang tabungan tidak boleh diganggu gugat jika tidak sekarat.


"Sejuknya."


AC menyambut kedatanganku di supermarket ini. Kulihat ada ATM di pintu masuknya. Dan karena penasaran, kulihat saja berapa gajiku yang dibayarkan perusahaan selama satu bulan lebih menjadi asisten Jackson. Dan ternyata...


"Kok banyak sekali?" Kulihat saldoku ada dua belas juta.


Lantas aku menelepon Clara untuk menanyakan hal ini. Aku khawatir jika gajiku kelebihan dibayarkan. Karena setahuku gaji asisten pribadi hanya berkisar lima sampai tujuh juta sebulannya. Tapi ini kok hampir dua kali lipat dari yang seharusnya?


"Halo?" Tak lama Clara mengangkat teleponku.


"Clara, siapa yang mentransfer gaji?" tanyaku segera.


"Aurel. Kenapa, Cecilia?" Dia balik bertanya.


Aurel? Jadi tugas Aurel mentransfer gaji juga? Jangan-jangan dia mau menjebakku?


"Em, ya sudah. Aku hanya bertanya saja. Kalau begitu terima kasih," kataku.

__ADS_1


"Cecilia, tunggu!" Clara menahanku mematikan teleponnya.


"Ya, ada apa?" tanyaku.


"Awal tahun akan ada acara di PT Semesta Jaya. Biasanya akan mengundang pebisnis lain untuk pesta dansa. Kau berminat?" Tiba-tiba Clara menanyakan hal itu padaku.


"Semesta Jaya?"


"Iya. Perusahaan milik tuan Hadden." Clara menerangkan.


Apa?!


Seketika aku terkejut. Ternyata perusahaan Hadden bernama Semesta Jaya.


"Em, aku belum tahu, Clara. Aku mau menelepon tuan Jackson dulu, ya." Aku ingin mengakhiri telepon ini.


"Baiklah, nanti kita bicarakan lagi. Sampai nanti, Cecilia." Clara akhirnya mengiyakan.


Lantas kumatikan sambungan teleponku lalu segera menelepon Jackson. Sambil menunggu diangkat, aku berjalan mengambil keranjang dorong. Dan tak lama kemudian Jackson pun mengangkat teleponku.


"Kenapa, Baby?" tanyanya yang membuatku terkejut.


"Em, Tuan. Aku sudah mengecek gajiku. Tapi kenapa begitu besar? Aku tanya Clara, katanya Aurel yang mentransfer. Aku jadi khawatir ini jebakan." Kuungkapkan kekhawatiranku padanya.


"Aku pikir rindu padaku. Ternyata membicarakan gaji." Dia seperti kecewa.


"Tuan, aku khawatir," kataku lagi.


"Nanti Aurel yang akan memberikan perinciannya padamu. Aku sedang sibuk. Tapi jika ingin bermain, aku akan segera datang ke sana," katanya yang membuatku menelan ludah.


Dasar orang gila! Aku pun mengerutu di dalam hati. Sepertinya aku harus membalas ulahnya tadi.


"Tuan, kau suka dengan hisapanku? Bagaimana dengan jilatanku? Kau menyukai permainan lidahku?" tanyaku yang membuat Jackson seperti menyenggol gelas kopinya di sana. Terdengar suara dentingan gelas yang keras.


Hahahaha. Kena kau, Tuan. Dasar mesum!


"Cecilia, tunggu aku pulang." Dia lekas-lekas mematikan teleponnya.


Entah mengapa aku merasa senang saat bisa membalas ulahnya. Jackson ternyata tidak bisa diserang balik. Dia seperti grogi sendiri. Aku jadi ingat bagaimana wajahnya yang merona merah saat aku menunda-nunda keinginannya.

__ADS_1


Jackson-Jackson, lekaslah beri aku kepastian.


Lantas aku mulai mengambil barang keperluanku di supermarket ini. Kupilih apa saja yang kubutuhkan. Karena kata orang, hemat pangkal kaya. Jadi aku membeli yang perlunya saja. Hemat ya, bukan pelit.


Satu jam kemudian...


Setelah berkeliling supermarket, kudapatkan semua barang yang kubutuhkan. Dari keperluan mandi sampai kecantikan sudah kubeli untuk satu bulan ke depan. Aku memang sengaja menyetok barang karena jarang sekali berbelanja. Pekerjaanku mengharuskan agar selalu fokus, sehingga jarang sekali ada waktu luang. Dan saat ada, aku segera memanfaatkannya untuk menyetok barang.


"Haus sekali."


Aku berjalan ke lorong minuman untuk mengambil softdrink yang dingin. Kuambil minuman bersoda lalu segera meneguknya di tempat. Namun, tak lama kudengar suara orang seperti berbisik-bisik tentangku. Suara itu semakin lama terdengar semakin jelas di telingaku. Lantas kubalikkan badan untuk melihat apa yang terjadi. Dan ternyata...


Bianca?!!


Aku melihat Bianca sedang berbisik-bisik bersama ibu-ibu yang berbelanja di sini. Seketika aku kesal dan langsung mendekati mereka.


"Bianca!" Aku menyapanya.


Wanita berdres hitam itu menoleh ke arahku. "Hai, Cecilia. Lama tidak bertemu." Dia seperti berbasa-basi.


"Nona, jadi pelakor ini temanmu?" Salah seorang ibu-ibu bertanya padaku.


Pelakor?!


Saat itu juga aku menyadari jika Bianca memang benar menceritakan tentang pekerjaanku kepada ibu-ibu yang sedang berbelanja. Saat itu juga emosiku naik ke ubun-ubun.


"Apa yang kau lakukan di sini, Bianca?" tanyaku sambil menahan kesal.


"Apa yang aku lakukan? Jelas saja aku sedang berbelanja, Cecilia. Kau bodoh sekali." Dia seenaknya mengejekku.


"Hei, Nona. Sayang sekali cantik-cantik jadi perebut suami orang. Kau menjijikkan." Seorang ibu-ibu berbicara kepadaku.


Arrrgh ... semua ini pasti karena Bianca. Sialan!


Seketika itu juga kudekatkan wajahku ke telinga si ibu yang membicarakanku. "Nyonya, kalau Anda tidak tahu apa-apa, lebih baik diam. Atau mulutmu mau kusumpal dengan botol kaca ini?" ancamku.


Ibu yang mengejekku pun menelan ludahnya. Dia kemudian pergi. "Dasar pelakor gila!" Dia menggerutu lalu pergi bersama kawanannya.


Aku menghela napas panjang karena nama baikku telah dicemarkan oleh Bianca. Tapi kali ini dia tidak akan kubiarkan begitu saja. Aku akan membalas perbuatannya.

__ADS_1


__ADS_2