
"Apa suamiku ada di sini?" tanyanya sinis seraya melihat-lihat isi apartemenku dari luar.
Aku jadi merasa heran dengan pertanyaannya, seolah-olah aku ini sedang menyimpan suaminya. Bukankah hal itu yang memang diinginkan olehnya? Tapi kenapa sekarang dia malah berubah, seperti cemburu dengan kedekatan kami.
"Tuan Jackson? Tidak ada, Nyonya. Dia tidak tinggal di sini," kataku, seperti tidak terjadi apa-apa antara kami.
Sejujurnya aku kaget bukan main dengan kedatangan Zea ke apartemenku. Setahuku hanya Jackson dan Hadden saja yang mengetahui di mana keberadaan apartemenku ini. Dan juga Alexander. Tapi apa iya Alexander yang memberitahukan kepada Zea? Rasa-rasanya mustahil sekali.
"Jangan pura-pura baik. Kau sudah memancing batas kesabaranku, Cecilia. Kedatanganku ke sini untuk meminta pertanggungjawaban darimu," katanya.
Pertanggungjawaban? Bukankah dia sudah menamparku? Atau ingin menamparku lagi?
Sontak aku terkejut dengan perkataannya.
Tidak. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak memakan uangnya sedikitpun. Aku harus membela diri.
Aku bersikap santai padanya. "Nyonya, selama ini aku menjalankan tugas dengan baik. Aku tidak mengerti apa maksud Anda dengan kata-kata seperti itu," tegasku.
"Cecilia." Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi seperti iblis. "Jangan main-main denganku. Kau harus mengaku jika sudah bekerja sama dengan Jackson." Dia seperti ingin menghabisiku.
Lantas aku berniat mengusirnya. "Maaf, Nyonya. Aku tidak mengerti. Aku ingin beristirahat." Aku menutup pintu apartemenku.
"Cecilia!" Zea akhirnya marah. Dia mendorong pintu apartemen sampai aku ikut terdorong ke dalamnya. "Jackson sudah mengembalikan uang DP yang kuberikan padamu. Kau masih ingin berkelit?!" Dia menatapku tajam seperti tatapan seorang iblis.
Jackson mengembalikan uang DP ke Zea? Astaga?! Jadi Jackson sudah bertindak?!
Seketika rasa khawatir muncul di pikiranku. Ternyata Jackson sudah bertindak tanpa memberitahukan sebelumnya. Aku jadi panik setelah mendengar Zea berkata seperti itu.
"Kau benar-benar tidak tahu diri, Cecilia. Akulah yang mempekerjakanmu, bukan dia!"
Zea berapi-api. Dia ingin menamparku lagi. Dia melayangkan tangannya ke wajahku. Sontak aku menutupi wajah dengan kedua tanganku ini. Tapi ternyata, dia tidak jadi menamparku, tangannya tertahan. Dan saat melihat siapa yang menahan tangannya, betapa terkejutnya aku. Kulihat Jackson sudah datang dan menahan tangan Zea yang ingin menamparku.
__ADS_1
"Suamiku?!" Zea terkejut dengan kedatangan Jackson yang tiba-tiba.
"Jangan pernah menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri." Jackson berkata seperti itu kepada Zea.
Tuan ....
Seketika aku merasa Jackson membelaku. Tangannya mencengkeram kuat tangan Zea hingga wanita itu terlihat seperti kesakitan.
"Suamiku, lepaskan!" Dia meminta Jackson untuk melepaskan tangannya.
"Urusan kita belum berakhir. Cecilia tidak ada hubungannya dengan hal ini." Jackson benar-benar membelaku.
Ya Tuhan, ternyata Jackson memenuhi janjinya.
Aku tak percaya, sungguh tak percaya. Ternyata Jackson membelaku di depan Zea. Dia meminta Zea untuk tidak menyangkut-pautkan hal ini kepada diriku. Ini benar-benar gila. Persepsiku tentangnya musnah seketika. Aku pikir Jackson tidak berani membelaku. Tapi nyatanya, malam ini dia membuktikannya.
Zea lantas melepaskan tangannya dari Jackson. Dia menatapku sinis lalu pergi begitu saja. Dia seperti menaruh dendam padaku. Dendam yang tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata. Jackson pun melihat kepergian istrinya tanpa berniat mengejar sedikitpun. Malam ini kusadari jika Jackson memang benar mempunyai perasaan terhadapku. Tidak salah lagi.
Setelah Zea benar-benar pergi, aku menarik Jackson masuk ke dalam. Kututup pintu lalu segera menguncinya. Setelah itu aku melompat ke arahnya. Kupeluk dirinya erat-erat sambil mengucapkan terima kasih karena telah membuatku bahagia malam ini.
"Tuan, terima kasih. Kau telah menyelamatkanku."
Aku bahagia sekali hingga tidak menyadari jika kakiku menginjak kakinya. "Cecilia, kakimu."
Lantas kusadari jika telah menginjak kakinya. Aku pun segera menggeser tubuhku lalu menciumnya dengan penuh gairah. Kulepaskan perasaan yang sedang bersemi di hati ini.
Satu jam kemudian...
Jackson memintaku untuk kembali ke rumah kontrakan, di dekat kantor malam ini juga. Dia menceritakan padaku jika memang telah mengembalikan uang DP yang Zea berikan padaku. Ternyata Jackson sudah bertindak untuk memenuhi janjinya. Pantas saja jika Zea marah, uang dua puluh juta itu telah dikembalikan oleh Jackson. Sehingga Zea menuduhku bekerja sama dengannya.
Aku tidak menyangka jika Jackson akan bertindak secepat ini. Rasa-rasanya masih sulit dipercaya. Dia juga memintaku untuk tetap tenang dan bersikap seperti biasanya. Masih menjadi seorang Cecilia yang dulu dan tidak tahu apa-apa. Secara kasar Jackson merelakan dirinya untuk menjadi bantalanku. Sungguh hatiku terenyuh dengan tindakannya ini.
__ADS_1
"Sudah selesai?" tanyanya yang masih duduk di sofa tamu sambil merokok.
"Sudah, Tuan," jawabku sambil membawa koper berisi barang-barangku.
"Bellboy akan mengantarkannya ke mobil. Uang sewa apartemen sudah kulunasi. Sekarang kita ke atas sebentar," katanya seraya beranjak berdiri.
Jackson memintaku untuk ke atap gedung apartemen ini. Aku pun menuruti. Tak lama seorang bellboy datang bersama supir pribadinya. Ternyata Jackson meminta supirnya untuk ikut datang. Sungguh pelayanan istimewa dia berikan padaku malam ini. Aku merasa seperti menjadi seorang putri raja.
Lantas kami ke atap gedung. Sesampainya di atap Jackson mengajak ku untuk melihat pemandangan malam. Dia kemudian menceritakan sesuatu hal yang rumit padaku.
"Setelah ini Zea tentu tidak akan diam saja. Kau harus menyiapkan diri terhadap apapun yang terjadi. Tapi, aku bisa menjamin keselamatanmu selama bersamaku. Ada hal yang belum bisa kukatakan sekarang karena akan membahayakan. Tapi kumohon percaya padaku." Jackson menatap kedua mataku.
Semilir angin malam menerpa rambutku yang dibiarkan tergerai. Jackson lantas melepas jasnya lalu dipakaikan ke tubuhku.
"Kau harus kuat jika ingin bersamaku. Jangan lemah, jangan mudah menyerah, Cecilia Humeera." Dia menggenggam erat tanganku.
Entah mengapa hatiku terenyuh dengan perkataannya. Jackson seperti ingin melindungiku dengan sungguh-sungguh. Dia juga seperti ingin menceritakan sebuah rahasia yang belum mampu diungkapkan. Mungkin dia sudah mulai percaya padaku. Entah bagaimana nantinya, aku akan selalu mendampingi Jacksonku.
"Baik. Aku siap, Tuan," kataku, bersamaan dengan itu Jackson memeluk tubuhku.
Untuk mengatakan hal seperti ini saja harus di atap gedung. Itu berarti sesuatu hal yang dirahasiakan amat sangat penting, hingga harus memastikan jika tidak ada yang mendengarnya selain kami.
Lantas aku pun membalas pelukannya dengan erat. Biarlah malam menjadi saksi atas perjanjian ini. Aku harap titik terang akan ditemukan dan kebahagiaan segera didapatkan. Aku ingin bersamanya, bersama Jacksonku seorang.
Pukul satu dini hari...
Kini aku sudah sampai di rumah kontrakan, di dekat kantor. Beberapa menit yang lalu kami baru saja menginjakkan kaki ke rumah ini. Tak beberapa lama kemudian, dering ponselnya menyadarkan rasa lelahku. Jackson pun memintaku untuk diam saat akan mengangkat telepon itu.
"Halo?" Jackson mengangkat teleponnya.
Tak tahu apa yang dibicarakan, Jackson terlihat amat serius. Aku lalu duduk di sofa, sedang Jackson berjalan ke dekat pintu. Dia mendengarkan dengan saksama pembicaraan seseorang dari seberang telepon, entah siapa.
__ADS_1
"Ayah, apa yang dikatakan oleh Zea tidaklah benar," katanya, yang membuatku tersadar dengan siapa Jackson berbicara.