
Setengah jam kemudian...
Tepat pukul sembilan malam makanan yang dipesan oleh Jackson diantarkan ke apartemenku. Tepat saat itu juga kuberikan makananku kepada office boy yang bekerja di gedung apartemen ini. Aku tidak jadi memakan hidangan laut dari restoran Angela karena Jackson tidak menyukainya. Dia tidak suka jika aku menerima pemberian selain dari dirinya. Dia mengetahui jika makanan yang kubawa telah dibayarkan oleh Hadden.
Kini aku sajikan hidangan yang Jackson pesan ke atas meja teh apartemenku. Kulihat Jackson juga baru keluar dari kamar dan sudah berganti pakaian. Dia mengenakan jas lainnya. Sepertinya sebelum aku datang tadi dia sudah sampai dan membawa pakaian ganti. Aku tidak tahu pasti, tapi mungkin saja dia memang berniat menginap di apartemenku malam ini.
"Tidak mandi?" tanyanya lalu duduk di depan meja teh.
Aku masih belum berganti pakaian. Hanya melepas blezer hitam yang kukenakan. Dan kini kemeja putih lengan pendek dan rok hitam selutut yang membalut tubuhku. Aku memang menyediakan makan malam untuk Jackson terlebih dulu.
Sedari tadi aku hanya diam karena tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku merasa malu dan juga ragu untuk meneruskan langkah hatiku kepadanya. Atau mungkin akunya terlalu berharap akan perasaan yang kini bersemi di hati? Sedang Jackson hanya sebatas ambisi untuk memiliki.
"Cecilia, status tidak terlalu penting jika tidak bisa saling memahami." Dia mengatakan sambil mengelap tangannya dengan serbet yang kusediakan di atas meja.
Aku hanya diam, tidak menjawab. Lantas pergi dari hadapannya. Tapi, seketika itu juga dia menarikku lalu mendudukkan aku ke atas pangkuannya.
"Kau marah padaku?" tanyanya.
Sungguh pertanyaan itu tidak perlu kujawab. Seharusnya dia sudah tahu bagaimana perasaanku. Mungkin juga sudah tahu bagaimana isi hatiku yang sebenarnya. Aku hanya ingin kepastian dan status darinya. Setelah itu jikalau memang harus menunggu, aku akan menunggu. Walaupun bertahun-tahun lamanya. Aku bergonta-ganti pria karena sebatas menjalankan pekerjaanku saja. Cecilia yang asli begitu setia kepada pasangannya.
"Tuan, aku belum mandi." Aku beralasan agar bisa bangun dari pangkuannya.
Dia tersenyum tipis padaku. "Aroma tubuhmu sudah kuketahui, Cecilia." Dia seperti mengingatkanku kejadian malam itu.
"Tuan, kita tidak bisa seperti ini." Aku ingin beranjak dari pangkuannya.
"Cecilia." Dia menahanku kembali.
Nada bicaranya berubah menjadi lembut. Dia seperti sudah berganti kulit saat ini, tidak lagi dingin kepadaku. Mungkin dia seperti bunglon yang bisa berubah sesuai dengan keadaan di sekitarnya. Tapi, aku tetaplah Cecilia yang menginginkan kepastian darinya.
"Apa menurutmu status itu amat penting?" tanyanya seraya menahanku.
__ADS_1
"Tuan, apa perlu aku jelaskan? Tentu sangat penting bagi seorang perempuan sepertiku." Malam ini seolah aku beradu argumen dengannya.
Dia mencium dadaku kemudian tersenyum tanpa merasa bersalah sama sekali. Dia menatapku dengan tatapan aneh yang membuat hatiku kesal padanya. Aku tidak mungkin berdebat mengenai pentingnya status dalam sebuah hubungan. Dia pasti lebih mengerti daripada aku yang belum pernah menjalin hubungan resmi dengan siapapun.
"Tuan, ponselmu."
Kudengar ponselnya berdering saat dia diam sambil menatapku. Saat itu juga aku beranjak bangun dari pangkuannya dan membiarkan dia mengangkat telepon. Dan kulihat jika Zea lah yang menelepon, istrinya sendiri.
Tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Kulihat wajah Jackson seperti prihatin. "Tidak bisa ditunda?" Kalimat itu lalu diucapkannya.
Lantas aku kepo dengan maksud dari kata-kata yang tidak bisa ditunda itu. Entah mengapa hatiku terasa sakit mendengarnya. Walaupun tidak tahu sebenarnya apa yang mereka bicarakan lewat telepon.
"Baik. Aku ke sana." Jackson lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Jackson melihat ke arahku saat hatiku merasa sakit karena dirinya ditelepon oleh Zea. Mungkin inilah yang dinamakan cemburu tak tahu diri. Cemburu kepada istrinya sendiri. Harusnya aku tidak sampai segila ini.
"Aku harus pergi, Cecilia. Zea meneleponku. Nanti aku akan mengabarimu." Dia lantas mengecup keningku.
Saat pintu ditutup dari luar, saat itu juga air mataku menetes membasahi pipi. Hatiku terasa sakit sekali ditinggalkan olehnya karena akan menemui Zea. Rasa cemburu ini begitu tidak tahu diri menggerogoti hatiku. Aku pun hanya bisa terduduk di depan meja teh seraya memegangi kepalaku sendiri.
Cecilia, Jackson akan menemui istrinya. Kenapa kau malah terluka? Kau hanya orang ke tiga, tidak layak bersamanya. Tahu dirilah sedikit.
Hati dan pikiranku tidak selaras saat ini. Sehingga aku memutuskan untuk menyegarkan pikiran dengan berendam di air hangat. Lantas segera kukunci pintu dari dalam lalu masuk ke kamar mandi. Aku berendam sambil menghidupkan shower air yang mengarah ke tubuhku. Saat itu juga kuakui jika telah tumbuh rasa cintaku padanya. Pada Jackson seorang. Suami dari wanita yang mempekerjakanku. Aku benar-benar tidak tahu diri.
Beberapa jam kemudian...
Aku duduk termenung sambil menyandarkan punggung di kepala kasur. Rasa sepi mulai menghantuiku. Sedari tadi mencoba tidur tapi mataku ini belum mau terpejam juga. Otakku sudah lelah berpikir. Tapi entah mengapa aku belum bisa tertidur.
Kuteguk segelas susu hangat sambil mengenang kejadian yang telah kualami selama enam tahun terakhir ini. Sudah banyak wanita perebut suami orang yang telah kubasmi. Tapi mengapa aku sekarang berada di posisi itu? Apakah aku sudah segila itu? Mencoba merebut seorang suami dari istri yang mempekerjakanku?
Tidak-tidak. Aku bukanlah seperti itu. Niat awal Zea memang sudah ingin bercerai dengan Jackson. Lalu mengapa menyebut diri seperti pelakor? Aku tidak merebut Jackson dari Zea. Zea sendiri yang memintaku untuk menggoda suaminya hingga membuat kesalahan besar. Dan kini kesalahan itu telah tercipta di antara kami.
__ADS_1
Cinta satu malam itu begitu membekukan hatiku. Seolah tidak ada pria lain selain dirinya di dunia ini. Hatiku terpaut olehnya, seakan enggan lepas dari bayang-bayangnya. Dan sialnya aku tidak berdaya menghadapinya. Aku seperti tunduk begitu saja.
Saat ini entah mengapa aku takut kehilangan Jackson. Aku ingin sekali mendapatkan status resmi darinya. Tapi apa itu mungkin? Yang kubisa saat ini hanya diam dan diam. Tidak banyak berkomentar apalagi bertanya banyak hal.
Aku harus mendapatkan kebebasan itu terlebih dahulu. Setelah kudapatkan, mungkin pergi jauh adalah jalan terbaik untuk kutempuh. Karena selama masih berada di dekatnya, hatiku akan terus menuntut untuk memilikinya. Tidak bisa tidak.
"Jackson?"
Panjang umur untuknya. Aku sedang memikirkannya tiba-tiba saja dia meneleponku. Dan kulihat sudah pukul setengah dua belas malam. Lantas kuangkat telepon darinya. Anggap saja jika aku rindu ingin mendengar suaranya.
Aku mengangkat teleponnya tanpa bicara.
"Cecilia, kau sudah tidur?" Dia menyadari jika aku mengangkat teleponnya. Suara kendaraan dari dekat apartemenku bisa terdengar di sana.
"Cecilia ...?" Dia menyebut namaku dengan suara sedikit serak.
Jujur hatiku menangis mendengar suaranya malam ini. Aku kepikiran tentangnya, entah sedang apa dia sekarang di sana. Pikiranku semakin menjadi-jadi, memikirkan bagaimana jika dia melakukan hubungan itu bersama Zea. Hatiku ini seakan tidak bisa menerimanya, walaupun status mereka sudah resmi suami-istri.
"Cecilia, aku bertanya padamu." Dia berkata lagi.
Entah apa yang harus kujawab darinya. Aku hanya bisa diam sambil mendengarkan suaranya. Rasa ingin bertanya pun muncul menyelimuti pikiranku. Sedang apa dia sekarang? Habis melakukan apa? Menemui Zea untuk apa? Rasanya aku ingin menanyakan semua itu padanya.
"Cecilia, jawablah," pintanya padaku.
Aku seperti tidak sanggup untuk menanggapi teleponnya malam ini. Lantas kumatikan saja telepon darinya. Untuk apa juga aku menanggapi percakapannya malam ini. Toh, tidak ada hubungan jelas di antara kami. Tidak baik menghabiskan waktu untuk hal yang tidak berguna. Lebih baik menyenangkan diri sendiri.
Tak tahu apa yang ada di pikiran Jackson, dia kembali meneleponku setelah kumatikan teleponnya. Satu, dua, tiga panggilan tak terjawab hingga akhirnya dia mengirimkan pesan kepadaku.
/Cecilia, kau kenapa?/
Jackson mengirimkan pesan seperti itu kepadaku. Sebuah pesan yang tidak perlu kujawab. Malam ini biarlah dia berpikir agar bisa mengambil langkah pasti akan hubungan kami. Jika memang tidak berpikir juga, mungkin pergi jauh adalah cara yang tepat untuk melupakannya. Melupakan seorang pria yang telah mengambil sesuatu hal berharga dari hidupku.
__ADS_1